Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Thursday, May 21, 2015

Bani Tamim; seperti aroma bunga

Langit Pagi dari lantai 12 apartemen, doc. pribadi

Pukul berapakah di luar sana? Aku menyibak tirai kamar setelah merampungkan tilawah pagi ini. Sekilas terlihat seperti pukul 06:00 pagi. Menjelang matahari membuka pintu langit dan merekah di penghujung malam yang segera berganti sinar. Dan ini adalah langit pukul 05:13 waktu Turki. Ketika malam menjadi singkat dan menjadi lebih pendek.

Aku duduk menyandarkan kepala di jendela dan beberapa kali mengecek whats upp berulang kali, memastikan apakah Mas Faris sudah bangun. Sejak dari pukul 03:15 aku terbangun dan segera menekan tombol kolling to Mas Faris, tampaknya suamiku kelelahan sekali. Semalam Mas Faris bilang akan ada acara pertemuan dengan orang Arab. Dan meski sudah terlihat onlinne ketika aku memiskoll Mamasku sepertinya terbangun meski masih setengah sadar. Heuheu...LDR in the lope :p

"Mamas mpun bangun dereng?" Aku mengirimkan pesan yang sama untuk kedua kalinya. Sembari membuka gagang jendela kamar apartemen. Semilir, udara dingin pagi masuk menyapa wajah. Assalamu'alaıkum duhai pagiku...

"Masha Allah segarnya." Dalam hatiku. Teringat aroma lilac ungu di taman bawah apartemen. Aromanya yang khas selalu mampu mengundang hasratku untuk menari di atas rerumputan hijau dan memotret aneka Dandelion perdu yang cantik rimbun di tengah rerumputan. Meniupnya hingga menerbangkan mahkota putihnya yang telah mengering. Sementara warna bunga Lilac selalu mengingatkanku pada warna dan aroma Lavender.

Kling...

Handphone ku menyala. Pesan dari yang aku nantikan sejak sefajar sepagian.

"Mpun bangun.." Jawab pesan di seberang sana.

"xixi. Alaaa padahal baru kebangun Maskuu  kaan ..." Jawabku. 

Yang disertai jawaban tawa dari Suamiku. Pukul 05:15 waktu Riyadh. Mas Faris pasti kecapean sekali, pulang larut malam. Fajar saat aku terbangun tadi, aku mengecek handphone disana terakhir dilihat pukul setengah satu dini hari. Entah apa yang tengah diselesaikan oleh separuh nyawaku di ujung negeri itu hijaiyah itu. Kalau tidak membaca buku-buku yang padat dan tebal, pasti juga tengah menyimak para syeikh-syeikh guru besar timur tengah di youtube, atau kalau tidak begitu mendengarkan obrolanku ngalor-ngidul yang sepertinya tidak substantial secara ilmu dan kafaah beliau yang padat pengetahuan dan tentu saja berbobot. Tapi begitulah, sifat Mas Faris yang dengan setia menyimakku dengan tulus membuatku tidak pernah berhenti merindukannya.



foto: oleh dek Ifah (kameranya bagus :p)

***

Mamascim, sebuah ucapan terimakasih ingin aku sampaikan kepada keluarga besar Mas Faris, atau yang  lebih di kenal dengan Bani Tamim. Di ambil dari nama Bapak (mertua) Ust. Mutammimul Ula. Sosok yang tidak banyak bercakap, penuh wibawa dan penyayang jiwanya. Aku belum pernah bertemu dan mengenal sosok Bapak sebelumnya, tapi begitu pertama kali Mas Faris memboyongku ke Jakarta dan memperkenalkan pada keluarga besarnya dengan cepat aku merasa sudah begitu lama mengenal sosok Bapak (mertua). Bicaranya sedikit, seperlunya. Seperti kaum Bapak pada kebanyakan.

Bapak (red. mertua) yang meski tidak banyak bicara, namun selalu rajin dan paling rutin menanyakan dimana keberadaan kami, anak-anak beliau. 

"Basyir, Ahmad di mana? Pulang jam berapa?" 
"Yusuf, Mail sedang dimana? Kalau larut nginap saja di sini dan sini." 
"Mas Faris bagaimana kabar di riyadh?"
"Jay pulang ke GTP malam ini?"

Dan pesan-pesan sejenisnya yang menanyakan kabar kami masing-masing, termasuk diriku yang dalam hal ını sebagai menantu Bapak, Belıau sering menanyakan kabar, memberikan ide-ide yang bisa kami lakukan dan banyak hal laınnya. Sosok karakter Bapak nampaknya turun pada Mas Faris yang juga tidak kalah kuul dan selalu membuatku rindu itu :3. Berbicara sedikit, lebih banyak menjadi pendengar, dan ketika bercanda sedikit saja membuat kami (danjuga adik-adiknya) semua tergelak dalam tawa tanpa perlawanan.

Lilac  Ungu di taman apartemen, dokumen pribadi

Adik-adik Mas Faris sebenarnya yang juga hangat dan berdaya humor tidak kalah tinggi. Namun tetap saja skak ketika satu emot saja klik enter oleh pemilik sosok kul dan telah membuatku jatuh cinta setiap menit itu, hadeuw beginikah ternyata rasanya orang yang dirundung jatuh cinta @-@ xixi :p

Kembali pada topik Bapak. Adalah sosok pemimpin dalam keluarga memberikan peran yang besar dalam keluarga. Bapak, dalam hal ini selalu menekankan agar kami selalu menjadikan Allah sebagai tujuan utama. Ada sebuah hari yang aku pun ikut mesam-mesem ketika Bapak menyentil si nomor 7 (yang biasa kami memanggilnya Ucup).

"Loh la Yusuf juara kategori apa Cup?" Tanya Mas Aaf -ketika Yusuf memposting sebuah panflet ucapan jawara mawapres UI-  anak Bapak yang tertua.

"Yusuf sampe tingkat fakultas Mas, pesertanya hebat-hebat semua." Jawab Yusuf disertai dengan membubuhkan emot nangis alay ala whatss up :D

Sontak saja, emotikon itu mengundang tawa kami. Dan Bapak yang sebelumnya tidak berkomentar pun memberikan komentarnya.

"Yusuf juara 1 imam shalat shubuh di GTP."

Masha Allah...

"İya Pak, itu juara sesungguhnya." Jawab si nomor tujuh ini sekali lagi dengan emotikon whats up yang alay, hoho.

***

Lavender, sumber google searching

Lain sosok Bapak lain pula sosok ibu. Yang tidak kalah tangguh dan tegasnya. Darinya aku belajar banyak hal. Memanajemen waktu dengan sederet penuh aktifitas yang non stop dari sejak pagi-pagi hingga larut malam. Mulai dari membereskan dapur, kantor, menghadiri undangan, mengurus pengajian, menjaga cucu, hingga menyapa kami anak-anaknya yang bertebaran di negara yang berbeda-beda. Juga sifat tegas İbu dalam banyak hal yang sepertinya menurun pada Mas Faris dengan ketegasan yang aku sukai. 

Ah... Mas Faris, ada banyak hal yang ingin aku tulis setiap hari tentang kita sebenanrnya. Kerinduaku yang kian hari kian memuncak dalam fikir dan relung jiwaku.

"lebaran pulang ndak Nduk sama Nak Faris?" Pertanyaan emak tiga hari lalu lewat pesan whats up mılık sepupu, anak paman.

Heu, ternyata keluarga di Singkut semua juga merindukan Mamascim. Mascim Love you every second...Ajarkan aku bagaimana berbakti pada Allah, Tuhan seluruh makhluk dan taat pada mu dalam pengabdianku sebagai istrimu... 

Ya Suamiku, terimakasih telah mencintaiku dan keluargaku di kampung halaman. Kedua orang tuaku di desa yang tidaklah berpendidikan Universitas. Aku mencintaimu, karena ketulusanmu telah mempersuntingku dengan penuh keberanian. Semoga Allah ridha.. 

Teşekkurler Masku, Love you

Bersambung...

Diary, gunaydın Bhosporus
Sakura, Ankara, 21 Mei 2015

1 comment:

scientiafifah said...

Uhuyy mbak eviciiim ������