Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Sunday, December 8, 2013

Copas **Dear Mueeza, siapa nama kucing Rasul?

Tentang KUCING
TERNYATA, selama ini?
===================

Dear Haramain, bolehkah aku beri tebakan untukmu pagi ini di sana? Tahukah kamu siapa nama kucing kesayangan Rasul? Hemmh, kalau kamu sampai tidak bisa menjawab pertanyaanku kali ini, hihi, gantian aku SKAK mati kamu yaks. Hoho, yah meski aku juga nyontek, alias tahunya juga habis baca artikel ini. Tuning...
***

Ternyata selama ini kita sudah di bodohi oleh mitos kedokteran tentang kucing. Dunia kesehatan mengatakan bahwa kucing itu berbahaya, mulai dari bulunya hingga air liurnya. Hal ini dibarengi dengan politik XXI untuk mengangkat citra Anjing. Dan sehingga, orang yang menonton XXI akan berpandangan bahwa Anjing itu binatang yang sehat dan bersahabat. Namun, bagaimanakah fakta sebenarnya ?

Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya, ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai di atas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak tiga kali. Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.

Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri. Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini
adalah siksa neraka.

Saturday, December 7, 2013

seperti salju di penghujung tahun

Kamar asrama sedang sepi. Teman-temanku sedang berlibur di akhir pekan. Biasanya aku pun begitu. Menghabiskan libur pekanku dengan menginap di rumah salah seorang keluarga indonesia, bu Dewi. Tapi semenjak kesibukan kuliah aku jarang sekali bisa menginap lagi, terkecuali mengisi kelas belajar Bahasa Turki di rumah beliau yang diadakan 2 minggu sekali. Sebenarnya aku tidak tahan ingin meninggalkan asrama hari ini, sebab di luar sana sedang turun salju, setelah beberapa lamanya menanti kedatangan bola putih itu. Tapi urung untuk melakukan "kegilaan no 70" mengingat kondisi tubuhku tidak memungkinkan. Aku tidak mau melakuakn tindakan GILA untuk yang kedua kalinya, meski dengan memakai jaket tebal sekali pun. Tidak untuk kali ini, hidungku sudah tersumbat sejak pagi subuh, sulit bernafas dan sudah "mengupil" yang berwarna merah hemoglobin lengkap. Hoho *ihhh jorrrok :p. Hehe, maaph pembaca. Memang kenyataannya hidungku -mengupil darah- alhamdulillah ini bukan kategori parah. Karena biasanya lebih parah dari ini. Bukan upil darah, tapi "ingus darah" *huek, qiqi #CUTsensorr [keterangan foto: saat berlibur salju tahun lalu, di Erciyes, pusat sky terbesar di turkidan sekali lagi ini bukan potospop apalagi sotosop, dasarrr memang engkau sangat menyebalkan] **ngomong sama kaca

never close your window #3 Julukan Baru

Fistik & Findik Turki yang terkenal dengan kelezatannya. sumber gugel

Pukul 21:39 Turki. Dear haramain, catatan harianku tidak tahulah beberapa hari ini keadaanku kurang sehat. Suhu badanku tidak normal dan sejak kemaren malam kepalaku berat sekali. Aku baru saja rampung mengajar tajwid salah satu teman asramaku malam ini, Canan namanya. Setelah merampungkan makan malam bersma Laziza. Kau tentu masih ingat Laziza bukan? Iya yang dua hari lalu aku kisahkan padamu tentang bacaan Alfatihah dan Al-Ikhlasnya. Dia sahabat yang baik...

Oh ya kau tahu, beberapa pekan ini entah karena sebab apa teman-teman asramaku memanggilku dengan panggilan yang beraneka ragam. Emmh, sebenarnya aku ingin betul menceritakannya padamu, tapi kamu suka sekali mengejekku. Peace, meski semua yang muncul darimu belum pernah membuatku marah. Pengen marah si sebenarnya, tapi aku sungguh tidak tegaaa. Huaaa, masya Allah pandai sekali engkau mengubah suasana hatiku dengan begitu cepat. Mirip Naruto. Mengubah semua kekesalan menjadi serial ketoprak humor yang bikin aku jadi ra nggenah. Hemmh, aneh pangkat langit. Okelah aku memang selalu SKAK mati kalau sudah membahas masalah pemahaman ilmu yang belum aku jangkau itu. 110 buat jagoan aktor Abdulloh KCB **kumat ngomong sama cermin. Dear haramainku, tempatku menumpahkan semua catatan dan unek-unek, jadi **hehe aku mulai saja ya ceritanya.

Wednesday, December 4, 2013

Hmm coba liat sana "Bicara Qada dan Qadar"

Hmm coba liat sana
"Bicara Qada dan Qadar"
=================

disini ada sebuah sudut ruangan yang memungkinkan aku meraih langit dari dua sisi jendela. Terbengong-bengong 'masya Allah' menikmati langit Ankara di sore hari. Warnanya merona merah-merah orange keemasan. Sekali lagi 'masya Allah.' Sempurna. Apa lagi teman-teman asrama yang baik hati dan selalu menyapaku dengan penuh cemburu "masya Allah Hanifa masya Allah." -apaan sih?-dengan tawa tertahan akumelihat jingkrak mereka saat mereka protes mengapa aku suka sekali memasang headset yang ternyata berisi suara tilawah. Sepertinya tidak ada yang aneh bagi tipe tradisi indonesia. Tapi mereka bilang itu spesial. sama spesialnya ketika aku duduk menghabiskan soreku dg barisan huruf-huruf hijaiyah atau sekedar menikmati matahari terbenam menjelang magrib dari sisi bingkai jendela. Duduk dengan hati penuh menembus ribuan sebuah benua yang jauhnya bermil-mil itu...#SalahFokus — senang sekali di Gazi Kiz Ogrenci Yurdu [status fesbuk, 3 Desember 2013].

=======

AKu tidak tahu, tapi sekali lagi kau seperti langit yang mampu membaca hujan dan matahari. **apaan sih, ngomong sama tembok dah si Sakura. Haissahh :D

Tuning...kau tahu, aku kan belum begitu faham memahami bahasa dewamu itu diari haramainku, apa lagi terkait tentang topik yang baru saja kau celupkan ke dalam gelas fikirku. Itu malah membuatku hanya bisa garuk-garuk kepala secara sempurna, mencoba menyelami kedalaman maknanya. Meski aku tidak juga cukup mengerti dengan baik. Terkadang langit memang tak selalu berwarna biru, bisa juga berwarna pink -iya warna pink- karena ia telah berhasil membuat aku merona sepanjang waktu dalam ke-abu nawasan-mu itu. **GEJE pangkat dewa. Ciaaat, cling :p

Dear blogku, the haramain yang menyebalkan. **hoho, tadi serampung kelas, aku pulang dalam keadaan tidak menentu. Suhu dingin sekali, dan aku tidak memakai jaket. Salahku sendiri. Bagaimana dinginnya akan aku copaskan status catatanku di fesbuk, coba simak ya...jangan sambil tidur tapi, dasar engkau benar-benar membuatku ingin segera melemparimu dengan jutaan daun gugur bunga mapel

Tidak lagi-lagi aku melepaskan jaketku. Jangan Gila Hanifah! ini dinegeri dengan udara minus. Jangan lagi dengan berani-beraninya menyeret kakimu tanpa jaket dan boot meski itu ke kampus sekali pun. Entah apa yang ada di otakku hingga pagi tadi hanya dengan mengenakan gamis yang kulapisi kazak wol aku memutuskan ke kampus. Pukul 08:00 pagi. Ankara dengan suhu membunuh membuatku berlari mengejar tren kereta tanpa ampun. Tidak lagi-lagi ya Rabb. Sesampai di kelas aku nyaris seperti batu. "apa kamu sakit Hanifah?" Hoca Tulinc menyapaku ketika aku masih bersedekap berusaha membunuh dinginku. kaget. Astaghfirullah. "Hayir, hocam" tidak hocam. iyiyim, alhamdulillah. Saya baik2 saja, alhamdulillah. EdisiAmbruk #Ngampus Tanpa Jaket dg suhu nyaris Minus — di Gazi Kiz Ogrenci Yurdu.

Aku sudah gila bukan? Ah entahlah. Entah ide dari mana pagi tadi berangkat ke kampus dan menanggalkan jaket dinginku. Emmh, aku tahu kotaku itu jauh sekali. Sulit rasanya menjangkau sudut-sudutnya. Bukankah sudah pernah aku katakan padamu, bahwa tidak mudah menjadi diriku sendiri setidaknya, aku membutuhkan waktu nyaris 30 jam untuk menjangkau diriku. Dan itu bukan hitungan tentang mengisi air atau pasir dalam botol. Jika sudah bicara tentang barisan peta-peta, rasanya aku seperti sedang memandang bintang yang tinggi. Yang hanya bisa aku pandang kelipnya, dan aku tidak perlu menangis untuk bisa memegang bintang itu. Tentu saja, cukup dengan membuat bintang-bintangan dari kertas dan itu cukup membuat aku pasti akan dengan begitu cepat merubah kesedihanku menjadi gembira. Mungkin karena aku sudah terbiasa hidup "menelan pil pahit" dan bukankah aku pernah kisahkan padamu tentang pil pahit itu. Semoga kau masih ingat, bentar aku kopaskan lagi ya, statusku tempo lalu...

**semester 6
mungkin saking seringnya ngerasain dan mengkonsumsi obat merk cap "hidup pahit" aku sampe lupa rasa pahit itu kayak apa. Pahitnya bangun jam 4 fajar saat yang lain masih sembunyi dalam selimut. Aku malah sibuk nyiapin minyak sayur, ngiris kol, giling bumbu, klutekan di dapur sampe jam 6 pagi. GORENG BAKWAN. Pahitnya serampung magrib, di saat yang lain belajar mengerjakan PR, mngerjakan slide aku malah kelayaban dari satu warung ke warung yang lain belanja bahan buat jualan. Pahitnya rasa serampung isya, di saat yang lain siap tidur dan merapatkan mata aku malah baru memulai mengerjakan PR dan belajar. Pahitnya jadi mahasiswa nyambi JUALAN GORENGAN buat sekedar bayar listrik dan air kos-kosan. Lalu apakah pahit itu ada warna dan rasa? Aku sudah tidak bisa membaca warna dan rasanya...**edisiRasa — diAnkara Besevler [27 November 2013]

Dear haramainku, aku tidak tahu sebenarnya pada siapa tulisan ini aku tujukan. Selain kepada catatan harianku. Semoga kelak jika aku sudah menjadi ibu, anak-anakku akan membacanya dengan detail. Bahwa mereka memiliki ibu yang gemar menulis catatan harian. Aamiin in sha Allah. Mencatat apa saja yang dirasakannya. Menuangkan apa yang bisa di tuang kepada semesta. Haisshah. Termasuk tulisan-tulisan yang belum bertuan ini. Ehem...**meski terkadang cukup menjengkelkan, pasalnya Sensei [guruku] suka iseng, mengkopas alamat link dan lalu mengirimkannya ke grup whats up. **bener-bener dah, pengen aku kasih duren Jambi si Sensei. Hoho.

Ya negeri sebuah jendela, apa sih sebenarnya huruf-huruf hijaiyah itu. Itu sungguh seperti sebuah morse yang aku tidak mampu pecahkan. Kau bilang itu "tidak penting," lalu kenapa kau pilih bahasa "morse" itu untukku. kan aku baru belajar kemaren sore. Ah...benar-benar aku tidak mengerti. Haqiqi, terkadang engkau memang mirip Doraemon yang setia, atau mirip Nobita yang penyayang pada sisuka, mengajakku seperti sedang bermain ular tangga, menemukan keajaiban-keajaiban hadiah-hadiah kecil yang lucu. Seperti hadiah -gombal mukiyoo- mu itu yang mengatakan bahwa langitmu siap menjadi catatan harianku. Ah...dasar -blog- yang istimewa dan berbeda. Untuk saat ini setidaknya, karena sekali lagi engkau tengah mengajarkanku apa itu definisi Qada dan Qadar- dan kita tidak pernah tahu, kemana Qada dan Qadar Allah akan membawanya di kemudia hari. Apa pun semoga baik in sha Allah. Ketentuan terbaik hanya milik Allah. Sekali lagi ini catatan harian tentang Qada dan Qadar. "Naumatu mani'ah ya ghooliyah..." **apaan sih artinya, haha kagak ngarti dah...

Ankara, 04 Desember 2013 [pada sebuah winter]

Monday, December 2, 2013

sebuah pesan #haramain 3

Kelak ajarilah anak-anakmu Al-Qur'an 

niscaya kebaikan apa pun akan menyertainya [sebuah pesan]

****


Aku teringat saat kaca mataku lensanya terlepas dari tangkanya beberapa tahun yang lalu. Menyedihkan. Tanpa sengaja aku sedang enggan memakainya dan kemudian meletakkan di dalam tas. Tanpa sengaja tertindih saat menaiki motor mengunjungi pedusunan Suku Anak Dalam dan akhirnya terlepas dari bingkainya. Astaghfirullah, padahal aku sedang tidak punya uang.
***
Entah apa sebabnya tiba-tiba engkau membicarakan kaca mata yang tanpa sengaja tercapture dalam kamera yang burem itu saat aku betul-betul sedang merindukan kampung halamanku. Apalagi mendengar mie aceh dan sayur pecel yang kau ceritakan beberapa hari lalu. Hemm lezaaat. Haduh, itu 2 makanan favoritku. Betul-betul membuatku merindukan tanah air. Oh ya aku ingin beri tahu, rasanya sejak sore kemaren tuntas terjawab semua tanyaku. Tidak ada lagi keraguan yang tersisa. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah lama menghantuiku, tapi aku belum menemukan jawaban yang mampu mengokohkan hatiku. Malam ini rasanya tuntas. Alhamdulillah. **jadi aku harus pakai apa jika tidak "perasaan" musti pakai otot gitu. Hwah terkadang kamu menjadi seperti sosok Abu Nawas yang selalu membuatku kesal dan terbahak. **twew wew #apaan sih gue #ngomong sama tembok :D maklum pembaca sudah 2 hari gak nulis. 

jendela kecil turki #15 Jawaban atas keraguan


sumber : gugel.com

alhamdulillah sukran ya Allah, hilang semua keraguan yang selama ini menghantui setiap aktifitasku. Aku belajar banyak hal dari catatan harian haramain ini. Sepertinya tidak ada lagi pertanyaan yang aku ragu lagi. Semua sudah terjawab. Jika pun ada pertanyaan lagi, maka itu pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul, bukan pertanyaan jaman mbengen.

1. Apakah title R.A [Radhiallahuanhu] hanya untuk sahabat Rasul ataukah bisa dipakai untuk semua muslim yang tinggal pada masa sekarang. Khususnya untuk yang telah berkontribusi bagi Islam? Jawab : Penyebutan R.A pada dasarnya bermakna do'a [semoga Allah meridhoinya], namun bagi sahabat nabi, bukan semata do'a, tetapi juga gelar dan jaminan yang melekat pada mereka sebagai orang-orang terpilih untuk mendampingi perjuangan Nabi. Jaminan ini dasarnya secara ekplisit tertuang dalam ayat 100 Q.S At-taubah. Jadi sebagai sebuah gelar dan jaminan, dia memang hanya melekat pada para sahabat. Karenanya dalam tradisi ilmiah Islam, sahabat selalu melekat pada R.A, sedangkan para tabi'in dan orang-orang saleh setelahnya cukup dengan rahimahullah [semoga Allah merahmatinya], untuk membedakan kedudukan, antara yang pernah bertemu Nabi dengan yang belum pernah, karena yang belum pernah berjumpa belum tentu mendapat jaminan seperti para sahabat.

Namun, sebagai sebuah doa, bolehkah disampaikan kepada orang lain seperti ulama yang berjasa besar? atau orang biasa? Boleh-boleh saja, tidak ada masalah. Misalnya ya Sakura, radhiyaAllahu anhu.
**sumber pertanyaan seorang teman

2. Bolehkah ketika shalat dengan menggunakan kain yang terdapat gambar patung? [saat itu shalat dengan menggunakan rok yang disediakan mushola dan pada rok tersebut terdapat gambar dewa-dewa zaman Mesir kuno masa Firaun]. Jawab : Tidak Boleh.

3. Bolehkah memainkan alat musik tertentu seperti [Biola dan Piano]? Jawab : Saya berpendapat boleh, karena yang saya tahu tidak ada dalil tegas yang melarang alat-alat musik tertentu.

4. Bolehkah kita membaca Al-Qur'an dan meletakkan mushafnya di atas ranjang kasur yang kondisi ranjangnya bertingkat [ranjang model asrama] sementara teman kita sedang berada di atas ranjang tersebut? Jawab : Boleh

5. Bolehkah wanita shalat terlihat kakinya [tidak memakai kaus kaki]. **tradisi wanita Turki hampir sebagian besar shalat tanpa kaus kaki. Jawab : Pada dasarnya mayoritas ulama mengatakan baha kaki juga merupakan aurat yang wajib di tutup, kecuali mazhab Hanafi [mazhab orang Turki] tidak wajib. Namun demikian, pun menurur pendapat yang mewajibkan, yang wajib adalah menutup bagian atas kaki. Jika pada saat shalat terlihat sedikit telapaknya tanpa sengaja karena tersingkap, maka tidak mengapa.

6. Definisi rukuk adalah 90 derajat. Bagaimana jika 15 derajat? Jawab : Ghairu shahih [tidak benar] karena dalam hadits eksplisit "sampai benar-benar" lurus secara tuma'ninah. 

7. Sebagian besar perempuan di Turki tidak shalat berjamaah [sesama perempuan]. Mereka mengatakan bahwa dalam mazhab mereka hal ini tidak ada. Jawab : Tradisi atau kebiasaan yang dibangun di atas pemahaman yang salah, lambat laun dianggap agama.

Thursday, November 28, 2013

**haramain #2

Dear catatan harianku...
Langit pemilik sebuah jendela

aku ingin mengawali catatanku ini "fii amanillah" untukmu pemilik langit putih biru di ujung sana, sebuah langit pada negeri pemilik sebuah jendela padasebuah benua. langit dan benua yang mana neng? #qiqi suka-suka penulis donk ya namanya saja catatan harian. **iyalah biar cepet, biar seneng :p -menyebalkan-

***
"Huwaaa masya Allah!...otobuuus." Seketika aku menjerit kaget. Sebuah otobus melintas cepat saat aku melewati pagar di samping asrama dengan mata tidak terlepas dari hendphone di tangan. Dan kau tahu aku nyaris tertinggal. Hwah kau benar-benar membuat jantungku serasa jatuh dari sisi jendela kamar lantai 8. Enak aja, emang aku spiderman yang bisa terjun dari ketinggian. Kecuali kau siap membuat jaring-jaring yang bisa menangkapnya dengan kecepatan cahaya. Swuuuuzzz. Terpaksa aku berlari sekencang mungkin mengejar bus yang syukurlah berhenti sejeak di durak seberang. Aku berhasil mendapatinya. Zigzaghh...Kau mau beri nilai berapa kali ini? 110 lagi?

Hemm, emangnya sinetron KCB. Yang selalu bisa disetting sedemikian rupa. Ada Azzam misalnya pas aku melangkah naik bis gitu? Trus aku Annanya gitu. hwah ogah, ini kan bukan nopelnya kang abik. Tapi nopelnya teteh Puja Kesuma [Putri Jawa kelahiran Melayu Sumatera] si Sakura Romawi Timur :p **wik-wak soo bintang pelemnya namanya Hanifah, okeyh. Gak boleh protes gak boleh ngasih emot aneh yang kagak tahu artinya. **hoho PEACE :D

Dear pemilik jendela pada sebuah benua
Van kedisi. Ternyata sedang menikmati duduk dengan memandangku dari kejauhan di sisi Jendela di seberang sana. Entah sejak kapan hari tepatnya akhir-akhir ini kita jadi senang sekali membicarakan tema penting "jendela." Mulai dari membukanya, menutup dan lalu membersihkannya. Sampai kucing dengan mata dua warna yang kau kirimkan itu bisa duduk dengan sok manis di jendela itu. Hihi...jangan salahkan bila aku mencintai kucing. Semoga kau bisa memahami tentang rasa sayangku pada binatang yang satu ini #haissyah. Kau tahu aku pernah menangis dan tidak bisa belajar saat kucingku hilang. Semalaman aku menangis menanti kedatangannya. Pun saat aku dapati kucingku yang bernama mungil itu sakit dan tidak mau makan. Itu hari yang sangat sedih sekali bagiku. Tapi syukurlah, ternyata kau juga pecinta kucing. Kucing Doraemoon. Hemm enak aja kau bilang jendela tetanggamu itu burrem, iyeelah, memang jendelamu saja yang mampu membuat semua menjadi CLING CLING *kisah Oki & Nirmala dari Negeri dongeng #geje :p

Wednesday, November 27, 2013

Catatan Diary **haramain

[21 November 2013]
siang hari

aku baru saja merampungkan antrian bank skitar 30 menit yang lalu. Hamdulillah tuntas urusan kirim mengirim. Sayang tidak membawa kamera. Sekedar mengambil keramaian pada barisan kafe khas Turki di sepanjang daerah mithat pasa. Sampai akhirnya mataku tertuju pada pengamen jalanan yang sedang memainkan alat musik tradisional. Subhanallah, masya Allah. Bagus sekali dia memetiknya. Sungguh bagus sekali. Benar2 terasa bahwa aku memang sedang berada di Turki. Sungguh aku tidak bohong...**bagus sekali, semacam kecapi.  — di Mithat Pasa.
***
 [21 November 2013]
malam hari

Kami geger di dalam asansor asrama. Bertiga, aku, laziza dan sofy. Girang karena pimpinan asrama memberikan izin untuk menukar kamar asrama. Kami bertiga menari di dalam asansor [lift asrama] ke lantai 8. Alhamdulillah, tesekkur ederim ya Allah, semoga baik iallah. Deket mushola dan kamar belajar. — di Gazi Kiz Ogrenci Yurdu.
***
[21 November 2013] 
malam hari

Jadi laziza baru-baru ini sering menirukan suara adzan. Dua hari yang lalu dia dengan riang menunjukkan bahwa dia juga hafal surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas. "Kakekku yang mengajari." Katanya bercerita di depanku. Di tarik-tarikknya tanganku agar aku mendengarkan bacaannya. lalu gusta duduklah di sisi kananku, bilang kalau dia juga pernah belajar Qur'an di kursus. Tapi tidak ingat lagi. Hem...aku angguk-angguk sambil memencet tombol record di hendphone. Hihi, aku merekam suara laziza yang sedang membacakan surat Fatihah...

Tuesday, November 26, 2013

Setiap Pribadi adalah Superior, Unik & Kreatif

**Pojok Konseling & Psikology

Hanya perjuangan menjadi superior yang dapat menjelaskan
kepribadian dan tingkah laku seseorang [Alfred Adler]


Siang tadi [25 November 2013, puku; 14:00 waktu Turki] di kelas perkuliahan Psikologi dan Konseling saya sedang menikmati penjelasan Profesor saya yang gemar sekali memakai kalung bermanik-manik dan rambutnya sudah memutih dengan senyum yang khas ramah. Meski saya tidak pernah berfikir untuk menebak berapa usia profesor saya ini. Membayangkan seolah-olah jika suatu saat nanti saya yang berdiri menggantikan sang profesor kelak [amin, insha Allah] yang namanya saya fikir sangat aneh dan unik, Prof. Yessil Yaprak, yang bermakna daun hijau. Persis warna cover buku yang ia tulis. PDR ‘Psikolojik Danisma ve Rehberlik’ yang berwarna Hijau muda. Sang Profesor tengah menerangkan sebuah teori yang dengan serta merta saya follow tanpa keraguan. Berbeda dengan pekan lalu, keraguan dan perasaan ‘sebal’ saya ketika menelusuri teori Freud.

***
Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk “menjadi.” Istilah ini sudah sangat umum dimunculkan pada setiap kesempatan, baik dalam simposium, seminar-seminar pengembangan kepribadian, training motivasi, kelas perkuliahan pun dalam berbagai diskusi. Teori yang sudah sangat umum meski terus bergulir pengembangannya dari waktu ke waktu dan dibahas dalam banyak kesempatan. Pun seiring dengan bermunculannya filem-filem bertajuk motivasi dalam bentuk yang lebih beragam, seperti kemasan dalam filem bollywood, Taare Zameen Par (2007) - Every Child is Special** [sudah pernah saya bahas sebelumnya], kemudian Akeelah and the Bee (2006) yang disutradarai oleh Doug Atchison. Ada hal yang menarik pada sebuah kutipan yang patut pula kita cermati pada filem tersebut, berikut ini:

“Our deepest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are powerful beyond measure. It is our light, not our darkness that most frightens us. We ask ourselves, Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous? Actually, who are you not to be? 

"Ketakutan terdalam kita bukanlah bahwa kita tidak cukup mampu. Ketakutan terdalam kita adalah bahwa kita memiliki kekuatan yang luar biasa. Ini sesungguhnya adalah cahaya yang kita miliki, bukan merupakan kegelapan yang menakutkan. Kita sering kali bertanya kepada diri sendiri, siapakah aku untuk bisa menjadi cemerlang, cantik, berbakat, luar biasa? Sebenarnya, siapa kamu untuk tidak bisa menjadi demikian? "

Your playing small does not serve the world. There is nothing enlightened about shrinking so that other people won't feel insecure around you. We are all meant to shine, as children do. We were born to make manifest the glory of God that is within us. It's not just in some of us; it's in everyone. And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same. As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.”

Permainan kecilmu tidak layak untuk melayani dunia ini. Tidak akan ada yang tercerahkan dari rasa malu itu sehingga orang lain akan merasa tidak aman ketika berada disisimu. Kita semua diciptakan untuk bercahaya, sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Kita dilahirkan untuk memanifestasikan kemuliaan Allah yang ada di dalam diri kita. Ini bukan hanya dalam sebagian dari kita, melainkan dalam diri setiap orang. Karena ketika kita membiarkan cahaya dalam diri kita bersinar, maka tanpa sadar kita telah mengizinkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sebagaimana kita telah dibebaskan dari ketakutan dari siri kita sendiri, kehadiran kita secara otomatis pun telah membebaskan rasa ketakutan yang ada pada orang lain.

Monday, November 25, 2013

catatan evaluasi ayat #1

Alhamdulillahirabbil'alamin. Sukran ya Rabb, pagi ini resmi aku melakukan tasmi' dengan Ustdz Halim setelah setahun tidak pernah evaluasi bacaan. Dan feelingku benar! Ya Allah, banyak sekali catatan evaluasi hari ini. Meski Ustdz bilang sudah bagus bacaan dan cukup melancarkan dengan sering mengilang. Ya Allah jika tidak ada evaluasi maka habislah catatan ayatku. Ya Allah, benar-benar terbalik-balik dan menyampur dari satu surat ke surat yang lain. Persis seperti bayi yang baru kembali belajar, berjalan dalam gelap, jatuh dan bangun. Mulai dari bacaan huruf yang tertukar dari sa menjadi sya, dari pendek menjadi panjang dan belum lagi ayat yang terbalik-balik dan tertukar. Ya Allah, padahal tidak mudah dulu buat mengumpulkannya.Tapi dengan mudah begitu saja terlupa satu persatu. Malu sekali rasanya sama Ustdz. Tidak terbayang kalau pulang ke Indonesia dan bertemu ustdzah yeni, akan lebih malu ya Rabb. Bismillah, ya Allah...bantu hamba untuk terus belajar dan memperbaiki ya Allah. Bantu hamba untuk terus belajar ya Allah. Memperbaiki dan terus memperbaiki.

***
Masih ingat. Pada sebuah bulan dan tahun 2011 ketika aku memutuskan untuk menjadi murid dari Ustdzah. Dua kali sepekan di pagi buta pukul 07:00 aku menembus subuh dan kabut tenang negeri Batanghari. Menuju sebuah rumah kos kecil sederhana di daerah telanai. Di sana aku selalu tidak bisa memarkirkan motorku dengan baik, karena rumah Ustdzah terletak tepat di pinggis jalan raya. Sebuah rumah kos kecil dan sangat sederhana. Ada beberapa buah komputer tempat merental jasa pengetikan dan counter pulsa. Masya Allah, sosok yang sederhana. Di dalam kos berukuran yang sangat kecil itu, aku dan Ustadzah duduk di sudut ruangan, yang juga tidak kalah sempit, belum empat anak Ustdazah yang semua laki-laki yang sangat aktif, membuat rumah kecil itu semakin penuh. Di kosan itulah aku bertemu Ustdzah, dan menyeraahkan diriku untuk menjadi murid beliau. 

Ustdzah Yeni Ja'far, adalah seorang perempuan suami dari Ustdz yang hafidz, dan ke empat putra beliau yang juga menghafal al-qur'an, Ihsan dan Fauzan sudah memiliki hafalan yang banyak, dan dua yang masih kecil Qayis dan Arif juga sudah mulai menghafal meski masih kecil. Ustdzah adalah seorang kepala sekolah sebuah PAUD di sebuah yayasan. Beliau pindahan dari Bogor, aku belum pernah kenal sebelumnya. Pertemuan yang tanpa sengaja lewat selebara yang juga aku baca tanpa sengaja itulah yang membawaku bertemu dengan sosok wanita yang aku bilang itu berbeda dari akhwat kebanyakan. Beliau sangat sederhana, akan tetapi kecerdasan terpancar dari cara beliau berbicara, berinteraksi dan bersikap. terkadang aku menjadi seperti teman karib, kami saling bercanda dan terkadang saling mengejek "bercanda," terkadang Ustdzah juga menjadi sangat begitu menyebalkan bagiku, terkadang beliau menjadi seperti kakak, mendengarkan dengan setia setiap keluh kesahku. Ustdzah terkadang sangat manja padaku, terlebih beliau adalah guruku belajar memperbaiki bacaan dan sejak saat itu beliaulah yang selalu mengingatku untuk terus dekat dengan Al-Qur'an. "Tidak ada yang lebih mulia disisi Allah, selain ia yang selalu dekat dengan Al-Qur'an." Begitu salah satu nasihatnya. 

Saturday, November 23, 2013

catatan antara dua benua 'penting dan tidak penting'

ket: negeri yang bercahaya [madinah al-munawara]

Dear negeri sebuah jendela. Jendela yang mana ya. Hoho...entah lah jendela yang mana. Yang mana-mana dah :D. Jendelanya bisa banyak kemungkinan. Bolehlah aku tulis catatan yang tidak bertuan ini, untukmu pemilik negeri pada sebuah jendela. Meski kau bilang itu bukan jendela, melainkan "pintu" lebih tepatnya. Apa pun itu dah istilahnya, jendela itu memang terkadang kelihatan seperti pintu. Bisa jadi dari benua sana tempatmu merangkai keajaiban-keajaiban waktu terlihat seperti pintu. Seperti pintu ajaibnya Doraemon dan aku adalah Nobitanya. CLING #GEJE :p

Janganlah kau buat aku cemburu karena bagusnya pantulan langit-langit makharijul hurufmu itu. Sungguh jangan kau buat aku menjadi pencemburu karena mumtaz dan sempurnanya engkau memantulkan Ghunnahmu itu. Janganlah pula kau buat aku tidak bisa tidur karena penghargaan bahwa milikku melebihi "bagus" nya dari suara air pada sebuah sumber dan aku berbakat menjadi.....**amiin in sha Allah, dengan khidmat. Itu sungguh berbahaya untuk tipe model penggalau sepertiku ini. Untunya ada penangkal jitu berupa mantera bahwa udara di negerimu sana tidak segalau udara dinegeriku sini. Jadi aku tidak perlu cemas, hoho. Lagi-lagi udara negeri benua yang mana. Ah...embuhlah. Namanya juga tulisan antara penting dan tidak penting. Jadi lagi-lagi negerinya bisa dimana-mana. Terlebih negeri yang dari sana terdapat salam cahaya Islam yang sengaja engkau hantarkan dari bumi tersuci di hamparan semesta yang riang ini. Itu betul-betul membuatku tidak bisa menulis secara sempurna. dan lagi-lagi menurut versiku. Aku memang terlalu banyak memiliki persepsi dan versi yang mungkin aku sendiri tidak mampu menerjemahkannya. Walau pun udara di negerimu selalu mampu menjawabnya. Udara yang aneh. Rasanya aku ingin mengambil sajadah aladin dan lalu terbang menangkap udara itu. Blubh, blubh, blubh. Wusssshhh...

Ada banyak hal yang ingin aku tulis disini sebenarnya. Tapi sepertinya belum untuk hari ini. Karena bisa jadi ini antara tentang catatan penting dan tidak penting. Aku tidak bisa mendefinisikan antara apa yang sedang ingin aku tulis ini. Dibilang buntu tidak juga begitu. Di bilang galau sepertinya juga kurang pas. Di bilang gembira memang aku gembira mencatatnya. Tapi lebih tepatnya apa aku sungguh tidak bisa mendefinisikan. Mungkin ini hanya catatan sebagian Taqdir yang mampir di sebagian puzzle sudut hatiku. Karena bisa jadi besok atau lusa Taqdir Allah berkisah berbeda. Oleh sebab itu biarlah air mengalir dari sumber-sumbernya. Mengalir dan menjadi penyejuk dahaga bagi telaga-telaga yang membutuhkan pengairannya. Ini terlalu sulit mendefinisikan apa sebenarnya ini dan itu. Di seberang sana tentang ini terlalu baik mungkin bagiku. Jadi biarlah yang baik menjadi manfaat bagi banyak negeri. Biarlah menjadi hujan bagi banyak tanah di semua penjuru negeri. Yah setidaknya seperti arti namakulah "seribu keutamaan yang aku miliki adalah untuk kebaikan kita bersama." **hoho maksa. Tapi yang pasti aku menjadi begitu pencemburu saat ini. :p Karena di sini, aku juga sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Lebih mandiri menghadapi semua kemungkinan. Baik dan buruk. Yang penting kan berdo'a, bukankah seperti katamu bahwa do'a juga merupakan bagian dari usaha. Hemm, istilah yang aneh, meski bener juga sih kalau di fikir. Hihi, sekali lagi dasar negeri dan udara yang aneh. Apapun semoga baik in sha Allah...

Turkey, 23 November 2013
sumber foto : sumber yang terpercaya :D #peace

Wednesday, November 20, 2013

memperbaiki cita-cita

Saatnya memulai kembali. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi rasanya tidak ada yang lebih berbunga-bunga selain karena malam ini aku menerima jawaban ini dari Ustdz [salah seorang pembina pesantren tahfidz] bersedia untuk membantu evaluasi murajaah dan hafalanku. Setelah setahun stuks dan tidak ada penambahan sama sekali. Bahkan apa yang sudah pernah aku hafal lupa. aku faham sudah lama aku berniat untuk menghafal Qur'an, pun sejak aku masih SD, ketika menyampaikan niat aku minta di bimbing untuk menghafal Qur'an, akan tetapi guru yang berasal dari Jawa itu menolak untuk membimbingku menghafal. Sedih sekali saat itu.

Sampai akhirnya Tsanawaiyah aku juga hanya bisa cemburu karena teman-teman yang tinggal di santri Kiyai Sanusi mendapat hafalan surat secara rutin. Aku cukup bersyukur karena bisa menghafal surat-surat dan hadits dari pelajaran Al-Qur'an dan Hadits yang disetorkan seminggu sekali di kelas. Sayangnya niat untuk menghafal penuh belum pernah kesampaian. Pun hingga tamat Tsanawiyah dan kuliah. Akhirnya setelah rampung kuliah aku baru memulainya kembali dengan di bimbing Ustdzah Yeni Ja'far, seorang umahat pindahan dari Bogor. Suami dan anak-anak beliau adalah seorang hafidz. Asal muasalnya siang di tahun 2011 lalu tanpa sengaja aku menemukan sebuah selebaran kecil di kamar teman asrama, pengumuman belajar tahsin dan tahfidz, aku segera menghubungi nomer telepon dan menemui Ustdzah sekitar pukul 17:30. Aku menemui beliau di sekolah PAUD An-nahl.

Sejak saat itu resmilah aku memiliki guru pembimbing yang mengevaluasi hafalan setiap pekan. Sayang sekali baru berjalan 8 bulan dan masih tersandung-sandung, hingga aku menerima pengumuman bahwa aku dinyatatakan lulus beasiswa Turkey. Ustdzah berat melepaskanku saat itu. Aku tahu...Tapi beliaulah orang yang mendukung dan membantu semua persiapan medical chekc up melalui dokter Meda, pemilik yayasan Rumah Cerdas Qur'ani sekaligus Direktur Rumah Sakit Mayang Medical center. Ustadzah dan dr. Meda lah yang mengurus semua biaya persiapan berkas medical check up ku hingga tuntas. Malam itu ustdzah melepasku tanpa air mata. Sebaliknya aku yang menangis tersedu-sedu di asrama RCQ. Pesan Ustdzah sederhana, agar aku terus melanjutkan hafalan dan belajar Bahasa Arab.

**Kajian Catcil "Rimbunnya sebuah ayat"

Kajian: Catatan kecil
Rimbunnya sebuah ayat
Oleh: cik gu haramain
================

Ali ibn Abi Thalib ra, pernah berkata;
"bicaralah dengan manusia sesuai kadar pengetahuan mereka, 
apakah kalian rela Allah dan Rasul Nya didustakan?"

sumber foto : gugel

"Tuhan tidak benar Hanifah." Suara Irene. 
JLEB JLEB hati saya.

"Bagaimana mungkin Tuhan memberikan balasan pada dua orang yang sama-sama memberi sementara mereka memiliki motivasi yang berbeda. Tuhan tidak benar Hanifah" Tanya Irene kembali pada saya. Saya yang awam pun JLEB JLEB bingung, karena memang belum faham ilmunya.

Allah akan memberikan dari arah yang tidak terduga. Jika kita sebagai muslim kita bisa meyakini itu, akan tetapi bagaimana sistem ini bekerja secara logika? Tidak semua bisa kita jelaskan secara logika, kita bisa menerimanya karena kita sudah meyakini. Dan bagi yang belum mengenal Tuhan bagaimana mereka bisa menerima secara akal? **saya bertanya bingung dot kom

***
Serampung membaca petikan nasihat Ali di atas betul-betul JLEB rasanya hati saya. JLEB JLEB JLEB! Terasa saat beberapa pekan secara tidak sengaja saya berdiskusi dengan teman saya yang belum muslim, Irene. Bagi teman-teman fesbuk dan blogger yang rajin mengikuti kisah saya akan tahu maksud saya. Ia menanyakan konsep ayat yang secara tidak sengaja saya sampaikan padanya. Alhasil saya tidak mampu menjelaskan tentang ayat konsep sedekah yang secara sponta, tidak sengaja saya sampaikan padanya [penggalan kutipan tersebut di atas]. Astaghfirullah, karena memang saya belum memiliki kapasitas pemahaman yang dalam tentang Al-Qur’an. Beberapa hari hati saya menjadi tidak tenang karena belum mampu menjelaskan dengan baik pada teman asrama saya yang non muslim, saya sampaikan agar di jadikan PR. Hehe buat nanya dengan yang faham. Berikut adalah hasil diskusi beberapa hari lalu [15 November 2013] yang baru sempat saya rangkum tentang penjelsan ayat tersebut.**agar tidak hilang ilmunya.

***
"Tidak setiap yang diketahui, harus dikatakan, dan tidak setiap yang boleh dikatakan, harus dikatakan setiap saat, maka hendaknya kita melihat situasi, konteks dan lawan bicara.” This named as Hikmah or wisdom.


2:261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Jika kita merenungkan ayat ini sebenar-benarnya, dan hadits-hadits yang terkait, serta tafsir-tafsir yang terkait dengan ayat ini, maka ayat ini sebenarnya berbicara tentang ganjaran yang bersifat ukhrawi dan bukan duniawi. Maka Allah Ta'ala -melalui ayat ini- ingin mengaitkan selalu, antara perilaku mukmin yang bersifat duniawi, dengan ganjaran yang bersifat ukhrawi, dengan kata lain setiap kebaikan duniawi, selalu berorientasi ukhrawi.

Ini merupakan makna yang utama, sedangkan hitung-hitungan materi yang akan diberikan 700x lipat, itu hanya sebagian kecil makna, namun bukan makna utama, dan hitung-hitungannya pun bukan terletak pada bakal 700. Jika yang menjadi orientasi dalam memahami ayat ini adalah, makna utama yang bersifat ukhrawi, maka tidak terlalu penting soal hitung-hitunganan jika kita bersedekah sekian maka bakal dilipatgandakan sekian, itulah mengapa Allah katakan diakhir ayat tersebut

والله يضاعف لمن يشاء
"Allah melipatgandakan bagi siapapun yang dia kehendaki"

Hal ini untuk menghilangkan persepsi bahwa 700 adalah angka pertama dan terakhir. Mengapa angka 700 disebut eksplisit? karena dalam tradisi lisan arab, angka 7 melambangkan banyaknya bilangan dan AlQur'an turun dengan lisan arab.

Then why do you give?

jika kita mau menjawabnya dengan alasan religi, kita hanya bisa menjawab, karena kita percaya dan berharap tentang dimensi ukhrawi tadi. Dalam Islam manusia hidup diminta untuk memadukan dan mengaitkan secara sempurna antara dimensi duniawi dan ukhrawi. selalu ada hubungan antara amal sosial kita dengan kedudukan ukhrawi kita. so, we do not give just because of kasian or puncak teori maslow [self actualization] and finally we tell them, this how do we think and live.

wallahu'alam, tesekkur ederim cik gu

=======
Ankara, 20 November 2013
[note: dalam catatan ini merupakan point penting yang saya rangkum dari hasil diskusi]
tidak saya cantumkan secara detail pembahasan saya dengan Irene teman asrama non muslim saya,
karena malu dengan dangkalnya ilmu yang saya miliki. PEACE :D

*pojok psikology and konseling 'Setiap hari adalah kejutan'

For My Future Students
Setiap hari adalah kejutan
================
Saya sedang duduk di meja ruang tengah asrama. Bermaksud melanjutkan mengetik sebuah rancangan konsep sebuah sekolah. Ada hal yang menarik hati saya ketika menekuni metode pengajaran kelas sebuah sekolah yang menjadi best reference education school in the world. FINLANDIA. Agaknya kita patut dan boleh saya katakan it is a must to learn and adapt the education system of Finlandia in to our education system. Bukan hal yang berlebihan jika kita pun menginginkan sebuah desain pembelajaran dan sistem pendidikan yang telah berhasil mereka terapkan.

Beberapa menit yang lalu saya menyelesaikan beberapa short movie kisah guru yang selalu memberikan kejutan kepada siswanya setiap hari. Menjadikan kelas bak laboratorium bawah laut yang menyimpan sejuta rahasia, menjadikan kelas bak ruang angkasa yang menyimpan milyaran misteri. Membuat siswa-siswinya bak sedang bermain tebak-tebakan pada permainan ular tangga. Hari ini akan ada kejutan apa di kelas. 

Guru yang menghabiskan waktunya untuk siswa-siswinya. Maka pantaslah jika ia patut menjadi lilin yang sebenar-benar lilin. Menerangi siswa dan membakar dirinya sendiri. Agaknya bermakna negatif membakar diri sendiri. Maka seadanya bagaimana guru membakar waktunya untuk siswanya, membakar energi dan fikirannya secara penuh untuk siswanya. Membakar tenaga dan kehidupannya untuk murid-muridnya. Life is teaching, life is children future. 

Tuesday, November 19, 2013

*Pojok Psikology "setiap anak adalah istimewa"



Beberapa hari sebelum berangkat ke Turkey saya menyempatkan berkunjung ke Sekolah Luar Biasa yang sebenarnya tidak jauh dari RCQ [Rumah Cerdas Qur'ani] tempat saya mengajar. Berulangkali bermaksud mampir dan ingin bertemu adik-adik di sana. Setiap pagi dan jam istirahat saya terbiasa lewat di depan kantin SLB ini. Sering sejenak mencuri pandang pada sekumpulan adik-adik SLB yang tengah duduk di depan kantin saling tersenyum dan seperti sedang bercakap antara mereka. Akan tetapi percakapan yang tanpa suara. Percapakan yang tanpa bunyi. Mereka bercakap satu sama lain menggunakan bahasa isyarat tubuh. Masya Allah. 

Tapi entah mengapa tidak juga kesampaian untuk mampir, sampai akhirnya sebuah acara yang diselenggarakan oleh Pihak Sekolah menerima kunjungan study banding dari SLB Malaysia, Kuala Lumpur. Dalam agenda tersebut pihak sekolah mengundang AL-ARDVICI agar mengadakan bazar produk tradisional. Kebetulan Rengke-rengke Al-Ardvici mengelola produk-produk hasil prakarya masyarakat pedalaman Jambi. 

Alhamdulillah akhirnya berkesempatan hadir dalam acara tersebut, tidak hanya mengikuti bazar penyediaan cindera mata bagi tamu-tamu, akan tetapi juga berkesempatan keliling sekolah dan bertemu adik-adik berkebutuhan khusus. Itu berbeda dan spesial bagi saya. Bertemu dan ngobrol bareng dengan orang tua anak-anak secara langsung. Meski saya lebih banyak menyimak dan menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan dan memperhatikan betapa sabar dan sayangnya para orang tua ini. Mengasuh anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus. Menanti mereka melakukan terapi bersama guru psikoterapi dan menemani belajar. Tidak terbayang berapa milyar kesabaran yang mereka persembahkan untuk anak-anak mereka. Pemandangan yang saya lihat adalah para orang tua yang berbesar hati atas qada dan qadar Allah. Mereka terlihat begitu tenang dan tidaklah cemas terhadap masa depan anak-anak mereka. Aku betul-betul belajar hari itu. Bahwa "setiap anak adalah istimewa."

***
Setiap anak memiliki keistimewaan tertentu. Mungkin tidak semua orang tua mampu menyadari dan melihat itu. Orang tua cenderung hidup dalam tuntutan ego yang menginginkan dan mengharapkan anak-anak mereka tumbuh dan hidup sesuai keinginan dan kepentingan orang tua. Membatasi anak dalam tataran cita-cita dan imajinasi anak. Orang tua membuat sekat dan kotak bahwa cita-cita hanyalah terdiri dari kata dokter, enginering, atau pegawai negeri. Seolah dunia hanya terdiri dari ruang berhitung, hafalan sejarah, tumpukan lembar kerja siswa dan puluhan aktifitas yang menguras dan menghilangkan cita-cita dan membatasi dunia perkembangan usia anak itu sendiri. Orang tua yang memaksakan anak-anaknya memegang pensil dan mulai menghitung dalam skala rumit pada masa usia dimana seharusnya mereka belajar mencampur warna. Memaksa mereka menghafal daftar sejarah dan berbagai rumus dan theory pada usia dimana seharusnya anak belajar menangkap kupu-kupu dan melipat kertas.

Monday, November 18, 2013

Euforia Study di LUAR NEGERI Yang KEREN mana?

Yang keren tidak harus di luar negeri. Indonesia juga memiliki segudang kampus keren yang kompetensinya juga tidak kalah keren dengan kampus dan sekolah-sekolah di luar negeri. Sebut saja kampus seperti ITB, ITS, UGM, UI, IPB dan kampus-kampus lain seperti kampus swasta dan institut berkelas dunia setingkat Ciputra yang juga tidak kalah bersaing pun puluhan institusi swasta yang tidak tersebutkan satu persatu. Kampus-kampus tanah air tetaplah bisa menjadi alternatif dan pilihan utama untuk melanjutkan study. Tidak semua melulu harus di Luar Negeri.

Kuliah di Luar Negeri memang terdengar hebat dan wah. Tapi tidaklah semua seperti indahnya di mata kita. Orang bilang rumput tetangga memang terlihat selalu lebih hijau. Selagi kita memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri tentu saja itu baik dan membuka peluang kesempatan yang lebih besar bagi kita untuk berkembang lebih luas, membangun jaringan lebih besar, dan mengenal ribuan kultur yang tidak bisa kita beli dengan belajar di tanah air.

Namun meskipun begitu. Melanjutkan studi di luar negeri bukanlah hal yang mutlak. Masih banyak kampus keren dan hebat di Indonesia yang tidak hanya bisa kita sambangi ilmu dan para gurunya. Kampus-kampus di Indonesia tidak kalah bersaing di tingkat dunia. Mahasiswanya juga hebat dan mampu bersaing dalam tataran Internasional mengalahkan kampus-kampus besar nomer wahid dunia. Sebut saja kisah Shofwan al-banna choiruzzad yang notabenenya lulusan kampus UI Indonesia, dimana tahun 2009 berhasil menjadi juara dunia pada kompetisi internasional Ekonomi Global di swiss. Bahkan mengalahkan peserta Harvard University sekalipun. Pun melenggang menggugurkan 200 peserta terbaik lainnya dari seluruh dunia.   

Ini hanya satu contoh dari sekian banyak gelombang contoh prestasi yang berhasil di pertarungkan oleh teman-teman kampus di Indonesia. Betapa kampus-kampus di Indonesia juga mampu bersaing dalam skala Internasional. Mencetak generasi-genarasi unggul yang berhasil membangun perusahaan-perusahaan besar. Lihatlah bagaimana kampus-kampus di Indonesia yang saat ini bergeliat mengembangkan ratusan program bagi masyarakat. Mereka terjun dan terlibat penuh masuk ke dalam pelosok-pelosok kampung kecil. Membangun komunitas, menggerakkan masyarakat, menghidupkan kegiatan perdusunan kecil. Lulusan dari manakah mereka semua ini? Tidak lain adalah teman-teman lulusan Kampus Indonesia, baik swasta mau pun negeri.

Lah untuk apa tulisan saya ini?

Tujuan tulisan saya sederhana. Baik kuliah di luar negeri mau pun tanah air itu sama-sama memiliki keunggulan masing-masing. Saya hanya tidak ingin teman-teman berEuforia melanjutkan studi di Luar Negeri hingga melupakan niat dan values dari menuntut ilmu itu sendiri. Karena yang terpenting adalah “bersih dan lurusnya” niat kita dalam menuntut ilmu. Dimana pun itu tempatnya.

"Barang siapa menempuh jalan guna mencari Ilmu, maka Alloh memudahkan
baginya jalan menuju surga." ( HR Muslim )
wa'llahu 'alam bishowab

Salam..

Sakura RT, Turkey 18 November 2013
about Turkish Schoolarship just visit my blog

bocoran, siapakah pemilik BLOG Sakura Romawi Timur?

Dear pembaca blog setiaku. Aku ingin engkau mengenalku lebih dekat. SAKURA. It my pen name. Aku terlahir di Sumatera. Orang menyebutnya Puja Kesuma. Putri Jawa Kelahiran Sumatera, dan itulah diriku.  Pada sebuah tanggal yang orang sering bilang tanggal keramat. Tanggal ganjil. Meski aku tak pernah berfikir demikian.

Tepat pada angka 3 aku menyaksikan dunia. Pada Bulan ke-10 Masehi. Kadang aku sempat berfikir, mengapa tidak sekalian bulan Januari ya? “Nanggung,” begitu fikirku. Namun saat itulah aku belajar tentang “Takdir” sebagai suatu ketetapan-Nya. Dan salah satu ketetapan itu adalah aku terlahir dalam keadaan sungsang. Kata emakku. Kakiku terlebih dahulu melihat dunia sebelum sempat kedua bola mataku yang menyaksikannya.

Sunday, November 17, 2013

MISTERI sebuah nasehat dan 11 hari Zaid Bin Tsabit

Kangen banget tilawah rasanya. Sudah hampir seminggu berlibur tilawah. Semalam lembur mengedit novel. Setelah seharian ngajar Bahasa Turki adik-adik Indonesia yang baru datang di Turki. YES! Alhamdulillah Teh Pipiet Senja dah kasih masukan buat novelku. Akhirnya ngebut semalam suntuk buat ngedit. Syukurlah masih bisa bangun pagi. Sebuah pesan masuk dari adik Indonesia via whats up bahwa aku harus menelepon Ustdzah [guru mengaji halaqah Qur'anku] semasa di Indonesia. 

Pukul 08:00 pagi aku menelepon beliau. Tapi beliau sedang ngajar tahfidz. Pesaanya agar menelepon sebelum dzuhur. Yaaah, kalo gitu mah disana sudah dzuhur. Ustdzah bilang sejam lagi telepon. Oke deh. Aku juga baru ingat kalo hari ini ngisi kajian adik-adik muslimah. Oh...sakuraaa! Whats the matter how do you put everythinging the same time? Kadang aku memang begitu. Mixing everything. Dan itu gueh gueh buanget. Hadeeeh. Satu jam berlalu dan akhirnya aku telepon Ustdzah, apakah ada yang penting sangat hingga Ustadzah memintaku menelpon pagi-pagi waktu turki. 

"Ustdzah sedang ngajar Bahasa Arab tadi?" tanyaku pada ustdzah jelang mendengar suara di seberang.
"Bukan, ngajar tahsin tadi." Jawab Ustdzah. Singkat! Lalu...

Saturday, November 16, 2013

*Pojok Psikology "Bullying, waspada!"

Bullying, waspada!
Apakah kita diantaranya? 
===============

Ratusan buku bertema psychology memenuhi rak buku Pustaka yang megah dan rapi itu. Mataku tertuju pada sebuah buku 101 Fakta tentang Bullying! Cukup kaget melihat buku itu. Meski tema bullying sudah pernah hangat aku diskusikan setahun yang lalu saat Pak Dede Martino memutarkan sebuah video padaku, kasus Bullying yang terjadi di sekolah-sekolah dasar di negara barat.

Teringat pada kisah belasan tahun yang lalu di suatu pagi.
“Aku mau duit kamu.” Sepasang mata merah menyeringai di depan seorang bocah perempuan kecil. Bocah kecil diam tergugu di kursi belajar kelasnya. Tanpa berani berkata sepatah kata apa pun. Badannya tersudut di ruang kelas. Seorang diri...Kelas sepi.

“Pokoknya kalo kamu gak kasih duit. Aku bakalan nangis dan pas pulang lihat saja nanti!!!” Ancamnya sekali lagi. Bocah perempuan kecil berkepang dua tidak memiliki pilihan. Sementara bocah perempuan berambut keriting di depannya terlalu besar, tinggi dan hitam untuk dia lawan. Meski kesal dan berat hati dengan ketakutan ia serahkan uang 50 perak itu kepada bocah perempuan keriting di depannya. Ia tidak memiliki keberanian untuk melawan. Kelas kosong dan sepi. Gadis di depannya 3 kali lipat lebih tua usinya. ANCAMAN & PEMERASAN!!!

Friday, November 15, 2013

Notes for teacher **CARING & MAP

We'll be a Lovely future teacher for our lovely future students 
[Sakura RT]

What we can see, we feel look there
What we can't see, we feel look not there
Sometimes what we see it is actually not there
and what we don't see actually is there
[Quoted From every children is special movie]

***
The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. [William Arthur Ward]

Guru yang biasa-biasa saja, memberitahu. Guru yang baik, menjelaskan. Guru yang unggul, menunjukkan. Guru yang hebat memberi inspirasi.
***
Jika engkau adalah seorang guru pernahkah menemukan keadaan dimana murid-murid kita ketakutan menghadapi kelas kita. Atau pun jika tidak takut adakah engkau pernah menjumpai murid-muridmu memandang dengan penuh kebencian kepadamu? 

Jika engkau seorang guru yang saat ini membaca tulisan ini, luangkanlah sejenak waktu kita untuk sekedar menutup mata, hadirkan sejenak anak-anak didik kita. Wajahnya, senyumnya, gembiranya, bahkan raut marahnya yang mungkin tidak kita perdulikan. Yang kemarahan dan pukul kesalnya tidak kita perhatikan. Duduklah sejenak dan perhatikanlah, rasakanlah bahasa yang tidak terucap dalam kata, rasakanlah kata yang tidak berwujud dalam ucap. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak didik kita, anak-anak yang akan menggantikan kita di masa depan. Yang akan membangun cita-cita yang mungkin saat ini kita belum mampu mewujudkan. Cita-cita yang mungkin saat ini masih menjadi bagian dalam do'a-do'a kita. Kepada siapakah kita berharap cita-cita itu terwujud selain kepada anak-anak didik kita. Sayangilah mereka, sebagaimana kita menyayangi cita-cita dan mimpi kita. Berikanlah perhatian pada mereka dengan sebaik-baik perhatian.

***
"Akbar, kelas berapa kamu dik?" Sebuah tanya sederhana yang aku munculkan pada bocah kecil, kurus dan hitam kulitnya, di suatu sore 2011 lalu serampung mengajar kelas B. Inggris.

"Kelas 2 SD kakak." Jawabnya singkat dengan dua buah giginya yang terlihat besar dan manis.

"Lalu kenapa suka mengumpulkan botol-botol [barang rongsokan]." Lanjutku bertanya.

"Iya kak, buat beli buku dan pensil." Jawabnya polos, sederhana.