Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Sunday, October 13, 2013

tentang sebuah kisah -GELANG TANGAN-

Bangun pagi sebuah kisah di poskan oleh seorang Bapak yang sedang kuliah di Turkey. Mengepost tentang kisah -seorang ayah dengan anak putrinya- di grup whats up.  Kisah seorang ayah yang membelikan gelang kepada putrinya yang kemudian ia minta kembali, untuk mengetes kesetiaan putrinya. Bedanya setelah di minta ayahnya dan sang anak yang sangat menyayangi gelang itu akhirnya memberikannya meski dengan berat hati, [dan benar ternyata gelang itu adalah gelang imitasi] lalu ayahnya menggantinya dengan gelang emas yang asli. Subhanallah...

Inti dari kisahnya adalah bahwa bisa jadi Allah mengambil apa yang kita sukai karena Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dan tidak pernah kita terduga. Sesaat membaca kisah ini fikiranku terbang tinggi. Terbang memasuki lorong puluhan tahun yang lalu. Muncul sebuah bayang bening di cermin mataku. Maka inilah kisahku tentang sebuah GELANG TANGAN itu...

====
"Kalau kamu juara umum lagi Nduk, mengko bapak belikan hadiah." Kata Bapak saat aku menyerahkan raporku. Saat itu kelas I Tsanawiyah catur wulan ke-2. Sementara aku sibuk memikirkan hadiah apa yang pas dan aku inginkan. Bingung...

"mau hadiah apa?" tanya Bapak sekali lagi, membuyarkan lamunanku tentang hadiah yang sampai detik itu pun aku tidak tahu hadiah apa yang aku inginkan. Iya aku ingat, aku jarang bahkan tidak pernah meminta hadiah apa pun kepada Bapak dan Mak dalam hal semisal menjadi rangking satu dan sebagainya. Aku tidak berani meminta hadiah, selain hanya minta selametan bancaan di mushola dengan teman-teman sebagai bentuk syukur. Jadi tiba-tiba dengan pertanyaan Bapak apakah aku menginginkan hadiah untuk kali ini, itu benar-benar membuatku terkejut, dan memang aku tidak pernah memiliki ide apa pun tentang hadiah apa yang aku inginkan.

Setelah beberapa hari. Akhirnya ide sederhana itu muncul. Aku meminta dibelikan sebuah jam beker yang akan membantuku bangun lebih pagi dan tepat waktu. Siang itu serampung Dzuhur bapak mengajakku ke Pasar rakyat, lalu mengajakku ke sebuah toko Jam. Subhanallah jam bekernya bagus-bagus. Dengan takut-takut aku memilih sebuah jam beker sederhana, jika tidak salah seharga 15.000 rupiah. Saat itu aku takut, jika harga jam itu terlalu mahal. Tapi sepertinya Bapak membiarkan aku memilih jam itu. Sebenarnya ada yang lebih bagus. Tapi sudahlah, in sha Allah ini sudah lebih dari cukup. Lalu bergegaslah kami pulang. Sesampai di rumah emak, si mbak dan adik sibuk menggodaku, karena aku memiliki jam beker. Jam beker hadiah dari si Bapak.

====

Tahun berlalu...

Meski masih dengan predikat menjadi rengking juara umum. Bapak tidak pernah lagi menanyakan apakah aku menginginkan sebuah hadiah. Paling serampung bagi rapor dan menunjukkannya pada Bapak beliau hanya akan mencium ke-2 pipi kanan dan kiriku. Meski saat itu aku berharap kejadian setahun yang lalu berulang. Berharap Bapak akan menanyakan apakah aku menginginkan sebuah hadiah. Pasalnya aku sudah bersiap menyiapkan jawaban jika Bapak bertana hal yang sama "mau hadiah apa nduk?" Dan aku akan bersiap menjawab dengan sebuah jawaban. "Sebuah Sepeda," lalu jika beliau menolak karena tidak cukup uangnya, maka aku akan mencari penggantinya dengan sebuah "tas" atau "sepatu" saja. Kurasa itu cukup. Tapi sayang dan kenyataannya Bapak tidak pernah menanyakan perihal tentang hadiah itu. Maka aku kuburlah keinginanku untuk memiliki sebuah sepeda, atau tas atau sepatu. Dan lagi-lagi hanya selametan di mushola bersama teman-temanlah yang bisa aku lakukan. Bancaan makan jajanan pasar, sejenis keripik, bakwan dan sekedarnya yang di beli di warung. Selalu begitu.

====
Siang itu serampung pulang sekolah dan aku sudah lupa tentang hadiah. Tidak sepeda, tidak tas, pun juga tidak tentang sepatu. Yah aku tahu, ini tas sudah dua tahun aku memakainya. Sudah lepas tali pengangkatnya. Pun sepatu yang belum pernah membeli yang baru sejak dari kelas 1. Tapi biarlah. Toh aku belum pernah mendengar teman-teman mengolok-olok atau menghina sepatuku. 

Siang itu aku duduk di bawah pohon kelapa di samping rumah. Sambil menghafal lembaran catatan berisi naskah pidato. Pak guru Ahmadi memintaku untuk  mengikuti lomba pidato tingkat kecamatan. Dan aku hanya menuruti kata beliau. Sebuah suara emak memanggil dari dapur. Aku berlari dan duduk di sisi Bapak dan emak. Keduanya sedang membicarakan hal yang penting.

Lalu bapak mengajakku ke pasar. Beliau bilang memintaku untuk menemaninya ke Pasar. Tanpa ber ba-bi-bu aku menurut. Kami naik motor bersama. Sesampai pasar bapak mengajakku ke sebuah toko. "Haa? Toko emas?" Begitu hatiku bertanya-tanya. "mau ngapain si Bapak?" kembali hatiku penasaran. Lalu Bapak memperhatikan emas-emas itu. "Suka yang mana Nduk awakmu?" tanya bapak dengan tetap memperhatikan deret gelang-gelang yang modelnya cantik itu. Seumur-umur aku tidak pernah memakai gelang atau pun kalung kecuali kalung-kalungan. Sekilas memandang cincin di jari manisku. Itu pun pemberian dari Nenek. "emm, mungkin Bapak beli buat si Mak." Begitu fikirku. Dengan segera aku menunjuk pada sebuah gelang yang bentuknya cantik sekali. Tapi sepertinya itu harganya sangat mahal. Tapi karena tidak mungkin Bapak akan membelikan untukku maka aku tunjuk saja gelang yang paling cantik bentuknya menurutkan dan bisa aku tebak itu sangat mahal.

Bapak menanyakan beberapa harga gelang. Mulai dari kisaran harga 400 ribu hingga jutaan rupiah. Wah mahal sekali harga gelang. Dalam hatiku. Jika begini aku juga tidak akan pernah berani meminta hadiah gelang. Hatiku kembali berbisik sendiri. Teringat harga jam bekerku yang senilai 15.000 ribu rupiah. dan itu pun sudah sangat mahal bagiku. Bapak meminta penjual mengambil gelang yang tadi aku tunjuk. Lalu setelah itu memintaku untuk mencobanya. "lhoo, ayu yo nduk mbok enggo." kata Bapak. Aku hanya senyum. iya memang kelihatan bagus aku memakai gelang itu. Tapi sekali lagi, tidak mungkin aku memakai gelang seharga ratusan ribu rupiah itu. Lalu Bapak membungkus gelang itu. Wah, uang Bapak banyak sekali dalam hatiku. Bapak memutuskan membeli gelang seharga 900 ribu rupiah. Nyaris sejuta. Aku menelan ludah beberapa kali. Sebenarnya untuk siapa sih Pak. Dalam hatiku. Sesampai di rumah, Bapak bilang bahwa gelang ini hadiah untukku. Bapak baru dapat rezeki, dan Bapak sudah janji dengan diri sendiri jika rezekinya banyak Bapak akan belikan gelang terbaik untukmu. Saat itu aku sangat takut. Bukan takut karena bergetar terharu mendengar ucapan Bapak. Takut karena gelang itu harganya 900 ratus ribu. Takut hilang dan kehilangan. 

====
Singkat cerita aku memakai gelang itu. Malu sekali rasanya. Seumur-umur aku tidak pernah memakai gelang emas. Aku memakainya ketika pergi sekolah. Meski menutupinya dengan seragam lengan panjang. Takut jika dilihat teman. Meski merasa sangat bangga dan terkadang perasaan anak kecil pun muncul. Seolah ingin mengatakan pada teman-temanku bahwa ternyata "Bapak sayang sekali padaku." Kisah tentang gelang itu terjadi beberapa pekan lamanya. Hingga datanglah memasuki bulan akhir ke-2 usia memakai gelang itu. Ketika sebuah suara memanggilku, dengan sangat serius. Dan itu suara Bapakku.

"kita sedang dapat musibah Nduk, mobil kita tumburan dipasar. Mamangmu numbur orang. Sehingga kecelakaan. Butuh di rawat di rumah sakit. Bapak dan emak sudah berusaha mencari pinjeman. Tapi masih kurang banyak." Suara Bapak.

Deg. Hatiku gemetar. Bukan karena mendengar cerita kasus kecelakaan itu. Tapi terlebih aku mulai memahami kemana Bapak akan membawa ceritanya. Dan aku kembali mengingat gelang itu. Aku sudah terlanjur mencintai gelang itu. Aku tidak mau melepaskannya. Itu kan kesalahan mamangku. Protesku dalam hati.

"Oleh sebab itu, satu-satunya jalan cuma satu. Menjual gelangmu itu Nduk." Kembali suara Bapak bergelombang. Sementara aku menelan ludah. Aku sudah menyayangi gelang itu. Aku tidak akan memberikannya. Itu salah mamang. Kenapa aku yang jadi korban. Kenapa mamang gak pinjem duit Pak De, atau Mak De, atau juragan getah kidul, kenapa mesti gelangku yang di korbankan. Protesku dalam hati. Meski tidak sepatah kata pun keluar dari pita suaraku.

"Jadi Bapak pakai dulu ya Nduk, Bapak pinjem dulu. In sha Allah kalo sudah luwung dan punya banyak rejeki Bapak ganti lagi gelangmu." Suara Bapak mengakhiri.

"Pasti teman-teman menanyakan dimana gelangku." "lho gelang mb evi mana.?" dan pertanyaan-pertanyaan prediksi lainnya. Fikiranku mulai macam-macam. Malu.

Dan tidak ada pilihan. Aku menyerahkannya dengan berat hati. 

====
Awalnya aku berharap Bapak akan mengganti gelang itu. Aku sungguh mencintainya. Dan jika Bapak mengajakku ke Pasar aku akan minta dengan model gelang yang sama. Jika tidak bertemu dengan model yang sama aku akan marah pokoknya sama Bapak. Salah siapa meminjamkan gelang itu untuk di jual. Yang menumbur orang siapa. Masak aku yang harus menanggung akibatnya. Aku sungguh kesal saat itu. Meski aku tidak pernah mengungkapkannya. 

Waktu berlalu, bulan berganti, pun bahkan tahun. Tidak ada lagi pembicaraan tentang gelang. Meski dengan perasaan tertahan aku tidak pernah berani bertanya tentang gelang itu. Yang aku fahami kondisi ekonimi di rumah semakin sulit. Dan aku tidak pernah berani bertanya tentang gelang itu. Hingga aku lulus Tsanawiyah dan menjadi lulusan terbaik di kabupaten Bapak bahkan tidak pernah sekali pun menanyakan apakah aku menginginkan hadiah. 

Sejak saat itu aku tidak pernah lagi berani berharap hadiah apa pun dari Bapak. Kecuali sebuah permintaan bahwa aku ingin sekolah di Kota Provinsi. "Kamu boleh sekolah di Kota." Kata Bapak setelah 2 hari lamanya aku mengurung diri di kamar. Protes karena Bapak tidak mengijinkanku untuk sekolah di Ibu kota Provinsi. Itu adalah bentuk protes puncakku. setelah Bapak tidak pernah lagi menanyakan apakah aku menginginkan hadiah. Saat itu aku betul-betul menginginkan sebuah tas. Meski aku tidak pernah berani mengatakannya. Berharap Bapak yang menanyakan. Jadi apa salahnya jika kali ini aku minta hadiah izin sekolah di ibu kota dengan cara mengurung diri. Pokoknya harus dikabulkan. Begitu tekadku. Dan ternyata berhasil. Bapak memperkenankan keingananku.

====

Setahun, dua tahun, 3 tahun, dan bahkan akhirnya aku merampungkan studi strata satu degan gelar di belakang namaku, pun dengan bertenggernya predikat lulusan terbaik di departemenku. Bapak bahkan tidak pernah menyinggung apa pun tentang janji gelang itu. Dan aku pun sudah lupa tentang gelang itu. Sudah benar-benar tidak ingat lagi...Hingga pada pagi ini saat aku membuka whats up dan membaca kisah tentang ayah dan sebuah gelang -Deg- hatiku bergetar aneh. Fikiranku terbang jauh melintasi masa- teringat pada kisahku tentang hadiah gelang pemberian Bapak belasan puluhan tahun yang lalu.

Ah...Bapakku. Kini sekarang aku faham. Mengapa tidak ada hadiah setiap waktu. Agar aku belajar kesederhaan dan pandai bersyukur tanpa mengharap imbalan apa pun. Agar aku tidak sombong dan menyombongkan "inilah Bapakku." Agar aku ikhlas membantu, meski harus mengorbankan apa yang paling dicintai. Belajar ikhlas itu penting meski itu berat sekali. Kini aku juga faham, bahwa engkau begitu menyayangiku ketika akhirnya seluruh jiwa dan hartamu telah engkau korbanku untukku- saat aku memutuskan berangkat meninggalkanmu di seberang Negeri Merah Putih yang jauhnya bermil-mil ini. Tidak hanya sebuah izin jiwamu yang tulus [setelah setahun engkau menahan ridhomu], akan tetapi kini semua harta dan ragamu yang telah engkau korbankan untukku. sungguh ini melebihi harga gelang tangan di Pasar itu...

Sakura Romawi Timur

Ankara - Turkey, 8 Arafah 1434 H
13 Oktober 2013

Sumber Foto : Gugel




2 comments:

joe harry said...

keren banget mbak evi.. #terharu

Evi Marlina said...

cuma kisah masa lalu kok dek :)