Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Sunday, March 10, 2013

setangkai yang mekar & berwarna orange


#setangkai yang mekar & berwarna orange





Sayang sekali aku tidak sempat mengenali nama setangkai bunga orange yang mekar itu.

 ***
“apa mungkin ini jawaban Allah atas setangkai Tulip pertamaku yang dulu tak kasihkan pada gadis penjaga kasir kantin asramaku...?”
"Apa mungkin ada hubungannya anatara setangkai bunga tulip itu dengan digantikannya Allah dengan bunga ini?" Hatiku bertanya-tanya.

Aku berdiri di depan lift. Memandang penuh senyum pada setangkai bunga yang aku belum tahu namanya. “Hemm, nanti aku tanya undan atau ozlem ah..” Teman kamarku. Pasti mereka tahu. Sebenarnya tadi aku sudah nanya sama teman-temanku yang sedang ngumpul. Sayang sekali mereka juga tidak tahu.


 ***
Aku pulang agak larut malam ini. Pukul 20:30 waktu turki baru sampai asrama. Riang hatiku, karena baru saja bertemu adik-adikku, mahasiswa indonesia yang tinggal di kota luar Ankara. Saat meletakkan parmak jariku di atas mesin absensi parmak, pak satpam yang usianya masih sekitar 35 tahun itu mendelik padaku. Aku mengkerucut. Hee...kemaren malam aku juga pulang agak malam. Mahasiswa pulang malam sebenarnya biasa, karena terkadang perkuliahan berlangsung di malam hari. Tapi pulang malam untuk mahasiswa berwajah Indo sepertiku ini, itu membentuk wajahnya menjadi  seolah mau bilang “jangan pulang terlalu larut girl, kamu ini..., mbok yo hati-hati girl” begitu kira-kira. Haha...mungkin lebih tepatnya mereka sebenarnya mau bilang gini “berani-beraninya pulang larut malam.” Seolah tidak percaya kalo gadis kecil mungil sepertiku ini tidak punya nyali. Hoo, kecil mungil? Yaa itu kata temen-temen yurdku. Masih usia 19 tahun katanya, wah maternuwun. 

***
Asrama hening. “Tumben” Gumamku.Cuma ada beberapa mahasiswa yang tengah bertele-tele melepas penat di kursi tamu. Baru pulang dari kampus kelihatannya.Dan aku baru saja melangkahkan kakiku menuju kantin. Mengambil 3 butir mandalina-buah jeruk yang warnanya orange, bentuknya kecil dan rasanya manis sekali-serta mengambil 2 bungkus coklat dan 2 bungkus roti coklat berlogo HITIT, memasukkannya kedalam kantong asoy. “malam ini aku mau istirahat ah.” Dalam hatiku. Menuju pintu meinggalkan kantin yemekhane.

 “evi, gel.” Evi kemari, ada yang memanggilku. Oh...suara dari serombongan gadis-gadis turki yang sedang ngecay alias minum teh di yemekhane. Aku menghampiri mereka dan “wah subhanallah,” mataku langsung binar-binar demi melihat bunga di atas meja yang mekar dan warnanya sempurna itu. Memang bunganya tidak kuncup-kuncup kayak tulip, ini mekar dan tidak ada satupun yang warna pink, kesukaanku. Ada satu yang warna orange. Itu warna kesukaanku juga, meski aku tidak punya barang sepotong pun baju atau jilbab warna orange. Kecuali jaket almamater kampusku yang ngejreng ORANGE seperti warna pinang masak. Tapi aku suka warna orange.

“evi..., ini untukmu.” Sebuah tangan mengulurkan bunga mekar cantik berwarna orange. Subhanallah...aku memang jatuh cinta pada bunga itu. Sejak mataku menubruknya di atas meja beberapa detik tadi. Ingin memilikinya. Meski aku tidak bermaksud memintanya, soalnya jumlah bunga itu kufikir menyesuaikan dengan jumlah gadis-gadis turki yang sedang duduk melingkar di kursi-kursi biru. “Tapi ini bungamu?” Aku ragu untuk menolak halus. Meski sebenarny aku menginginkannya. Teman asramaku berkebangsaan cina yang juga duduk serta diantara mereka itu yang memberikannya padaku. “Ini khusus untukmu evi.”
"Subhanallah tesekkur ederim.." jawabku.

***
“Ah iya, aku yakin ini jawaban Allah, atas setangkai Tulip pertamaku dulu.” Aku senyum-senyum memandangi setangkai bunga mekar berwarna orange itu. Memasuki tangga lift. Berjepitan dengan yang lain. Lift penuh. Hee, meski aku di lantai 1 dan sebenranya tidak perlu memakai jasa lift, cukup naik 4 anak tangga. Dan pada kenyataannya aku lebih rela bersempitan di dalam lift seperti biasanya meraih kamarku.

***
KAT 1 (LANTAI 1)

Keluar dari lift menuju pintu kat kamar. Ah...bunga orange mekar yang cantik. “Nanti aku tanya Ozem ah namanya bunga apa.” Kata hatiku. Dan “harusnya aku beli bunga tadi di kizilay, buat teman-teman kamarku. Sayang sekali ini cuma setangkai. Kalo aku punya beberapa tangkai aku bisa kasih buat mereka.” 

Aku jalan sambil mengayun-ayunkan bunga mekar itu, sebelum akhirnya, “evi dur..” evi tunggu. Ada yang menahanku di pintu KAT.  Suara siapa itu? “subhanallah Aisah...?” Riang betul hatiku bertemu aisah. Meski belum berjilbab ia adalah gadis turki yang baik betul hatinya. Kami saling berpelukan seperti sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Dia adalah sahabat dan keluarga baruku di asrama ini. Dia orang yang pertama kali membantuku ketika pertamakali aku tiba di asrama ini. Kami sudah sangat dekat sekali. Dan aku selalu merasa nyaman dan tentram ketika bersamanya. Kami bercerita kurang lebih 15 menit di depan lift pintu kamar. Aku menanyakan kabar keluarganya, adiknya, pamannya, kakeknya dan semua keluarganya. Masih ingat kan, pas liburan aku tinggal di rumahnya 6 hari 5 malam. Dan hingga akhirnya, “yah cuma ada setangkai bunga di tanganku,”  aku tidak punya hadiah lain untuk menyambut kedatangannya. “sayang sekali.” 

“ini bunga pemberian Afya.” Gumam hatiku.“inu khusus untukmu evi.” Teringat kata-katanya dan binar matanya saat aku menerima bunga itu dari tangannya.

***
Aku tidak punya hadiah lain di tanganku saat ini untuk menyambut kedatangan aisha. “sayang sekali.” “Ini khusus untukmu Aisha.” Aku menyerahkan setangkai bunga orange itu untuknya. Semoga Fya tidak marah padaku. Aku tidak punya hadiah lain di tanganku saat ini untuk menyambut kedatangan asiha malam ini.

Dan...Kamuingin tahu. Seperti apa mata Aisha. Berbinar-binar. Persis seperti binar mataku saat aku menerima bunga itu dari Afia, teman asramaku berkebangsaan cina. Persis seperti binar mata Afia saat aku menerima setangkai bunga itu darinya.

***
“Insha Allah, Allah akan kasih bunga yang lain, ini buat aisha.” Gumamku. Kami saling berpisah menuju kamar masing-masing. Dan aku baru ingat. Aku belum sempat tahu. Apa nama setangkai bunga mekar berwarna orange itu. Tubuh Aisha sudah menghilang di ujung lorong kamar asrama.

***
...mekar bentuknya, selebar bulat bola kasti, salah satu warnanya orange... 

“Matanya berbinar-binar. Persis seperti binar mataku saat aku menerima bunga itu dari Afia.” 

Ankara, 9 Maret 2013

aku persembahkan catatan ini, untuk ukhti bunga tanah airku
oleh Evi Marlina Al-ardvici Kreatif pada 8 Maret 2013 pukul 23:53 ·

No comments: