Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Showing posts with label My Daily Notes. Show all posts
Showing posts with label My Daily Notes. Show all posts

Thursday, June 25, 2020

Alam Terkembang Bercerita

Alam Terkembang Bercerita




“Eh, kan tidak boleh buang sampah sembarangan.” Mbak Nana berjongkok memungut kembali bungkus permen wijen yang baru saja dilemparnya ke lantai. Lalu memasukkannya ke dalam tong sampah di sisi pintu dapur.

“Kita tidak boleh buang sampah sembarangan, karena bisa menyebabkan banjir.” Terdengar lagi suaranya, masih dengan volume nyaring. Lalu tubuh mungilnya berputar menari-menari menikmati sepotong permen wijen kecil pemberian dari Mbah Puteri.

“Kok bisa nyebabkan banjir Mbak kalo kita buang sampah sembarang? Gimana caranya bisa banjir?” Anne akhirnya nimbrung, melihat Mbak Nana asyik bercerita mengikuti irama dalam ruang imajinasinya.

“Iya, tidak boleh Anne karena saluran air bisa pampat, kalo kita buang sampah sembarangan. Jadi bisa menyebabkan banjir.” Jawab Mbak Nana dengan suara semakin nyaring disertai dengan mengangkat jari telunjuknya, pertanda apa yang disampaikannya adalah perkara yang sangat penting.

“Makanya kita harus buang sampah di tong sampah.” Sambungnya lagi.

“Mbak Nana punya buku tentang banjir.” Ia berjalan menuju rak bukunya, mengambil satu judul buku dengan gambar gadis kecil berambut panjang yang tengah menari di taman bunga di bawah rinai hujan.

“Ini buku Mbak Nana, ada cerita tentang banjir kalo kita buang sampah sembarangan.” Tangannya mendekap buku yang baru saja diambilnya, memeluknya ke dada. Sementara ada yang menari-nari riang gembira di dalam hati Anne.

Buku itu Anne beli di salah satu even bazar Indonesia International Book Fair hampir setahun yang lalu, Agustus 2019. Namun agaknya cerita dalam buku itu selalu saja menjadi sumber rujukannya kala ia menemukan dirinya membuang sampah dengan sekehendak hatinya.

***

MISI 8 Aliran Rasa; Kreatifitas & Inovasi Mencapai Visi

MISI 8
Aliran Rasa; Kreatifitas & Inovasi Mencapai Visi



Menjadi Ibu “profesional” adalah sebuah proses panjang yang harus terus menerus diupayakan oleh seorang Ibu. Tidak ada kata selesai selama hayat di kandung badan, meski anak-anak kelak sudah tumbuh dewasa dan mandiri, tugas seorang Ibu untuk mendidik anak-anaknya akan terus berkelanjutan. Namun, tentu saja tidaklah mudah dan sederhana dalam melewati dan menjalani proses yang membutuhkan nafas yang panjang ini. Maka setiap Ibu idealnya membutuhkan bekal yang akan membantunya dalam menyeleami samudera kehidupan bernama dunia “Ibu” dengan segala ragam tantangan dan peluang yang ada di dalamnya.

Tantangan ini, bila mana seorang ibu memiliki ketahanan yang kokoh maka akan dapatlah ia melewati tantangan demi tantangan meski harus dengan bersusah payah, sebaliknya bila tidak memiliki cukup bekal atau dengan bekal yang seadanya, maka akan bertambah berat pulalah tanggung jawab dan tantangan yang sebenarnya akan dihadapi oleh kaum Ibu. Untuk itulah, kaum Ibu butuh untuk terus belajar dan mengembangkan diri. 

Friday, May 15, 2020

CORE VALUE Institut Ibu Profesional & Analisis SWOT DIRI

Belajar adalah sebuah proses yang terus menerus berlangsung sepanjang hayat, tidak berhenti. Selama nafas masih dikandung badan, maka selama itu pulalah hendaknya proses belajar itu terus menyala. 

Lebih istimewa lagi adalah bagi seorang muslimah. Belajar merupakan bagian dari jati diri seorang wanita muslim. Bagaimana hendaknya seorang muslimah melindungi akalnya dengan ilmu pengetahuan. 


Sebagaimana muslimah memberikan perhatian kepada fisiknya, maka dengan kadar yang sama besarnya pulalah ia semestinya memberikan perhatian kepada akalnya. Mengisinya dan melindunginya dengan ilmu pengetahuan. Sebagaimana dahulu yang pernah dilakukan oleh wanita Anshar yang datang dan berkata kepada Rasulullah SAW "Wahai Rasulullah, berikanlah kesempatanmu barang satu hari supaya kami dapat belajar darimu, agar kami tidak kalah dengan kaum laki-laki." (Ali Al-Hasyimi, 1997)

Dr. Muhammad Ali  al-Hasyimi dalam karyanya Jati Diri seorang Muslimah memberikan panduan bagaimana seorang muslimah menetapkan standar ilmu pokok yang harus dipelajari bagi dirinya, yakni kitabullah mulai dari memperbaiki bacaan, tajwid, pun hingga penafsirannya. Selain hal pokok lainnya adalah hadits, shirah, kisah para sahabat dari tokoh wanita. Kemudia di ikuti oleh Fiqh sebagai panduan dalam memahami hukum-hukum agamanya. Setelah ilmu pokok tersebut, maka muslimah juga hendaknya menguasai bidang ilmu tertentu selama tidak merusak kodrat kewanitaannya dan tabi'atnya.

Sebagaimana kita memiliki sosok wanita agung yang menguasai banyak dari ilmu pengetahuan, memiliki lisan yang sangat fasih dan menyentuh sehingga menjadi rujukan dari para sahabat Nabi. yakni Aisyah RA. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabul-'ilm, dari Abu Mulakah bahwa Aisyah, istri Nabi SAW tidak mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya melainkan dia mencari hingga mengetahuinya.

Monday, May 11, 2020

TENTANG MBAH KAKUNG TAMIM

MBAH KAKUNG TAMIM


Saya baru saja menyelesaikan tulisan dan mempostingnya di blog, satu jam sebelum meraih ponsel yang tergeletak di meja panjang. Dua panggilan tak terjawab dari Mas Faris via phonecall dan whatssup call terlihat di layar ponsel. Dengan segera hati saya menjadi gemetar, berbalik menelpon suami. Dan semuanya tidak lagi terbendung, dengan cepat suasana pagi itu berubah. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…serasa bumi ini berguncang demi mendengar kabar ini.
***

Pertama kali mengenal sosok Bapak adalah saat suami resmi memboyong saya ke dalam keluarga besarnya, 5 hari setelah kami menikah, Februari 2015. Perkenalan yang meski sangat singkat ini menjadi semacam oase bagi saya bahwa Bapak adalah sosok yang dengan cepat membuat saya merasa akrab, menjadi bukan sebagai musafir asing yang singgah dan tiba-tiba hadir dalam keluarga besar suami. Banyak hal yang membuat saya dengan cepat merasa terkesan hingga hilanglah rasa canggung terhadap Bapak meski saat itu baru mengenal sosok Bapak.

Thursday, April 30, 2020

Mengikat Rasa dengan Ilmu; Aliran Rasa Perjalanan Belajar #KelasMatrikulasi di IIP

Malam Ramadan ke-7

Ada banyak kenangan selama menjalani proses belajar di kelas matrikulasi bersama kaum dan calon Ibu di sini. Ada nilai-nilai kebaikan, dorongan saling menguatkan tekad, saling bergegas dalam menggali ilmu dan banyak hal lainnya. Khususnya bagi saya secara pribadi adalah belajar mengelola diri menjadi penyimak dan menjadi peserta dengan tertib mengikuti rules yang telah ditetapkan oleh komunitas.

Sebuah Kenangan

Jauh sebelum memutuskan untuk ikut bergabung dengan cara mendaftar di IIP, kala itu sekitar tahun 2018 akhir saya gencar berselancar dan mencari info tentang komunitas di daerah Depok. Maklumlah, sebab usai merampungkan studi S2 suami resmi memboyong saya ke kota Belimbing ini, tak hanya resmi secara fisik berdomisili, namun juga secara administrasi; KTP yang juga resmi pindah sebagai warga Depok.
Sejak saat itu, mulai aktif mencari informasi tentang komunitas apa yang cocok bagi saya bergabung disana. Setelah proses pencarian yang cukup panjang akhirnya, salah satunya bertemu jualah dengan komunitas IIP ini (yang kebetulan juga, sudah lama cukup akrab mendengar nama Ibu Septi semasa studi S1). Sebelum akhirnya menemukan IG IIP, saya sempat mengisi form sign up lewat WEB, hanya saja tidak ada feedback dan respon informasi apa pun sebagai balasan dari form yang saya isi. Karenanya saya berasumsi mungkin web tidak aktif lagi.
Tapi begitulah awal mulanya, sampai akhirnya bertemu jualah akun IG IIP, dan dari sanalah terbuka jalan hingga akhirnya bisa bergabung hingga sampai pada hari ini. Alhamdulillah, ala kulli hal, mencoba istiqomah mengikuti proses yang ada didalamnya dengan berupaya merampungkan tiap misi tugas yang diberikan oleh pengurus dalam proses memahami IIP sebelum resmi bergabung yang disebut dengan kelas Matrikulasi untuk kelas Institut dan Orientasi untuk kelas Kampung Komunitas, meski belum bisa optimal mengikuti forum diskusi via FB Group, karena keterbatasan satu dan lain hal.

Friday, April 24, 2020

Catatan Misi 3 Membumikan CoC Ibu Profesional


Alhamdulillah tulisan pertama di hari pertama Ramadhan. Selamat datang bulan Ramadhan, malam ke-2 Ramadhan #di rumah saja. Momen yang baik dan tepat untuk beribadah bersama keluarga. Alhamdulillah hari ini bisa menunaikan kewajiban berpuasa dalam masa menyusui Rayyan (15 bulan).

Mencoba mengikuti materi-materi yang disajikan dalam perkuliahan kelas online di komunitas Ibu Profesional. Ada banyak ilmu yang terbentang luas, rendahkanlah diri seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk. Menyucikan hati dari sikap sombong dan merasa lebih faham, teruslah belajar dari mana pun, kapan pun dan dimana pun. Ilmu adalah seperti air hujan yang bening di pagi hari, kala engkau menghirup udara ditengah air hujan yang bergemericik. Tidakkah engkau merasakan kesejukan yang sangat saat menghirupnya.

Misi selanjutnya di Komunitas Ibu Profesional kali ini adalah bagaimana setiap individu dalam komunitas tersebut bisa berperan aktif dalam membumikan CoC (Code Of Conduct di IIP). CoC IIP merupakan pedoman perilaku bermartabat dengan aturan-aturan yang telah dibuat, dipahami sehingga menjadi kesepakatan dan komitmen bersama di ruang lingkup Ibu Profesional. 

Komunitas Ibu Profesional menyadari penuh bahwa untuk membangun sebuah komunitas peradaban ini membutuhkan pedoman nilai-nilai yang bisa dijadikan acuan dalam berprilaku bermartabat seluruh komponen anggota yang tergabung dalam komunitas. Cepat atau lambat, kecil atau kelak menjadi besar sebuah komunitas membutuhkan pedoman nilai-nilai yang bisa difahami dan menjadi kesepakatan bersama. Dan dalam hal ini adalah dalam ruang lingkup komunitas IIP yang menekankan  pada penguatan nilai-nilai seorang Ibu sebagai teladan bagi anak-anaknya.

Thursday, April 16, 2020

Catatan Misi 2 Mengenal Prinsip Berkomunitas di Ibu Profesional


Alhamdulillah, sebagaimana matahari yang naik perlahan dan membentangkan riak cahaya keemasan dan seperti itulah hendaknya setiap jiwa bangkit dan menyambut harinya. Pagi ini juga demikian, saya melihat matahari memancar benderang dan menunjukkan tanda panas. Senang rasanya tanah ini disiram dengan hangat cahaya matahari. Semua pekerjaan rumah sudah usai sejak sepagian, Mas Faris banyak membantu meringankan pekerjaan rumah dan menghandle anak-anak, alhamdulillah pekerjaan rumah menjadi jauh lebih ringan.
Saya berfokus menyiapkan menu sarapan pagi, sementara suami menyiapkan anak-anak. Sebelum pada akhirnya kami menikmati sarapan pagi dengan menu Jagung pipil, sayur buncis orek telor, juga Tumis tahu tomat siram saori. Adik suka dengan menu jagung, ayah nya juga demikian. Setelah usai dengan urusan rumah dan anak-anak, saya meminta izin suami untuk menyelesaikan tugas di komunitas. Alhamdulillah, sejauh ini suami tampak mendukung pada apa yang tengah saya tempuh. Ini menjadi poin penting, ya sebab saya menyadari bahwa diri ini telah di ikat dalam pernikahan. Maka sehebat dan sebesar apa pun keputusan dan cita-cita jika tanpa ridha dan hasil musyawarah dalam keluarga tentulah menjadi tidak bermakna.
Kali ini saya ingin menuliskan apa yang say abaca beberapa hari lalu di grup FB kelas matrikulasi IP yang sangat ramai itu. Ya ada ratusan atau mungkin ribuan kaum ibu yang hadir dan belajar di kelas bernama komunitas Ibu Profesional, tentulah ini menjadi tempat dimana kaum ibu tak hanya bisa belajar bersama, namun lebih jauh dari itu mereka bisa saling bergandengan tangan belajar bersama-sama dengan berbagai latar belakang. Dan ini menjadi menarik bagi saya secara pribadi, karena IP memberikan materi berkomunitas secara perlahan sesuai dengan kemampuan dan segudang kesibukan yang dimiliki oleh kaum Ibu. Ada pun materi matrikulasi tersebut kali ini adalah sebuah materi yang disajikan dalam bentuk games. Teman-teman pengurus yang kreatif, dan saya tahu mereka juga sama-sama memiliki kesibukan. Terimakasih ya kawan-kawan pengurus.
Beberapa pekan yang lalu di #MISI1 kelas Matrikulasi teman-teman pengurus meluncurkan panduan yang kalau boleh saya meringkas dengan bahasa lain adalah “Memancangkan Niat,” bagaimana kita bisa memahami tentang untuk apa kita memutuskan begabung dalam komunitas ini, memahami dan menyadari keputusan yang sudah diambil. Dan itu berarti bergembira menjalankan konsekuansi dengan tugas-tugas menyenangkan yang ada didalamnya.
Maka di #MISI2 ini teman-teman pengurus memandu peserta melalui games menarik yang bisa diakses oleh kaum ibu, menyampaikan dengan cara yang bisa dan mungkin diterima oleh peserta termasuk saya pun menikmati keseruan ini. MISI 2 ini kami dipandu untuk memahami apa dan bagaimana prinsip berkomunitas di Ibu Profesional. Berikut yang bisa coba saya bagikan dlam ruang blog ini, sebagai jejak kebersamaan. Karena sejujurnya, dengan bergabung di IIP ini blog saya kembali hidup dengan tulisan-tulisan. Xixi…

Monday, April 13, 2020

30 DAYS Ramadhan Adventures ABQA Family

Alhamdulillah, tidak terasa Ramadhan kian dekat di pelupuk mata. Ada rasa haru dan syukur yang merebak ke dalam dada sebab bulan kebaikan dan keberkahan itu telah sangat dekat kedatangannya. Suami juga sudah membeli persediaan kurma menyambut Ramadhan sejak sepekan yang lalu, begitu terasa wangi aromanya meski masih beberapa pekan lagi Ramadhan tiba. Sayang rasanya jika Ramadhan tanpa merencanakan dan menghasilkan sesuatu dengan pertambahan kadar ibadah, sebab ini adalah momentum besar yang hanya terjadi sebulan dalam 12 bulan yang ada. Ini adalah bulan orientasi bagi jiwa setiap muslim, bulan menempa jiwa.

Di tengah wabah COVID-19 yang menempa tanah air, serta anjuran pemerintah untuk melakukan PSBB maka semoga salah satu hikmah besar itu adalah kembalinya jiwa-jiwa kami menepi dan singgah menemui sang Penguasa Alam, Rabb di bulan berkah Ramadhan. Semoga Allah meridhai ikhtiar ini…

Wednesday, August 10, 2016

Mengangkat anak angkat, bagaimana hukumnya dalam agama?

Alhamdulillah, Najma memasuki usia genap 4 bulan 1 minggu. Ia senantiasa menyertai dalam setiap diskusi yang kami lakukan, suaranya berceloteh diantara suara kami. Seakan tengah ikut serta berpendapat atau tengah menjelaskan dan menyimak ayahnya.

***
"Mascim bagaimana hukumnya mengangkat seorang anak?" Pertanyaan itu melintas begitu saja ketika kami tengah menikmati makan malam, tempo hari.

"Seorang anak bukan berarti menjadi mahram bagi ibu atau ayah yang mengangkatnya." Jawab suami dengan
melahap menu makan malam goreng tempe tepung gurih, masakan khas ibu yang sangat aku gemari.

"Emm, maksudnya Mascim?" Tanyaku kembali.

"Maksudnya adalah, bahwa ketika seseorang mengangkat anak sebagai anaknya maka secara agama anak tersebut tidak boleh dinasabkan kepada ayah yang mengangkatnya sebagai anak (fulan bin fulan atau fulanah binti fulan)." Jawab suami.

"Emm, iya aku ingat...seperti kisah si Zaid kan Mascim. Awalnya kan Rasulullah menisbatkan namanya Zaid Bin Muhammad, sampai akhirnya turun surat al-ahzab." Jawabku.

"Nah tepat sekali, kemudian adalah bahwa anak tersebut bukan berarti menjadi mahram bagi ibu atau ayah yang mengangkatnya." Lanjut suami lagi.

"Loo, begitu ya Mascim. Kok bisa?"

"Karena secara agama, apabila anak yang diangkat menjadi anak tersebut adalah perempuan maka ketika ia telah baligh anak perempuan tersebut hukumnya bukan mahram bagi ayah angkatnya, juga sebaliknya jika yang diangkat adalah anak laki-laki maka ketika ia balighpun menjadi bukan mahram bagi ibunya." Jelas suami.

"Hoo, begitu ya Yah."

"Nah jadi, gimana supaya menjadi mahram? Maka ıbu tersebut harus menyusui anak yang diangkat agar menjadi mahram. Lalu bagaimana jika ia tidak bisa menyusui, maka caranya adalah dengan menyusukan bayinya kepada saudara perempuan pihak ayah atau dari pihak ibu, agar statusnya menjadi anak susuan dari saudara perempuan ayah atau ibunya."

"Emm, I see..." angguk kepalaku.

"Biliyorsun?" Tanya suami dengan bahasa Turki alakadarnya disertai matanya yang menatap, menggodaku.

"Tamaaam, biliyoruuum."

hihi...

********
Ket foto:
atas : Sepatu Koala baby
bawah: ayah dan najma di pagi hari

Depok, 8 Agustus 2016

Sunday, March 20, 2016

Menikmati masa menanti



Emm...tik tok. Bismillah.

Sudah lama rasanya ares-aresan buat nulis. Alhamdulillah tidak terasa sudah genap 9 bulan 2 hari usia kandungan ini. Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kekuatan untuk melewati masa-masa hamil muda saat merantau, pun meski saat tulisan ini saya tulis juga dalam kondisi merantau, hanya bedanya kali ini merantaunya tinggal di rumah ibu mertua. Alhamdulillah, meski jauh dari suami paling tidak ada keluarga suami. Heu, rasanya berat juga ya ternyata jauh dari suami itu. Hehe..apalagi jatuh cintanya pada suami semakin bertambah-tambah setelah pernikahan. Padahal semasa lajang rindunya paling ke orang tua, ke kampung halaman, dipakai buat ngerjakan tugas terobati deh. Tapi, setelah menikah rindunya setiap waktu ke suami.

Sudah hampir seminggu lebih ini saya giat jalan pagi di sekitaran rumah komplek. Selain memang untuk terapi menjelang persalinan juga karena PR dari dr. Dewi, S. Pog supaya rajin jalan pagi . Hihi, kalau dulu ada Mas Faris rajin keliling komplek. Kalau saat ini cukup keliling di samping rumah, beberapa kali keliling.

Serampung shalat subuh dan tilawah, belanja sayur di mamang sayur komplek. Kesukaan saya adalah memilih sayur dan mencari menu makan (kebayangnya seperti masakan di kampung halaman). Bedanya di kampung terbiasa masak sendiri. Disini ada bibi yang membantu memasak, jadi terkadang saya sudah membayangkan sayur tumis pelecing kangkung hijau krenyes-krenyes ditangan bibi jadi berwarna merah cabai berair penuh dan warna hijau daunnya hilang. "Loh, kok ndak seperti yang tak bayangkan." Xixi...beda tangan memang beda rasa dan hasilnya.

Pagi ini saat belanja sayur ketemu Mbak jamu gendong. Hemm...saya dulu waktu kuliah S1 suka sekali konsumsi jamu jahe manis. Duh, elus elus si debay jadi kepengin minum jamu. Alhasil saya pun minta Mbak jamu gendong buat mampir ke rumah, sementara saya memilih sayur. Hari ini kebayangnya masak pepes ikan dan tumis pare pahit. Bapak mertua suka sekali dengan sayur-sayur pahit. Selera makanan saya dan Bapak mertua ternyata sama plek. Contohnya Bapaj suka tumis daun pepaya, kembang pepaya, oncom pelecing, botok, goreng ikan peda, termasuk juga pare pahit. Ahaaii asiik, sama pecis dengan seleraku. Hihi..kalau selera Mas Faris selera Sumatera juga sebenernya, kayak rendang, sambel kentang, dan yang berbau sambel gitu. Selera kami sama untuk urusan rendang. Tapi aku lebih suka daging, nah kalau Mas Faris ayam bakar, ayam goreng. Padahal harga daging kan mahal ya. Hehe, jadinya yang penting ada ikan asin peda. Nyummi.

Loh..loh...kok jadi cerita makanan. Eits, tadi kan cerita soal jamu ya. Jadi setelah belanja saya jalan keliling dan akhirnya Mbak yang jual jamu mampir ke rumah. "Mbak saya sedang hamil, bagusnya yang saya minum jamu apa ya?" Tanya saya ke Mbak nya. Kata Mbak nya Jamu beras kencur. Kalau setelah melahirkan baru jamu kunyit. Jamu kunyit tidak boleh diminum saat hamil. Alhasil saya pun mnum segelas jamu beras kencur. Segernya, alhamdulilah. 

Setelah minum, pulang ke rumah nyerahkan belanjaan ke bibi langsung searching bolehkah minum jamu gendong beras kencur untuk ibu hamil. Hemm...dari banyak tulisan dan sumber tidak ada larangan konsumsi jamu beras kencur untuk ıbu hamil, malah bagus. Kecuali jamu kunyit tidak ada satu pun yang membolehkannya dikonsumsi saat hamil. Untuk itu, akhirnya saya nginbok Mbak di kampung halaman, yang sudah berpengalaman. Apakah boleh minum jamu beras kencur saat hamil. Mau nanya dr. Dewi (dokternya dedek bayi) masih harus menunggu jadwal kontrol. Kita nunggu balasan dari Mbakku tersayang.

Oke, dah dulu ya. Saya mau cek bibi, biar hasil pepes ikan kembungnya sesuai dengan yang saya fikirkan hasilnya. :) :) 

Wednesday, February 24, 2016

demikian aku mencintaimu

Awet. Sudah sejak siang Depok hujan, derras sekali. Melihat air hujan seperti ini kadang-kadang rindu juga dengan salju kota Ankara. Hujan salju yang nyaris telah membuat nyali ummi ciut ketakutan masa pregnant bulan ke 5. 

Sebenarnya ummi selalu gembira kalau salju sedang turun, namun pagi Rabu itu pasalnya ada kelas Istatistik, wajib membawa leptop. Diluar salju turun hebat. Ya Allah, "Bukan ummimu ini tak nak ke skul Anakku," duuh...alangkah beratnya menempuh perjalanan 2 jam ke kampus itu, dalam keadaan seperti benar-benar tidak punya energi. Mau pingsan di bis...sudah sangat keseringan. 

"Oturabilirmiyim lutfen." **could I take sit please. Kalau sudah benar-benar tidak kuat berdiri jika bis sedang penuh ummimu ini baru cepat-cepat intrupsi. Pertanda sudah mau pingsan, keringat dingin. Hoho~ semua penumpang jadi menoleh, terpusat pada ummi. "Ada orang asing minta duduk, barangkali sedang sakit." Mungkin begitu fikir mereka.

Hujan salju Rabu pagi itu untuk pertama kalinya telah berhasil memporak porandakan tangis ummi di depan pintu gerbang Hukuk Fakultesi, alias fakultas hukum. Huwaah..akhirnya nangis juga, dududu~ bukan karena ummi tak nak berjuang, melainkan tak ada energi lagi buat menjangkau fakultas. Ya Allah, ingin sekali rasanya mengeluh tapi malu. Badan ummi sudah lemah sekali rasanya. Tas ummi selalu tersedia bekal, tapi tetap saja lemah sekali rasanya. Allah...berilah kekuatan agar hamba Mu ini bisa sampai di kelas buat belajar. Salju masih lebat, tentu saja plus jalanan sangat licin. 

Tidak adakah orang lalu lalang yang iba hati. Oho~ rasa-rasanya sudah berapa orang Turki yang menawarkan bantuan mengangkat tas leptop ummi. Selama masih mampu, jangan pernah bergantung pada orang lain. Minta tolong sama Allah, pasti pertolongan Allah itu dekat.

Dududu~ kalau ingat masa-masa perjuangan itu ummi rasanya buncah. Bagaimana proses pertolongan Allah itu terlihat sangat dekat dan nyata, selalu ada dimana-mana dan kapan saja.

Galau? Bolehlah kita galau, namun pesan ummi sesekali saja ya. Tak boleh pula larut-larut galau, kecuali galau boleh lihat orang rajin tilawah, sedekah atau apa-apa yang baik.

Dah, itu saje dulu yee coret-coret tangan ummi. #tulisansuka-suka
Evi Marlina, 8month of pregnant, 24022016

Monday, February 22, 2016

Handphone atau shalat Jama'ah

Hujan turun sejak semalaman ketika kami mendarat di bandar udara Soekarno. Alhamdulillah Jakarta hujan. Cepat-cepat segera komat-kamit berdoa, sebelum hujannya reda. Senang sekali rasanya mendarat setelah isya dan langit ibu kota dipenuhi curah air hujan. Pasalnya itu berarti hawa panas Jakarta bisa berkurang dan terasa lebih sejuk. 

Bertambah melimpah kegembiraan hati oleh sebab malam minggu jalanan sepi, tidak macet mengular seperti hari-hari kerja biasanya. "Jakarta kelihatan bagus kan kalo malam hari, mandi lampu." Suara Mas Faris di sela-sela beratnya mataku menahan kantuk. Mobil Damri jurusan Bogor sayup-sayup merayapi jalanan kota Jakarta yang sepi lengang, bebas macet.

Di dalam bis terlihat para penumpang dipenuhi sesak wajah yang kelelahan. Tidur pulas di kursi masing-masing. Sementara kami sibuk mematikan AC yang berada tepat di atas kepala. Mas Faris bilang aku ini tidak berbakat jadi jutawan karena tidak kuat bau AC. Duh...¿%¿¡¥
😨
Kehidupan Jakarta. Entahlah apa yang tengah difikirkan oleh para penjaja makanan di pinggiran sungai hingga larut malam begini di seberang jalan sana. Begitu kerasnya kota ini sampai-sampai udaranya pun ikut membakar. Tantangan kita dan anak-anak saat ini ke depannya tentu lebih hebat dan besar lagi. 

"Jadi, dalam rangka menyiapkan anak-anak yang siap menghadapi tantangannya seharusnya para orang tua lebih khawatir jika anak-anaknya tidak shalat berjamaah di masjid dibandingkan tidak punya handphone atau i-pad." 

Ngiing...suara Mas Faris kemaren siang kembali terngiang-ngiang dikedua telingaku. Mobil Damri terus melaju, kaca jendela mobil dipenuhi rintik-rintik hujan. Allahumma shayyiban naafi'an..

24012016

Sepatu Siapakah ini?

Sepatu Siapakah ini?
================



Hari masih berkabut pagi, harum rumput Puncak Bogor dengan baiknya masuk perlahan dari celah-celah kaca jendela yang setengah terbuka. Terlihat Mas Faris di luar sana bersenandung teduh di bawah sisa hujan, menikmati aroma embun rumput hijau dan pegunungan biru yang berbaris rapi di sisi lereng. Aku tengah berkemas, menyiapkan keperluan. Sementara televisi bersuara, menyala riang. Rasa pegal dikaki meminta menyempatkan duduk sejenak, kedua bola mataku melayangkan pandangan pada sebuah tayangan film yang membawa ingatan era kanak-kanak.

"Kamu nonton filem apa tuch?" 
Tiba-tiba suara Mas Faris bersandar di sisi telinga.

"Hihi, ini filem zaman kanak-kanak Masku." Jawabku singkat.
"Filem begituan kok ditonton." Kata Mas Faris lagi.
"Bukan Mascim, tadi pas dinyalain yang muncul langsung film ini."
***
Siapakah yang tidak mengenal kisah putri malang pemilik sepatu nan indah ini? Sepatu yang kisahnya membuat anak-anak di pelosok desa terpencil pun berlomba-lomba untuk memilikinya. Diproduksilah beragam sepatu kaca dengan tujuan utama anak-anak sebagai konsumennya.
Sepatu kaca milik puteri Cinderella ini adalah satu fenomena dari sekian banyak kisah dongeng negeri khayangan yang demikian terlihat cantik dan menarik hati, film dongeng yang mampu mengajak anak-anak berimajnasi penuh, serta mendorong keinginan menjadi seperti mereka. Tidak kalah lagi dengan film Berbie yang berpakaian seperti putri ratu, mendorong anak-anak juga menginginkan menjadi seorang puteri.
Dalam kisah Putri Cinderella "mungkin" dalam tanda kutip, ingin menyampaikan kebaikan nilai bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan. Kisah Putri Rapunzell, Puteri Salju dan masih banyak kisah-kisah puteri-puteri negeri dongeng lainnya. Namun, sayang sekali seiring anak-anak kita (anak didik, anak-anak tetangga, dan adik-adik kita) yang tumbuh menjadi dewasa, kenyataannya tidaklah mereka temukan sosok puteri impiannya itu dalam kehidupan nyata. Tokoh kebaikan itu ternyata semu. Tidaklah pernah ditemukan dalam buku-buku sejarah sekolah mau pun dalam peninggalan di ruang museum.
Kisah yang dikemas "seolah-olah" adalah sesuai untuk usia anak-anak ini, baik kita sadari mau pun tidak bukankah sebenarnya kurang tepat bahkan tidak layak menjadi konsumsi mata, dan fikiran anak-anak. Disana banyak kita temukan sisipan kisah-kisah "cinta pangeran dan sang puteri." Hampir kebanyakan rata-rata semua film negeri dongeng dengan "sasaran utama anak-anak" menyisipkan tentang "kenyataan yang sesungguhnya berbahaya" bagi pergaulan dan perkembangan anak-anak bukan? Tentu tidaklah kita menginginkan anak-anak tumbuh dengan sosok-sosok idola yang sungguh semu ini.
"Padahal kisah-kisah sesungguhnya memainkan peran yang demikian penting dalam membangun kesadaran akal dan intelektual anak. Bahkan menempati posisi pertama dalam metode pengembangan pemikiran anak yang efektif. Kisah-kisah Rasul adalah kisah-kisah nyata yang bersumber dengan referensi yang murni. Mengisahkan sejarah kehidupan mereka adalah sebaik-baik cara untuk menanamkan nilai-nilai utama ke dalam jiwa anak." (Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid).

Depok, 21022016

Monday, December 21, 2015

Sebuah Romantika; Balada bagi yang tengah jatuh hati

Bismillahirrahmanirrakhim


Tidak terlihat matahari memancar terang dari ujung pucuk pohon gugur hari ini. Tidak pula gaduh suara tetangga apartemen bawah yang sering meramaikan suasana pagi, siang mau pun petang. Keadaan terasa sedemikian tenang. Hari yang bagus untuk membaca buku, atau menjelajahi angka-angka perhitungan yang pada akhirnya mampu menjebolkan daya tahan imun tubuh. Telak! Ambruk...apalagi dengan musim bersuhu mendekati minus, tubuh asia akan mudah terkena batuk, flu, dan semacamnya. Paling tidak sudah lebih baik dan tidak mimisan seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

***

Ah...pendahuluan yang bertele-tele :p. Menulis walau bagaimana pun adalah terapi yang murah, mudah dan sederhana untuk menyibak kabut dan fikiran yang penat, padat. Sama halnya terapi saat seseorang di rundung gelisah karena topik cinta, bukankah mudah melahirkan karya-karya besar saat seseorang berkembang hatinya dengan satu kata ini? Yah..."cinta" 💕

Hahaks...sejak kapan saya begitu bersemangat untuk menulis tentang hal ini. Ah sudahlah, mari kututurkan kilas balik sebuah kisah bertema cinta. ***


Alkisah tersebutlah sebuah nama yang mungkin sedikit asing di telinga kita. Kisah tentang kasmaran yang mendera seorang pemuda berketurunan Turki dan Persia. Pemuda yang sungguh terkemuka dan mashur sosoknya, memiliki banyak guru dan pembimbing kecerdasan fikir dan keindahan budi bahasa. Memiliki hobi mendermakan harta, kemampuan yang tidak diragukan lagi dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Alangkah sempurnanya pemuda berdarah dua negara ini.

***

Suatu kesempatan masa pemuda nan alim dan penuh ilmu ini terlibat dalam pergolakan batin kisah cinta yang menjadikannya tergila-gila kepada seorang gadis. Sebuah rasa alami yang timbul pada diri manusia

Ah...rasanya memang semua serba berbeda dan dunia menjadi hanya dua sisi saja ketika kita "jatuh cinta."

Sama halnya dengan pemuda yang penuh ilmu ini, ia terus menerus dilanda kegundahan hati. Suatu malam, di musim dingin yang menggigit ia berjalan meninggalkan rumahnya dan berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya, sampai pagi menjelang karena begitu besarnya keinginan untuk melihat kekasihnya walau hanya untuk sekilas saja. 

Sementara salju turun dengan deras, sepanjang malam. Hingga ketika adzan subuh terdengar pemuda itu masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shlat isya.

Fajar pun menyingsing, langit terlihat merekah dari selimut petang. Barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dan merindukan kekasihnya itu. Pemuda itu memarahi dirinya sendiri "Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat kerinduanmu itu. Tetapi apabila seorang imam shlat membaca surah panjang engkau menjadi demikian gelisah."

***

Sejak peristiwa itu hatinya menjadi penuh dengan gundukan kegundahan. Kemudia dengan terhantuk-hantuk ia bertaubat dan kembali menyibukkan diri dengan beribadah pada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus dimulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.

***

Setelah melakukan pertaubatan pemuda itu meninggalkan kota Merv dan menetap di Baghdad untuk beberapa lama, ia bertemu dengan para tokoh sufi. Setelah dari Baghdad ia menuju Mekkah dan kemudian kembali ke kota Merv. Mendirikan sekolah tinggi untuk golongan sunnah dan fiqh.

Suatu hari pemuda ini melalui sebuah tempat, orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada disitu bahwa pemuda ini sedang melewati tempat itu. "Mintalah kepadanya sesuatu yang engkau butuhkan!" Orang buta itu pun berseru, "ya Abdullah berhentilah." Pemuda yang dipanggil Abdullah itu pun berhenti. " Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini." Pemuda itu pun menundukkan kepala lalu berdia. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali. Allahu Akbar!
***

Yah...ialah seorang ahli hadits yang terkemuka. Namanya harum dengan kisah romantik dan perjuangannya melakukan pertaubatan. Ialah ABDULLAH BIN AL-MUBARAK.

Di tulis pada 16 Desember 2015 
(disampaikan pada kulsap ODOJ MJR SJS)

Muslimah dan Pendidikan Sepanjang Hayat

Oleh : Evi Marlina 
(seorang istri & Master Candidate of Educational Psychology, Ankara University - Turkey)


Muslimah dan Pendidikan Sepanjang Hayat
Dua kata ini memiliki kekuatan magnet yang mampu menyuntikkan energi harapan, mengubah haluan, mengokohkan peradaban, dan cita-cita sebuah keluarga, masyarakat pun yang lebih besar dan luas dari itu adalah negara. Muslimah dengan perannya sebagai keran pembuka kunci madrasah kehidupan bagi anak-anak, keluarga dan masyarakat disekelilingnya memiliki fungsi dan kedudukan yang signifikan dalam mendorong, menginspirasi, memberikan gagasan serta kiprah amalnya di tengah lautan dinamika masyarakat. Muslimah dengan karakter keibuan dan fitrahnya sebagai ibu mampu memainkan peran sebagai cahaya pelita berbagai problematika kehidupan.
Predikat sebagai muslimah adalah predikat sekaligus prestasi besar yang melekat pada seorang wanita muslim. Dalam predikat ini melekat nilai-nilai, aturan, akhlak, dan semua keindahan perilaku yang terbingkai dengan gelarnya sebagai muslimah. Menjadikan seorang muslimah mulia dan bermartabat. Menjadi kunci dan senjata utama bagi muslimah dalam mengontrol tutur kata, pemikiran, tulisan, tingkah laku dan pada semua aspek kehidupannya. Demikianlah Allah dan Islam telah menempatkan kedudukan wanita muslim. Mengangkat pada derajat yang membuatnya menjadi tinggi dan mulia. Maka terlahir menjadi muslimah adalah prestasi yang tidak ternilai sebagai bekal mengarungi perubahan arus zaman.
Muslimah serta peran yang melekat padanya sebagai madrasah bagi keluarga dan masyarakat membutuhkan instrument perangkat yang akan membantunya menjalankan fungsi mulia tersebut. Islam secara nyata telah memberikan panduan berupa Al-Qur’an dan Hadits yang akan menuntunnya menjalankan peran-peran besar. Salah satu perangkat yang harus digunakan untuk memperoleh dan menyempurnakan kapasitas pemahaman adalah dengan melakukan tholabul ‘ilmi. Menggali dan memperdalam keilmuan yang akan mengangkat derajatnya pada hakikat kemuliaan yang haqiqi. Menggali ilmu agama sebagai bekal dasar yang akan membuatnya kokoh dalam proses menggali ilmu Allah yang jumlahnya tanpa batas, sesuai dengan bidang ilmu yang ia gemari; pendidikan, keagamaan, ketrampilan, olahraga, konseling, kedokteran, kewirausahaan, teknologi, psikologi, filsafat, sastra, komunikasi, ekonomi, astronomi dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Stoet, kesimpulan penemuan penelitiannya mendukung gagasan bahwa rata-rata kaum wanita memiliki kemampuan multi-tasking lebih baik dari kaum laki-laki dalam beberapa tipe multi-tasking  (Stoet, Gijsbert. 2013). Tentu saja wanita dengan kemampuan multi-tasking yang ada pada dirinya ini merupakan karunia Allah yang menjadi nilai tambah keunggulan istimewa bagi muslimah dalam mengakselerasi kapasitas intelektual/ tholabul ilmi.
Semakin dalam ilmu yang ia gali akan semakin besar pula kesempatan baginya menjadi guru-guru besar bagi keluarganya, bagi anak-anaknya, dan bagi masyarakat disekelilingnya. Semakin tajam dan luas pengetahuan yang ia miliki semakin besar pula kesempatan baginya menjadi referensi dan rujukan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat luas. Menjadi obat penawar dan solusi kreatif dengan keilmuan yang ia miliki. Lebih jauh dari fungsi itu, semakin kokoh pulalah peran muslimah menjadi pondasi dan guru-guru bagi lingkungnnya.
Derasnya gelombang arus perubahan zaman menuntut muslimah mengambil peran lebih besar dalam tataran global. Kehidupan masyarakat yang ada disekelilingnya merupakan sebuah universitas alam raya dengan corak dan karakter tantangan yang berbeda. Beragam keadaan secara tidak langsung telah mendidik muslimah dalam mengimplementasikan keilmuan ibadah praktis yang lebih luas dan umum. Kehidupan masyarakat menjadi sumber-sumber ladang ilmu bagi muslimah dalam kajian praktis menghadapi tantangan perbedaan lintas budaya, agama, ras, suku, bahasa, adat kebiasaan mau pun keyakinan terhadap Tuhan. Tantangan ini menjadi berlapis-lapis paket ilmu bagi muslimah dengan panduan pemahaman yang baik terhadap fungsinya sebagai pemegang predikat muslimah. Bagaimana ia berupaya mengimplementasikan perannya di tengah-tengah universitas alam raya. Sebagai dirinya sendiri, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai masyarakat, sebagai pendidik atau sebagai pemimpin dan penggerak ditengah lingkungannya. Rasulullah bersabda: “Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang yang dipimpinnya.”
Pendidikan sepanjang hayat menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi guna mempersiapkan generasi-generasi yang siap menghadapi ketidakpastian masa depan dengan segala tantangannya. Predikat sebagai muslimah dengan bekal pemahaman agama yang baik, kokoh dan matang menjadi akar pondasi utama muslimah untuk berperan di kancah peradaban umat, sehingga pendidikan sepanjang hayat bisa menjadi jembatan baginya menjadi professor ditengah-tengah keluargannya. Professor yang akan melahirkan anak-anak dengan pemahaman agama yang kuat dan baik, professor atau pun guru-guru yang akan membangun masyarakat yang berilmu dan berakhlakul karimah. Masyarakat yang akan menjadi pilar-pilar cahaya bagi terwujudnya bangsa yang bermartabat,  unggul dalam akhlak dan ilmu pengetahuan. Dikatakan dalam sebuah syair Arab yang populer “Al-ummu madrastul ula, iza a’dadtaha a’dadtha sya’ban thayyibal a’raq,” Ibu adalah madrasah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.” Wallahu ‘alam bishawwab.


di tulis pada sebuah musim gugur
Ankara - Turkey, 19 November 2015

Di terbitkan pada 21 Desember 2015 menjemput hari Ibu