Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Friday, February 28, 2014

tentang Mak dan Pak

Pukul 22:00 Turki.
Alhamdulillah, baru saja tuntas semua aktifitasku. Malam ini adala piket membersihkan dan mengepel kamar. Dear catatan harianku. Seharusnya aku membaca malam ini, tapi sejenak berhenti karena karena ribuan kata yang bersemayam dikepalaku. 

***
IBU! 

Kami tidak memanggilnya dengan bahasa Ibu. 

Mak! 

Mungkin terdengar sangat kuno dan tidak keren. Tapi perempuan yang ketegarannya sekuat gunung uhud itu, adalah Makku. Suatu hari, Mak - begitu biasa aku memanggilnya. Mengajakku memasak sambal goreng. Dapur kami masih sangat sederhana ketika itu, dapur pawon - dari kayu. Tangannya yang berwana kuning langsat itu terampil menggiling cabe. Aku yang masih hijau duduk dengan mata tak bergeming. Memperhatikan bagaimana tangan Mak memainkan batu penggiling cabai dengan terampil.

Makku...
Bukan emak kebanyakan. Ia tidak tamat sekolah, hanya sampai kelas 3 SD. Ia adalah emak yang sangat terampil, pandai berdagang dan memiliki selangit ide. Tidak pernah habis Mak menjadi pencetus ide, melebihi Bapak. Emakku tidak pula pandai membaca Al-Qur'an, masih terbata-bata. Meski begitu diajarkannya aku membaca Qur'an semasa kecilku, lalu setelah aku menghatamkannya bersama Ibu Kaswati saat kelas 5 SD, saat itu resmilah aku menjadi guru mengaji bagi Emakku. Setiap malam aku mengajar dan menyimak bacaan Emak. Emakku, jika bernyanyi suaranya bagus sekali. Aku suka sekali mendengar emak bernyanyi. Ia adalah pembelajar terbaik yang pernah aku miliki. Jika aku pulang ia dengarkan dengan tekun apa-apa yang aku peroleh. Menjadi murid terbaik yang aku miliki.

Makku...
jarang membeli baju baru. Tidak pula bergelang dan berkalung emas. Bajunya sederhana dan sesekali terlihat lebih bagus sedikit. Makku, engkau tidak tamat sekolah. Tidak begitu juga pandai memasak. Tapi satu hal aku belajar, engkau selalu belajar menjadi istri yang taat pada Bapak -yang keras- Selalu berusaha menyenangkan hati Bapak meski Bapak sangat galak bagi kami. Hooho, meski sekarang Bapak jauh lebih kalem seiring dengan usianya. Ah jadi ingat Bapak, biar galak tapi kalau aku pegal-pegel, Bapak juga yang mengurut kakiku semasa kecil. Meski galak tapi Bapak juga yang megantarku mondar-mandir daftar sekolah. Ahaks...ahaha, Bapakku sayang.

Bersambung...

***

Ganbatte Kudasai adikku sayang

2009...

Suatu sore, kita dulu sering menghitung berapa jumlah bintang di langit malam. Memeras baju bersama, dan menimba airnya. Menjemurnya dan berlarian menangkap pakaian saat hujan tiba-tiba datang mengguyur.

"Mbak jemurannya roboh." Suaramu berteriak ketika suatu siang Mbak duduk menekuni leptop, dihantui deadline lomba menulis.

Mbak masih ingat. Cici duduk semalaman disamping Mbak, dari pagi sampai subuh menjelang. Menemani mengetik karya tulis. Mbak masih ingat, itu karya tulis pertama yang kita tulis bersama, "Alat permainan Edukatif: Puzzle Al-Qur'an."

Lalu tahun-tahun yang panjang engkau adalah sahabat dan saudara terdekat yang Mbak miliki saat itu.

"Meski kita tidur digudang,
pokoknya Cici temani Mbak sampai Taqdir yang memisahkan." Itu suaramu yang sesenggukan, saat kita sudah lewat bulan bayar kontrakan.

Adikku sayang...
Dimana pun Mbak berada, engkau selalu dihati Mbak
Ogenki Desuka...
Jemputlah Negeri SAKURAMU untuk yang ke-2 kalinya.

Itula mengapa, Mbak sematkan nama Pena Sakura
Karena mbak sayang cici 
Lekas sembuh Dek ya
GANBATTE KUDASAI! Haik

Thursday, February 27, 2014

Sepucuk surat untuk Indonesia


Selamat pagi Merah Putih
Indonesiaku, 
sepucuk surat aku tulis untukmu pagi ini

Diberbagai penjuru negeri anak-anakmu tengah belajar. Rasanya aku menulis ini dengan jiwa yang optimis! Bahwa cita-cita dan kebangkitan darah merah putih itu bukan omong kosong. Orang sering bilang, kita negeri carut marut, plagiator, bermental tempe "meski tempe itu sehat" dan lain sebagainya. Aku bilang iya ada benarnya dan memang begitu fakta yang ada. Tapi menurutku, dan aku yakin menurut banyak teman-temanku juga, bahwa itu oknum A, B atau Z. Yang mereka tidak menyukai beratnya beban belajar dan pedihnya kesungguhan.

Selamat pagi merah putih, 
Mendengar dan membaca kisah para leluhur, pendahulu pembangunan, rasanya malu pada diri sendiri. Belum bekerja banyak, belum berbuat banyak, belum apa-apa. Chairil Anwar bilang "Kami sudah coba apa yang kami bisa, Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa."

Selamat pagi Merah Putih,
Bangkit-bangkitlah kami anak-anakmu. Mengembara diberbagai penjuru benua. Tengah belajar melihat, mendengar, merasa, dan berbuat. Mungkin ini masih kecil. Tapi kami yakin, satu, dua, tiga dan 1000 pemuda yang bersebaran diberbagai sudut semesta adalah "gemilang jawaban bahwa Omong Kosong itu tidak ada, dan tidak pernah ada." Inilah anak-anakmu. Peluru masa depan cita-cita Merah Putihmu, Indonesiaku.

Sakura RT, Ankara 27 Februari 2014

**H-7 Sambut GEBYAR INOVASI PEMUDA INDONESIA (GIPI) 2014

Monday, February 24, 2014

Sebuah Pesan Belajar

Rindu sekali sore ini. Banyak catatan yang belum sempat aku pindahkan diblog. Alhamdulillah ada whats up yang biasa aku menyiman catatan-catatan kecil luapan hatiku. Sewaktu-waktu bisa aku pindahkan disini. Magrib ini entah magrib untuk yang keberapa kalinya, aku rindu pada Emak dan seorang ibu. Entahlah...aku betul-betul ingin memeluk keduanya, meski tidak akan meluapkan semua isi hatiku. 

Pertemuan beberapa hari lalu dengan pak BJ. Habibie yang berkunjung ke Turki, kota Ankara (**Wisma KBRI) benar-benar menjadi bensin dan membakar semangat belajarku. Ini bukan kasus untuk yang pertama kalinya membahasakan "energi" semangat dalam belajar. Berbahasa itu mudah, tapi sungguh belajar itu perih dan manis. Ibu...

Entah apa yang aku rasakan hingga aku begitu ingin sangat mengenalmu. Entahlah...banyak hal yang ingin aku belajar darimu. Aku rindu semuanya, aku rindu emak, rindu Ustdzah dan aku betul-betul tidak berani menelpon mereka, sama halnya dengan ketidak beranianku menambahkan Ibu dalam deret pertemanan meski itu hanya dalam dunia maya. Hee...entahlah. Aku betul-betul ingin memeluk emak, ibu dan Ustdzahku. Ingin belajar lebih banyak tentang kehidupan.

Duhai diriku
Bersungguh-sungguhlah dalam belajar meski pahit
ini tidak lebih pahit dari kisah para sahabat Rasul pada masanya
bersungguh-sungguhlah dalam belajar meski itu berat
ini tidak lebih berat dari beratnya kisah belajar Pak Habibie
Bersungguh-sungguhlah meski sulit
Ini sungguh tidak lebih sulit dari ujian untuk seorang "Ibu" yang aku rindukan disana
bersungguh-sungguhlah meski melelahkan
ini sungguh tidak lebih melelahkan dari derap ujian sang pemilik negeri sebuah benua
Haramainku, catatan harianku, energiku...
Duhai diriku bersungguh-sungguhlah, Kuat dan bismillah
istiqomah, Allahu Akbar

Ankara, 24 Februari 2014

Thursday, February 13, 2014

Sore untuk Keluarga Paman Suriah

3 Pintu pemberhentian - Sore untuk Keluarga Paman Suriah


Oleh : 
Sakura Romawi Timur - Evi Marlina Al-Ardvici


sumber foto gugel

Serampung kelas pertama hari ini saya bergegas mninggalkan kelas dan segera mnyusuri trotoar mnuju metro, kereta. Berniat membeli perlengkapan alat tulis. Kereta metro datang tidak lama saya menanti dengan kepala setengah berputar, pusing. 

3 menit didalam kereta menuju pusat perbelanjaan. Lalu turun dan segera menyusuri toko alat tulis. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit menjelang ashar. Setelah tuntas saya putuskan segera pulang dan shalat di asrama. Baru saja kaki menginjakkan satu anak tangga lift metro adzan Ashar tiba, urung niat untuk segera pulang. Memutuskan shalat dahulu di musola.

Serampung ashar, segera berkemas. Sore ini saya hanya ingin segera sampai di asrama. Titik! Mengingat kepala saya berat sekali hari ini. Ingin segera berbaring dan membuat mading pelajaran di kamar. Menempel-nempel kertas warna-warni.

Saya memutuskan memilih jalur Ankaray tujuan Besevler, tujuan Asrama saya. Setelah menggesekkan kartu metro kereta dan bergegas cepat sebuah suara memanggil, "Jika kamu akan ke Asti tolong antarkan Bapak ini." Suara seorang abi Turki, meminta. Saya tidak mengerti. Sejenak menatap seorang Paman yang dimaksud agar saya menunjukinya stasiun pemberhentian Asti Terminal. 

"Tamam." Jawab saya singkat sambil tersenyum, meski saya akan turun di Besevler, 2 stasiun sebelum Asti terminal. "Baiklah sejenak menunda menit untuk lekas sampai asrama tidak msalah." Fikir saya. Lalu memandang wanita dan anak kecil, sepertinya istri dan anaknya. Dan seorang pemuda yang usianya sekitar 21 tahunan, dengan menggendong tas dan map2 dokumen penting sepertinya.

Kami masuk kereta bersama. Sampai akhirnya kereta berhenti sejenak dipemberhentian Besevler, saya berdiri bersiap turun. 

Eyang Putri

Adalah warnanya yang membuat aku tidak berhenti mengaguminya, matahari pucuk negeriku yang membuat nadi kehidupan tak henti jera, eyang putri pernah bilang seperti bul-bul kecil yang terbang diantara ranting dan batang, atau seperti bul-bul kecil yang sayapnya menyibak sunyi, aku dengarkan kisah eyang mendongeng sepagian, aku rindukan paginya dalam gelap, tiada henti dari waktu kewaktu, eyang putri bilang aku cucunya yang tersayang. Eyang putri yang dengannya aku belajar kesederhanaan, sepanjang usianya. Aku bisa hitung berapa lembar bajunya, penutup kepalanya dan jariknya. Tidak ada yang berubah dari masa kemasa, pun disepanjang usiaku. Harta terbaiknya adalah "mukena putih" yang putih bersihnya terjaga. Tidak aku temukan bercak apa pun dimukenanya. Mukena dengan harga terbaik. Lebih bagus dan mahal dari semua baju dan jariknya. Eyang putri yang tidak pernah menasihatiku agar aku berhemat hidup, sikapnya dan disepanjang kehidupannya yang sederhana adalah getar rima nadi hatiku untuk tidak pernah berhenti mengaguminya.

Sakura Romawi Timur
(Teruntuk eyang putriku, 100Yil, 13 Feb '14)

Monday, February 10, 2014

#Sharing TURKCE - How are you teman2 TOMER YTB 2013?

Assalamu'alaikumwrwb.


Dear teman-teman YTB Schoolarship 2013, how are you? Turkce nasil gidiyor? iyi olur ya iallah. Tulisan ini tiba-tiba bersemangat ingin saya tulis malam ini, setelah tepar menepar serampung ujian semester dan perjalanan panjang mondar-mandir nyaris genap sebulan setengah. Huah...habis sekali rasanya. Demam hosgeldin. Aku fikir setelah tuntas ujian bisa holiday, ternyata, tuwing tuwing, harus mondar-mandir dan finally taraaa, tepar demam deh.

Teman-teman YTB 2013 sibuk apa sekarang? Subhanallah, luar biasa. Saya salut sekali dengan keaktifan teman2 tidak hanya sekedar belajar TOMER, akan tetapi juga keaktifan dalam berbagai kegiatan, mulai dari PPI, LKS MIT, PCNU, GIA, pun FLP. Semoga baik, berkah dan bermanfaat in sha Allah. 

Tulisan saya ini hanya berbagi suka duka saya menghadapi kelas semester pertama dalam perkuliahan yang bahasa pengantarnya bahasa Turki, dengan modal kelas persiapan bahasa Turki hanya 8 bulan. Huah...bukan hal yang sederhana bagi saya secara jujur. Karena kelas TOMER dipersiapkan baru mampu untuk percakapan keseharian, bacaan ringan dan topik-topik sederhana. Oleh sebab itu semester awal bagi saya adalah semester yang berat, menarik, penuh perjuangan, semangat, cemas, tangis, harapan, asa, cita semuanya dah bercampur menjadi satu. Apa lagi jurusan saya adalah Edu Psychology Non Linear dengan jurusan S1 saya yang English Language Teaching, maka bulan-bulan yang panjang dalam menghadapi perkuliahan dimana saya satu-satunya mahasiswa asing internasional di kelas yang berjumlah 60 lebih adalah hal yang "sesuatu," meski dalam hal ini mungkin ada juga yang mengalami hal yang sama dengan saya (YTB 2012).

Saat perkuliahan berlangsung saya menemukan istilah-istilah yang seperti huruf-huruf kayu yang berbengkok-bengkok memahaminya tidak ketulungan, apa lagi kalau harus membaca buku-buku asing jaman terbitan tahun antah berantah, wuow masya Allah ini bahasa apa bahasa yaks. Hihi yang semuanya berbahasa Turki, widih-widih bisa merayap-rayap saya mencakar-cakar huruf-huruf meski hanya sekedar menerjemahkan arti sebelum sampai menangkap makna. Dan yang menakjubkan adalah apabila kelas ujian di gabung, maka kelas seminar yang luas sekali itu akan dipenuhi mencapai 130 lebih mahasiswa yang mengikuti ujian, dan sekali lagi - hanya saya yang kecil cumil mungil dan satu-satunya mahasiswa asing yang ada di kelas sana dengan kemampuan bahasa Turki yang masih -blub blubh blubh :D #ahasks hoho...tra la la tri li li...Cling! Rasanya saya ingin kemampuan bahasa turki saya serba cling, cling cling. Berubahhh!! Berubah suminten ra nggenah kalee yaks. Hoho...ahaha, saya ngetik ini sambil ketawa-ketiwi, mengingat jatuh bangun belajar di semester awal. #EviSakuraRomawiGejeLebay tapi...baik dan periang hatinya, he...ampun ndoro zekottt pembaca yang budiman. 

Singkat cerita. Saya hanya ingin memberikan sedikit buah aprikot kesukaan saya pada tulisan saya kali ini. Bukanlah ini remainder, apa lagi nasihat, bukan, ini hanya buah aprikot manis yang bagus sekali fungsinya. Semoga aprikot teman-teman juga suka ya. 

"Kamu kan masih TOMER puas2in ambil jatah saja, ntr kalo dah kuliah gak sempat jalan-jalan." Bla bla bla...Tema ini sering sekali saya dengar ketika masa masih TOMER, meski saya termasuk yang suka travelling kebeberapa kota semasa TOMER, iya tidak ada salahnya, selagi ada kesempatan mari kita manfaatkan berjelajah TURKI ,hayoo kita rame2 naik bus start dari kota Ankara, ciaaat. Hloh...**hihi modus. Padahal sebenernya saya yang ngebet pengen jelejah semua jengkal Turki. 

Jadi, singkatnya begini. Semasa TOMER ada baiknya dan bukan ada baiknya sih, sebenrnya bahasa seteganya saya adalah -paksa dan mutlak- teman-teman sebaiknya JOR-JORan belajar bahasa Turki, mengapa? Karena kalau sudah kuliah waktu kita sudah sangat disibukkan untuk membaca buku-buku perkuliahan yang bahasanya almost Turki, tuntutan memahami mau tidak mau. Apa lagi dengan istilah2 bahasa akademis yang kalau saya bilang mirip kayu bengkok-bengkok, muter-muter swiiing, wah kepala saya seperti mau direpas-repas **baca peras rasanya. Begitulah saya sampaikan seadanya, jadi tidaklah mengapa teman-teman habis-habisan belajar semasa TOMER, menambah bacaan dengan tema yang berat, mulailah berlangganan membaca koran gratis, kalau di Ankara sih ada koran gratis :p -wkwk- yah intinya bacaan mulai naik level meski Tomernya masih Temel 1 misalnya. Tidak apa-apa, syukur-syukur sudah mulai membabat novel-novel dengan jumlah halaman yang ukuran tipis. Seperti Nereye Gidiyoruz Baba, atau buku-buku Orhan Pamuk yang tipis-tipis juga banyak, kalau mau boleh pinjam buku saya, **tapi mie uygurnya yaks- hihi moduss, atau kalau mau yang sedikit tebal cuma ringan bahasanya buku-buku anak Cahit Ucuk -bukunya lumayan tebal usia 9 tahun ke atas, isinya lebih beragam kosa katanya. Atau buku-buku keagaamaan juga bagus, banyak buku yang tipis-tipis dan bisa dibaca 3-4 hari dengan berusaha menangkap makna. 

Singkatnya, inti dari tulisan saya ini, seperti kesukaan saya memakan buah aprikot, bagus untuk kesehatan. Manfaatnya banyak sekali. Gugling saja ya. Yah seperti itu, maka berdasarkan pengalaman saya di semester satu yang jungkir balik sampai ra nggenah dan sampai ndak selera makan bakso **haha baksonya saja kagak ada gimana mau selera, wah apalagi semester dua uwiw-uwiw mungkin lebih weRRR, maka tidak mengapalah ya capek-capek sedikit belajar bahasa Turkinya semasa TOMER, masih punya sisa waktu kan? Biarlah pusing-pusing sebentartidak apa-apa, biar nanti terbiasa pas mulai perkuliahan dan lebih ringan iallah.

Bismillah, apa pun semoga baik iallah. Saya turut mendoakan, selamat berjuang menghadapi kelas perkuliahan selanjutnya. Saya juga sudah mulai masuk kuliah, wah cepat sekali ya. Padahal baru saja beberapa pekan lalu jungkir balik pesawat ulang alik. Hihi...alhamdulillah, terimakashi ya Allah yang selalu menjadi tempat terbaikku dalam berlabuh. Semester satu sudah berlalu, "aku tahu dan percaya janji Mu, -bersama kesulitan ada kemudahan." Alhamdulillah ya Allah untuk semua kelelahan yang telah terbayar untuk saat ini. Perjuangan belum usai..

Ayo-ayo semangat2 teman2 TOMER 2013 yaks.
Mari kita berubah, cling!

Sakura RT, Ankara 10February2014
(MenulisDitengahMenikmatiAmbrukTeparTotal)

Thursday, February 6, 2014

FootNotes di halaman Izmit

**
Hari libur bagiku adalah sebuah ruang istirahat khusus untuk menulis, menambah perbendaharaan khazanah alam fikir. Meski aku tidak mau mengatakan itu mutlak. Tapi berlibur dan menepi dari keramaian dengan mengeja waktu, membaca kota-kota dan mendengar suara langit bercakap-cakap ditempat-tempat baru selalu memiliki ruang yang istimewa didalam fikir, jiwa dan jasadku. Ada ruh semangat dan cita-cita yang aku bisa ceritakan pada langit dan laut, pada camar yang berkepak, pada elang yang menukik pun pada ribuan lampu kota Izmit yang jika kita melihatnya dari puncak Kota, ckckck... subhanallah! Hanya ada bahasa tasbih kekaguman disepanjang bibir. Allah selalu bilang, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kan kau dustakan."

**
Kocaeli adalah kota yang dikenal dg kota pusat pabrik2nya Turki, beribukota Izmit, kota kecil yang menyimpan kekayaan Turki. Di kota inilah pabrik2 besar mengoperasikan aktifitasnya. Sayangnya aku blm brksmptan mampir ke pabrik yg dimaksudkan. Kota kecil yang tenang. 3 Jam perjalanan dari Istanbul. Kota ini dikenal dg pismaniye, manisan yang aku bilang mirip kapas lezat. Pusat kotanya tenang, menyisurinya naik turun mengingatkan pada kota Bukit Tinggi. Pantainya yang teduh, dan jika sore tiba, tak terkatakan indah dan tentramnya kota ini. Kemaren seharian aku menghabiskan waktuku dg menonton adik2 kecil bermain ice skyting, menikmati matahari terbenam dan berlarian di sepanjang Dermaga kayu laut Marmaray, Izmit.

(Sakura RT Izmit, 6 Februari 2014) 

Sebuah Sore di Izmit



Ketika sebuah sore berkisah padaku tentang sepotong matahari yang mengukir senja. Disana ada cinta dan matahari yang Allah pancarkan ke seluruh penjuru semesta. Seperti sebuah kapal yang berteduh di tepi dermaga kota. Dan senja turun perlahan. Sepasang cita-cita bermekaran, memenuhi langit-langit hatiku. #WritingOnJourney#izmit2014 #FootNotesFebruari 

Monday, February 3, 2014

cinta

Cinta...

Adalah fajar yang berlari 
menatap langit-langit hijaiyahmu

Adalah siang yang membuncah
pada terik yang memancar

adalah petang yang duduk 
memeluk mega

adalah malam yang mengembara 
tentang kita dan rindu
memuja-Nya...

(Istanbul, 03 Februari 2013)

Puisi catatan bersama Bunda Helvy Tiana 
untuk sang penyair #3 prosa

Thursday, January 30, 2014

sebua Prosa


Salju...
Menyentuh lembut jemari dan jiwa,
tak cepat cair dalam jangka waktu lama
Hanya mencair ketika saatnya tiba..

Ada saat tertentu salju kembali menyapa,
untukmengetuk pintu romantisme sukma,
namun manusia selalu alpa,
bahwa ia adalah momen emas 
berpulang kepada Rabb-Nya

Salju mencair bukan tanpa asa,
Ia persilahkan dedaunan bertumbuh,
termasuk sakura putih yang tersipu malu,
mengiringi mozaik baru
yang menghangatkan kehidupan

(Sebuah Prosa, cathar Haramain, 10 Januari 2014)

Sepotong Pagi di Desaku...

Rasululla SAW, pernah mengajarkan sebua do'a;
"Ya Allah, karuniakan aku cinta kepada Mu,
cinta kepada yang mencintai Mu,
cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada Mu."
(Cathar, Haramain 12 Januari 2014)

Pagi selalu mengisahkan semangatnya yang tidak pernah jemu mengantar mimpi. Ia kisahkan bagaimana warnanya merekah berpendar di kulit-kulit kayu pohon karet yang basah. Pagi dengan semangat berduyun-duyun warga desa menyetel sepedanya, sebagian memanaskan mesin motor, sebagian yang lain menjerang air di pawon rumah. Kayu-kayu terbakar hangat. Kucing-kucing kampung menyandarkan bulunya di sisi dapur, yang biasa orang desa menyebutnya pawon. Dan sepanjang itu pula, aku menjadi saksi bagaimana -mendefinisikan Pagi...

#Sepotong Pagi di Desaku...
#SebuahDwilogi

Sakura RT
Ankara, 29012014

Monday, January 27, 2014

RUH Rumah Masa Depan


Sumber foto : gugel

Sudah lama tidak menulis hal yang serius. ujian perkuliahan sudah berlalu, alhamdulillah. Kali ini saya sedang kembali merapikan agenda membangun rumah masa depan. Rasanya selalu menyenangkan membicarakan masa depan. Masa depan hanya Allah yang TAHU. Tapi Allah juga sudah katakan bahwa disana ada disediakan SURGA. Itu artinya masa depan itu ADA. Dan Akhirat adalah rumah masa depan. Untuk mencapai rumah masa depan maka perlu menyiapkan rencana dan agenda kerja untuk sampai disana. Kali ini saya sedang memikirkan rumah masa depan membangun generasi emas masa depan. Saya sedang berbicara dengan diri saya sendiri, juga dengan catatan harian ini, Haramainku. 


"Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (Q.S. 94:7)

Sebuah rumah masa depan adalah rumah yang dipenuhi dengan ilmu. Dimana setiap ruh yang berteduh bisa menghirup udara ilmu didalamnya. Sebuah rumah adalah teladan, dimana setiap ruh adalah keteladanan. Sebuah rumah adalah cita-cita dan semangat, dimana setiap RUH dari rumah tersebut adalah pemilik cita-cita yang TIDAK ADA BATASANNYA. Rumah yang dipenuhi karya dan keteladanan yang tidak bertepi. Setiap RUH berkarya, setiap RUH bercita-cita, setiap RUH menjadi teladan terbaik. 

***

Membangun rumah masa depan tidaklah serta merta seperti saat kita menonton filem dan bermain ABRAKADABRA. Maka membangun jiwa dan kekokohan mental adalah bekal membangun RUH Rumah Masa Depan. Menyiapkan diri, menempa dan bersungguh-sungguh adalah PILIHAN MUTLAK. sebelum Khalik memberikan KUNCI Rumah Masa Depan itu untuk kita. Aku membuat sebuah perumapaan sederhana,

1. seperti saat sedang menghadapi ujian perkuliahan bila kita tidak siap menghadapi ujian tentu hati akan cemas, meski hari ujian telah tiba. 
2. Seperti saat sedang ujian telah tiba dan engkau telah belajar tapi belum merasa siap, meski ujian tiba dan harus menghadapinya
3. Apakah ujian tiba dan engkau siap dihari yang sama...

Maka terus mempersiapkan diri sebelum sang Khalik memberikan KUNCI rumah masa depan dan menyerahkan kunci Rumah Itu padamu adalah pilihan terbaik. Sehingga ketika saat dan waktu membuka Rumah Masa depan itu tiba engkau sudah benar-benar siap untuk membuka rumah masa depanmu. Iya...belajar dan terus mengasah potensi diri adalah pilihan terbaik untuk meniupkan RUH di rumah masa depan, rumah yang menjadi sumber ilmu  rujukan bagi umat. Rumah yang menjadi sumber RUH rujukan beragam diskusi bagi kehidupan.

Adalah rumah Masa DEPAN dimana disanalah in sha Allah aku akan mengabdikan ilmuku, ilmu yang aku tempuh dengan berlelah-lelah, ilmu yang akan aku berikan untuk keluarga dan keluarga masa depan dan Masyarakatku, menyiapkan generasi emasku, di rumah Masa Depanku. Rumah yang aku lebih suka menyebutnya saat ini dengan "Project Membangun Perusahaan RUH RUMAH Masa depan." Selamat datang rumah masa depeanku. Aku sedang berjuang membangunmu. Hingga tiba waktu TERBAIK yang Allah TENTUKAN. Apapun semoga baik, aamiin in sha Allah...



...karena sesudah kesulitan ada kemudahan, 
sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan (Q.S. 94: 5-6)

Ankara, serampung Hujan
27 Desember 2014, **sebuah perenungan...

Saturday, January 25, 2014

WHO IS GOD? Sebuah Diskusi penting #irene

Kamis dengan lelahnya baru saja berlalu. Aku duduk menyusuri menu sarapan pagi ketika sepasang mata berkaca mata duduk menghampiriku. "Irene." Seruku girang. Aku merindukan ia untuk yang kesekian kalinya. Ia selalu terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan sifatku yang selalu bermanjaan padanya. Ia selalu memanggilku "minik kiz" yang bermakna gadis mungil. Yah Irene 2 tahun lebih dewasa dariku. Dia begitu menyayangiku. Ihihi...ah aku memang selalu mudah menjadi GR, tidak terkecuali dengan pemilik jendela diseberang benua sana. Bukan lagi tentang GR tapi bahasa adik kecil yang selalu merindukan kedatangan ayahnya. **uhuks...

Pagi di Hari Kamis menjelang Dzuhur aku menghabiskan 2 jam dimeja makan asrama bersama Irene. Kami berkisah tentang perjuangan masa-masa sebelum ujian. Semua kisah dan malam-malam yang melelahkan. Aku dan Irene selalu senang saling mendengarkan satu sama lain. Hingga sampai pada topik penting. Sebuah keputusan tentang diskusi keriusannya bertanya tentang "WHO IS GOD?"

Sudah lama dia bertanya tentang ketuhanan, tentang mengapa teman-teman muslim tampak begitu lebih tenang, muslim Indonesia khususnya. Juga pada ketertarikannya pada keluarga Indonesiaku yang ia selalu bilang ramah dan berbeda. Aku hanya bisa menikmati dua matanya yang bersembunyi pada kaca mata minusnya. Sama sepertiku. 

"Bagaimana jika malam ini kita berdiskui Irene?" Tanyaku menawarkan waktu.
"Bukankah kita sedang menikmati hari Libur?" Lanjutku kembali...

Irene menyambut tawaranku dengan tanpa bahasa. Kami saling berpelukan. Lama...

"Jam berapa kita akan berdiskusi?" Tanyanya padaku di depan lift menuju lantai 7. 
"Aku akan tanyakan dahulu pada temanku. Semoga kita bisa memulainya lebih cepat." Jawabku dengan senyum yang tidak bisa aku campur warnanya.

Yah...untuk percapakan sepenting ini aku tidak bisa mengandalkan ilmu dan pemahaman agamaku yang masih sangat dangkal. Aku membutuhkan seseorang yang faham dan kafaah dalam hal ini. 

Malam kemaren kami berdiskusi. Mulai dari pukul 20:00 hingga pukul 23:00 waktu Turki. Dan tentu saja untuk pembicaraan sepenting seperti itu, aku tidak bisa kisahkan secara detail dalam blogku untuk kali ini. Ini hanya catatan pengantar dan remainder. Aku menuliskannya dalam halaman BAB ku tersendiri. Bakal novelku in sha Allah...Mohon do'a istiqomah, iallah..

"WHO IS GOD"
Sebuah dikusi penting pencarian Tuhan seorang Irene...

Terimkasih untuk sang Pemilik ilmu di seberang dunia sana.

Untukmu Haramain, catatan Harianku
Sakura RT, 25012014

Thursday, January 23, 2014

#sebuah Cita2 -Profesor Muslimah-

AFERIN! Matahari hangat hari ini. Entah apa yang aku rasakan untuk hari ini. Ya Allah aku sampai hari ini. Dear Haramain, catatan harianku. Nyaris dan genap 8 haru aku menghabiskan waktu pagi hingga menjelang petang berkutat di Perpustakaan ODTU - METU. Mengejar merampungkan 3 buah tugas paper, 1 paper dan 2 buah analisis journal. 4 hari tepat setelah hari ujian yang melelahkan. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengerjakan 3 paper yang harus dikumpulkan dalam pekan yang sama. Hari-hariku penuh. Aku tahu betapa lelahnya kakiku menyusuri Perpusatakaan kampus ODTU yang jauhnya berada di ujung dari asramaku. Haha...tidak ada yang aku fikirkan selain segera menuntaskan paperku. Tidak berhenti dan aku tidak memberikan excuse pada diriku sendiri untuk tidak ke perpustakaan. Itu sungguh hari-hari yang berat dan melelahkan. Hingga akhir dari puncak itu adalah kemaren pagi saat aku bangun dan aku seperti tidak memiliki kekuatan lagi. Meski untuk mengetik. Puncak kulminasi dari semua kumpulan kelelahan. Bukan karena lapar, karena kebutuhan nutrisi makanan terpenuhi. Aku sengaja menyetok semua makanan lengkap di dalam lemari es. 

Kemaren pagi entah kenapa aku sudah sangat lelah, meski satu buah analisis jurnal telah aku tuntaskan setelah sebelumnya aku merampungkan paper psikology perkembangan dan tuntas mempresentasikan. Kemaren pagi aku susuri trotoar sepanjang jalan meneuju kampus dengan menangis seorang diri. Ya Allah, betapa beratnya ibadah menuntut ilmu. Betapa pahitnya menempuh jalan belajar, betapa beratnya jalan untuk mencapai cahaya. Meski kebodohan itu lebih pahit dan mengerikan. Aku tidak tahu apa yang tengah aku perjuangankan dalam pencarian ilmuku ini. Tapi aku meyakini satu hal sederhana, bahwa yang aku lakukan adalah baik dan semoga Allah ridha menjadikan ini sebagai ibadah.

Kemaren adalah hari yang berat. Bukan karena tugas analisis jurnalku tidak tuntas. Aku sudah menuntaskannya dengan baik. Aku tenteng kertas bundel yang aku jilid seperti buku itu dengan gembira. Meski dengan menangis aku susuri jalan mencapai tren bawah tanah. Besok pagi adalah tugas terakhir analisis jurnalku. Besok pagi akan tuntas perjuangan untuk semester ini di kelas matrikulasiku. Allahu AKBAR!!! Apa pun semoga baik in sha Allah. Meski dengan tertatih karena pada kenyataannya kakiku sudah membiru dengan sendirinya. Membiru karena kelelahan mondar-mandir pulng pergi Asrama Perpustakaan. Aku bahkan tidak menyadarinya. sampai kemaren pagi saat aku berjalan dengan kaki yang terseok-seok. Y Allah, jangan Kau cabut semangat belajar dalam hati Ku ya Allah. Jangan Kau cabut kenikmatan belajar dalam hatiku. Izinkan aku terus belajar...Meski dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Izinkan aku tidak pernah lelah berhenti belajar. Izinkan aku terus tidak pernah lelah, tidak pernah lelah...

Pagi ini, 23012014 ALHAMDULILLAH! Aku menuntaskan semua paperku. ALLAHU AKBAR! Setelah lelah yang berkepanjangan ya Allah. Aku bahkan sulit menghitung jumlah jam tidurku. Ya Allah, maafkan aku jika kurang bersungguh-sungguh dalam belajar. Untukmu Haramainku, untuk orang sepertiku ini, apalah yang aku miliki selain semangat untuk belajar. Belajar, belajar, belajar. Aku tidak memiliki harta selain cita-cita yang ada dalam dadaku. Aku tidak memiliki kekayaan selain sebuah semangat untuk belajar. Im just a learner. Not more...

Sakura RT, Ankara 23012013

***



Friday, January 17, 2014

yang selalu aku rindukan...

Malam ini pukul 23:16 Waktu Turki akhirnya aku memutuskan melanjutkan merampungkan mengetik paper. Sudah sejak hari Rabu lalu aku menghabiskan waktu dan pulang selalu larut untuk merampungkan tugas-tugas Paper kuliah di Perpustakaan ODTU - METU. Hari-hari yang melelahkan. Tapi aku lebih menyukai kelelahan ini dari semua waktuku. Kelelahan yang membawaku selalu merindukan tanah airku, desaku...

 "Salju mencair bukan tanpa asa,
  Ia persilahkan dedaunan bertumbuh, 
  termasuk Sakura putih yang tersipu malu,
  mengiringi mozaik baru yang menghangatkan kehidupan."

  #Prosa3 #terakhir
  By. Sastrawan GhaoL

"terkadang tak perlu terucap kata-kata
 untuk selami dalamnya hatimu
 susah senangmu jadi bagian hidupku
 karena hati bicara"

#NgetikSambilNangis 
#Semangat FLPTurki

Ankara, 17012013

Monday, January 13, 2014

PERADABAN sepanjang Zaman, ini tentang Belajar!

PERADABAN sepanjang Zaman, ini tentang Belajar!
=======

Oleh: Evi Marlina
Sakura RT, Turki 12012014**
Bismillahirrahmanirrahim...

“Bangsa yang tak mengenali sejarahnya, takkan mampu merekayasa masa depannya.” 

(Pepatah Arab, Hikmah Masyhur)


kereta Marmaray, Istanbul. sumber foto gugel

Adzan magrib bermekaran pada langit-langit negeri dua benua. Camar laut dengan kepak tajam melintas bergerombol. Patukannya menghentak petang laut Marmaray. Kerlap-kerlip lampu vapur (kapal) pelabuhan dan pertokoan berduyun turun dan bercelupan bersama gelombang asin ombak Marmara yang menghantam disepanjang pinggiran laut. Otobus dan tremway kota mereda perlahan, gempita kondektur dan teriak lantang suara penjaja misir (jagung) khas Turki berduyun menepi, meski bau khas Roti, kebap, kofte dan ikan bakar menjadi karakter aroma utama peraduan laut Marmara.

Malam yang selalu berbeda dari kerasnya kota disiang hari. Malam yang akan selalu membuatmu merindukan negeri dengan ribuan hamparan 12 warna bunga Tulip pada musim spring yang mekar mentarinya memancar dan bersemburat orange dari balik celah-celah kubah masjid yang didesain oleh arsitektur terbaik. Istanbul, meski lebih tenang dimalam hari, tetaplah ribuan manusia tak lelah berhenti memadati kota pemilik master piecenya Bhosporus. Istanbul, Turki. 

Ini tentang Belajar! 
Ketika pada sebuah hari istimewa laut Marmara kembali menuangkan tinta sejarah peradaban Turki. 29 Oktober 2013! Negeri dua benua ini kembali menambahkan satu daftar sejarah peradaban yang tidak akan pernah terlupakan oleh siapa pun jua. Akan terus diperbincangkan dengan bangga dari masa kemasa, satu generasi kegenerasi, zaman kezaman. Semua jiwa bergemuruh kagum atas keberanian pemimpin negerinya yang dengan berani telah menciptakan sejarah besar.

Saturday, January 11, 2014

**Sakura "10000 kupu-kupu"

sumber foto: gugel


Setiap pagi aku belajar menghitung embun pada sebuah hari bernama fajar. Kecilku yang tidak mengenal bahasa padat ramai riuh ibu kota. Aku dengar dari orang kampung bahwa Jakarta itu selalu istimewa, dimana mereka bilang ada air mancur yang bagus. Meski aku tidak pernah mampu berimajinasi untuk satu nama kota ini. Kecilku yang hijau. Aku mengenal air yang mengalir dari langit dimana aku bisa berpayung menggunakan daun pisang. Kesekolah menenteng sepatu dengan bertelanjang kaki. Ternyata menyelamatkan sepatu lebih utama dari pada kaki. Jika hari hangat dan matahari terbit mekar sempurna, aku mengumpulkan bunga akar rumput yang tumbuh disepanjang jalan berkerikil. Menjadikan ia seikat akar rumput yang baunya selalu aku gemari. Bau rumput basah yang segar. Atau hal yang paling menyenangkan adalah menangkap puluhan kupu-kupu yang berterbangan di pohon minyak kayu putih di depan rumah. Bapak membantuku membuat jaring untuk menangkapnya. Aku berputar-putar demi menangkap salah satunya. Ah...kupu-kupu yang selalu aku rindukan gelitik kakinya yang lembut. **Rasanya seperti saat aku membaca suara catatan harianku - Haramainku- "Salju mencair bukan tanpa asa, ia persilahkan dedaunan bertumbuh, termasuk sakura putih yang tersipu malu, mengiringi mozaik baru yang menghangatkan," adalah..." **ah...aku seperti tengah merasakan ada 10000 kupu-kupu yang menari di hati dan sel-sel tubuhku...

(Sakura RT, Ankara 11012014)

Tuesday, January 7, 2014

KITA adalah apa yang kita TULIS

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. 
Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi” 
― Helvy Tiana Rosa

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—
suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” ― Seno Gumira AjidarmaKetika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara***



Hari masih bersembunyi dalam embun ketika pagi ini pukul 05:05 aku baru terbangun. KAGET! Segera terburu meraih kaus kaki dan meraba sandal dalam keadaan gelap. Kamar asrama masih tenang. Sudah dua hari ini bangun terlambat. Meski subuh baru dimulai pukul 05:32 waktu Turki. Terbiasa bangun pada pukul 02:30 Subuh. Merasa ada yang hilang dan semua  menjadi serba terburu.

Alhamdulillah kemaren baru saja tuntas 1 UAS perkuliahanku, masih ada UAS untuk hari Kamis. Menjadi mahasiswa asing sepertiku menjadi bahwa "aku berbeda." Bagaimana jika engkau berada di sebuah lapangan yang semuanya berbaju putih. Dan engkau adalah satu-satunya yang berbaju hijau? Bukankah itu sesuatu yang SPESIAL. Dan seperti itulah diriku. Di kelas dalam jumlah 120 siswa yang semuanya Turki. Dan aku adalah satu-satunya mahasiswi asing. Itu adalah hadiah yang SPESIAL yang Allah berikan padaku.

Dear Haramain, catatan harianku...
Sudah beberapa hari ini aku tidak menulis. Ada yang hilang rasanya. Ada yang terlepas dari waktu, ada yang terbang bersama berkurangnya usiaku, dan aku merasakan sebuah bahasa kerinduan yang tidak terbantah.  **Syukurlah engkau bersedia menampung semua "ledakan" hatiku. Aku sungguh rindu menumpahkannya disini. Seperti sebuah bahasa kerinduan, saat aku merindukan "tulisan dan fikirmu." Aku sungguh benar-benar merindukan engkau menumpahkan fikirmu dalam deret huruf. Entahlah...mengapa aku sungguh sangat merindukannya. Sama besarnya saat aku merindukan menumpahkan ribuan huruf pada catatan harianku. Menulislah...bukan karena engkau cinta atau tidak mencintai untuk menulis, menulislah karena ketika engkau menumpahkan ilmumu -yang berhasil "memenggal" hatiku itu- pada barisan kata, maka sepanjang kehidupan ini, ia akan terus kekal. Tidak akan pernah reda seperti usia kita yang tidak abadi ini.

Dear Haramain, cahaya masa depanku...
Aku belajar tentang air hujan, awan, matahari dan kelopak mawar darimu. Seperti sebuah pagi yang ketika aku bangun dari pekat dan malam yang melelahkan lalu terbitlah satu persatu suara adzan yang menenangkan. Malam yang aku selalu suka menekuni hariku dengan buku-buku yang cukup memusingkan itu. Tapi kali ini aku memiliki malam yang tidak bisa aku susun seperti aku menyusun bahasa tanganku. Malam yang aku bergembira menyambut paginya, yang aku bergembira tidak sabar menanti datangnya terbit matahari, yang aku gembira menanti mekarnya kelopak mawar. Itu sungguh sangat SPESIAL, sama spesialnya ketika kita menjadi SATU-SATUnya mahasiswa asing diantara ratusan mahasiswa lainnya. Sama spesialnya ketika aku membaca buah fikirmu yang selalu KEREN itu. **Uhuks

Dear Haramainku, pencelup 110 warnaku...
Ketika kita berada di tengah hujan, aku tidak tahu apakah engkau menyukai hujan seperti riang hatiku yang selalu berloncatan ketika hujan turun. Pada hujan terdapat do'a, terdapat berkah, terdapat hijau, terdapat nada, terdapat betapa Allah sedang menurunkan milyaran cinta-Nya melalui hujan. Itulah sebabnya mengapa aku mencintai hujan. Sama halnya aku mencintai "kehidupanku" yang sungguh ingin aku urai padamu satu persatu semua rasanya. Meski selalu tidak mampu aku tumpahkan semua hal. Maka biarlah catatan harianku ini menjadi bahasa bagimu, memahami, mengetahui dan menerjemahkan semua bahasaku. Pun pada sebuah bahasa "Harapan dan Mimpi" kita yang masih menjadi rahasia Allah. Apa pun semoga baik in sha Allah...

Dear Haramainku, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun, Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” ― Pramoedya Ananta ToerBuah fikirmu yang tidak bisa aku mengejarnya dengan sepuluh jari tanganku. Aku betul-betul tidak bisa bernafas demi mengejar kedalaman pemahamanmu. Kepandaianmu menguraikan dan mengungkapkan lembaran ilmu_Nya dalam deret huruf. Sungguh itu "menembus" hatiku. Meski aku tidak memiliki alasan khusus dalam hal ini. Seperti bahasamu dalam mendifinisikan -Ketentuan-Nya- Apa pun semoga Allah memeluk "Mimpi, do'a dan harapan" kita. Aamiin in sha Allah. SEMANGAT Kekuatan BULAN. **ihihi...serius amat sih Gueh pagi-pagi gini. Untukmu, My Haramain...

Ankara, 07012014




Saturday, January 4, 2014

sebuah PERSEMBAHAN #FLP Turki

Bismillah, semoga baik in sha Allah.
Persembahan FLP Turki, Januari 2014

"Jika Kau bukanlah anak raja

atau bukan anak ulama besar,
jadilah penulis. {Imam Ghozali)" 



Menulis adalah sarana untuk mengabadikan ilmu kita; baik di otak ataupun di atas kertas. Kok bisa? Tentu, karena dengan menulis; kita mengingat kembali ilmu-ilmu yang telah kita dapatkan sebelumnya. Secara otomatis, ingatan akan ilmu-ilmu tersebut semakin kuat bahkan bisa jadi bertambah. Dengan menulis pula, kita sedang mengabadikan ilmu kita . Ia akan abadi, walaupun kita sudah tiada. Bukan hanya itu, ia akan menjadi amal jariah kita untuk selamanya, selama umat masih terus memanfaatkannya (buku). Akan selalu menjadi cahaya terang, atau bahkan menjadi wasilah yang mencerdeskan anak bangsa. 

Oleh karena itu, AlhamduliLlah FLP kini sudah berada di Turki. Membuka rekrutmen bagi seluruh sahabat di bumi Konstantinopel, untuk bersama-sama menjadi bagian dari pahlawan pena. Bersama FLP di seluruh dunia. Ayo! Terbatas loh! Hanya untuk 30 orang! Ayo segera! Sebelum terlambat dan menyesal!