Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Friday, April 12, 2013

Pada Sebuah Pesan Matahari

“Amah kenapa sih pengen kuliah di Turki, nanti nggak ada yang ngomelin Fauzan lagi.” Suara cempreng fauzan mematuk daun telingaku.

 “iya miss, nanti Rahman gak bisa belajar bahasa Inggris lagi sama miss.”

***

Di bawah putih bersihnya langit yang putihnya seperti kembang melati, tepatnya di belakang gedung bangunan baru bercat biru langit, pada sebuah lapangan golf itu aku terbiasa menghabiskan waktuku serampung mengajar homoschooling atau terkadang memberi les Bahasa Inggris. Berbaring bersama 4 murid-murid kecilku di atas rumput hijau yang perdu. Menanti matahari keemasan terbenam, sembari mendengarkan celoteh 4 matahari kecil yang selalu membuatku “takut.”


“Amah nanti kalo uda di Turki pulangnya lama ya mah.” Suara Hasan yang cempreng itu menyegak batukku. Aku tersenyum memandang ujung rambutnya. Berdiri kaku, Jabrik dan matanya bulat indah. Usianya 10 tahun.

“Emang di Turki ada apa sih mah?” Suara Arif yang polos dalam sayup usia 6 tahunnya turut menyikut sudut hatiku.

“Miss, Rahman mau juga miss kuliah di Luar negeri.”

Aku tak bisa menahan senyum melihat 4 wajah lugu mereka. Rahman yang paling besar, kelas 2 SLTP. Dia murid les bahasa Inggrisku. Yang selalu datang tepat waktu sebelum sempat aku merampungkan shalat asharku. Aku pastikan dia sudah duduk manis di depan koridor RCQ. Menantiku dengan setia. Dia yang selalu memanggilku Miss evi, seperti murid-muridku pada umumnya. Tidak terkecuali murid-murid kecilku di RCQ, yang hampir sebagian besar terbiasa memanggilku kakak atau amah (dalam bahasa arab).

“Lihat itu...” Aku menunjuk sebuah awan. Teringat novel Ahmad Fuadi, Lima menara. Bulat-bulat mata mereka mengekor arah ujung jari telunjuk tanganku, memandang langit.

“Awan yang biru di sebelah sana itu peta Turki, ada bulan dan bintang. Nah ammah, besok akan belajar di sana insha Allah.” Jelasku. Meski aku sendiri bergoyang-goyang dengan ucapan sendiri. Pasalnya daftar saja belum.

Bola mata yang bulat dan indah-indah itu mengikuti gerak tanganku. Melukis awan di pintu langit. Binar-binar sinar mata kecil mereka saling berdesakan, ujung bibirnya menkerucut berpendapat riuh bahwa itu bukan bentuk awan peta Turki, melainkan gambar Ka’bah, Kota madinah, Mekah, Australia, pesawat terbang, gajah, bahkan dinosaurus. Entahlah. Sementara fikiranku terbang jauh. Membentuk sekantung bayangan yang tengah duduk di depan masjid Sultan Mahmed, membayangkan menikmati pucuk ujung menara Sultan Mahmed yang gambarnya aku koleksi dari hasil mendownlod di gugel. Membayangkan sedang menikmati tenangnya suara adzan magrib di Masjid Biru.

“Kalian rajin-rajin ya belajar dan menghafalnya.” Aku menutup perbincangan sore itu. Hari semakin gelap. Adzan sayup naik di pucuk daun perdu di sisi danau lapangan golf.

Maret, 2012

***
Sudah beberapa hari ini aku tidak di depan notebook. Alasannya sederhana. Apalagi jika tidak karena kelas Bahasa Turki yang selalu mampu mengalihkan semua kosentrasiku tertuju padanya. Setiap hari kami di tuntut harus mengerjakan PR dengan jumlah tugas yang seablek. Grammar, reading dan terlebih tugas mengarang. Dan malam ini aku benar-benar sedang dalam keadaan yang sesak. Teman-teman asrama kamarku sedang berselisih sesama mereka, alasannya sederhana. Meski aku tidak pernah ikut terlibat didalamnya. Aku tinggalkan kamar menuju ruang belajar. memutar murattal Ahmad Saud. Suara pemuda hafidz cilik itu memenuhi rongga telingaku. Dan tidak ada yang bisa kulakukan selain teringat 4 wajah murid kecil hebatku. Pun pada 9 murid putri kesayanganku di RCQ.

***
Rumah Cerdas Qur’ani, 5 Oktober 2012

Tidak terlihat tanda-tanda akan turun hujan. Langit bergerak tenang dalam rimah-rimah edarnya. Kota kecil Jambi sedang menikmati malam tampaknya. Sebuah gedung sederhana yang menyempil di sisi hutan pinus kecil teduh-teduh dalam selimut jangkrik dan suara burung but-but. Aku sendiri kelelahan setelah seharian mondar-mandir dari galeri dan mengajar kelas sore mahasiswa Putri ma’had.

Malam itu aku duduk resah. Melingkar bersama 9 murid putri matahari. Di dalam kamar asrama RCQ. Kami baru saja merampungkan shalat magrib berjamaah. Seperti biasa Ustadzah selalu memberikan wejangan singkat tentang keharusan mencintai Al-Qur’an. Dan tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain menyimak dengan setia. Tidak pernah protes. Semua tunduk dan mendengarkan dengan tekun. Sementara aku duduk semakin resah di samping Sundari. Memandang nanar setiap jengkal jendela kamar, pintu, lemari, ranjang, bahkan rak sepatu disisi pintu. Menahan hatiku. Kulirik jam di dinding asrama. Pukul 20:18 WIB. Hingga ustadzah mengakhiri nasehatnya.

“Insha Allah besok pagi Kak Evi akan berangkat ke Turki.” Suara Ustadzah memecah hening. Semua memandang kaget padaku. Aku gagap dalam bimbangku.

“Terimakasih kita untuk semua yang sudah Kak Evi lakukan untuk RCQ.” Lanjut ustadzah. Dan aku semakin tertahan sedu.

“Kita berdoa agar Allah berikan kekuatan iman dan keteguhan hati untuk terus beristiqomah. Berangkatlah...” Ustadzah mengangguk. Tidak meneruskan.

Tak ada suara. Mataku menyembab. Membawa terbang pada episode duduk di belakang lapangan golf beberapa bulan yang lalu bersama 4 murid hebatku. Dan tangis kamipun pecah. Aku tergugu nanar. Itulah pertama kali aku menangis di depan Ustadzah. Di depan 9 murid hebatku. Itu adalah malam terakhirku di RCQ. Tempatku belajar untuk yang ke ribuan kalinya tentang sebuah definisi “pengabdian.”

“Di mana pun kakak berada, tetaplah menghafal Al-Qur’an...” Suara  Sundari di tengah sesenggukan tangisnya. Benar-benar pecah. Tanpa terkecuali Ustdazah. Dan malam pun menata gelap. Turun semakin sempurna.

“Ustdzah afwan. Ana pamit...” Itu terakhir kalinya aku menatap pintu kamar asrama RCQ tempat aku menghabiskan ramadhan terakhirku di Indonesia. Aku melanjutkan tangisku di atas motor sembari membonceng Cici. Menyusuri gelapnya lorong jalan raya kota Jambi yang sunyi. Hatiku bergemuruh. Memikirkan tiket penerbangan pesawat Indonesia Turki, yang hingga detik malam itu belum dikirim oleh Panitia pemberi beasiswa. Sementara besok pagi aku harus sudah berangkat ke jakarta. Dan uangku hanya cukup untuk kebutuhan sementara beberapa bulan awal di Turki...

Semua gelap. Lampu depan motorku tiba-tiba mati. Terpaksa ku susuri jalan raya Jambi pada pukul 21:30 itu tanpa lampu motor.

***

Gedung bangunan baru bercat biru dengan 4 murid putra dan 9 murid putri penghafal Qur’an. Adalah alasan yang sering membuatku ketakutan menghadapi mereka, pun pada sebuah pesan matahari. Melebihi rasa takutku menanti “tidak kunjung datangnya TIKET PENERBANGAN INDONESIA TURKI.”

“Berangkatlah...” Suara ustadzah dan ketegasannya mengangguk berputar menabuh-nabuh hatiku.

“Berangkatlah...”


No comments: