Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Thursday, November 28, 2013

**haramain #2

Dear catatan harianku...
Langit pemilik sebuah jendela

aku ingin mengawali catatanku ini "fii amanillah" untukmu pemilik langit putih biru di ujung sana, sebuah langit pada negeri pemilik sebuah jendela padasebuah benua. langit dan benua yang mana neng? #qiqi suka-suka penulis donk ya namanya saja catatan harian. **iyalah biar cepet, biar seneng :p -menyebalkan-

***
"Huwaaa masya Allah!...otobuuus." Seketika aku menjerit kaget. Sebuah otobus melintas cepat saat aku melewati pagar di samping asrama dengan mata tidak terlepas dari hendphone di tangan. Dan kau tahu aku nyaris tertinggal. Hwah kau benar-benar membuat jantungku serasa jatuh dari sisi jendela kamar lantai 8. Enak aja, emang aku spiderman yang bisa terjun dari ketinggian. Kecuali kau siap membuat jaring-jaring yang bisa menangkapnya dengan kecepatan cahaya. Swuuuuzzz. Terpaksa aku berlari sekencang mungkin mengejar bus yang syukurlah berhenti sejeak di durak seberang. Aku berhasil mendapatinya. Zigzaghh...Kau mau beri nilai berapa kali ini? 110 lagi?

Hemm, emangnya sinetron KCB. Yang selalu bisa disetting sedemikian rupa. Ada Azzam misalnya pas aku melangkah naik bis gitu? Trus aku Annanya gitu. hwah ogah, ini kan bukan nopelnya kang abik. Tapi nopelnya teteh Puja Kesuma [Putri Jawa kelahiran Melayu Sumatera] si Sakura Romawi Timur :p **wik-wak soo bintang pelemnya namanya Hanifah, okeyh. Gak boleh protes gak boleh ngasih emot aneh yang kagak tahu artinya. **hoho PEACE :D

Dear pemilik jendela pada sebuah benua
Van kedisi. Ternyata sedang menikmati duduk dengan memandangku dari kejauhan di sisi Jendela di seberang sana. Entah sejak kapan hari tepatnya akhir-akhir ini kita jadi senang sekali membicarakan tema penting "jendela." Mulai dari membukanya, menutup dan lalu membersihkannya. Sampai kucing dengan mata dua warna yang kau kirimkan itu bisa duduk dengan sok manis di jendela itu. Hihi...jangan salahkan bila aku mencintai kucing. Semoga kau bisa memahami tentang rasa sayangku pada binatang yang satu ini #haissyah. Kau tahu aku pernah menangis dan tidak bisa belajar saat kucingku hilang. Semalaman aku menangis menanti kedatangannya. Pun saat aku dapati kucingku yang bernama mungil itu sakit dan tidak mau makan. Itu hari yang sangat sedih sekali bagiku. Tapi syukurlah, ternyata kau juga pecinta kucing. Kucing Doraemoon. Hemm enak aja kau bilang jendela tetanggamu itu burrem, iyeelah, memang jendelamu saja yang mampu membuat semua menjadi CLING CLING *kisah Oki & Nirmala dari Negeri dongeng #geje :p

Wednesday, November 27, 2013

Catatan Diary **haramain

[21 November 2013]
siang hari

aku baru saja merampungkan antrian bank skitar 30 menit yang lalu. Hamdulillah tuntas urusan kirim mengirim. Sayang tidak membawa kamera. Sekedar mengambil keramaian pada barisan kafe khas Turki di sepanjang daerah mithat pasa. Sampai akhirnya mataku tertuju pada pengamen jalanan yang sedang memainkan alat musik tradisional. Subhanallah, masya Allah. Bagus sekali dia memetiknya. Sungguh bagus sekali. Benar2 terasa bahwa aku memang sedang berada di Turki. Sungguh aku tidak bohong...**bagus sekali, semacam kecapi.  — di Mithat Pasa.
***
 [21 November 2013]
malam hari

Kami geger di dalam asansor asrama. Bertiga, aku, laziza dan sofy. Girang karena pimpinan asrama memberikan izin untuk menukar kamar asrama. Kami bertiga menari di dalam asansor [lift asrama] ke lantai 8. Alhamdulillah, tesekkur ederim ya Allah, semoga baik iallah. Deket mushola dan kamar belajar. — di Gazi Kiz Ogrenci Yurdu.
***
[21 November 2013] 
malam hari

Jadi laziza baru-baru ini sering menirukan suara adzan. Dua hari yang lalu dia dengan riang menunjukkan bahwa dia juga hafal surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas. "Kakekku yang mengajari." Katanya bercerita di depanku. Di tarik-tarikknya tanganku agar aku mendengarkan bacaannya. lalu gusta duduklah di sisi kananku, bilang kalau dia juga pernah belajar Qur'an di kursus. Tapi tidak ingat lagi. Hem...aku angguk-angguk sambil memencet tombol record di hendphone. Hihi, aku merekam suara laziza yang sedang membacakan surat Fatihah...

Tuesday, November 26, 2013

Setiap Pribadi adalah Superior, Unik & Kreatif

**Pojok Konseling & Psikology

Hanya perjuangan menjadi superior yang dapat menjelaskan
kepribadian dan tingkah laku seseorang [Alfred Adler]


Siang tadi [25 November 2013, puku; 14:00 waktu Turki] di kelas perkuliahan Psikologi dan Konseling saya sedang menikmati penjelasan Profesor saya yang gemar sekali memakai kalung bermanik-manik dan rambutnya sudah memutih dengan senyum yang khas ramah. Meski saya tidak pernah berfikir untuk menebak berapa usia profesor saya ini. Membayangkan seolah-olah jika suatu saat nanti saya yang berdiri menggantikan sang profesor kelak [amin, insha Allah] yang namanya saya fikir sangat aneh dan unik, Prof. Yessil Yaprak, yang bermakna daun hijau. Persis warna cover buku yang ia tulis. PDR ‘Psikolojik Danisma ve Rehberlik’ yang berwarna Hijau muda. Sang Profesor tengah menerangkan sebuah teori yang dengan serta merta saya follow tanpa keraguan. Berbeda dengan pekan lalu, keraguan dan perasaan ‘sebal’ saya ketika menelusuri teori Freud.

***
Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk “menjadi.” Istilah ini sudah sangat umum dimunculkan pada setiap kesempatan, baik dalam simposium, seminar-seminar pengembangan kepribadian, training motivasi, kelas perkuliahan pun dalam berbagai diskusi. Teori yang sudah sangat umum meski terus bergulir pengembangannya dari waktu ke waktu dan dibahas dalam banyak kesempatan. Pun seiring dengan bermunculannya filem-filem bertajuk motivasi dalam bentuk yang lebih beragam, seperti kemasan dalam filem bollywood, Taare Zameen Par (2007) - Every Child is Special** [sudah pernah saya bahas sebelumnya], kemudian Akeelah and the Bee (2006) yang disutradarai oleh Doug Atchison. Ada hal yang menarik pada sebuah kutipan yang patut pula kita cermati pada filem tersebut, berikut ini:

“Our deepest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are powerful beyond measure. It is our light, not our darkness that most frightens us. We ask ourselves, Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous? Actually, who are you not to be? 

"Ketakutan terdalam kita bukanlah bahwa kita tidak cukup mampu. Ketakutan terdalam kita adalah bahwa kita memiliki kekuatan yang luar biasa. Ini sesungguhnya adalah cahaya yang kita miliki, bukan merupakan kegelapan yang menakutkan. Kita sering kali bertanya kepada diri sendiri, siapakah aku untuk bisa menjadi cemerlang, cantik, berbakat, luar biasa? Sebenarnya, siapa kamu untuk tidak bisa menjadi demikian? "

Your playing small does not serve the world. There is nothing enlightened about shrinking so that other people won't feel insecure around you. We are all meant to shine, as children do. We were born to make manifest the glory of God that is within us. It's not just in some of us; it's in everyone. And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same. As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.”

Permainan kecilmu tidak layak untuk melayani dunia ini. Tidak akan ada yang tercerahkan dari rasa malu itu sehingga orang lain akan merasa tidak aman ketika berada disisimu. Kita semua diciptakan untuk bercahaya, sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Kita dilahirkan untuk memanifestasikan kemuliaan Allah yang ada di dalam diri kita. Ini bukan hanya dalam sebagian dari kita, melainkan dalam diri setiap orang. Karena ketika kita membiarkan cahaya dalam diri kita bersinar, maka tanpa sadar kita telah mengizinkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sebagaimana kita telah dibebaskan dari ketakutan dari siri kita sendiri, kehadiran kita secara otomatis pun telah membebaskan rasa ketakutan yang ada pada orang lain.

Monday, November 25, 2013

catatan evaluasi ayat #1

Alhamdulillahirabbil'alamin. Sukran ya Rabb, pagi ini resmi aku melakukan tasmi' dengan Ustdz Halim setelah setahun tidak pernah evaluasi bacaan. Dan feelingku benar! Ya Allah, banyak sekali catatan evaluasi hari ini. Meski Ustdz bilang sudah bagus bacaan dan cukup melancarkan dengan sering mengilang. Ya Allah jika tidak ada evaluasi maka habislah catatan ayatku. Ya Allah, benar-benar terbalik-balik dan menyampur dari satu surat ke surat yang lain. Persis seperti bayi yang baru kembali belajar, berjalan dalam gelap, jatuh dan bangun. Mulai dari bacaan huruf yang tertukar dari sa menjadi sya, dari pendek menjadi panjang dan belum lagi ayat yang terbalik-balik dan tertukar. Ya Allah, padahal tidak mudah dulu buat mengumpulkannya.Tapi dengan mudah begitu saja terlupa satu persatu. Malu sekali rasanya sama Ustdz. Tidak terbayang kalau pulang ke Indonesia dan bertemu ustdzah yeni, akan lebih malu ya Rabb. Bismillah, ya Allah...bantu hamba untuk terus belajar dan memperbaiki ya Allah. Bantu hamba untuk terus belajar ya Allah. Memperbaiki dan terus memperbaiki.

***
Masih ingat. Pada sebuah bulan dan tahun 2011 ketika aku memutuskan untuk menjadi murid dari Ustdzah. Dua kali sepekan di pagi buta pukul 07:00 aku menembus subuh dan kabut tenang negeri Batanghari. Menuju sebuah rumah kos kecil sederhana di daerah telanai. Di sana aku selalu tidak bisa memarkirkan motorku dengan baik, karena rumah Ustdzah terletak tepat di pinggis jalan raya. Sebuah rumah kos kecil dan sangat sederhana. Ada beberapa buah komputer tempat merental jasa pengetikan dan counter pulsa. Masya Allah, sosok yang sederhana. Di dalam kos berukuran yang sangat kecil itu, aku dan Ustadzah duduk di sudut ruangan, yang juga tidak kalah sempit, belum empat anak Ustdazah yang semua laki-laki yang sangat aktif, membuat rumah kecil itu semakin penuh. Di kosan itulah aku bertemu Ustdzah, dan menyeraahkan diriku untuk menjadi murid beliau. 

Ustdzah Yeni Ja'far, adalah seorang perempuan suami dari Ustdz yang hafidz, dan ke empat putra beliau yang juga menghafal al-qur'an, Ihsan dan Fauzan sudah memiliki hafalan yang banyak, dan dua yang masih kecil Qayis dan Arif juga sudah mulai menghafal meski masih kecil. Ustdzah adalah seorang kepala sekolah sebuah PAUD di sebuah yayasan. Beliau pindahan dari Bogor, aku belum pernah kenal sebelumnya. Pertemuan yang tanpa sengaja lewat selebara yang juga aku baca tanpa sengaja itulah yang membawaku bertemu dengan sosok wanita yang aku bilang itu berbeda dari akhwat kebanyakan. Beliau sangat sederhana, akan tetapi kecerdasan terpancar dari cara beliau berbicara, berinteraksi dan bersikap. terkadang aku menjadi seperti teman karib, kami saling bercanda dan terkadang saling mengejek "bercanda," terkadang Ustdzah juga menjadi sangat begitu menyebalkan bagiku, terkadang beliau menjadi seperti kakak, mendengarkan dengan setia setiap keluh kesahku. Ustdzah terkadang sangat manja padaku, terlebih beliau adalah guruku belajar memperbaiki bacaan dan sejak saat itu beliaulah yang selalu mengingatku untuk terus dekat dengan Al-Qur'an. "Tidak ada yang lebih mulia disisi Allah, selain ia yang selalu dekat dengan Al-Qur'an." Begitu salah satu nasihatnya. 

Saturday, November 23, 2013

catatan antara dua benua 'penting dan tidak penting'

ket: negeri yang bercahaya [madinah al-munawara]

Dear negeri sebuah jendela. Jendela yang mana ya. Hoho...entah lah jendela yang mana. Yang mana-mana dah :D. Jendelanya bisa banyak kemungkinan. Bolehlah aku tulis catatan yang tidak bertuan ini, untukmu pemilik negeri pada sebuah jendela. Meski kau bilang itu bukan jendela, melainkan "pintu" lebih tepatnya. Apa pun itu dah istilahnya, jendela itu memang terkadang kelihatan seperti pintu. Bisa jadi dari benua sana tempatmu merangkai keajaiban-keajaiban waktu terlihat seperti pintu. Seperti pintu ajaibnya Doraemon dan aku adalah Nobitanya. CLING #GEJE :p

Janganlah kau buat aku cemburu karena bagusnya pantulan langit-langit makharijul hurufmu itu. Sungguh jangan kau buat aku menjadi pencemburu karena mumtaz dan sempurnanya engkau memantulkan Ghunnahmu itu. Janganlah pula kau buat aku tidak bisa tidur karena penghargaan bahwa milikku melebihi "bagus" nya dari suara air pada sebuah sumber dan aku berbakat menjadi.....**amiin in sha Allah, dengan khidmat. Itu sungguh berbahaya untuk tipe model penggalau sepertiku ini. Untunya ada penangkal jitu berupa mantera bahwa udara di negerimu sana tidak segalau udara dinegeriku sini. Jadi aku tidak perlu cemas, hoho. Lagi-lagi udara negeri benua yang mana. Ah...embuhlah. Namanya juga tulisan antara penting dan tidak penting. Jadi lagi-lagi negerinya bisa dimana-mana. Terlebih negeri yang dari sana terdapat salam cahaya Islam yang sengaja engkau hantarkan dari bumi tersuci di hamparan semesta yang riang ini. Itu betul-betul membuatku tidak bisa menulis secara sempurna. dan lagi-lagi menurut versiku. Aku memang terlalu banyak memiliki persepsi dan versi yang mungkin aku sendiri tidak mampu menerjemahkannya. Walau pun udara di negerimu selalu mampu menjawabnya. Udara yang aneh. Rasanya aku ingin mengambil sajadah aladin dan lalu terbang menangkap udara itu. Blubh, blubh, blubh. Wusssshhh...

Ada banyak hal yang ingin aku tulis disini sebenarnya. Tapi sepertinya belum untuk hari ini. Karena bisa jadi ini antara tentang catatan penting dan tidak penting. Aku tidak bisa mendefinisikan antara apa yang sedang ingin aku tulis ini. Dibilang buntu tidak juga begitu. Di bilang galau sepertinya juga kurang pas. Di bilang gembira memang aku gembira mencatatnya. Tapi lebih tepatnya apa aku sungguh tidak bisa mendefinisikan. Mungkin ini hanya catatan sebagian Taqdir yang mampir di sebagian puzzle sudut hatiku. Karena bisa jadi besok atau lusa Taqdir Allah berkisah berbeda. Oleh sebab itu biarlah air mengalir dari sumber-sumbernya. Mengalir dan menjadi penyejuk dahaga bagi telaga-telaga yang membutuhkan pengairannya. Ini terlalu sulit mendefinisikan apa sebenarnya ini dan itu. Di seberang sana tentang ini terlalu baik mungkin bagiku. Jadi biarlah yang baik menjadi manfaat bagi banyak negeri. Biarlah menjadi hujan bagi banyak tanah di semua penjuru negeri. Yah setidaknya seperti arti namakulah "seribu keutamaan yang aku miliki adalah untuk kebaikan kita bersama." **hoho maksa. Tapi yang pasti aku menjadi begitu pencemburu saat ini. :p Karena di sini, aku juga sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Lebih mandiri menghadapi semua kemungkinan. Baik dan buruk. Yang penting kan berdo'a, bukankah seperti katamu bahwa do'a juga merupakan bagian dari usaha. Hemm, istilah yang aneh, meski bener juga sih kalau di fikir. Hihi, sekali lagi dasar negeri dan udara yang aneh. Apapun semoga baik in sha Allah...

Turkey, 23 November 2013
sumber foto : sumber yang terpercaya :D #peace

Wednesday, November 20, 2013

memperbaiki cita-cita

Saatnya memulai kembali. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi rasanya tidak ada yang lebih berbunga-bunga selain karena malam ini aku menerima jawaban ini dari Ustdz [salah seorang pembina pesantren tahfidz] bersedia untuk membantu evaluasi murajaah dan hafalanku. Setelah setahun stuks dan tidak ada penambahan sama sekali. Bahkan apa yang sudah pernah aku hafal lupa. aku faham sudah lama aku berniat untuk menghafal Qur'an, pun sejak aku masih SD, ketika menyampaikan niat aku minta di bimbing untuk menghafal Qur'an, akan tetapi guru yang berasal dari Jawa itu menolak untuk membimbingku menghafal. Sedih sekali saat itu.

Sampai akhirnya Tsanawaiyah aku juga hanya bisa cemburu karena teman-teman yang tinggal di santri Kiyai Sanusi mendapat hafalan surat secara rutin. Aku cukup bersyukur karena bisa menghafal surat-surat dan hadits dari pelajaran Al-Qur'an dan Hadits yang disetorkan seminggu sekali di kelas. Sayangnya niat untuk menghafal penuh belum pernah kesampaian. Pun hingga tamat Tsanawiyah dan kuliah. Akhirnya setelah rampung kuliah aku baru memulainya kembali dengan di bimbing Ustdzah Yeni Ja'far, seorang umahat pindahan dari Bogor. Suami dan anak-anak beliau adalah seorang hafidz. Asal muasalnya siang di tahun 2011 lalu tanpa sengaja aku menemukan sebuah selebaran kecil di kamar teman asrama, pengumuman belajar tahsin dan tahfidz, aku segera menghubungi nomer telepon dan menemui Ustdzah sekitar pukul 17:30. Aku menemui beliau di sekolah PAUD An-nahl.

Sejak saat itu resmilah aku memiliki guru pembimbing yang mengevaluasi hafalan setiap pekan. Sayang sekali baru berjalan 8 bulan dan masih tersandung-sandung, hingga aku menerima pengumuman bahwa aku dinyatatakan lulus beasiswa Turkey. Ustdzah berat melepaskanku saat itu. Aku tahu...Tapi beliaulah orang yang mendukung dan membantu semua persiapan medical chekc up melalui dokter Meda, pemilik yayasan Rumah Cerdas Qur'ani sekaligus Direktur Rumah Sakit Mayang Medical center. Ustadzah dan dr. Meda lah yang mengurus semua biaya persiapan berkas medical check up ku hingga tuntas. Malam itu ustdzah melepasku tanpa air mata. Sebaliknya aku yang menangis tersedu-sedu di asrama RCQ. Pesan Ustdzah sederhana, agar aku terus melanjutkan hafalan dan belajar Bahasa Arab.

**Kajian Catcil "Rimbunnya sebuah ayat"

Kajian: Catatan kecil
Rimbunnya sebuah ayat
Oleh: cik gu haramain
================

Ali ibn Abi Thalib ra, pernah berkata;
"bicaralah dengan manusia sesuai kadar pengetahuan mereka, 
apakah kalian rela Allah dan Rasul Nya didustakan?"

sumber foto : gugel

"Tuhan tidak benar Hanifah." Suara Irene. 
JLEB JLEB hati saya.

"Bagaimana mungkin Tuhan memberikan balasan pada dua orang yang sama-sama memberi sementara mereka memiliki motivasi yang berbeda. Tuhan tidak benar Hanifah" Tanya Irene kembali pada saya. Saya yang awam pun JLEB JLEB bingung, karena memang belum faham ilmunya.

Allah akan memberikan dari arah yang tidak terduga. Jika kita sebagai muslim kita bisa meyakini itu, akan tetapi bagaimana sistem ini bekerja secara logika? Tidak semua bisa kita jelaskan secara logika, kita bisa menerimanya karena kita sudah meyakini. Dan bagi yang belum mengenal Tuhan bagaimana mereka bisa menerima secara akal? **saya bertanya bingung dot kom

***
Serampung membaca petikan nasihat Ali di atas betul-betul JLEB rasanya hati saya. JLEB JLEB JLEB! Terasa saat beberapa pekan secara tidak sengaja saya berdiskusi dengan teman saya yang belum muslim, Irene. Bagi teman-teman fesbuk dan blogger yang rajin mengikuti kisah saya akan tahu maksud saya. Ia menanyakan konsep ayat yang secara tidak sengaja saya sampaikan padanya. Alhasil saya tidak mampu menjelaskan tentang ayat konsep sedekah yang secara sponta, tidak sengaja saya sampaikan padanya [penggalan kutipan tersebut di atas]. Astaghfirullah, karena memang saya belum memiliki kapasitas pemahaman yang dalam tentang Al-Qur’an. Beberapa hari hati saya menjadi tidak tenang karena belum mampu menjelaskan dengan baik pada teman asrama saya yang non muslim, saya sampaikan agar di jadikan PR. Hehe buat nanya dengan yang faham. Berikut adalah hasil diskusi beberapa hari lalu [15 November 2013] yang baru sempat saya rangkum tentang penjelsan ayat tersebut.**agar tidak hilang ilmunya.

***
"Tidak setiap yang diketahui, harus dikatakan, dan tidak setiap yang boleh dikatakan, harus dikatakan setiap saat, maka hendaknya kita melihat situasi, konteks dan lawan bicara.” This named as Hikmah or wisdom.


2:261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Jika kita merenungkan ayat ini sebenar-benarnya, dan hadits-hadits yang terkait, serta tafsir-tafsir yang terkait dengan ayat ini, maka ayat ini sebenarnya berbicara tentang ganjaran yang bersifat ukhrawi dan bukan duniawi. Maka Allah Ta'ala -melalui ayat ini- ingin mengaitkan selalu, antara perilaku mukmin yang bersifat duniawi, dengan ganjaran yang bersifat ukhrawi, dengan kata lain setiap kebaikan duniawi, selalu berorientasi ukhrawi.

Ini merupakan makna yang utama, sedangkan hitung-hitungan materi yang akan diberikan 700x lipat, itu hanya sebagian kecil makna, namun bukan makna utama, dan hitung-hitungannya pun bukan terletak pada bakal 700. Jika yang menjadi orientasi dalam memahami ayat ini adalah, makna utama yang bersifat ukhrawi, maka tidak terlalu penting soal hitung-hitunganan jika kita bersedekah sekian maka bakal dilipatgandakan sekian, itulah mengapa Allah katakan diakhir ayat tersebut

والله يضاعف لمن يشاء
"Allah melipatgandakan bagi siapapun yang dia kehendaki"

Hal ini untuk menghilangkan persepsi bahwa 700 adalah angka pertama dan terakhir. Mengapa angka 700 disebut eksplisit? karena dalam tradisi lisan arab, angka 7 melambangkan banyaknya bilangan dan AlQur'an turun dengan lisan arab.

Then why do you give?

jika kita mau menjawabnya dengan alasan religi, kita hanya bisa menjawab, karena kita percaya dan berharap tentang dimensi ukhrawi tadi. Dalam Islam manusia hidup diminta untuk memadukan dan mengaitkan secara sempurna antara dimensi duniawi dan ukhrawi. selalu ada hubungan antara amal sosial kita dengan kedudukan ukhrawi kita. so, we do not give just because of kasian or puncak teori maslow [self actualization] and finally we tell them, this how do we think and live.

wallahu'alam, tesekkur ederim cik gu

=======
Ankara, 20 November 2013
[note: dalam catatan ini merupakan point penting yang saya rangkum dari hasil diskusi]
tidak saya cantumkan secara detail pembahasan saya dengan Irene teman asrama non muslim saya,
karena malu dengan dangkalnya ilmu yang saya miliki. PEACE :D

*pojok psikology and konseling 'Setiap hari adalah kejutan'

For My Future Students
Setiap hari adalah kejutan
================
Saya sedang duduk di meja ruang tengah asrama. Bermaksud melanjutkan mengetik sebuah rancangan konsep sebuah sekolah. Ada hal yang menarik hati saya ketika menekuni metode pengajaran kelas sebuah sekolah yang menjadi best reference education school in the world. FINLANDIA. Agaknya kita patut dan boleh saya katakan it is a must to learn and adapt the education system of Finlandia in to our education system. Bukan hal yang berlebihan jika kita pun menginginkan sebuah desain pembelajaran dan sistem pendidikan yang telah berhasil mereka terapkan.

Beberapa menit yang lalu saya menyelesaikan beberapa short movie kisah guru yang selalu memberikan kejutan kepada siswanya setiap hari. Menjadikan kelas bak laboratorium bawah laut yang menyimpan sejuta rahasia, menjadikan kelas bak ruang angkasa yang menyimpan milyaran misteri. Membuat siswa-siswinya bak sedang bermain tebak-tebakan pada permainan ular tangga. Hari ini akan ada kejutan apa di kelas. 

Guru yang menghabiskan waktunya untuk siswa-siswinya. Maka pantaslah jika ia patut menjadi lilin yang sebenar-benar lilin. Menerangi siswa dan membakar dirinya sendiri. Agaknya bermakna negatif membakar diri sendiri. Maka seadanya bagaimana guru membakar waktunya untuk siswanya, membakar energi dan fikirannya secara penuh untuk siswanya. Membakar tenaga dan kehidupannya untuk murid-muridnya. Life is teaching, life is children future. 

Tuesday, November 19, 2013

*Pojok Psikology "setiap anak adalah istimewa"



Beberapa hari sebelum berangkat ke Turkey saya menyempatkan berkunjung ke Sekolah Luar Biasa yang sebenarnya tidak jauh dari RCQ [Rumah Cerdas Qur'ani] tempat saya mengajar. Berulangkali bermaksud mampir dan ingin bertemu adik-adik di sana. Setiap pagi dan jam istirahat saya terbiasa lewat di depan kantin SLB ini. Sering sejenak mencuri pandang pada sekumpulan adik-adik SLB yang tengah duduk di depan kantin saling tersenyum dan seperti sedang bercakap antara mereka. Akan tetapi percakapan yang tanpa suara. Percapakan yang tanpa bunyi. Mereka bercakap satu sama lain menggunakan bahasa isyarat tubuh. Masya Allah. 

Tapi entah mengapa tidak juga kesampaian untuk mampir, sampai akhirnya sebuah acara yang diselenggarakan oleh Pihak Sekolah menerima kunjungan study banding dari SLB Malaysia, Kuala Lumpur. Dalam agenda tersebut pihak sekolah mengundang AL-ARDVICI agar mengadakan bazar produk tradisional. Kebetulan Rengke-rengke Al-Ardvici mengelola produk-produk hasil prakarya masyarakat pedalaman Jambi. 

Alhamdulillah akhirnya berkesempatan hadir dalam acara tersebut, tidak hanya mengikuti bazar penyediaan cindera mata bagi tamu-tamu, akan tetapi juga berkesempatan keliling sekolah dan bertemu adik-adik berkebutuhan khusus. Itu berbeda dan spesial bagi saya. Bertemu dan ngobrol bareng dengan orang tua anak-anak secara langsung. Meski saya lebih banyak menyimak dan menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan dan memperhatikan betapa sabar dan sayangnya para orang tua ini. Mengasuh anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus. Menanti mereka melakukan terapi bersama guru psikoterapi dan menemani belajar. Tidak terbayang berapa milyar kesabaran yang mereka persembahkan untuk anak-anak mereka. Pemandangan yang saya lihat adalah para orang tua yang berbesar hati atas qada dan qadar Allah. Mereka terlihat begitu tenang dan tidaklah cemas terhadap masa depan anak-anak mereka. Aku betul-betul belajar hari itu. Bahwa "setiap anak adalah istimewa."

***
Setiap anak memiliki keistimewaan tertentu. Mungkin tidak semua orang tua mampu menyadari dan melihat itu. Orang tua cenderung hidup dalam tuntutan ego yang menginginkan dan mengharapkan anak-anak mereka tumbuh dan hidup sesuai keinginan dan kepentingan orang tua. Membatasi anak dalam tataran cita-cita dan imajinasi anak. Orang tua membuat sekat dan kotak bahwa cita-cita hanyalah terdiri dari kata dokter, enginering, atau pegawai negeri. Seolah dunia hanya terdiri dari ruang berhitung, hafalan sejarah, tumpukan lembar kerja siswa dan puluhan aktifitas yang menguras dan menghilangkan cita-cita dan membatasi dunia perkembangan usia anak itu sendiri. Orang tua yang memaksakan anak-anaknya memegang pensil dan mulai menghitung dalam skala rumit pada masa usia dimana seharusnya mereka belajar mencampur warna. Memaksa mereka menghafal daftar sejarah dan berbagai rumus dan theory pada usia dimana seharusnya anak belajar menangkap kupu-kupu dan melipat kertas.

Monday, November 18, 2013

Euforia Study di LUAR NEGERI Yang KEREN mana?

Yang keren tidak harus di luar negeri. Indonesia juga memiliki segudang kampus keren yang kompetensinya juga tidak kalah keren dengan kampus dan sekolah-sekolah di luar negeri. Sebut saja kampus seperti ITB, ITS, UGM, UI, IPB dan kampus-kampus lain seperti kampus swasta dan institut berkelas dunia setingkat Ciputra yang juga tidak kalah bersaing pun puluhan institusi swasta yang tidak tersebutkan satu persatu. Kampus-kampus tanah air tetaplah bisa menjadi alternatif dan pilihan utama untuk melanjutkan study. Tidak semua melulu harus di Luar Negeri.

Kuliah di Luar Negeri memang terdengar hebat dan wah. Tapi tidaklah semua seperti indahnya di mata kita. Orang bilang rumput tetangga memang terlihat selalu lebih hijau. Selagi kita memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri tentu saja itu baik dan membuka peluang kesempatan yang lebih besar bagi kita untuk berkembang lebih luas, membangun jaringan lebih besar, dan mengenal ribuan kultur yang tidak bisa kita beli dengan belajar di tanah air.

Namun meskipun begitu. Melanjutkan studi di luar negeri bukanlah hal yang mutlak. Masih banyak kampus keren dan hebat di Indonesia yang tidak hanya bisa kita sambangi ilmu dan para gurunya. Kampus-kampus di Indonesia tidak kalah bersaing di tingkat dunia. Mahasiswanya juga hebat dan mampu bersaing dalam tataran Internasional mengalahkan kampus-kampus besar nomer wahid dunia. Sebut saja kisah Shofwan al-banna choiruzzad yang notabenenya lulusan kampus UI Indonesia, dimana tahun 2009 berhasil menjadi juara dunia pada kompetisi internasional Ekonomi Global di swiss. Bahkan mengalahkan peserta Harvard University sekalipun. Pun melenggang menggugurkan 200 peserta terbaik lainnya dari seluruh dunia.   

Ini hanya satu contoh dari sekian banyak gelombang contoh prestasi yang berhasil di pertarungkan oleh teman-teman kampus di Indonesia. Betapa kampus-kampus di Indonesia juga mampu bersaing dalam skala Internasional. Mencetak generasi-genarasi unggul yang berhasil membangun perusahaan-perusahaan besar. Lihatlah bagaimana kampus-kampus di Indonesia yang saat ini bergeliat mengembangkan ratusan program bagi masyarakat. Mereka terjun dan terlibat penuh masuk ke dalam pelosok-pelosok kampung kecil. Membangun komunitas, menggerakkan masyarakat, menghidupkan kegiatan perdusunan kecil. Lulusan dari manakah mereka semua ini? Tidak lain adalah teman-teman lulusan Kampus Indonesia, baik swasta mau pun negeri.

Lah untuk apa tulisan saya ini?

Tujuan tulisan saya sederhana. Baik kuliah di luar negeri mau pun tanah air itu sama-sama memiliki keunggulan masing-masing. Saya hanya tidak ingin teman-teman berEuforia melanjutkan studi di Luar Negeri hingga melupakan niat dan values dari menuntut ilmu itu sendiri. Karena yang terpenting adalah “bersih dan lurusnya” niat kita dalam menuntut ilmu. Dimana pun itu tempatnya.

"Barang siapa menempuh jalan guna mencari Ilmu, maka Alloh memudahkan
baginya jalan menuju surga." ( HR Muslim )
wa'llahu 'alam bishowab

Salam..

Sakura RT, Turkey 18 November 2013
about Turkish Schoolarship just visit my blog

bocoran, siapakah pemilik BLOG Sakura Romawi Timur?

Dear pembaca blog setiaku. Aku ingin engkau mengenalku lebih dekat. SAKURA. It my pen name. Aku terlahir di Sumatera. Orang menyebutnya Puja Kesuma. Putri Jawa Kelahiran Sumatera, dan itulah diriku.  Pada sebuah tanggal yang orang sering bilang tanggal keramat. Tanggal ganjil. Meski aku tak pernah berfikir demikian.

Tepat pada angka 3 aku menyaksikan dunia. Pada Bulan ke-10 Masehi. Kadang aku sempat berfikir, mengapa tidak sekalian bulan Januari ya? “Nanggung,” begitu fikirku. Namun saat itulah aku belajar tentang “Takdir” sebagai suatu ketetapan-Nya. Dan salah satu ketetapan itu adalah aku terlahir dalam keadaan sungsang. Kata emakku. Kakiku terlebih dahulu melihat dunia sebelum sempat kedua bola mataku yang menyaksikannya.

Sunday, November 17, 2013

MISTERI sebuah nasehat dan 11 hari Zaid Bin Tsabit

Kangen banget tilawah rasanya. Sudah hampir seminggu berlibur tilawah. Semalam lembur mengedit novel. Setelah seharian ngajar Bahasa Turki adik-adik Indonesia yang baru datang di Turki. YES! Alhamdulillah Teh Pipiet Senja dah kasih masukan buat novelku. Akhirnya ngebut semalam suntuk buat ngedit. Syukurlah masih bisa bangun pagi. Sebuah pesan masuk dari adik Indonesia via whats up bahwa aku harus menelepon Ustdzah [guru mengaji halaqah Qur'anku] semasa di Indonesia. 

Pukul 08:00 pagi aku menelepon beliau. Tapi beliau sedang ngajar tahfidz. Pesaanya agar menelepon sebelum dzuhur. Yaaah, kalo gitu mah disana sudah dzuhur. Ustdzah bilang sejam lagi telepon. Oke deh. Aku juga baru ingat kalo hari ini ngisi kajian adik-adik muslimah. Oh...sakuraaa! Whats the matter how do you put everythinging the same time? Kadang aku memang begitu. Mixing everything. Dan itu gueh gueh buanget. Hadeeeh. Satu jam berlalu dan akhirnya aku telepon Ustdzah, apakah ada yang penting sangat hingga Ustadzah memintaku menelpon pagi-pagi waktu turki. 

"Ustdzah sedang ngajar Bahasa Arab tadi?" tanyaku pada ustdzah jelang mendengar suara di seberang.
"Bukan, ngajar tahsin tadi." Jawab Ustdzah. Singkat! Lalu...

Saturday, November 16, 2013

*Pojok Psikology "Bullying, waspada!"

Bullying, waspada!
Apakah kita diantaranya? 
===============

Ratusan buku bertema psychology memenuhi rak buku Pustaka yang megah dan rapi itu. Mataku tertuju pada sebuah buku 101 Fakta tentang Bullying! Cukup kaget melihat buku itu. Meski tema bullying sudah pernah hangat aku diskusikan setahun yang lalu saat Pak Dede Martino memutarkan sebuah video padaku, kasus Bullying yang terjadi di sekolah-sekolah dasar di negara barat.

Teringat pada kisah belasan tahun yang lalu di suatu pagi.
“Aku mau duit kamu.” Sepasang mata merah menyeringai di depan seorang bocah perempuan kecil. Bocah kecil diam tergugu di kursi belajar kelasnya. Tanpa berani berkata sepatah kata apa pun. Badannya tersudut di ruang kelas. Seorang diri...Kelas sepi.

“Pokoknya kalo kamu gak kasih duit. Aku bakalan nangis dan pas pulang lihat saja nanti!!!” Ancamnya sekali lagi. Bocah perempuan kecil berkepang dua tidak memiliki pilihan. Sementara bocah perempuan berambut keriting di depannya terlalu besar, tinggi dan hitam untuk dia lawan. Meski kesal dan berat hati dengan ketakutan ia serahkan uang 50 perak itu kepada bocah perempuan keriting di depannya. Ia tidak memiliki keberanian untuk melawan. Kelas kosong dan sepi. Gadis di depannya 3 kali lipat lebih tua usinya. ANCAMAN & PEMERASAN!!!

Friday, November 15, 2013

Notes for teacher **CARING & MAP

We'll be a Lovely future teacher for our lovely future students 
[Sakura RT]

What we can see, we feel look there
What we can't see, we feel look not there
Sometimes what we see it is actually not there
and what we don't see actually is there
[Quoted From every children is special movie]

***
The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. [William Arthur Ward]

Guru yang biasa-biasa saja, memberitahu. Guru yang baik, menjelaskan. Guru yang unggul, menunjukkan. Guru yang hebat memberi inspirasi.
***
Jika engkau adalah seorang guru pernahkah menemukan keadaan dimana murid-murid kita ketakutan menghadapi kelas kita. Atau pun jika tidak takut adakah engkau pernah menjumpai murid-muridmu memandang dengan penuh kebencian kepadamu? 

Jika engkau seorang guru yang saat ini membaca tulisan ini, luangkanlah sejenak waktu kita untuk sekedar menutup mata, hadirkan sejenak anak-anak didik kita. Wajahnya, senyumnya, gembiranya, bahkan raut marahnya yang mungkin tidak kita perdulikan. Yang kemarahan dan pukul kesalnya tidak kita perhatikan. Duduklah sejenak dan perhatikanlah, rasakanlah bahasa yang tidak terucap dalam kata, rasakanlah kata yang tidak berwujud dalam ucap. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak didik kita, anak-anak yang akan menggantikan kita di masa depan. Yang akan membangun cita-cita yang mungkin saat ini kita belum mampu mewujudkan. Cita-cita yang mungkin saat ini masih menjadi bagian dalam do'a-do'a kita. Kepada siapakah kita berharap cita-cita itu terwujud selain kepada anak-anak didik kita. Sayangilah mereka, sebagaimana kita menyayangi cita-cita dan mimpi kita. Berikanlah perhatian pada mereka dengan sebaik-baik perhatian.

***
"Akbar, kelas berapa kamu dik?" Sebuah tanya sederhana yang aku munculkan pada bocah kecil, kurus dan hitam kulitnya, di suatu sore 2011 lalu serampung mengajar kelas B. Inggris.

"Kelas 2 SD kakak." Jawabnya singkat dengan dua buah giginya yang terlihat besar dan manis.

"Lalu kenapa suka mengumpulkan botol-botol [barang rongsokan]." Lanjutku bertanya.

"Iya kak, buat beli buku dan pensil." Jawabnya polos, sederhana.

Thursday, November 14, 2013

Kumcer **Spanduk di tepi fajar...

Spanduk di tepi fajar...
==============

Sabtu, 30 agustus 2008

Hari masih gelap. Subuh masih beberapa pukul lamanya. Seorang gadis kecil di sudut ruangan kamar kos terlihat resah dalam duduknya. Setumpuk buku tak lagi ia hiraukan. Tangannya sibuk mengutak-atik hendphone. Mengetik sms.

"Ukh, spanduk acara buat pagi nanti belum ada yang ambil." Sebuah pesan yang ia ketik di luncurkan kepada salah satu nama.

"Dak ado ikhwan yang nak ambek apo ukh." sebuah jawaban masuk.

"dak ado kayaknyo ukh, mereka sibuk nyiapin ruangan nampaknyo." Balasnya.

"temani ana ambek spanduk tu ya ukh." kirim pesannya lagi.

"payolah ukh ana temani kalo macam tu." Jawab pesan dari seberang.

***
Subuh belum sempurna bergeliat. Sebuah suara motor menderu di depan sebuah rumah kos kecil. Satu suara tint memecah hijau kabut.

"Ya ukh, tunggu bentar. Ana cari kaus kaki." Sedikit berteriak suara dari dalam kos-kosan.

"cepat dikit ukh, hari nak hujan." Jawab suara dari pemilik "tint" motor.

Pukul 06:00 pekat. Sepasang gadis berjilbab sedikit lebar itu menembus subuh di atas motor. Tidak ada suara dari keduanya. kecuali sapasang salam dan senyum yang sebelumnya saling bertemu dari kedua gadis itu. 

Sunday, November 10, 2013

once upon a time

Ya Rabb...tugas hamba hanya berusaha. Betapa aku membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk memahami buku-buku tebal berbahasa Turki ini. 

Ya Ayahanda guru Imam syafi'e, izinkan aku duduk di sisimu, mendengarkan nasihatmu atas resahnya hatiku.

Duhai sahabat perjuanganku, ana sayang anti :D Derasnya hujan akan berakhir dengan pelangi 1000 warna in sha Allah. Seperti pagi itu, saat kita menghabiskan waktu di sebuah Taman Bunga milik paman dan bibi yang kisahnya saling setia, di Novi Pazar, Serbia.

**Dan duhai engkau sang pemilik hati negeri sebuah jendela, haramain. Janganlah engkau membuat hatiku bertambah resah. Bertambah sulit tidur sebab tak sabar ingin juga segera menjamah kaki di negeri yang bercahaya itu. **uhuks uhuks uhuks :p




Saturday, November 9, 2013

Dear Ya Rasulullah

Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat ku tatap wajahmu. 
Kan pasti mengalir air mataku, kerena pancaran ketenanganmu.

Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan, Hanya Tuhan saja yang tahu
[Alangkah indahnya hidup ini, Raihan]

Dear Rasulullah, shalawat dan salam atasmu dan keluargamu ya Rasulullah...
Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
Bismillah...

***
Dear Ya Rasulullah


Pagi ini aku memutuskan tidur beberapa menit serampung lail dan shalat fajar, membaca beberapa halaman An-Nahl serta beberapa lembar buku pelajaran. Aku sungguh mengantuk sekali karena semalam yang padat. Baru sekitar satu jam aku tidur di balik selimut. Saat aku memejamkan mata aku seperti tengah melewati sebuah masjid yang menaranya tinggi menjulang dan bercahaya kemilauan. “Oh mesjid apakah ini.” Seperti bisik sebuah tanya hatiku. Aku ingin menyempatkan masuk ke sana, tapi entahlah sepertinya aku sedang sangat terburu-buru. Sehingga pergilah aku meninggalkan masjid yang menaranya bersinar berkemilau kehijauan itu. Aku meninggalkan dengan tanya yang tidak berputus. “Masjid apakah itu gerangan.”

***

"Bukankah itu masjidin Nabawi." Jelas seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa pemilik suara yang menjelaskan itu. Seketika hatiku merintih, diam dan kelu. Seperti seseorang penumpang yang ketinggalan kereta beberapa detik ketika sampai dan akhirnya kereta itu pergi meninggalkannya.

Dear Rasulullah...
Aku sungguh menyesal, mengapa aku tidak menyempatkan diri untuk masuk ke sana. Aku betul-betul merintih dan kelu. Hingga akhirnya sebuah cahaya menembus dan memercik mataku. Aku merasa kesilauan dan segera membuka mata. "oh...hari sudah siang." Ya Rasulullah, ternyata itu hanya mimpi. Sungguhkah aku bermimpi yang hanya sekedar melewati sebuah masjid dan membuatku menyesal setelah menyadari bahwa itu masjidmu, Masjidin Nabawi. Lalu siapakah pemilik suara di seberang sana itu?

Thursday, November 7, 2013

Mungkin jodoh juga akan begitu


Pukul 13:30 Turki.

**

Langit gelap sekali hari ini. Apalagi aku sudah duduk berselimut hangat di sisi jendela. Pusing sekali sejak tadi pagi. Kurang hemeoglobin sepertinya. Tapi dengan malas tetap kupaksa menarik jaket tebal yang nangkring di pintu kamar, memasang kaus kaki double dan sepatu kets. Menuju kampus...Coba lihat, musim gugur nyaris sempurna. Dan winter salju akan segera tiba. Entah suhu berapa. 

Dengan terhuyung aku paksa menyeret ke dua lututku ke kampus. Tujuanku satu. Kemaren sore aku kehilangan hard disk yang berisi ribuan data mulai dari data semasa kuliah di Indonseia mau pun data selama genap setahun di turki. 

Dan bru aku sadari jika hard disk ku hilang ketika smp asrama. Jika hari ini hard disk ku bertemu berarti memang itu jodohku. Dan jika tidak Allah pasti ganti dengan yang lebih baik. "Ayolah duhai diriku, minimal berusahalah dan berjuanglah untuk mencari hard diskmu dahulu." Bisikku merintih. Aku tidak yakin dg kebergkatanku ke kmpus sore tadi. Meski aku berusaha berbaik sangka, semoga jika memang hard disk itu bukan hak dan rezekiku, semoga sore ini Allah gantikan aku bertemu dengan rezeki lain yang lebih baik. Do'aku dalam hati.

pada sebuah negeri

Dear negeri sebuah jendela...

***

Pada sebuah negeri yang hanya bisa aku lihat dari balik jendela. Mungkin indahnya seperti langit biru di ujung negeriku. Dia berputar-putar dalam iring-iringan yang perdu. Ingin sekali aku ikut berputar dalam riang iringannya. Tapi tentu saja aku tidak perlu sedu sedan untuk melukis biru langit itu. Karena negeri yang langitnya bercahaya itu ada di sisi jendela hatimu...*emang langit negeri yang mana neng *auk ah gelep  — di Bişkek Caddesi (Eski 8.Cd.), Bahçelievler.


-----
Salam dari negeri seberang Jendela
Dokumen foto pribadi...

Dan aku pun mulai mencintai

Hari ini matahari bersinar hangat. Daun menguning dan aku berlari riang di sepanjang trotoar. Alhamdulillah, aku mulai mencintai kelasku, dosen-dosenku, teman-temanku, asramaku, ankara ku, Turki negeriku mengembarakan separuh dari jiwaku. Serampung kelas Özerklik - Autonomy aku berdiskusi dengan hoca, dosenku. Tentang rencana menulis paper. seperti biasa teringat jika dulu di Indonesia aku biasanya menemui Mam Una, pembimbing akademikku. Serampung diskusi aku pamit pulang. Berlari-lari kecil menyertai gugurnya daun kuning di kampusku. Berlari menembus jalanan yang ramai. berlari kecil menuruni anak tangga menuju kereta bawah tanah. Berlari kecil diantara gerombolan mahasiwa yang menyeruak dari mulut trem kereta. Berlari mengejar sebuah daun kuning yang 3 kepak seperti jari manusia bentuknya. Berlari dan berlari sampai akhirnya kakiku terhenti 180 derajat. Tepat saat aku menuruni anak tangga di bawah jembatan di dekat asrama kulihat 3 lelaki yang maaf *dissabilities berjalan beriringan. Yang seorang berjalan memakai tongkat dengan jalan yang tidak normal. Dan yang dua orang seperti tidak bisa melihat. Mereka tampak bergembira berjalan.beriringan. Hatiku basah memandangnya. Melihat pada kakiku yang sehat dan bisa merasakan nikmatnya berlari di bawah musim gugur. #evaluasiSyukurmu
 — di Beşevler. [6 November 2013]

Wednesday, November 6, 2013

Ia Bernama Irene #2


"aku sungguh sekali ingin menjelaskannya padamu iren. tapi aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya padamu. tidak semua hal bisa aku jelaskan secara teoritis." jelasku setengah berbisik di depan pintu koridor kamar belajar.

"aku tahu evi. tapi kau tidak mengerti maksudku. yang aku maksud adalah bagaimana mungkin Tuhan mengcounter motivasi buruk seseorang terhadap sedekah dengan memberikan apa yang mereka mau. Aku fikir sikap Tuhan tidak benar. Bagaimana aku bisa menerima konsep itu. itu maksudku." iren memandang mataku. aku diam menekuni isi hati dan fikirannya. Aku menarik tangan kanan iren dan membawanya ke sudut koridor.

catctil **Alhamdulillah I'm Fine

"evi iyimisin?" sepasang tangan menyentuh pundak kananku. 
"astaghfirullah." seruku lirih. Perlahan. memicingkan mata. 

"evi apakah kamu baik-baik saja?"

Aku kembali memicingkan mata. Oh sepasang wajah itu. Aku mengenalnya. Ya dia gadis Turki teman seruang belajarku di asrama. "...astaghfirullah. iyiyim." jawabku. Fikiranku terbang melintas puluhan tahun silam. di waktu yang sama emaklah yang menemaniku menghabiskan buku-buku yang melelahkan itu. — di Gazi Kiz Ogrenci Yurdu.



---------

5 November 2013
sumber foto gugel

Ia bernama Irene #1

Aku menyempatkan melirik jam di leptop. Baru saja 30 menit berlalu pergantian tahun baru hijriyah. 

"Apa yang kau dengarkan evi?" Sebuah suara berbisik di telinga kananku. Aku menoleh sejenak dan melepaskan headset dı telinga kanan. Memandang wajah berambut kepırangan yang berdiri setengah membungkuk di sisi kananku, aku hanya tersenyum.


"matamu melihat buku, tapi telingamu mendengarkan sesuatu. apa yang engkau dengarkan?" tanyanya sekali lagi. "apa tidak terganggu kosentrasi membacamu?"

Aku menyerahkan corong headset kananku. Ia menerima dan menempelkan di telinga kananya. Mendengarkan. Diam cukup lama, seperti sedang berfikir.

Monday, November 4, 2013

Sebuah pesan pentıng bagı para penuntut ılmu

Wasiat Imam Syafi'i kepada penuntut ilmu

Bila dirimu tidak tahan betapa lelahnya belajar, 
bersiaplah untuk menanggung beratnya beban kebodohan

Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru,
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.

Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. 



Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.

Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. 
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.

Maka nıkmat Tuhan Mu yang manakah yang akan kau dustakan 

[Q.s. Ar-Rahman]

sumber foto: gugel.com

Saturday, November 2, 2013

Our Future Family is Our Future Language

sources: gugel.com

=====
It is not easy to learn the new language. Although language is something unique and interesting. Today I met a woman. 35 years old I thought when she called and given "salam" to me. "Assalamu'alaikum." She greeted me. I saw her and she smiled to me warmly. 

"Alaikum salam wr." I answered by smiling.

we were waiting the train together at that moment.

"can you speak English?" She asked me..
"Yes, alhamdulillah." I answered her with my warm smiling too.

**

We jumped into small conversation since she seemed interested to have conversation with me. And in the same time the train was coming. We entered the train and unfortunately there was no space chairs for us to have a sit. Finally we stand up together. So far, the conversation continued.