Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Thursday, July 23, 2020

Peledak Absensi Kelas yang Misterius

Suasana Desa tahun 2015, jalan pedusunan telah di aspal

Hari masih pagi sekali. Keadaan desa masih sangat sepi. Hanya suara derit roda sepeda dan sesekali suara kokok ayam yang terdengar silih berganti. Sebagian warga desa belum lagi bangun dari tidur malam yang panjang.

Namun sebagian besar lainnya warga perkampungan telah bergegas meninggalkan rumah, bahkan sejak sebelum tiba waktu shalat subuh. Dengan mengendarai sepeda warga berduyun-duyun menuju ladang karet. Sebagain besar warga desa bekerja dengan menderas pohon

Hanifa dengan baju seragam merah putihnya sudah tampak rapi. Gadis berparas putih, agak kurus dengan alis tebal dan hidung mancung itu tengah berdiri di depan cermin. Ia mengenakan jilbab putih persegi empat yang dilipat menjadi bentuk persegi tiga. Dengan seksama dan penuh hati-hati ia kenakan jilbab yang bagian tepinya dihiasi sulaman bunga itu. Memastikan tidak ada bagian yang mencong.

Friday, July 17, 2020

Challenge of the Week #5 Menu Utama

Challange of the Week #5 Menu Utama
Jurnal Menu Sehat untuk Keluarga for One Week Challange

Sebuah Ucapan Terimakasih 
untuk Tim KIP Depok


Anak-anak menikmati menu harian dengan cara dicemil 

Alhamdulillah, kemaren genap 1 bulan mengikuti program COTW KIP (Challange of the Week Kampung Ibu Profesional) Depok. Terimakasih kepada tim KIP Depok atas apresiasi 4 x Best Badge (Pekan 1, 2, 3, dan 4) yang telah diberikan. 

Penghargaan ini tentu saja memiliki makna yang sangat berarti bagi saya, dimana tak semua orang dapat memberikan ruang apresiasi pada satu profesi sakral yang "bercahaya" ini. Yakni profesi primer seorang Ibu dalam menjalankan salah satu peran dasar dalam keluarga, yakni sebagai manajer operasional ibu rumah tangga.

Tentu saja jalan perjuangan yang sesungguhnya masih sangat panjang. Perjuangan Ibu secara ideal agar mampu menyeimbangkan secara selaras dan beriringan antara hak dan kewajibannya; terhadap keluarga dan dirinya sendiri. Hal ini merupakan jalan panjang perjuangan yang membutuhkan nafas yang panjang pula. 

Thursday, July 16, 2020

Satu Kenangan, di Kota yang Dingin #5

Satu Kenangan, di Kota yang Dingin

Dua ekor burung dara bertengger 
mencari ruang hangat

Ini adalah fajar pertamaku di kota yang dingin ini. Semalaman penuh aku nyaris tidak bisa memejamkan mata. Terbangun berkali-kali karena aroma rumah yang dingin menusuk hingga ke persendian tulang. 

Anne, bahkan mungkin tidak tidur sama sekali hingga fajar menjelang. Aku lihat tubuh ringkihnya yang kokoh itu menggigil gemetaran menahan dingin. Selimut tebal yang dipinjamkan oleh Nine Feride tidak cukup mampu menahan udara musim dingin. Suhu udara yang asing ini dengan angkuhnya telah menembus-nembus dinding rumah. Seperti tiada perduli jika di rumah ini telah berpenghuni. 

Hanya Ayah yang tertidur pulas semalaman, sejak lepas makan malam. Wajahnya yang tegas itu menyiratkan kelelahan yang dalam. Hingga suhu dingin tak mampu mengusik rasa lelahnya yang payah. Aku tahu Ayah lebih letih dariku. Tak hanya tubuh tegapnya yang menahan beban barang bawaan sejak keberangkatan dari Indonesia, namun lebih berat dari itu. Mungkin memikirkan tentang apa yang akan dihadapi oleh dua mata jiwanya ini.

Friday, July 10, 2020

Challange Of the Week #4 Cemilan Sehat

Challange Of the Week #4 Cemilan Sehat


Jurnal Keluarga; Cemilan Praktis & Bergizi untuk Keluarga
for one Week Challange


Anak-anak menikmati susu hangat usai mandi 
dengan aktivitas bermain air di halaman rumah

Assalamualaikum, Mak kesayangan semua. Senang rasanya menjemput akhir pekan kali ini, Sabtu dan Ahad. Setelah beberapa hari buka lapak Flash Sale buku di Facebook, Instagram, dan WA, haha wkwk (1-3 Juli 2020). Meski tampaknya kegiatan berbisnis dari rumah ini sederhana tapi faktanya cukup menguras tenaga, fikiran, dan waktu. Alhamdulillah, gembira rasanya dapat berpetualang menyebarkan buku-buku bernilai, hingga bisa sampai di sudut-sudut kampung di berbagai wilayah. Daaan yang paling nyenengin, di akhir pekan tema COTW-nya terasa passs banget Maak. Seolah memahami bahwa ini saatnya makan-makan, hahaha.

Soal cemilan sehat ini, saya ingin berbagi resep cemilan sederhana yang mudah bahan dan mudah pula proses membuatnya. Ditambah pula bisa melibatkan anak-anak untuk menemani acara masak-masak seru ini. Sembari menyiapkan dan kupas-kupas bahan, anak-anak bisa jadi temen ngobrol yang asyik loh Mak.

Mudah-mudahan pula dengan memberikan ruang yang cukup bagi anak-anak untuk menemani Ibunya beraktifitas di dapur, anak-anak bisa makin akrab, nyaman dan gembira serta kelak trampil mengelola dapur. Ketrampilan dasar di dapur ini, bisa menjadi bekal baiknya untuk kemudian tumbuh mandiri dan kreatif, insha Allah. Nah, okee simak yuk cemilan sehat yang telah saya coba buat selama 1 pekan ini bersama anak-anak di rumah, antara lain sebagai berikut;

Thursday, July 9, 2020

Nejmiyye, Hosgeldiniz!

Nejmiyye, Hosgeldiniz!


Ayah menurunkan 2 bagasi besar, 1 kopor kecil dan dua tas ransel dari mobil taksi, lalu menyiapkan kopor-kopor super besar itu untuk dibawa masuk ke dalam calon rumah kami. Anne menyerahkan selembar uang lira kepada sang supir taksi. Kemudian taksi itu meluncur meninggalkan kami bertiga. 

Cuaca sangat dingin pagi itu, keadaan sekeliling terasa sangat asing. Suasana kawasan apartemen, jalanan, gesekan angin, dan warna langit terasa berbeda. Bahkan suasana pagi itu tidak tampak batang hidung manusia pun yang lewat di jalanan. Sementara di ujung sana langit masih saja muram dengan warna kelabunya. Rerumputan merunduk bersembunyi dari dinginnya angin musim dingin.

Tak lama berselang terdengar derit pintu gerbang apartemen terbuka. Berdiri seorang perempuan paruh baya dengan perawakan agak gemuk dengan jilbab kaosnya yang berwarna hijau. Disampingnya berdiri seorang laki-laki dengan wajah dan perawakan khas Turki, tersenyum hangat menyambut kedatangan kami. “Hosgeldiniz, welcome to Ankara” kata suara seorang laki-laki yang berdiri di sisi perempuan itu. 

Anne menyalami perempuang paruh baya dan saling berpelukan. Anne memberi tahu, agar aku memanggilnya dengan panggilan Nine Feride. Ya, seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkebangsaan Turki, bernama Adnan Bey. 

Nine Feride sudah lama menikah dengan Adnan Bey, sudah kurang lebih 12 tahun usia pernikahan. Bahkan Nine Feride telah resmi pula pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Turki, meski lahir dan tumbuh besar di Indonesia.   

Misi ke-9; Waktu & Bahasa Cinta

Waktu & Bahasa Cinta


Ada perasaan gembira, saat membaca tema pada misi penutup di kelas matrikulasi IIP kali ini. Satu perasaan halus yang perlahan menyesap ke dalam hati; ada rasa kerinduan, rasa cinta, keharuan dst tiba-tiba datang silih berganti. Juga kenangan yang bermunculan dan datang bergantian satu sama lain. Ya, saya menyukai dan menikmati tantangan ini, menulis “Surat Cinta,” kepada suami.

Kapan terakhir kali menulis obrolan cerita indah lewat tulisan? Untuk orang yang paling engkau kagumi? Untuk orang yang engkau harus berbakti? Acapkali kita melewatkan satu waktu ke waktu lainnya dengan hilang begitu saja, tanpa jejak. Tanpa bahasa, tanpa rasa. Padahal alangkah mahal dan berharganya waktu itu. Ia adalah senjata bagi orang yang memancangkan azzam dan ikhtiarnya mengejar doa dan cita-cita. Ia adalah kunci dari semua kunci pintu kemenangan. Bila kita mampu bertempur dengan waktu maka kita pun akan siap berlaga di medan juang. Waktu seperti saat engkau tertinggal pesawat hanya dalam hitungan menit, seperti saat engkau terlambat mengejar bis di kota yang gersang, seperti pada saat kereta melaju kencang dan engkau yang tengah bersusah payah berlari, harus kalah dengan waktu sebab tertinggal waktu 3 menitmu. Begitu berharganya waktu, hingga Allah pun bersumpah dengan waktu “Demi Masa.”

Friday, July 3, 2020

Challange Of the Week #3 Buah-buahan

Challange Of the Week #3 Buah-buahan

Assalamualaykum, Emak pembelajar alhamdulillah perjalanan kita sampai di pekan ke #3 di COTW kali ini yaa. Perjalanan yang menuntut komitmen tentunya, meski dalam perjalanan ada banyak tantangan dan kesibukan yak tentunya. Senangnya kita jalan bareng ya Mak, jadi bisa saling ingetin, saling nyemangatin, saling dorong mendorong dalam kebaikan insha Allah. 

Alhamdulillah, kali ini saya ingin berbagi tentang tanaman buah-buahan dari pekarangan yang tumbuh subur dan lebat. Sejak awal saya menempati rumah ini, ada banyak rizki melimpah yang dikaruniakan Allah kepada kami sekeluarga. Rumah Bapak ini dibangun pada awal-awal perumahan belum seramai hari ini, ditambah pula dengan kebiasaan almarhum Bapak yang senang menanam dan merawat pohon, sehingga pohon-pohon yang telah tumbuh jauh sebelum rumah ini ada tetap dibiarkan. Alhasil rumah yang sekarang saya tempati ini kaya akan berbagai pepohonan yang tumbuh subur dimana-mana. Mulai dari pohon rindang, hingga aneka macam buah-buahan yang tumbuh sangat lebat. Alhamdulillah, atas rizki dan kebaikan alm Bapak kami anak cucunya bisa memetik buahnya yang ranum kala musim panen buah tiba.

Kali ini, saya ingin mengajak emak-emak untuk bertamasya aneka buah-buahan yang sudah ada jauh sebelum saya menempati rumah ini. Ada banyak sekali koleksi buah-buahan, sehingga memang rumah yang saya tempati ini lebih seperti “rumah kebun” saking tumbuhan itu tumbuh sangat lebat. Sampai-sampai setiap hari daun-daun itu selalu saja ada yang berguguran, hampr setiap hari kami harus menyapunya. Sebab jika tidak maka seluruh halaman dan pekarangan rumah pun siap-siap menjadi seperti di negeri musim gugur sepanjang tahun. Wkwk…ahahah. Okelah yuk kita berkeliling satu persatu ya.

Thursday, July 2, 2020

Melukis Cahaya di Langit Kota Ankara

Melukis Cahaya di Langit Kota Ankara

Foto: Langit Kota Ankara pada satu musim dingin

“Ankara'ya hoşgeldiniz.” Suara dari kondektur bis terdengar setengah berteriak memberikan pengumuman berulangkali kepada penumpang bis, bahwa bis yang kami tumpangi telah tiba di terminal ASTI. Sebuah terminal dengan warna gedung keperakan, gaya bangunan khas Eropa. Semburat cahaya langit abu perlahan menyeruak menerbitkan hari. Merekahlah pagi dimusim dingin yang misteri itu. Aku setengah memicingkan kedua mata, memandang setengah kuyu pada orang-orang dan keadaan sekeliling, dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Hanya tubuhku saja yang bisa menerjemahkan bahwa perjalanan ini terasa begitu penat, lebih tepatnya membosankan. Hampir kurang lebih 7 jam perjalanan aku bersama Anne dan Ayah menghabiskan waktu hanya dengan duduk di dalam otobus, sebuah bis besar bertuliskan Pamukkale, pada badan bis. Orang-orang disini menyebut bis dengan sebutan otobus.

Otobus besar yang kami tumpangi perlahan bergerak melambat, mengambil posisi di jalur parkir sesuai dengan urutan no peron gedung terminal. Ramai hiruk-pikuk suara orang-orang di terminal, berteriak-teriak dan melambai-lambaikan tangan kesana kemari dengan wajah setengah cemas, setengah letih dan setengah bercahaya. Mungkin keluarga dari para penumpang otobus yang datang menyambut, atau juga mungkin musafir yang tengah singgah untuk kemudian meneruskan perjalanan. Ditambah lagi suara lantang dari para pedagang roti simit dan pedagang teh panas keliling, suasana pagi yang dingin itu semakin terasa sangat berisik.

Friday, June 26, 2020

Challange Of the Week #2 Sayur Mayur

Challange Of the Week #2 Sayur Mayur

Assalamualaykum,

Gunaydin emak pembelajar semuanya, alhamdulillah selamat datang kembali di blog Sakura Romawi Timur. Gimana nih Mak dengan tugas COTW #2 kali ini, yang pasti makin seruh ya sebab temanya adalah tema pokok yang dibutuhkan oleh kaum Ibu di bengkel kreatifitasnya “dapur.”Senang rasanya bisa menulis di blog tiap pekannya meski harus dipaksa dulu, wkwk. Kadang memang harus dipaksain untuk membentuk habit tertentu, apalagi kalau habit itu sebenarnya adalah hal yang kita senangi.

Oke, kali ini saya akan kembali mengajak emak pembelajar untuk kembali bertamasya di pekarangan rumah saya melihat beberapa jenis tanaman sayur yang tumbuh cukup subur. Meski tidak banyak, tapi lumayan cukup memenuhi kebutuhan menu sarapan tiap 2-3 hari setiap pagi, lumayan kan bisa menghemat pengeluaran uang belanja sayur, huehehe. Oke, sesuai dengan tema COTW KIP pekan ke-2 #Depok kali ini adalah tentang tanaman sayur mayur. Kebetulan sekali saya menanam sayur-sayur berikut dipekarangn rumah.

Thursday, June 25, 2020

Alam Terkembang Bercerita

Alam Terkembang Bercerita




“Eh, kan tidak boleh buang sampah sembarangan.” Mbak Nana berjongkok memungut kembali bungkus permen wijen yang baru saja dilemparnya ke lantai. Lalu memasukkannya ke dalam tong sampah di sisi pintu dapur.

“Kita tidak boleh buang sampah sembarangan, karena bisa menyebabkan banjir.” Terdengar lagi suaranya, masih dengan volume nyaring. Lalu tubuh mungilnya berputar menari-menari menikmati sepotong permen wijen kecil pemberian dari Mbah Puteri.

“Kok bisa nyebabkan banjir Mbak kalo kita buang sampah sembarang? Gimana caranya bisa banjir?” Anne akhirnya nimbrung, melihat Mbak Nana asyik bercerita mengikuti irama dalam ruang imajinasinya.

“Iya, tidak boleh Anne karena saluran air bisa pampat, kalo kita buang sampah sembarangan. Jadi bisa menyebabkan banjir.” Jawab Mbak Nana dengan suara semakin nyaring disertai dengan mengangkat jari telunjuknya, pertanda apa yang disampaikannya adalah perkara yang sangat penting.

“Makanya kita harus buang sampah di tong sampah.” Sambungnya lagi.

“Mbak Nana punya buku tentang banjir.” Ia berjalan menuju rak bukunya, mengambil satu judul buku dengan gambar gadis kecil berambut panjang yang tengah menari di taman bunga di bawah rinai hujan.

“Ini buku Mbak Nana, ada cerita tentang banjir kalo kita buang sampah sembarangan.” Tangannya mendekap buku yang baru saja diambilnya, memeluknya ke dada. Sementara ada yang menari-nari riang gembira di dalam hati Anne.

Buku itu Anne beli di salah satu even bazar Indonesia International Book Fair hampir setahun yang lalu, Agustus 2019. Namun agaknya cerita dalam buku itu selalu saja menjadi sumber rujukannya kala ia menemukan dirinya membuang sampah dengan sekehendak hatinya.

***

MISI 8 Aliran Rasa; Kreatifitas & Inovasi Mencapai Visi

MISI 8
Aliran Rasa; Kreatifitas & Inovasi Mencapai Visi



Menjadi Ibu “profesional” adalah sebuah proses panjang yang harus terus menerus diupayakan oleh seorang Ibu. Tidak ada kata selesai selama hayat di kandung badan, meski anak-anak kelak sudah tumbuh dewasa dan mandiri, tugas seorang Ibu untuk mendidik anak-anaknya akan terus berkelanjutan. Namun, tentu saja tidaklah mudah dan sederhana dalam melewati dan menjalani proses yang membutuhkan nafas yang panjang ini. Maka setiap Ibu idealnya membutuhkan bekal yang akan membantunya dalam menyeleami samudera kehidupan bernama dunia “Ibu” dengan segala ragam tantangan dan peluang yang ada di dalamnya.

Tantangan ini, bila mana seorang ibu memiliki ketahanan yang kokoh maka akan dapatlah ia melewati tantangan demi tantangan meski harus dengan bersusah payah, sebaliknya bila tidak memiliki cukup bekal atau dengan bekal yang seadanya, maka akan bertambah berat pulalah tanggung jawab dan tantangan yang sebenarnya akan dihadapi oleh kaum Ibu. Untuk itulah, kaum Ibu butuh untuk terus belajar dan mengembangkan diri. 

Friday, June 19, 2020

Challange Of the Week #1 Bumbu Dapur

Challange Of the Week #1 Bumbu Dapur


Assalamualaykumwrwb,

Hai, welcome di blog sakura romawi timur. Kali ini saya akan ajak kawan-kawan semua jelajah kebun pekarangan saya yang masih banyak lahan kosong, huehehe. Nggk kosong banget sebenarnya, sebab ada beberapa tumbuhan sayur yang tumbuh subur di pekarangan rumah. Namun kali ini sesuai dengan COTW #1 maka saya sharing perjlanan menanam bumbu dapur.

Alhamdulillah, seneng sih yak, sejak gabung dengan Ibu Profesional jadi rajin ngeblog, wkwk. Sudah lama tidak aktif diblog, semenjak kehadiran Instagram tulisan saya lebih banyak disana, meski tetap beda donk dengan blog yang tidak terbatas ruang buat kita menumpahkan samudera kata.

Oke, ini adalah tulisan ringan sesuai dengan judulnya yang seru dan khas ala ibu-ibu #Bumbudapur. Senang dapat challenge ini, sebab memang suka juga menanam di rumah, meski yang gak pake teori ilmu pertanian, wkwk. Modal senang nancepin apa saja sisa sayur dari dapur. Senang pula dengan aktifitas mencabut rumput dan menyiramnya di sore hari. Kali ini saya ingin berbagi beberapa bumbu dapur yang saya tanam baik di halaman rumah depan mau pun halaman di belakang rumah.

MISI 7; Connecting the Dots

MISI 7
Connecting the Dots

Pagi yang indah, seperti kicau suara burung di ranting pepohonan buah mangga di sisi rumah. Seperti daun-daun tumbuhan singkong yang tumbuh subur di sepanjang sisi pagar pekarangan rumah, seperti kembang tanaman pisangan yang mekar di samping jendela dimana saya sedang duduk saat ini. Inilah hari dari penghulu hari, Hari Jum`at. Saya duduk menghadap leptop, kembali menekuni tantangan yang diberikan di kelas matrikulasi batch 8 Institut Ibu Profesional. Tidak terasa sudah sampai pula di misi 7, ya meski tertatih dan mengerjakan tugas di sela-sela waktu, bersyukur Allah mampukan sampai pula di Misi yang ke-7 ini. Semoga tetap istiqomah tak hanya sebatas merampungkan misi. Ya misi seorang Ibu sejatinya tidak mengenal kata usai. Pun bahkan hingga anak-anaknya tumbuh dewasa, maka misi pendidikan seorang Ibu untuk terus belajar dan mendidik semestinya terus menyala.

Oke, misi kali ini adalah connecting the dots. Berdasarkan bacaan ringkas yang saya peroleh dari Wikipedia tentang definisi dari connecting the dots adalah sebagai berikut:
In adult discourse the phrase "connect the dots" can be used as a metaphor to illustrate an ability (or inability) to associate one idea with another, to find the "big picture", or salient feature, in a mass of data.
Adalah titik-titik yang saling menghubungkan satu ide dengan ide yang lain hingga kita bisa menemukan gambaran besar dari sebuah ide. Atau pun jika ia adalah sebuah refleski diri maka diri kita pun akan mengenal diri secara utuh. Kali ini adalah tugas connecting the dots yang diberikan oleh IIP, mecoba menggali apa yang ada di dalam diri, kelemahan dan kekuatan yang bisa bersinergi membangun kekuatan dalam pencarian makna seorang Ibu yang professional.

Thursday, June 18, 2020

Tentang Surga yang berisi Permen-Permen

Tentang Surga yang berisi Permen-Permen



Anne duduk dilantai, dengan perasaan dan fikiran yang memburu waktu. Sebentar-sebentar melihat jarum jam yang terus berputar dan terasa semakin cepat. Lalu tangan ini kembali sibuk membungkus tumpukan buku-buku yang menggunung di meja tengah. Buku-buku itu adalah buku pesanan dari tetangga komplek dan teman-teman sejawat dari berbagai daerah.

Tampak pula Mbak Nana, seorang gadis kecil berusia 4 tahun yang asyik mashuk duduk di sisi Anne. Tangan mungilnya yang lentik sibuk menarik solasiban, sibuk pula mengguntingnya. Anne tak sempat memperhatikan dengan detail apa yang tengah dilakukan oleh bocah kecil yang hidungnya seperti buah jambu itu.

“Mbak Nana kan mau bantuin Anne.” Katanya kemudian diantara deru suara kipas angin ruangan yang berputar kekanan dan kekiri. Anne masih diam dengan wajah yang serius, sebab mengejar beberapa buku pesanan yang belum siap dipacking, sore ini semua daftar pesanan itu harus siap diantar ke kantor ekspedisi. 

Teringat pula fikiran Anne dengan sederet agenda yang harus dituntaskan hari ini. Ditahan-tahanlah rasa kantuk yang mendera sebab beberapa hari kurang cukup tidur ditambah pula harus sudah bangun pagi-pagi untuk urusan ini dan itu. Namun demi dilihatnya si sulung Rayyan (17 bulan) sudah lelap dalam tidur menjelang siang, maka legalah hati Anne. Satu dua jam selagi bayi gembul itu tidur, akan sangat berguna untuk menuntaskan banyak pekerjaan.

“Mbak, Anne mau pake guntingnya ya Nak.” Beberapa kali suara Anne meminta gunting yang tengah berada ditangan Mbak Nana dengan suara sedikit menggesa.

“Mbak Nana bantuin deh Anne.” Kata Mbak Nana menawarkan bantuan, terdengar tarikan suara terasa berat meski akhirnya dilepaskan gunting itu dari tangannya. 

“Terimakasih Mbak. Kenapa sih, Mbak Nana kok mau bantuin Anne bungkusin pesanan orang, kan ini semua bukan bukunya Mbak Nana?” Tanya Anne sejurus kemudian. Mengingat betapa kerasnya ia menolak tidur siang dan memilih duduk menemani Annenya, meski didapati Annenya sangat sibuk dengan urusan membungkus buku-buku.

“Iyalah Mbak Nana kan senang bantuin Anne. Nanti kan kalo Mbak Nana baik, bisa dapat surganya Allah.” Jawab Mbak Nana sumringah.

Friday, June 12, 2020

Karakter Moral Ibu Profesional; Misi belum lagi usai

Karakter Moral Ibu Profesional


Aku punya tantangan selama berproses dan menjalani peran kehidupan yaitu: Melepaskan diri dari "semacam" rasa trauma kecemasan saat menjalani masa LDR dengan suami.

Tapi ternyata, dalam diriku terdapat karakter moral Ibu Profesional yang menjadi kekuatanku. Ini kisah dan caraku untuk mengatasi tantangan tersebut.

Allah yang dengan kekuasaan-Nya Maha berkuasa menaburkan rasa cinta dan kasih sayang kepada tiap makhluk-Nya. Tiada satu makhluk pun didunia ini yang luput dari pengawasan dan rizki atas-Nya. Makhluk kecil yang kasat mata seperti tiada yang menjaga, namun Allah pun taburkan rizki baginya meski ia hidup di dalam tanah yang pekat gulita-cacing atau binatang-binatang yang hidup di dalam tanah.

Namun demikian, makhluk kecil itu tetap menjalani kehidupannya dengan penuh suka cita. Agaknya berbeda dengan makhluk bernama manusia, selalu saja ada keluh kesah datang silih berganti, hingga seperti tak berbekas barang sececap pun akan kisah-kisah hebat yang ditelan dalam lisannya.

Ada karakter utama yang semestinya tidak boleh lenyap atau bahkan meski sekedar menjadi berwarna abu-abu, pada tiap jiwa "perempuan" muslimah. Karakter yang akan mampu membentuk pribadi dan jiwanya tetap tegak berdiri dengan keyakinan yang utuh. Karakter yang membuatnya tidak diliputi rasa gelisah, pun meski di tengah kota Mekkah yang tiada bertuan dengan segelintir manusia pun. Bahkan lebih pahit dari itu, tiada air sebagai sebentuk harapan akan adanya pertolongan.

Namun, karakter yang menghunjam kuat dalam jiwa inilah yang kiranya telah menyatu pada sosok Ibu yang mendekap bayi merah di lembah nan gersang. Dimana keduanya ditinggalkan Ibrahim di sisi Al-Bait di Makkah Al-Mukarramah, di tanah yang tanpa manusia, tanpa air. Tanpa meratap-ratap, tanpa meronta, hanya sebaris tanya penuh keteguhanlah yang hadir di lisan perempuan nan agung itu.

“Allahkah yang menyuruh engkau berbuat seperti ini wahai Ibrahim?”

“Benar,” jawab Ibrahim.

“Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami,’ Jawab Hajar penuh keridhaan, disertai keyakinan akan datangnya kabar gembira dan perlindungan.

(Ali Al-Hasyimi, hal. 7)

Friday, May 15, 2020

CORE VALUE Institut Ibu Profesional & Analisis SWOT DIRI

Belajar adalah sebuah proses yang terus menerus berlangsung sepanjang hayat, tidak berhenti. Selama nafas masih dikandung badan, maka selama itu pulalah hendaknya proses belajar itu terus menyala. 

Lebih istimewa lagi adalah bagi seorang muslimah. Belajar merupakan bagian dari jati diri seorang wanita muslim. Bagaimana hendaknya seorang muslimah melindungi akalnya dengan ilmu pengetahuan. 


Sebagaimana muslimah memberikan perhatian kepada fisiknya, maka dengan kadar yang sama besarnya pulalah ia semestinya memberikan perhatian kepada akalnya. Mengisinya dan melindunginya dengan ilmu pengetahuan. Sebagaimana dahulu yang pernah dilakukan oleh wanita Anshar yang datang dan berkata kepada Rasulullah SAW "Wahai Rasulullah, berikanlah kesempatanmu barang satu hari supaya kami dapat belajar darimu, agar kami tidak kalah dengan kaum laki-laki." (Ali Al-Hasyimi, 1997)

Dr. Muhammad Ali  al-Hasyimi dalam karyanya Jati Diri seorang Muslimah memberikan panduan bagaimana seorang muslimah menetapkan standar ilmu pokok yang harus dipelajari bagi dirinya, yakni kitabullah mulai dari memperbaiki bacaan, tajwid, pun hingga penafsirannya. Selain hal pokok lainnya adalah hadits, shirah, kisah para sahabat dari tokoh wanita. Kemudia di ikuti oleh Fiqh sebagai panduan dalam memahami hukum-hukum agamanya. Setelah ilmu pokok tersebut, maka muslimah juga hendaknya menguasai bidang ilmu tertentu selama tidak merusak kodrat kewanitaannya dan tabi'atnya.

Sebagaimana kita memiliki sosok wanita agung yang menguasai banyak dari ilmu pengetahuan, memiliki lisan yang sangat fasih dan menyentuh sehingga menjadi rujukan dari para sahabat Nabi. yakni Aisyah RA. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabul-'ilm, dari Abu Mulakah bahwa Aisyah, istri Nabi SAW tidak mendengar sesuatu yang tidak diketahuinya melainkan dia mencari hingga mengetahuinya.

Monday, May 11, 2020

TENTANG MBAH KAKUNG TAMIM

MBAH KAKUNG TAMIM


Saya baru saja menyelesaikan tulisan dan mempostingnya di blog, satu jam sebelum meraih ponsel yang tergeletak di meja panjang. Dua panggilan tak terjawab dari Mas Faris via phonecall dan whatssup call terlihat di layar ponsel. Dengan segera hati saya menjadi gemetar, berbalik menelpon suami. Dan semuanya tidak lagi terbendung, dengan cepat suasana pagi itu berubah. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…serasa bumi ini berguncang demi mendengar kabar ini.
***

Pertama kali mengenal sosok Bapak adalah saat suami resmi memboyong saya ke dalam keluarga besarnya, 5 hari setelah kami menikah, Februari 2015. Perkenalan yang meski sangat singkat ini menjadi semacam oase bagi saya bahwa Bapak adalah sosok yang dengan cepat membuat saya merasa akrab, menjadi bukan sebagai musafir asing yang singgah dan tiba-tiba hadir dalam keluarga besar suami. Banyak hal yang membuat saya dengan cepat merasa terkesan hingga hilanglah rasa canggung terhadap Bapak meski saat itu baru mengenal sosok Bapak.

Thursday, May 7, 2020

Al-Umm; Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga


Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga
Al-Umm; yang atas Nama-Nya Menjadi Agung dan Mulialah Namanya


Ramadan ke-14

Topik kali ini sampailah pada pencarian makna seorang Ibu. Diantara derunya suara kipas angin di ruang kerja keluarga juga sayup-sayup suara pengeras suara dari kampung sebelah yang membangunkan warga untuk makan sahur, saya duduk memandangi beberapa buku yang baru saja saya raih dan letakkan di meja, teringat pula fikiran ini pada satu judul buku tentang bagaimana “AL-Qur`an Berbicara tentang Ibu,” karya Ahmad Abdul Hadi. Hati dan fikiran saya jadi agak terganggu sebab saya belum memiliki atau setidaknya sudah pernah membaca buku tersebut.

Menjadi Ibu…

Apa yang semestinya hadir dalam jiwa dan fikiran bagi kaum ibu? Ya, sebuah pertanyaan yang muncul dari dalam adalah “mengapa Allah memilih kita menjadi seorang Ibu? Mengapa Allah menitipkan manusia-manusia mungil itu di tangan kita, bahkan dimulai dari perjalanan bersemayamnya ruh yang ditiupkan Rabb ke dalam rahim, lalu menjalani proses panjang selama hampir kurang lebih 39 minggu lamanya di dalam rahim seorang perempuan, yang dalam Al-Qur`an disematkan sebutan istimewa baginya?

Thursday, April 30, 2020

Mengikat Rasa dengan Ilmu; Aliran Rasa Perjalanan Belajar #KelasMatrikulasi di IIP

Malam Ramadan ke-7

Ada banyak kenangan selama menjalani proses belajar di kelas matrikulasi bersama kaum dan calon Ibu di sini. Ada nilai-nilai kebaikan, dorongan saling menguatkan tekad, saling bergegas dalam menggali ilmu dan banyak hal lainnya. Khususnya bagi saya secara pribadi adalah belajar mengelola diri menjadi penyimak dan menjadi peserta dengan tertib mengikuti rules yang telah ditetapkan oleh komunitas.

Sebuah Kenangan

Jauh sebelum memutuskan untuk ikut bergabung dengan cara mendaftar di IIP, kala itu sekitar tahun 2018 akhir saya gencar berselancar dan mencari info tentang komunitas di daerah Depok. Maklumlah, sebab usai merampungkan studi S2 suami resmi memboyong saya ke kota Belimbing ini, tak hanya resmi secara fisik berdomisili, namun juga secara administrasi; KTP yang juga resmi pindah sebagai warga Depok.
Sejak saat itu, mulai aktif mencari informasi tentang komunitas apa yang cocok bagi saya bergabung disana. Setelah proses pencarian yang cukup panjang akhirnya, salah satunya bertemu jualah dengan komunitas IIP ini (yang kebetulan juga, sudah lama cukup akrab mendengar nama Ibu Septi semasa studi S1). Sebelum akhirnya menemukan IG IIP, saya sempat mengisi form sign up lewat WEB, hanya saja tidak ada feedback dan respon informasi apa pun sebagai balasan dari form yang saya isi. Karenanya saya berasumsi mungkin web tidak aktif lagi.
Tapi begitulah awal mulanya, sampai akhirnya bertemu jualah akun IG IIP, dan dari sanalah terbuka jalan hingga akhirnya bisa bergabung hingga sampai pada hari ini. Alhamdulillah, ala kulli hal, mencoba istiqomah mengikuti proses yang ada didalamnya dengan berupaya merampungkan tiap misi tugas yang diberikan oleh pengurus dalam proses memahami IIP sebelum resmi bergabung yang disebut dengan kelas Matrikulasi untuk kelas Institut dan Orientasi untuk kelas Kampung Komunitas, meski belum bisa optimal mengikuti forum diskusi via FB Group, karena keterbatasan satu dan lain hal.

Friday, April 24, 2020

Catatan Misi 3 Membumikan CoC Ibu Profesional


Alhamdulillah tulisan pertama di hari pertama Ramadhan. Selamat datang bulan Ramadhan, malam ke-2 Ramadhan #di rumah saja. Momen yang baik dan tepat untuk beribadah bersama keluarga. Alhamdulillah hari ini bisa menunaikan kewajiban berpuasa dalam masa menyusui Rayyan (15 bulan).

Mencoba mengikuti materi-materi yang disajikan dalam perkuliahan kelas online di komunitas Ibu Profesional. Ada banyak ilmu yang terbentang luas, rendahkanlah diri seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk. Menyucikan hati dari sikap sombong dan merasa lebih faham, teruslah belajar dari mana pun, kapan pun dan dimana pun. Ilmu adalah seperti air hujan yang bening di pagi hari, kala engkau menghirup udara ditengah air hujan yang bergemericik. Tidakkah engkau merasakan kesejukan yang sangat saat menghirupnya.

Misi selanjutnya di Komunitas Ibu Profesional kali ini adalah bagaimana setiap individu dalam komunitas tersebut bisa berperan aktif dalam membumikan CoC (Code Of Conduct di IIP). CoC IIP merupakan pedoman perilaku bermartabat dengan aturan-aturan yang telah dibuat, dipahami sehingga menjadi kesepakatan dan komitmen bersama di ruang lingkup Ibu Profesional. 

Komunitas Ibu Profesional menyadari penuh bahwa untuk membangun sebuah komunitas peradaban ini membutuhkan pedoman nilai-nilai yang bisa dijadikan acuan dalam berprilaku bermartabat seluruh komponen anggota yang tergabung dalam komunitas. Cepat atau lambat, kecil atau kelak menjadi besar sebuah komunitas membutuhkan pedoman nilai-nilai yang bisa difahami dan menjadi kesepakatan bersama. Dan dalam hal ini adalah dalam ruang lingkup komunitas IIP yang menekankan  pada penguatan nilai-nilai seorang Ibu sebagai teladan bagi anak-anaknya.

Thursday, April 16, 2020

Catatan Misi 2 Mengenal Prinsip Berkomunitas di Ibu Profesional


Alhamdulillah, sebagaimana matahari yang naik perlahan dan membentangkan riak cahaya keemasan dan seperti itulah hendaknya setiap jiwa bangkit dan menyambut harinya. Pagi ini juga demikian, saya melihat matahari memancar benderang dan menunjukkan tanda panas. Senang rasanya tanah ini disiram dengan hangat cahaya matahari. Semua pekerjaan rumah sudah usai sejak sepagian, Mas Faris banyak membantu meringankan pekerjaan rumah dan menghandle anak-anak, alhamdulillah pekerjaan rumah menjadi jauh lebih ringan.
Saya berfokus menyiapkan menu sarapan pagi, sementara suami menyiapkan anak-anak. Sebelum pada akhirnya kami menikmati sarapan pagi dengan menu Jagung pipil, sayur buncis orek telor, juga Tumis tahu tomat siram saori. Adik suka dengan menu jagung, ayah nya juga demikian. Setelah usai dengan urusan rumah dan anak-anak, saya meminta izin suami untuk menyelesaikan tugas di komunitas. Alhamdulillah, sejauh ini suami tampak mendukung pada apa yang tengah saya tempuh. Ini menjadi poin penting, ya sebab saya menyadari bahwa diri ini telah di ikat dalam pernikahan. Maka sehebat dan sebesar apa pun keputusan dan cita-cita jika tanpa ridha dan hasil musyawarah dalam keluarga tentulah menjadi tidak bermakna.
Kali ini saya ingin menuliskan apa yang say abaca beberapa hari lalu di grup FB kelas matrikulasi IP yang sangat ramai itu. Ya ada ratusan atau mungkin ribuan kaum ibu yang hadir dan belajar di kelas bernama komunitas Ibu Profesional, tentulah ini menjadi tempat dimana kaum ibu tak hanya bisa belajar bersama, namun lebih jauh dari itu mereka bisa saling bergandengan tangan belajar bersama-sama dengan berbagai latar belakang. Dan ini menjadi menarik bagi saya secara pribadi, karena IP memberikan materi berkomunitas secara perlahan sesuai dengan kemampuan dan segudang kesibukan yang dimiliki oleh kaum Ibu. Ada pun materi matrikulasi tersebut kali ini adalah sebuah materi yang disajikan dalam bentuk games. Teman-teman pengurus yang kreatif, dan saya tahu mereka juga sama-sama memiliki kesibukan. Terimakasih ya kawan-kawan pengurus.
Beberapa pekan yang lalu di #MISI1 kelas Matrikulasi teman-teman pengurus meluncurkan panduan yang kalau boleh saya meringkas dengan bahasa lain adalah “Memancangkan Niat,” bagaimana kita bisa memahami tentang untuk apa kita memutuskan begabung dalam komunitas ini, memahami dan menyadari keputusan yang sudah diambil. Dan itu berarti bergembira menjalankan konsekuansi dengan tugas-tugas menyenangkan yang ada didalamnya.
Maka di #MISI2 ini teman-teman pengurus memandu peserta melalui games menarik yang bisa diakses oleh kaum ibu, menyampaikan dengan cara yang bisa dan mungkin diterima oleh peserta termasuk saya pun menikmati keseruan ini. MISI 2 ini kami dipandu untuk memahami apa dan bagaimana prinsip berkomunitas di Ibu Profesional. Berikut yang bisa coba saya bagikan dlam ruang blog ini, sebagai jejak kebersamaan. Karena sejujurnya, dengan bergabung di IIP ini blog saya kembali hidup dengan tulisan-tulisan. Xixi…

Monday, April 13, 2020

30 DAYS Ramadhan Adventures ABQA Family

Alhamdulillah, tidak terasa Ramadhan kian dekat di pelupuk mata. Ada rasa haru dan syukur yang merebak ke dalam dada sebab bulan kebaikan dan keberkahan itu telah sangat dekat kedatangannya. Suami juga sudah membeli persediaan kurma menyambut Ramadhan sejak sepekan yang lalu, begitu terasa wangi aromanya meski masih beberapa pekan lagi Ramadhan tiba. Sayang rasanya jika Ramadhan tanpa merencanakan dan menghasilkan sesuatu dengan pertambahan kadar ibadah, sebab ini adalah momentum besar yang hanya terjadi sebulan dalam 12 bulan yang ada. Ini adalah bulan orientasi bagi jiwa setiap muslim, bulan menempa jiwa.

Di tengah wabah COVID-19 yang menempa tanah air, serta anjuran pemerintah untuk melakukan PSBB maka semoga salah satu hikmah besar itu adalah kembalinya jiwa-jiwa kami menepi dan singgah menemui sang Penguasa Alam, Rabb di bulan berkah Ramadhan. Semoga Allah meridhai ikhtiar ini…

Thursday, April 9, 2020

Maraton April & Harta Karun Widyaiswara

Alhamdulillah, setelah mencoba mengkondisikan isi rumah beres-beres, dan mengkondisikan anak-anak, selesai dengan urusan diri barulah kemudian memberikan ruang barang sejenak membuka blog kembali untuk menyelesaikan misi di Ibu Profesional. 

Awal April yang padat merayap, mulanya usai menyelesaikan tugas #kapsulwaktu dan mengisi keseruan foto twibon sejenak menunggu-nunggu akan ada kejutan apalagi? Bersenang-senang dalam komunitas bersama Ibu-ibu tentu saja hal yang cukup rileks bagi saya, karena kaum ibu memiliki segudang hak dan kewajiban yang cukup menguras energi dan kosentrasi, sebab itu penting baginya berada dalam ruang bernama komunitas sebagai wadah berbagi.

Hanya saja Allah berkehendak berbeda, April yang penuh kejutan karena memasuki awal April saya harus lari maraton berbagi waktu, energi, dan kosentrasi pada beberapa tugas dan amanah.