Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Sunday, November 9, 2014

tentang WAKTU!

"Dan sebutlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah diwaktu petang dan pagi hari." (Q.S. 3:41)

LÜTFEN! Tolong!
Lütfen! 

Dengan memasang wajah memelas aku menggedor pintu bis depan. 

Orang di dalam menggeleng. Pertanda penuh.

Dor, dor, dor..
Lütfen! Terpaksa diri ini kembali menggedor pintu dan berteriak lagi, memelas dengan mengacungkan satu jari telunjuk, yang bermakna -satu saja- SADECE BEN, Lütfen! Tolong beri tempat, satu saja untuk saya.

Nyaris putus asa. Hingga pintu terbuka. Girang tentu saja dan segera masuk. Meski penuh dan sesak, berdesakan dan bayarnya lebih mahal, karena menggunakan bis tanpa indirim (discount for students). Bisa saja menggunakan bis indirim, dengan syarat bisa terlambat 15-20 menit dari waktu ujian. Ah begitulah berharganya waktu meski satu detik sekali pun. Rela berdesakan dan membayar dua kali lipat lebih besar.

**
Berharganya waktu. Semua pasti setuju. Alam juga demikian, betapa patuhnya dia dengan waktu. Perhatikan dikala pagi, "nanti saja ya Allah siangnya. Masih ngantuk."

Namun, pagi dengan gembira mentaati waktu tibanya, datang dengan tenang menyibak gelap, mengungkap terang dengan setia. Tampaknya sederhana sekali cara ia mencintai tugas dan kewajibannya. Lalu berangsur menyudut senja dan malam pun datang menunaikan tugasnya sesuai waktu tibanya. Semua berhitung, menjaga waktunya dengan tunduk, tak perduli gerhana, bencana, pecah hujan, gemetar lautan, atau pun bila seluruh manusia meminta agar diperpanjang waktu siang atau malamnya, tetap sajalah tiada yang bisa mencegah kehadiran "waktu tibanya."

WAKTU! ⏰
Seperti lorong kisah saat kita berhitung dan berlomba lari di lapangan sekolah, semasa kecil. Pak guru bilang, juaranya adalah Ihsan, atau Budi, atau Hasan. Dan ternyata bukan kita, meski secepat peluh dan kecepatan. Ternyata "ah" hanya perbedaan detik saja kita tidak jadi memeluk piala lomba lari itu. "Bila saja, kita berlatih lebih tekun, lebih jauh, lebih...ini dan ini, dan...tinggalah waktu "penyesalan" yang tersisa. Begitulah, sementara waktu terus berhitung, dan alam tetap dengan setia menunaikan tugas-tugasnya. Bumi berputar, hari berganti, musim berpenjar dan ayam-ayam juga terus setia membangunkan manusia dikala fajar. Tidak pernah berhenti, tidak pula mengeluh, atau protes. Sungguh setianya. 

Adalah nasihat Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz (Mufti Besar Arab Saudi) rahimahullah, dalam suatu kesempatan menyampaikan "siapa saja yang benar-benar memperhatikan Al-Qur'an al-aziz, dan sunnah yang suci serta perkataan para sahabat Nabi dan ulama-ulama setelahnya niscaya dia akan dapat mengetahui betapa pentingnya menjaga waktu. Dan betapa semangatnya para sahabat Nabi dan ulama-ulama setelahnya dalam hal penjagaan waktu.


Firman Allah: "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahKu." (Adz-Dzariat : 56).

Tentu saja, ibadah yang dilakukan hamba Allah membutuhkan ilmu dan bashiroh, pengetahuan yang jelas tentang asas, macam, perincian dan dalil. OLEH SEBAB ITU, tidak ada jalan yang dapat menghantarkan seorang hamba untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut selain dari menjaga waktu. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakan WAKTUnya, sama saja dia telah menyia-nyiakan USIA dan hilang darinya ILMU, harapan dan kesempatan yang berharga.

Sesungguhnya segala sesuatu akan dihitung dan ditulis di sisi Allah, maka setiap muslim sepatutnya untuk senantiasa menjaga waktunya dan memperbaiki keadaannya."

**
Bila saja waktu yang terbuang bisa kita beli, berapa harga waktu yang harus kita bayar persekon kesia-siannya. Ah, entahlah..

Pepatah bilang "Time Is Money" meski sejatinya waktu jauh lebih berharga dari pada uang. Uang bisa kita cari, kita bayar. Namun waktu kita tidak dapat membelinya, tidak dapat menukarnya, meski seorang anak raja sekali pun.

"waktu merupakan layaknya bejana, yang Anda dapat isi dalamnya dengan kebaikan atau keburukan." (Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah)

Jadikanlah waktu kita sebagai sarana yang dapat mengantarkan kita kepada setiap perkara yang membawa menuju ke Ridha an Allah, dan dapat mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat memajukannya. (Q.S. 7:34)

Wassalamwrwb. 
Sakura Romawi Timur
EM, Ankara 8 November 2014 (Di sebuah sudut meja belajar)
disampaikan pada kulsap MJR-SJS MITI Mahasiswa 

1 comment:

Unknown said...

Waktu adalah pedang, kalimat ini yang selalu Bapak ucapkan pdaku sejak kecil mbak. Bapak tau anak perempuannya suka memubazirkan waktu, lebih senang bermalas-malasan. Dan Bapak selalu mengingatkan "Kalau kamu bersantai-santai waktu muda, nanti kalau sudah sampai umurmu seperti Bapak, tinggallah penyelasan".