Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Friday, June 21, 2013

Kabar dari Kota Erdogan #Part 2 Demo Sudah berlalu, Langit Ankara Sudah Teduh

Sehari yang lalu sepulang kelas bahasa Turkey, turun dari otobus aku menyusuri jalan di bawah jembatan arah menuju asrama, menyempatkan berdiri di sisi dan meraih tembok-tembok di bawah jembatan “Syukurlah aku sudah menyempatkan memotretnya beberapa hari lalu ketika melihatnya.” Yang kuingat baru 2 hari lalu dinding tembok itu dipenuhi tulisan “caci maki” terhadap PM Tayyip Erdogan, tapi sore kemaren tembok bersih, tidak ada tanda-tanda jika 2 hari lalu tembok tak berdosa itu baru saja di rusuhi karena kasus Gezy Park, Istanbul.

Semua terlihat tenang dan keadaan berjalan normal. Orang-orang berjalan dengan tenang, mahasiswa menyeruak dengan tawa seperti biasa, mungkin hanya aku seorang diri yang berdiri mematung keheranan, “great!” Gumamku. Pemerintah Erdogan luar biasa, ia mampu membuat situasi menjadi setenang ini seperti tidak sedang terjadi apa-apa.”
***


Yah, beberapa hari yang lalu, tepatnya Hari Senin, 10 Juni 2013, kufikir masih akan akan ada demo berlangsung di pusat kota Kizilay. Meski sedikit takut dan ragu aku tetap memutuskan berangkat ke kizilay, mengurus visa dan mencari sebuah alamat hotel penting. Hingga tanpa sengaja serampung mengurus visa aku memutuskan menunggu otobus di sebuah durak di sisi taman kota. Disana bertemu salah satu teman asrama yang juga sedang menunggu Otobus, akhirnya aku menawarkan bagaimana kalo berjalan kaki menyusuri jalan menuju Kizilay. Dan ia menyepakati. Akhirnya kami berjalan berdua dengan menembus taman Kota.

Aku melihat keramaian di taman kota. Kufikir itu bazar atau semacam camping di musim panas, beberapa stand membagikan makanan secara gratis. Jika tidak ingat sedang berpuasa mungkin aku sudah duduk dan menikmati kue-kue berkeju dan poagca Turki yang gratis. Sembari menunggu teman asramaku yang sedang makan, aku tertarik untuk ikut bergabung di beberapa kelompok orang yang sedang sibuk menulis di atas karton, penasaran apa yang sedang mereka lakukan. Tampak sangat sibuk dan tidak memperhatikan pengunjung yang mondar-mandir didepannya. Rupanya mereka rombongan mahasiswa sebuah universitas di kota Ankara. Tidak banyak jumlahnya.

Puluhan tulisan di gantung dan ditempel di sana-sini, pun dipohon-pohon bergantungan kertas-kertas berisi tulisan. Aku tertarik untuk memotret tulisan itu. Sungguh aku benar-benar penasaran sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan di sini. Hampir 20 menit aku mondar-mandir di antara rombongan, duduk, memotret dan bertanya. Hingga akhirnya aku tahu, itu aksi demo masa setelah aksi brutal yang melelahkan mereka sendiri terlebih pihak korban lebih banyak dari pihak polis yang bermaksud mengamankan kota.

Tidak banyak masa yang berkumpul, hampir sebagian besar mahasiswa sebuah universitas, dan lebih banyak yang duduk-duduk dengan bersantai diatas rumput menikmati rimbunnya pohon pinus di bawah teriknya summer Turki. Seperti sedang menikmati libur musim panas tahun ini.

Setelah puas memotret tulisan-tulisan itu aku memutuskan pulang bersama teman asramaku dengan menyusuri jalan yang dipenuhi dengan mobil menuju Pusat kota kizilay. Aku masih ingat sekitar seminggu yang lalu aku baru saja menyusuri jalan itu mengantar tamu yang berkunjung ke Ankara. Sukurlah, aku tak perlu kesasar kalau begitu.

Sesampai asrama aku menunjukkan tulisan-tulisan hasil jepretanku itu kepada teman kamarku. Dari mereka aku tahu, tulisan-tulisan itu memiliki makna yang “kotor dan jelek.” Tulisan kotor yang di tujukan sebagai bentuk protes mereka kepada Tayyip Erdogan. “Bu cok cirkin.” Ini jelek sekali artinya. Kata teman asrama kamarku.
***

Sabtu, 15 Juni 2013

Ankara teduh. Beberapa hari hujan mengguyur kota Erdogan ini. Tanah-tanah basah, pinus kota menghijau, mawar-mawar dengan warna beragam mengelopak mekar, aku suka dengan memandang jalanan luas kota Ankara dengan pohon-pohon hijau di sisi jalan. Siang tadi dengan gontai aku menyusuri satu toko ke toko lainnya di Kizilay. Mencari ini itu, tidak ada yang menarik. Tampkanya musim dingin baju-baju yang dijual lebih menarik dibandingkan dengan pakaian yang di jual musim panas.

Tapi lebih tepatny aku memang tidak suka berbelanja di toko-toko yang lampunya dipenuhi kelap-kelip warna, bila saja diminta memilih antara pasar tradisional yang jelek dan kotor dengan mal maka aku akan menjadi orang pertama yang mengangkat tangan dan memilih pasar tradisional yang jelek dan kotor untuk menjadi pengunjungnya. Aku lebih betah menyusuri dan menghabiskan waktu di bazar tradisional dari menyusuri toko-toko terlebih mal. Itu membuatku benar-benar jenuh dan bosan.

Aku menyusuri satu toko ke toko lainnya seperti sedang menyeret puluhan kilo karung beras. Tapi mengingat ada rekan Indonesia yang akan pulang ke Indonesia, aku bermaksud menitipkan oleh-oleh buat bapak dan Ibu di tanah air. Meski bahasa sederhananya itu hanya buah tangan selembar kartu pos.

Suasana pertokoan metro aman, tidak ada tanda-tanda ada demo, bahkan aku dikejutkan dengan pertunjukan gelar Bazar Aneka karya Tradisional Ankara, mulai dari pakaian, kerajinan tangan, perhiasan, perkakas dapur, sandal-sandal dan masih banyak lainnya. Wow, baru kali ini di metro bawah tanah itu digelar bazar aneka karya Tradisional Kota Ankara. Ini pertanda Ankara memang sudah benar-benar aman.

Serampung membeli beberapa buah tangan aku memutuskan untuk menuju pusat dimana bekas demo berlangsung. Aku berharap menemukan sisa-sisa para demonstran itu mungkin masih ada di beberapa titik-titik tertentu. Tapi sesampai di taman sisi bekas demonstran aku tidak mendapati apapun selain para pengunjung taman dan pengunjung Kizilay yang tengah duduk berbincang dengan santai, menikmati suara air mancur di tengah taman. Menikmati secangkir cay [teh sebutan turki] atau sekedar menghirup aroma mawar kota. Semua terlihat tenang, lengang, dan tidak ada setitik pun bekas tanda-tanda kecemasan. Semua berjalan normal, seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Bahkan di tengah taman remaja seusian 17 tahunan bermain skating dengan riang, di sisi taman terlihat beberapa kelompok tentara tengah berjaga dengan gaya yang tenang dan ramah. Mobil-mobil, dolmus, dan otobus kota menembus jalan-jalan dengan riang.

Sementara di sudut taman-taman para penyemeir sepatu duduk terkantuk-kantuk seperti tengah bermimpi menemani putri kesayangannya yang sedang di wisuda, atau mungkin sedang bermimpi mengantar putra kebanggaannya yang akan melanjutkan studi di sebuah kota. Keadaan betul-betul tenang. Sekali lagi aku betul-betul mengagumi bagaimana cara pemerintah bekerja dan menuntaskan masalah. Tidak berlarut-larut, pun tidak berpanjang-panjang ria.

Aku memutuskan pulang ke asrama dengan otobus berbayar. Itu artinya harus menyusuri jalan mencapai durak di sisi sayap kiri Pusat Gedung Perbelanjaan ALIS VERIS MARKEZY. Cukup jauh. Tujuanku hanya satu. Mungkin di sisi sana aku masih bisa menemukan sisa-sisa aksi demo brutal yang terjadi beberapa pekan berlalu. Lumayan jauh dan dengan menenteng 2 tas aku terus menyeret langkahku, menyusuri jalanan yang ramai tapi tetap terlihat begitu tenang, pun durak-durak dan papan reklam yang rusak total akibat bekas aksi demo brutal seperti tidak berbekas, tidak memperlihatkan kalau kondisi beberapa minggu lalu Ankara baru saja di pukul “tencere” yakni panci masak yang dipukul-pukul oleh para pelaku aksi demo. Sore tadi semua teduh…seperti riak tenangnya air biru di danau golbase yang memandang ayu beberapa meter menuju kampus Pusat Bahasa Ankara Universitesi, kampusku.

Ah…aku kabarkan kepada keluarga, saudara, teman-teman, dan khususnya teman-teman baikku di seluruh dunia, terlebih khususnya para ilmuwan pengabar berita tanah air Indonesiaku. Tenanglah aku tulis dan kabarkan ini seadanya. Turki, Kota Ankara khususnya sudah aman. Alhamdulillah normal, semua berjalan apa adanya, pedagang-pedagang berjualan dengan baik, toko-toko buka dan bergerak. Anak-anak kecil berlari-lari di taman-taman kota. Air mancur taman berkecipratan dengan riang, burung-burung merpati kota mematuk jagung Turki dengan sejahtera. Pinus-pinus dan aneka pohon kota sudah lama bergeliat hijau.

Demo yang sempat mengejutkan beberapa pekan minggu sudah berlalu, tidak berbekas. Semua baik-baik saja, meski fasilitas umum kota Ankara di Kizilay telah rusak. Insya Allah beberapa hari lagi semua akan kembali baik dan bisa di pakai kembali. Aku yakin dengan kinerja pemerintah Turki, persis seperti coret-coret caci maki kepada Tayyip Erdogan, yang hanya dalam hitungan hari semua dnding Kota Ankara sudah bersih dan rapi kembali. Alhamdulillah, semua NORMAL. Teduhnya kota Ankara, sudah datang. Demo sudah berlalu.

Ankara, pada sebuah musim Panas 15 Juni 2013

No comments: