Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Friday, June 14, 2013

Mengenang Alm. Cik Yam *Dinasti Nek Yam *Kisah Rahasia SAD Jambi [Babak 1]

Tulisan ini sudah lama aku tulis, seperti tanggal yang tertera pada tulisan di bawah. Saat itu masih aktif diwordpress mengelola webblog AL-ARDVICI. Malam ini aku membuka kembali, dan sengaja mengeposnya di sini, mengenang alm. wanita tua inspirasi Rimba Batang Hari, yang biasa kami panggil Cik Yam [nenek]


Mendengar kata dinasti aku tergelitik untuk meneruskan isi dari tulisan ini. Aha menarik sekali. Judul ini di buat oleh adik tingkat yang berasal dari Fakultas yang berbeda denganku si “Ijul” Klik The Fantastic Five.

Terfikir sebuah ide untuk berbagi. Seperti apa dinasti Nek Yam ini?

Bila tulisan ini kuposisikan sebagai catatan harian Nek Yam, maka aku berimajinasi seperti inilah catatan harian Nek Yam. Seorang wanita tua berusia sekitar 67 tahunanan dengan tubuh tanpa bungkuk seperti nenek-nenek pada umumny. Dialah salah satu pengrajin souvenir replika Ambung di perusahaan cinderamata kami. Tangan tuanya terampil menganyam rotan dengan senyumnya. Yang selalu Terkembang. Pernahkan engkau merasakan Kawan, bagaimana indah dn nikmatnya melihat senyum nenek Tua yang bekerja dengan riang? Ah, sungguh bahagia. Aku merasakannya. Baiklah, saatnya aku berbagi. Dengan posisiku sebagai Nek Yam.

“Namaku Nek Yam. Aku terlahir sebagai wanita yang saat aku muda aku sama pada wanita umumnya. Aku menikah, memiliki keluarga dan anak-anak seperti lainnya. Suamiku telah lama meninggal. Padahal aku memiliki tanggungan anak yang demikian banyak. Saat itu aku stress. Linglung. Aku bingung bagaimana menghidupi anak-anakku. Yang terus tumbuh. Di sini. Di hutan ini. Aku terus berjuang. Hingga kini, di tanah ini. Di tanah leluhur. Yang semakin tak menentu. Pedalaman ini.


Aku tak pernah perduli, bagaimana mereka memandangku. Orang-orang pendatang itu. Aku juga tak tahu, apa yang difikirkan mereka tentang aku . Yang kuharap hanya satu, aku bisa bertahan dengan kehidupan yang aku jalani. Aku tak tahu bagaimana gemerlapnya dunia di luar sana. Aku hidup secara sederhana, atau mungkin bisa dikatakan tepatnya tidak demikian. Namun aku cukup bahagia, meski aku selalu memakai baju yang sama setiap anak-anak itu datang berkunjung ke pondokku. Baju biru motif bunga dan rok kuning. Baju bak remaja putri. Meski aku sudah tua. Sangat tua. Bahkan!

Seperti apa aku memandang dunia? Aku telah hidup sekian lamanya di tengah hutan belantara. Berteman siamang, kura-kura, burung-burung balam dan burung daun, dedaunan hutan, ranting-ranting pepohonan, pun ikan-ikan nirwana. Aku juga belajar dari alam, seperti apa khasiatnya daun kencur, rahasia daun sirih, juga indahnya rumbai saat aku menganyamnya menjadi wadah-wadah makanan bagi perutku. Aku juga berteman rotan, yang bisa aku jadikan senjata wadah utama untuk mengumpulkan bijih-bijih jernang.Yang harganya cukup mahal. Atau petai-petai hutan, yang selalu menjadi makanan favorit orang-orang dunia luar itu.

Aku terlahir di hutan, aku hidup uga di hutan dan mungkin aku “mati” pun di hutan. Aku hidup berteman keyakina pada leluhurku. Pada nenek moyangku. Meski aku telah mengenal dunia kesehatan, dunia sekolah, juga dunia kendaraan. Orang-orang terang dari luar itu selalu datang sebulan sekali untuk memberikan imunisasi atau sekedar memberikan obat-obatan secara gratis. Aku juga sering memperhatikan bagaimana masyarakat transmigran itu datang dan hidup di hutan rimbaku ini dengan perkembangan yang begitu cepat. Padahal aku dan kelompokku hidup pada tempat yang sama, tanah leluhur yang sama. Tapi mereka mudah sekali hidup dengan baik, rumah-rumah batu-bata dan memiliki penerang yang indah dan menyilaukan mata.

Aku cukup hidup sejahtera menurut pemikiranku. Meski apa yang aku nikmati tetap serupa. Bila anak-anak terang itu datang berkunjung. Isi periuk ku tetap sama. Nasi. dan garam dapur. Atau kadang sedikit sambal. Ah, aku tak tahu apa yang dimaksudkan anak-anak terang itu terhadapku. Mereka terkadang datang 2 minggu sekali, 3 minggu sekali, atau kadang 1 bulan sekali. Memesan dan memintaku membuat ini dan itu. Terkadang gadis terang yang paling besar dan paling tua diantara gadis terang yang dua itu memberi cucuku panganan luar. Atau kadang mereka membawa gula, kopi, dan semacamnya. Aku hanya berprasangka baik saja kepada mereka.

Terkadang aku merindukan mereka. Pernah hampir satu bulan mereka tak datang kemari. Aku sangat merindukan mereka. Tak tahulah kenapa. Namun, senyum2 mereka membuat cucu-cucu kecilku tersenyum bahagia. Sepertinya mereka memang berbeda. Dari kebanyakan. Mereka tak memandangku dan cucu2ku dengan sebutan kebanyakan. Mereka memanggilku dengan panggilan kebanyakan. Nek Yam.Atau terkadang Cik Yam. Dan aku senang. Aku juga hafal betul, terkadang si terang yang biasa di panggil Ali datang mengambil barang bersama si Ijul. Atau kadang-kadang bujang yang lain yang datang. Kadang ini dan kadang itu. Sungguh! Terkadang aku tak mengerti.

Sudah 1 tahun mereka begitu padaku, dan pada beberapa pengrajin lainnya. Tak tahu. Terkadang aku khawatir apakah mereka tak takut akan ada yang mengolok-olok mereka. Telah bergaul dan berbaur pada kami. Orang-orang rimba. Pedalaman Jambi. Aku juga kadang khawatir, apakah mereka tak cemas menantang lebatnya hujan bila mereka pamit pulang. Banyak aku khawatir, karena aku orang dalam. Orang yang dijauhi. Walaupun mereka selalu bilang demikian “kebetulan bae Nek Yam, kami ko tinggal di luar dan Nek Yam di Dalam.”

Sekali lagi aku sampaikan ungkapan ini, kepada Engkau orang terang. Aku Nek Yam. Nenek tua dengan inilah kemampuan yang aku miliki. Mungkin aku mewakili dari para pengrajin lainnya. Sudah terlalu lama kami hidup di rimba ini. Tak tahu, apakah memang akan beginikah masa depan kami. Saat ini dan seterusnya. Atau ada cerita yang berbeda dengan kehadiran kalian di sini. Di masa depan. Aku tak tahu. Rahasia sang alam.

Meski begitu aku ingin mengucapkan satu kata pada kalian. Terimakasih telah sudi kemari. Selamat datang di dinasti kerajaanku. Pondok tua di kaki rimba hutan raya. Semoga kalian bukan mereka yang membakar kebun-kebun durian leluhurku. Semoga kalian bukan mereka. Dan aku percaya itu.

**Bersambung
saya copi dari postingan tulisan saya di tahun 2011

1 comment:

Ivo Hernawita said...

wah.. keduluan mb evi bikin tulisan "mengenang cik yam" nya -_-
tapi dak pa lah ^_^