Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Friday, June 26, 2020

Challange Of the Week #2 Sayur Mayur

Challange Of the Week #2 Sayur Mayur

Assalamualaykum,

Gunaydin emak pembelajar semuanya, alhamdulillah selamat datang kembali di blog Sakura Romawi Timur. Gimana nih Mak dengan tugas COTW #2 kali ini, yang pasti makin seruh ya sebab temanya adalah tema pokok yang dibutuhkan oleh kaum Ibu di bengkel kreatifitasnya “dapur.”Senang rasanya bisa menulis di blog tiap pekannya meski harus dipaksa dulu, wkwk. Kadang memang harus dipaksain untuk membentuk habit tertentu, apalagi kalau habit itu sebenarnya adalah hal yang kita senangi.

Oke, kali ini saya akan kembali mengajak emak pembelajar untuk kembali bertamasya di pekarangan rumah saya melihat beberapa jenis tanaman sayur yang tumbuh cukup subur. Meski tidak banyak, tapi lumayan cukup memenuhi kebutuhan menu sarapan tiap 2-3 hari setiap pagi, lumayan kan bisa menghemat pengeluaran uang belanja sayur, huehehe. Oke, sesuai dengan tema COTW KIP pekan ke-2 #Depok kali ini adalah tentang tanaman sayur mayur. Kebetulan sekali saya menanam sayur-sayur berikut dipekarangn rumah.

Thursday, June 25, 2020

Alam Terkembang Bercerita

Alam Terkembang Bercerita




“Eh, kan tidak boleh buang sampah sembarangan.” Mbak Nana berjongkok memungut kembali bungkus permen wijen yang baru saja dilemparnya ke lantai. Lalu memasukkannya ke dalam tong sampah di sisi pintu dapur.

“Kita tidak boleh buang sampah sembarangan, karena bisa menyebabkan banjir.” Terdengar lagi suaranya, masih dengan volume nyaring. Lalu tubuh mungilnya berputar menari-menari menikmati sepotong permen wijen kecil pemberian dari Mbah Puteri.

“Kok bisa nyebabkan banjir Mbak kalo kita buang sampah sembarang? Gimana caranya bisa banjir?” Anne akhirnya nimbrung, melihat Mbak Nana asyik bercerita mengikuti irama dalam ruang imajinasinya.

“Iya, tidak boleh Anne karena saluran air bisa pampat, kalo kita buang sampah sembarangan. Jadi bisa menyebabkan banjir.” Jawab Mbak Nana dengan suara semakin nyaring disertai dengan mengangkat jari telunjuknya, pertanda apa yang disampaikannya adalah perkara yang sangat penting.

“Makanya kita harus buang sampah di tong sampah.” Sambungnya lagi.

“Mbak Nana punya buku tentang banjir.” Ia berjalan menuju rak bukunya, mengambil satu judul buku dengan gambar gadis kecil berambut panjang yang tengah menari di taman bunga di bawah rinai hujan.

“Ini buku Mbak Nana, ada cerita tentang banjir kalo kita buang sampah sembarangan.” Tangannya mendekap buku yang baru saja diambilnya, memeluknya ke dada. Sementara ada yang menari-nari riang gembira di dalam hati Anne.

Buku itu Anne beli di salah satu even bazar Indonesia International Book Fair hampir setahun yang lalu, Agustus 2019. Namun agaknya cerita dalam buku itu selalu saja menjadi sumber rujukannya kala ia menemukan dirinya membuang sampah dengan sekehendak hatinya.

***

MISI 8 Aliran Rasa; Kreatifitas & Inovasi Mencapai Visi

MISI 8
Aliran Rasa; Kreatifitas & Inovasi Mencapai Visi



Menjadi Ibu “profesional” adalah sebuah proses panjang yang harus terus menerus diupayakan oleh seorang Ibu. Tidak ada kata selesai selama hayat di kandung badan, meski anak-anak kelak sudah tumbuh dewasa dan mandiri, tugas seorang Ibu untuk mendidik anak-anaknya akan terus berkelanjutan. Namun, tentu saja tidaklah mudah dan sederhana dalam melewati dan menjalani proses yang membutuhkan nafas yang panjang ini. Maka setiap Ibu idealnya membutuhkan bekal yang akan membantunya dalam menyeleami samudera kehidupan bernama dunia “Ibu” dengan segala ragam tantangan dan peluang yang ada di dalamnya.

Tantangan ini, bila mana seorang ibu memiliki ketahanan yang kokoh maka akan dapatlah ia melewati tantangan demi tantangan meski harus dengan bersusah payah, sebaliknya bila tidak memiliki cukup bekal atau dengan bekal yang seadanya, maka akan bertambah berat pulalah tanggung jawab dan tantangan yang sebenarnya akan dihadapi oleh kaum Ibu. Untuk itulah, kaum Ibu butuh untuk terus belajar dan mengembangkan diri. 

Friday, June 19, 2020

Challange Of the Week #1 Bumbu Dapur

Challange Of the Week #1 Bumbu Dapur


Assalamualaykumwrwb,

Hai, welcome di blog sakura romawi timur. Kali ini saya akan ajak kawan-kawan semua jelajah kebun pekarangan saya yang masih banyak lahan kosong, huehehe. Nggk kosong banget sebenarnya, sebab ada beberapa tumbuhan sayur yang tumbuh subur di pekarangan rumah. Namun kali ini sesuai dengan COTW #1 maka saya sharing perjlanan menanam bumbu dapur.

Alhamdulillah, seneng sih yak, sejak gabung dengan Ibu Profesional jadi rajin ngeblog, wkwk. Sudah lama tidak aktif diblog, semenjak kehadiran Instagram tulisan saya lebih banyak disana, meski tetap beda donk dengan blog yang tidak terbatas ruang buat kita menumpahkan samudera kata.

Oke, ini adalah tulisan ringan sesuai dengan judulnya yang seru dan khas ala ibu-ibu #Bumbudapur. Senang dapat challenge ini, sebab memang suka juga menanam di rumah, meski yang gak pake teori ilmu pertanian, wkwk. Modal senang nancepin apa saja sisa sayur dari dapur. Senang pula dengan aktifitas mencabut rumput dan menyiramnya di sore hari. Kali ini saya ingin berbagi beberapa bumbu dapur yang saya tanam baik di halaman rumah depan mau pun halaman di belakang rumah.

MISI 7; Connecting the Dots

MISI 7
Connecting the Dots

Pagi yang indah, seperti kicau suara burung di ranting pepohonan buah mangga di sisi rumah. Seperti daun-daun tumbuhan singkong yang tumbuh subur di sepanjang sisi pagar pekarangan rumah, seperti kembang tanaman pisangan yang mekar di samping jendela dimana saya sedang duduk saat ini. Inilah hari dari penghulu hari, Hari Jum`at. Saya duduk menghadap leptop, kembali menekuni tantangan yang diberikan di kelas matrikulasi batch 8 Institut Ibu Profesional. Tidak terasa sudah sampai pula di misi 7, ya meski tertatih dan mengerjakan tugas di sela-sela waktu, bersyukur Allah mampukan sampai pula di Misi yang ke-7 ini. Semoga tetap istiqomah tak hanya sebatas merampungkan misi. Ya misi seorang Ibu sejatinya tidak mengenal kata usai. Pun bahkan hingga anak-anaknya tumbuh dewasa, maka misi pendidikan seorang Ibu untuk terus belajar dan mendidik semestinya terus menyala.

Oke, misi kali ini adalah connecting the dots. Berdasarkan bacaan ringkas yang saya peroleh dari Wikipedia tentang definisi dari connecting the dots adalah sebagai berikut:
In adult discourse the phrase "connect the dots" can be used as a metaphor to illustrate an ability (or inability) to associate one idea with another, to find the "big picture", or salient feature, in a mass of data.
Adalah titik-titik yang saling menghubungkan satu ide dengan ide yang lain hingga kita bisa menemukan gambaran besar dari sebuah ide. Atau pun jika ia adalah sebuah refleski diri maka diri kita pun akan mengenal diri secara utuh. Kali ini adalah tugas connecting the dots yang diberikan oleh IIP, mecoba menggali apa yang ada di dalam diri, kelemahan dan kekuatan yang bisa bersinergi membangun kekuatan dalam pencarian makna seorang Ibu yang professional.

Thursday, June 18, 2020

Tentang Surga yang berisi Permen-Permen

Tentang Surga yang berisi Permen-Permen



Anne duduk dilantai, dengan perasaan dan fikiran yang memburu waktu. Sebentar-sebentar melihat jarum jam yang terus berputar dan terasa semakin cepat. Lalu tangan ini kembali sibuk membungkus tumpukan buku-buku yang menggunung di meja tengah. Buku-buku itu adalah buku pesanan dari tetangga komplek dan teman-teman sejawat dari berbagai daerah.

Tampak pula Mbak Nana, seorang gadis kecil berusia 4 tahun yang asyik mashuk duduk di sisi Anne. Tangan mungilnya yang lentik sibuk menarik solasiban, sibuk pula mengguntingnya. Anne tak sempat memperhatikan dengan detail apa yang tengah dilakukan oleh bocah kecil yang hidungnya seperti buah jambu itu.

“Mbak Nana kan mau bantuin Anne.” Katanya kemudian diantara deru suara kipas angin ruangan yang berputar kekanan dan kekiri. Anne masih diam dengan wajah yang serius, sebab mengejar beberapa buku pesanan yang belum siap dipacking, sore ini semua daftar pesanan itu harus siap diantar ke kantor ekspedisi. 

Teringat pula fikiran Anne dengan sederet agenda yang harus dituntaskan hari ini. Ditahan-tahanlah rasa kantuk yang mendera sebab beberapa hari kurang cukup tidur ditambah pula harus sudah bangun pagi-pagi untuk urusan ini dan itu. Namun demi dilihatnya si sulung Rayyan (17 bulan) sudah lelap dalam tidur menjelang siang, maka legalah hati Anne. Satu dua jam selagi bayi gembul itu tidur, akan sangat berguna untuk menuntaskan banyak pekerjaan.

“Mbak, Anne mau pake guntingnya ya Nak.” Beberapa kali suara Anne meminta gunting yang tengah berada ditangan Mbak Nana dengan suara sedikit menggesa.

“Mbak Nana bantuin deh Anne.” Kata Mbak Nana menawarkan bantuan, terdengar tarikan suara terasa berat meski akhirnya dilepaskan gunting itu dari tangannya. 

“Terimakasih Mbak. Kenapa sih, Mbak Nana kok mau bantuin Anne bungkusin pesanan orang, kan ini semua bukan bukunya Mbak Nana?” Tanya Anne sejurus kemudian. Mengingat betapa kerasnya ia menolak tidur siang dan memilih duduk menemani Annenya, meski didapati Annenya sangat sibuk dengan urusan membungkus buku-buku.

“Iyalah Mbak Nana kan senang bantuin Anne. Nanti kan kalo Mbak Nana baik, bisa dapat surganya Allah.” Jawab Mbak Nana sumringah.

Friday, June 12, 2020

Karakter Moral Ibu Profesional; Misi belum lagi usai

Karakter Moral Ibu Profesional


Aku punya tantangan selama berproses dan menjalani peran kehidupan yaitu: Melepaskan diri dari "semacam" rasa trauma kecemasan saat menjalani masa LDR dengan suami.

Tapi ternyata, dalam diriku terdapat karakter moral Ibu Profesional yang menjadi kekuatanku. Ini kisah dan caraku untuk mengatasi tantangan tersebut.

Allah yang dengan kekuasaan-Nya Maha berkuasa menaburkan rasa cinta dan kasih sayang kepada tiap makhluk-Nya. Tiada satu makhluk pun didunia ini yang luput dari pengawasan dan rizki atas-Nya. Makhluk kecil yang kasat mata seperti tiada yang menjaga, namun Allah pun taburkan rizki baginya meski ia hidup di dalam tanah yang pekat gulita-cacing atau binatang-binatang yang hidup di dalam tanah.

Namun demikian, makhluk kecil itu tetap menjalani kehidupannya dengan penuh suka cita. Agaknya berbeda dengan makhluk bernama manusia, selalu saja ada keluh kesah datang silih berganti, hingga seperti tak berbekas barang sececap pun akan kisah-kisah hebat yang ditelan dalam lisannya.

Ada karakter utama yang semestinya tidak boleh lenyap atau bahkan meski sekedar menjadi berwarna abu-abu, pada tiap jiwa "perempuan" muslimah. Karakter yang akan mampu membentuk pribadi dan jiwanya tetap tegak berdiri dengan keyakinan yang utuh. Karakter yang membuatnya tidak diliputi rasa gelisah, pun meski di tengah kota Mekkah yang tiada bertuan dengan segelintir manusia pun. Bahkan lebih pahit dari itu, tiada air sebagai sebentuk harapan akan adanya pertolongan.

Namun, karakter yang menghunjam kuat dalam jiwa inilah yang kiranya telah menyatu pada sosok Ibu yang mendekap bayi merah di lembah nan gersang. Dimana keduanya ditinggalkan Ibrahim di sisi Al-Bait di Makkah Al-Mukarramah, di tanah yang tanpa manusia, tanpa air. Tanpa meratap-ratap, tanpa meronta, hanya sebaris tanya penuh keteguhanlah yang hadir di lisan perempuan nan agung itu.

“Allahkah yang menyuruh engkau berbuat seperti ini wahai Ibrahim?”

“Benar,” jawab Ibrahim.

“Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami,’ Jawab Hajar penuh keridhaan, disertai keyakinan akan datangnya kabar gembira dan perlindungan.

(Ali Al-Hasyimi, hal. 7)