Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Friday, May 10, 2013

KAPAL di atas KULKAS

Masih ingatkah kita dengan peristiwa 31 Mei 2010 dini hari? Tragedi penembakan sebuah kapal. Kapal yang ditembaki oleh pasukan bersenjata Israel di perairan internasional di Laut Tengah dalam pelayaran dari Cyprus di wilayah perairan internasional, 65 kilometer dari perairan Gaza dengan membabi buta. Sebuah kapal yang akan memberikan bantuan kemanusiaan serta membebaskan Gaza dari Blokade yang diterapkan Israel. Adalah kapal berbendera Turki yang ditembaki oleh tentara Israel, membawa sekitar 563 relawan dari 31 negara. Itulah kapal MAVI MARMARA KUMBARASI.


Potongan 1

Dari seribu orang jika ditanya kapal apakah ini mungkin hanya 1 dari seribu orang yang akan memberikan jawaban dengan jawaban konyol dan tidak berbobot. Dan malangnya jawaban konyol dan tidak berbobot itu lahirnya dari saya sendiri #sungguh saya teramat keterlaluan!!!

YAH! MAVI MARMARA KUMBARASI

Hati saya riang betul sore itu. Sebuah kapal berukuran sebesar setrika pemberian secara gratis dari sebuah stand bazar lembaga sosial. Awalnya saya ragu untuk menerimanya, karena persyaratan yang melekat pada kapal itu. Tapi, tidak ada beratnya buat mencoba. Fikirku.

Sesampai di asrama saya bingung mau saya letakkan dimana kapal itu. Bingung bukan tidak ada tempat. Tapi saya faham betul, teman2 kamar asrama memang masih awam dan sedang belajar hal-hal yang ber tanda kutip "islam."

Saya muter-muter sesampai di kamar. Berjalan ke monadar-mandir diruangan dengan kasur bertingkat itu. Melihat semua tempat yang memungkinkan untuk saya letakkan di kamar. Kalo saya letakkan di atas lemari, itu artinya buat apa kapal ini. Tanpa fikir panjang, "okelah kamu tak letak di atas kulkas kamar aja ya." Sambil gumam dalam hati. Akhirnya mejelnglah kapal cantik itu di atas kulkas. Setelah oke, tidurlah saya malam itu dengan tenang. Karena sudah menemukan tempat yang pas buat si kapal cantik. 

***
Malam berikutnya, saya pulang agak larut, serampung mengikuti acara Pekan Pertemuan Mahasiswa Internasional. Setelah mengucap salam, teman Kamar asrama saya heboh. Karena memang saya sekamar dengan 4 teman Turki dan 1 mahasiswa internasional. Karena capek, saya tidak begitu memperdulikan kehebohan itu. Saya cuma berbaring sejenak dan sibuk ngurusi PR. Pusing!!!

"evi apa ini? siapa yang meletakkan di atas lemari es?" Tanya salah satu teman saya.

Aku melongokan kepalaku sebentar. Saking capeknya.

"Oh...ben." jawabku singkat. Setelah itu sibuk dengan bukuku.

"ini kapal istimewa evi, dari mana kamu dapat?" Tanyanya lagi.

Haa, kali ini saya sedikit terkejut. Loh tumben padahal kapal ini kan ada merek bendera Palestina, batinku.

"Kapal itu aku dikasih di acara Bazar international student di genclik park." Jawabku singkat.
#Sunyi...

POTONGAN 2

Saya sudah larut dengan PR bahasa Turki. Kamar masih saja gaduh. Malam itu saya betul-betul malas untuk beranjak merampungkan PR di ruang belajar. Beberapa menit kemudian salah seorang tetangga kamar asrama masuk.

"Ohaaa..., bu neyaaa?" Suaranya tiba-tiba menggelegar memenuhi ruangan kamar. “Apa ini yaaaa?” Keras sekali. Meski saya tidak perdulikan suara itu. Saya sudah benar-benar  stress seharian. Suara di kamar semakin heboh. Tapi pembahasan tidak lagi pada kisah-kisah baju dan sepatu baru yang baru mereka beli, melainkan pada KAPAL di ATAS KULKAS.

“Bu kimin?” Heboh sekali dan sangat ribut. “Punya siapa ini?”
“milik evi.” Jawab si Gul, yang beberapa menit lalu bertanya kapal itu milik siapa. “evi getirdi.”

 Tambahnya singkat. “evi yang membawanya.”
“Evi buat apa kapal ini?” mereka bertanya dan menuntutku untuk tidak mengacuhkan pertanyaan itu. Dengan sedikit gontai aku turun dari sofa. Berjalan dan duduk dinatara mereka berlima.
“Kapal ini tempat kita menaruh uang. Lewat lubang sini masukin koinnya.” Jawabku sesuai instruksi petugas yayasan sosial saat kapal ini diberikan kepadaku.

“Terus uangnya untuk siapa?” Tuntut pertanyaannya lagi.
“Nah, nanti setelah penuh uangnya akan kita kumpulkan dan kita berikan kepada yayasannya. Nanti pihak yayasan yang akan menjemputnya. Kita Cuma butuh untuk SMS dan memberi kabar bahwa kapal ini sudah penuh.” Jelasku.

“Yalannn evi, yalann. Inanma!” Sebuah suara mengguruh keras. “Bohong evi, bohong, jangan percaya.” Bantah suara dari gadis tetangga kamar yang baru saja masuk beberapa menit lalu.

“Kamu jangan percaya, mereka itu bohong! Nanti kalo uangny udah penuh mereka akan bawa uang itu dan pergi. Jangan percaya.” Ulangnya lagi.

Sementara fikiranku masih pusing dengan PR ku yang belum rampung.
“Trus kamu mau letakkan kapal itu di atas kulkas itu”? Tanya Unda menuntutku.

“iya malam ini kapalnya biar di sini, semalam saja. Besok mungkin sudah di musola asrama.” Jawabku.
“Evi, jangan mau percaya. Mereka itu bohong.” Gul, menambahkan.

“Iya, gak papa. Kalo kalian gak mau kasih ya gak papa. Kalau kalian ingin kasih uang buat bantu orang miskin, kalian bisa masukkan uangnya lewat lubang ini (kapal itu berbentuk celengan).” Jelasku, dan lalu kembali ke sofa, mengurusi PR ku.
#Hening...

POTONGAN 3
Malam selanjutnya. Kamar sedemikian heningnya. Teman-temanku belum pulang ke asrama. Hanya ada Rema, teman kamar internasionalku. Malam itu aku sedang menggosok baju di atas sofa kasurku.
“Evi kau tahu, ini kapal apa?” Tanyanya padaku di tengah kesunyian kamar asrama.

“Kapal buat letak uang di dalamnya.” Jawabku singkat. Dengan tangan sibuk merapikan baju yang sedang tak setrika.

“Bukan itu maksudku.” Katanya lagi.

“Lalu...” Aku menggantung dengan mata tidak terlepas dari baju setrikaanku.
“Kau pasti ingat evi, ini kapal apa?” Tanyanya lagi, seakan aku akan memberikan jawaban yang lebih cocok. Aku mendongakkan kepalaku. Menatap wajahnya.

“Kapal ini buat tabungan untuk bantu orang yang membutuhkan.” Jawabku. Kembali sibuk dengan baju setrika.

“Evi ini bukan kapal sembarangan.” Suara Rema lagi.
Aku senyum melepaskan baju setrikaan. “Ah, kamu memang gadis dewasa yang baik hati.” Gumamku #mungkin karena ini kapal untuk kemanusiaan kali ya. Fikirku selintas. Aku kenal betul Rema adalah temanku yang lahir di negara sekuler. Dimana Islam dilarang.

“Dari mana kamu dapat kapal ini?” Tanyaya lagi.
Haa, kali ini aku merasa aneh meski aku jelaskan asal-usul dari mana aku mendapatkan kapal itu.
“Apa besok pagi pameran itu masih ada?” Tanyanya lagi.

“Jika sempat, besok aku mau juga ke sana buat minta kapal itu, tidak ada salahnya aku ikut membantu.” Tambahnya.

#Haaa...aku benar-benar melongo kali ini. Nyaris tidak percaya. Aku faham betul siapa Rema. Usianya 3 tahun lebih dewasa dariku. Gadis bumi sekuler. Dia bilang keluarganya muslim. Tapi tidak ada islam dalam keluarganya, pun tidak ada shalat. “Dalam keluarga kami, kami melarang satu sama lain berhijab.” Itu kisah yang ia sampaikan padaku beberapa bulan yang lalu. Aku merasa ada yang aneh dengan kapal itu. Mengapa seorang Rema, dengan kesibukannya bekerja, pun pada busananya yang “bertanda kutip” itu bermaksud meluangkan waktu meski hanya untuk mengambil sebuah kapal celengan? Aku tidak mengerti.

#Ah..entahlah...aku kembali melipat baju-bajuku.
“Ini adalah kapal KEMANUSIAAN evi.” Suara Rema.
“Kapal yang di tembaki oleh pasukan Israel saat membawa bantuan untuk Gaza. Mereka betul-betul biadab.” Suaranya penuh penekanan.

#Apaa!!!
Kepalaku langsung berputar. Tulangku bakterlepas dari semua persendian. Rontok dan lebur berkeping halus, sepertisedang di rebus dalam alat pengmpuk tulang. Rasanya hatiku nyeri persis seperti terjatuh dari sebuah jurang yang tinggi. Tercucuk di batu cadas yang tajam. Yang tembus masuk ke dalam kakiku. Nyeri!!!

“Astaghfirullah...” Seruku.
“Jadi aku sedang membawa kapal kemanusiaan di dalam kamar asrama gadis pesta kembang api ini?” gemuruh suara hatiku.

Dan aku betul-betul tidak mengingat peristiwa itu. Bagaimana mungkin kapal yang jelas-jelas berlogo Bendera Turki dan Palestina itu tidak mampu menarik kekang ingatanku tentang peristiwa berdarah di perairan Gaza itu. Betapa konyolnya aku. Malam itu aku merutuki diriku sendiri. Aku betul-betul konyol. 1000 banding 1. Dan aku 1 orang yang sangat keterlaluan itu.

***
POTONGAN 4

Malam Sabtu itu aku tidak tidur di asarama. Sedang menginap. Tapi aku betul-betul gelisah memikirkan kapal itu. “Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa kapal itu untuk membantu orang yang membutuhkan, sementara aku sendiri belum sempat mengisinya meski hanya satu koin?” Ohh...evi kamu ini betul-betul keterlaluan. Aku tidak bisa tidur malam itu. Sampe ke bawa mimpi malam itu aku akan menjadi orang pertama yang memasukkan beberapa koin ke dalam kapal.

Minggu sore aku bergegas pulang untuk segera sampai di asrama. Fikiranku Cuma Kapal di atas Kulkas. “Itu kapal kemanusiaan untuk Gaza evi, inget!” gegap hatiku. Memalukan sekali. Rema yang belum sekali pun aku melihatnya shalat dan berpakaian seksi saja tahu. Masak kamu bahkan tidak ingat! Kamu sungguh keterlaluan. Hatiku benar-benar gelisah.

***
Sesampai asrama. Kamar asrama sepi. Matahari masuk dengan hangat menerobos jendela kamar. Musim semi hijau muda membuat Kota Ankara menjadi jelita. “Aku harus memotret kapal ini.” Gumamku dalam hati. Aku tidak boleh melupakan momen penting dengan mmbiarkan kapal ini tidak berbekas. “Aku harus memotret kapal ini.” Aku mengambil kamera di dalam ranselku. Meraih kapal diatas kulkas, mengangkatnya, bermaksud meletakkan di sisi jendela. Demi memotretnya. Dengan posisi tembakan terbaik.

“KLANGGG.” Ha...aku kaget bukan main. 

Ku angkat dan ku goyang sekali lagi.

“KLANGGG.”

Suara KLANGG membentur dinding-dinding kapal di atas kulkas. Aku sungguh benar-benar gemetaran tidak percaya. Kapal itu berbunyi. Mungkinkah itu suara batu, atau ada benda yang tidak sengaja terjatuh dan terselip di dalamnya? Aku memerikasanya. Mengintip dari lubang kecil di atas kapal. Memastikan mungkin ada batu tipis yang tidak sengaja masuk didalam kapal.

Haa...? Sebuah koin tebal dengan ukuran koin Turki paling besar. “Allahu Akbar!! Subhanallah...” Jerit hatiku gemetaran. Siapa yang memasukkan koin itu ke dalam kapal ini? “Siapakah yang mendahuluiku memasukkan koin ke dalam kapal di atas kulkas ini?” Aku betul-betul gemetaran mengangkat kapal itu.
“Mungkinkah Rema?”Tebakku dalam hati.

“iya pasti si Rema.” Aku hanya bisa menebak-nebak.

***
“evi aku belum sempat ke genclik park untuk meminta kapal itu.” Dengan suara tersendat-sendat karena lelah sepulang dari kerja Rema menjelaskan padaku.

“Hic problem yok Rema.” Tak ada masalah jawabku. “Bukankah Kamu sudah memasukkan koin ke dalamnya.” Lanjutku.

“Hayir, hic bir sey yapmadim evi.” Bukan evi, aku bahkan belum melakukan apapun.
“Aksam yemegi yiyecegim.” Rema berjalan meninggalkan kamar.”Aku makan malam dulu.” Ia pergi meninggalkanku. Dalam keadaan yang kaku.

“Lalu siapa orang pertama yang memasukkan koin ke dalam kapal di atas kulkas itu?” Siapakah gadis yang terlebih dahulu memasukkan koin KEMANUSIAAN. Siapakah gadis yang diam-diam memasukkan koin itu?

Malam itu aku tidak bisa tidur. Kamar asrama hening. Teman-temanku tidak pulang ke asrama, karena libur menghadapi ujian. 

Kapal itu masih di atas kulkas...

***

 Bersambung...

No comments: