Nejmiyye, Hosgeldiniz!
Cuaca sangat dingin pagi itu, keadaan sekeliling terasa sangat asing. Suasana kawasan apartemen, jalanan, gesekan angin, dan warna langit terasa berbeda. Bahkan suasana pagi itu tidak tampak batang hidung manusia pun yang lewat di jalanan. Sementara di ujung sana langit masih saja muram dengan warna kelabunya. Rerumputan merunduk bersembunyi dari dinginnya angin musim dingin.
Tak lama berselang terdengar derit pintu
gerbang apartemen terbuka. Berdiri seorang perempuan paruh baya dengan
perawakan agak gemuk dengan jilbab kaosnya yang berwarna hijau. Disampingnya
berdiri seorang laki-laki dengan wajah dan perawakan khas Turki, tersenyum hangat menyambut kedatangan kami. “Hosgeldiniz, welcome to Ankara” kata suara seorang
laki-laki yang berdiri di sisi perempuan itu.
Anne menyalami perempuang paruh baya dan saling berpelukan. Anne memberi tahu, agar aku memanggilnya dengan panggilan Nine Feride. Ya, seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkebangsaan Turki, bernama Adnan Bey.
Nine Feride sudah lama menikah dengan Adnan Bey, sudah kurang lebih 12 tahun usia pernikahan. Bahkan Nine Feride telah resmi pula pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Turki, meski lahir dan tumbuh besar di Indonesia.
Anne menyalami perempuang paruh baya dan saling berpelukan. Anne memberi tahu, agar aku memanggilnya dengan panggilan Nine Feride. Ya, seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkebangsaan Turki, bernama Adnan Bey.
Nine Feride sudah lama menikah dengan Adnan Bey, sudah kurang lebih 12 tahun usia pernikahan. Bahkan Nine Feride telah resmi pula pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Turki, meski lahir dan tumbuh besar di Indonesia.















