Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Tuesday, November 26, 2013

Setiap Pribadi adalah Superior, Unik & Kreatif

**Pojok Konseling & Psikology

Hanya perjuangan menjadi superior yang dapat menjelaskan
kepribadian dan tingkah laku seseorang [Alfred Adler]


Siang tadi [25 November 2013, puku; 14:00 waktu Turki] di kelas perkuliahan Psikologi dan Konseling saya sedang menikmati penjelasan Profesor saya yang gemar sekali memakai kalung bermanik-manik dan rambutnya sudah memutih dengan senyum yang khas ramah. Meski saya tidak pernah berfikir untuk menebak berapa usia profesor saya ini. Membayangkan seolah-olah jika suatu saat nanti saya yang berdiri menggantikan sang profesor kelak [amin, insha Allah] yang namanya saya fikir sangat aneh dan unik, Prof. Yessil Yaprak, yang bermakna daun hijau. Persis warna cover buku yang ia tulis. PDR ‘Psikolojik Danisma ve Rehberlik’ yang berwarna Hijau muda. Sang Profesor tengah menerangkan sebuah teori yang dengan serta merta saya follow tanpa keraguan. Berbeda dengan pekan lalu, keraguan dan perasaan ‘sebal’ saya ketika menelusuri teori Freud.

***
Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk “menjadi.” Istilah ini sudah sangat umum dimunculkan pada setiap kesempatan, baik dalam simposium, seminar-seminar pengembangan kepribadian, training motivasi, kelas perkuliahan pun dalam berbagai diskusi. Teori yang sudah sangat umum meski terus bergulir pengembangannya dari waktu ke waktu dan dibahas dalam banyak kesempatan. Pun seiring dengan bermunculannya filem-filem bertajuk motivasi dalam bentuk yang lebih beragam, seperti kemasan dalam filem bollywood, Taare Zameen Par (2007) - Every Child is Special** [sudah pernah saya bahas sebelumnya], kemudian Akeelah and the Bee (2006) yang disutradarai oleh Doug Atchison. Ada hal yang menarik pada sebuah kutipan yang patut pula kita cermati pada filem tersebut, berikut ini:

“Our deepest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are powerful beyond measure. It is our light, not our darkness that most frightens us. We ask ourselves, Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous? Actually, who are you not to be? 

"Ketakutan terdalam kita bukanlah bahwa kita tidak cukup mampu. Ketakutan terdalam kita adalah bahwa kita memiliki kekuatan yang luar biasa. Ini sesungguhnya adalah cahaya yang kita miliki, bukan merupakan kegelapan yang menakutkan. Kita sering kali bertanya kepada diri sendiri, siapakah aku untuk bisa menjadi cemerlang, cantik, berbakat, luar biasa? Sebenarnya, siapa kamu untuk tidak bisa menjadi demikian? "

Your playing small does not serve the world. There is nothing enlightened about shrinking so that other people won't feel insecure around you. We are all meant to shine, as children do. We were born to make manifest the glory of God that is within us. It's not just in some of us; it's in everyone. And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same. As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.”

Permainan kecilmu tidak layak untuk melayani dunia ini. Tidak akan ada yang tercerahkan dari rasa malu itu sehingga orang lain akan merasa tidak aman ketika berada disisimu. Kita semua diciptakan untuk bercahaya, sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Kita dilahirkan untuk memanifestasikan kemuliaan Allah yang ada di dalam diri kita. Ini bukan hanya dalam sebagian dari kita, melainkan dalam diri setiap orang. Karena ketika kita membiarkan cahaya dalam diri kita bersinar, maka tanpa sadar kita telah mengizinkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sebagaimana kita telah dibebaskan dari ketakutan dari siri kita sendiri, kehadiran kita secara otomatis pun telah membebaskan rasa ketakutan yang ada pada orang lain.


Filem yang diangkat dari novel karya James. W Ellison ini penulis menghadirkan sosok tokoh kecil  berusia 11 tahun bernama Akeelah, gadis berkulit hitam turunan African-American yang tinggal di kawasaan poor environment di South Los Angeles, -bersekolah di lingkungan dimana murid-muridnya tidak perduli dengan kegiatan belajar- namun pada akhirnya dengan dorongan dan dukungan guru, orang tua dan teman-temannya ia mampu mengalahkan keegoisan [yang pada awalnya menolak mengikuti lomba] dan akhirnya dengan penuh motivasi berhasil menembus kejuaran bergengsi nasional speeling bee, Washington, D.C. 

Tulisan saya ini tentu saja tidak saya tujukan untuk menganalisis filem atau pun novel tersebut. Poin yang ingin saya munculkan adalah bahwa dua kasus pada dua filem ini sejalan dengan teory sang dokter Alfred tentang konsep “Striving for superiority”  yaitu suatu usaha terus menerus untuk menjadi lebih baik, untuk menjadi lebih dekat dengan tujuan yang ingin dia capai. Manusia bukan sebagai korban dari insting dan konflik yang dikontrol oleh sifat-sifat biologis dan pengalaman masa kecil sebagaimana yang dinyatakan oleh Freud.

Tulisan ini tidak sedang bermaksud mengatakan apakah lagi menghakimi bahwa teori Freud sang founding father teori psychoanalysis dalam psychology itu runtuh. Meski secara diam-diam saya mengamini sang Dokter Alfred Adler akan teorinya yang telah menarik perhatian seluruh dunia psychology. Jika dalam teori Psychoanalysis Freud menyatakan bahwa segalanya yang terjadi di masa lalu mempengaruhi siapa manusia itu sekarang [seperti insting dan pengalaman masa kanak-kanak], maka tidak demikian dengan sang dokter Alfred Adler -seorang penderita rakhitis dan pneumonia pada masa kecilnya yang nyaris merenggut nyawanya- yang juga seorang Profesor psikologi medis di Universitas Negeri Medical Downstate Center, New York. 

Dokter Alfred dengan berani memunculkan sebuah buku Organ Inferiority sebuah karangan yang menyebabkan putus hubungannya dengan Freud setelah 9 tahun menjadi anggota Wina Psychoanalytic Society Freud. Organ Inferiority merupakan sebuah konsep tentang adanya inferiority karena sifat manusia yang ingin mengatasi kekurangan fisiknya karena manusia pada dasarnya memiliki kelemahan organis dan inferioritas hadir dalam diri setiap manusia. 

Dokter Alfred telah menelurkan teori bantahan bahwa motivasi seseorang untuk mencapai kesempurnaanlah yang menentukan siapa manusia itu sekarang, masa lalu tidak sepenuhnya menciptakan style of life. Sebuah teori jawaban yang sangat mengagumkan, menjawab kungkungan teori Psychoanalisis Freud. Sebuah teori atas dasar pembuktian dari mantan penderita rakhitis dan pneumonia yang kemudia menjadi seorang dokter dan profesor sekaligus.

Dokter Alfred dengan tegas menyatakan bahwa manusia dimotivasi  atas dorongan utama mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Inferioritas bermakna merasa lemah dan tidak memiliki keterampilan untuk menghadapi tugas atau keadaan yang harus diselesaikan. Tentu saja hal itu tidak berarti rendah diri terhadap orang lain secara umum, meskipun terdapat unsur membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Sedangkan superioritas juga bukan berarti lebih baik dibandingkan dengan orang lain, melainkan mencoba untuk menjadi lebih baik, semakin dekat dengan tujuan ideal seseorang. Adler meyakini bahwa motif utama setiap orang adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif.

So, setiap individu adalah Superior dan kreatif
[**Rangkuman materi perkuliahan]

Wallahu’alam
Sakura RT Turkey, 26 November 2013
Other about psikology and counseling http://sakuraromawitimur.blogspot.com/
Reference : telaah dan racikan dari berbagai sumber [novel, youtube, dan link terkait]



No comments: