Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Thursday, April 9, 2020

Maraton April & Harta Karun Widyaiswara

Alhamdulillah, setelah mencoba mengkondisikan isi rumah beres-beres, dan mengkondisikan anak-anak, selesai dengan urusan diri barulah kemudian memberikan ruang barang sejenak membuka blog kembali untuk menyelesaikan misi di Ibu Profesional. 

Awal April yang padat merayap, mulanya usai menyelesaikan tugas #kapsulwaktu dan mengisi keseruan foto twibon sejenak menunggu-nunggu akan ada kejutan apalagi? Bersenang-senang dalam komunitas bersama Ibu-ibu tentu saja hal yang cukup rileks bagi saya, karena kaum ibu memiliki segudang hak dan kewajiban yang cukup menguras energi dan kosentrasi, sebab itu penting baginya berada dalam ruang bernama komunitas sebagai wadah berbagi.

Hanya saja Allah berkehendak berbeda, April yang penuh kejutan karena memasuki awal April saya harus lari maraton berbagi waktu, energi, dan kosentrasi pada beberapa tugas dan amanah. 

Tuesday, March 24, 2020

Tulisan Pertama untuk Ibu Profesional: Kapsul Waktu @annenajma

Bismillahirrahmanirrahim...

Assalamualaykum, my blog. Setelah sekian lama tidak mengunjungi dan apakah lagi menulis di media blog ini akhirnya siang ini saya dipaksa atau memaksakan diri untuk membuka kembali blog ini.  Ya...kapan terakhir kali membukanya bahkan saya sudah nyaris lupa saking lamanya. Khususnya 2 tahun terakhir saat merampungkan atau pasca lulus studi. Berhenti menulis? Bukan, bukan berhenti, namun semenjak kehadiran dua bocah, praktis saya memindahkan ruang menulis dari blog ke instagram, dan melink-kannya ke face book. 

Alhamdulillah, ini tulisan pertama saya berhubungan dengan Ibu Profesional-di blog yang saya buat sejak tahun 2010 (jika saya tak salah mengingat). Ibu Profesional merupakan sebuah forum belajar non formal bagi kaum Ibu atau mungkin perempuan secara umum yang di bangun oleh Ibu Septi Peniwulandari. Sebenarnya sudah lama mendengar dan mengenal via maya nama Ibu Septi, hanya saja kala itu mungkin sebab saya belum menikah sehingga lebih berfokus pada pengembangan diri non parenting. 

Mungkin ini adalah semacam momentum, tentu harapannya tak hanya sekedar menghidupkan blog namun lebih jauh dari itu saya bisa terus tumbuh dan belajar baik di kala sendiri mau pun dikala bersama. Dirasakan keberadaannya oleh anak-anak dan keluarga khususnya. 

KAPSUL WAKTU; Mengawali Tahun 2020 bersama Ibu Profesional

Setelah mengikuti beberapa sharing dari teman-teman pengurus IIP, pada materi ke 7 ini dengan cepat mengingatkan sekaligus membantu saya merapikan jadwal life mapping. Soal life mapping ini sebenarnya sudah cukup lama suami mengusulkan untuk membuatnya bersama, qodarullah ini menjadi momentum yang merecall kembali agenda keluraga yang belum sempat terealisasikan ke dalam tulisan.

Kapsul waktu kali ini, saya melibatkan anak-anak untuk membuatnya. Diantara dua bocil yang sangat ramai tak hendak menjauh dari ibunya barang sejengkal pun. Berproses sekitar 3 hari dari sejak awal mencari bahan yang ada di rumah. Meski tentu saja tantangan melibatkan anak ini cukup menguras waktu sebab saya harus menunda dahulu, dan melanjutkannya di esok hari. Hingga saat ini adalah hari ke-3. Meski hasilnya tak seindah yang saya bayangkan jika berkreasi sendiri tanpa bocah- Tak megapalah, paling tidak Rayyan (14 bulan) dan Mbak Nana (4 tahun) dapat melihat prosesnya bahkan hingga tulisan ini saya publish. Anak-anak berada disisi saya. 

Monday, July 30, 2018

SATU MUD dan Nilai Setitik Air

SATU MUD



Berapa tagihan air rumah Ayah dan Bunda dalam satu bulan?

Matahari belum lagi memercikkan sinarnya dengan sempurna, Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan pagi itu. Semburat pagi di tanah air rimbun oleh suara pedagang gerobak, hilir mudik silih berganti melintas di jalan depan rumah, dari satu gerobak ke gerobak yang lain, dari satu pedagang makanan panggul ke pedagang makanan panggul lainnya; ada pedagang sayur matang, roti bakery, tahu isi, lontong sayur dst. Suasana yang teramat menggoda dan memanjakan lidah untuk mencicipinya.

Saya duduk menghadap ayah Najma, seperti pagi-pagi yang telah lewat, pagi itu saya membacakan barang beberapa hadits kepada ayah Najma. Pembahasan kesempatan kali itu membuat saya ingin menuliskannya kembali; berbagi "nikmat" yang seringkali kita dzalimi.

Berapa tagihan air rumah Ayah dan Bunda dalam satu bulan?


Berapa banyak air yang kita gunakan untuk berwudhu di tempat wudhu masjid-masjid atau mushola?

Berapa banyak air yang kita habiskan untuk satu kali mandi saja?

Berapa banyak air yang kita gunakan untuk mencuci piring, mencuci baju, mencuci sayur dst?

Beberapa bulan yang lalu saat berkesempatan berkunjung ke rumah salah seorang keluarga Turki sebelum pamit pulang ke tanah air, kami (saya, suami dan Najma) di ajak mengunjungi ladang gandum yang begitu luas. Ladang gandum yang terancam gagal tumbuh dan panen karena kemarau panjang dan tidak adanya pasokan air yang cukup. 

“Apa yang akan dilakukan masyarakat untuk menyelamatkan ladang-ladang ini Baba?” Saya bertanya pada Baba, seorang kakek berambut putih dengan usia yang mulai menua.


“Kami akan menggelar shalat istisqa di masjid desa, meminta Allah agar menurunkan hujan ke ladang-ladang.” Jawabnya.

Saya tertegun hening mendengarnya, dengan sedikit agak ragu kembali bertanya “Bagaimana jika belum kunjung turun hujan juga.” Bermaksud menyelidik apakah ada kemungkinan mereka akan meminta pemerintah untuk turun tangan langsung menangani dengan kondisi ini.”

“Insha Allah, Allah pasti akan menurunkan hujan. Allah pasti mendengar doa kami semua.” Jawaban sang Baba, diluar dugaan saya. Menyiratkan sebuah keyakinan yang menghunjam kuat di dalam jiwanya akan datangnya pertolongan Allah.

Mungkin ini hanya satu kisah tentang berharganya nilai setitik air. Sementara dibelahan ruang lainnya, seringkali kita dapati air dipancuran tempat berwudhu terbuka mengalir begitu saja tanpa ada yang menutup krannya. Mungkin terlupa, atau barangkali memang rusak. Juga tidak kalah seringnya mungkin kita juga menjadi bagian diantara yang berwudhu dengan membuka air kran selebarnya, sekuatnya, dan membiarkannya tetap mengalir kencang saat kita tengah membasuh tangan berpindah dari satu basuhan ke basuhan lainnya. Betapa banyak air yang terbuang sia-sia bukan? Padahal sejatinya tugas kita adalah menyempurnakan wudhu, tidak berlebihan dan tidak pula berboros dalam menggunakan air.

“Ah, air kan melimpah. Hampir setiap hari hujan. Tak payah menyiram kebun.”

Anas ra berkata, "Nabi SAW membasuh, atau mandi dengan satu sha' hingga lima mud, dan berwudhu dengan satu mud." (H.R. Bukhari).

Berapa liter air yang kita gunakan dalam sekali berwudhu saja?

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh salah satu program TV Khawateer, dalam sekali berwudhu rata-rata kita telah menghabiskan 5 liter air. Itu artinya jika dalam sehari kita berwudhu 5 kali maka 25 liter air perhari yang telah kita habiskan untuk kebutuhan berwudhu saja. Belum lagi kebutuhan mandi, ngepel, mencuci baju, membersihkan wajah dst.

Jika dihitung dengan jumlah berwudhu minimal (3 x wudhu dalam sehari; oleh sebab safar misalnya) maka kita telah menghabiskan 15 liter/hari untuk berwudhu. Jumlah ini jika dikalikan sebanyak 1 juta muslim yang berwudhu dalam sehari maka 15 milyar liter air/hari yang telah kita habiskan hanya untuk berwudhu saja.

Tahukah kita padahal semestinya 15 milyar liter air ini sejatinya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan minum sebanyak 2 juta orang atau untuk memproduksi kebutuhan 5 juta kg beras/ 1 juta kg daging/ 430 Juta kubik mengairi sayur dan buah/ sama dengan jumlah 6 ribu kolam renang olimpiade. Masha Allah, betapa ini adalah jumlah yang tidak kecil.

Sementara di Afrika, kita temukan bahwa hanya dengan 10 liter air/hari mereka gunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan. Betapa sulitnya mereka menemukan sumber air bersih. Lebih jauh dari itu tahukah kita bahwa air dalam kloset toilet rumah kita bisa jadi jauh lebih bersih dari air yang digunakan oleh masyarakat Afrika?

 Sumber : Lack of Clean Water in Africa: 
Understanding the Reasons Behind the Water Crisis
http://all-about-water-filters.com/lack-of-clean-water-in-africa/

Berapa liter air yang kita gunakan dalam sekali berwudhu saja?
Bukankah meski hanya dengan SATU MUD saja Rasulullah sudah mampu menyempurnakan wudhunya? Berapa itu satu MUD? Segenggaman dua tangan yang ditangkupkan, mungkin ilustrasi air dalam gambar ini masih jauh lebih banyak dari satu mud. Kalau demikian, alangkah jauhnya hidup kita dari kata sederhana. Lalu mana yang sebenarnya dikatakan menyempurnakan wudhu dengan sikap berboros terhadap air? Tidakkah ini adalah “nikmat” yang terdzolimi?

Depok, 30 Juli 2018.

**Data perhitungan tulisan ini bersumber dari tayangan sebuah program stasiun TV Khawateer. Adapun ide tulisan ini muncul dari hasil diskusi pagi lalu dengan ayah Najma, bermula dari ketika saya bertanya seberapa banyak itu SATU MUD. Alangkah sedikitnya Rasulullah menggunakan air untuk berwudhu. Kemudian Ayah Najma menunjukkan tayangan program TV tersebut. 

Thursday, July 27, 2017

Tentang sebuah nilai

Assalamualaykum 

Halaman tempatku menulis...

Sumber  foto : gugel

Sudah lama sekali saya tidak menulis  di blog ini. Sangat lama bahkan. Bukan tak hendak berminat menulis, melainkan karena memang qodarullah, saya lupa pasword log in blog kesayangan ini. Sehingga akhirnya saya selalu urung menunda untuk mencoba mengingat kembali. Lalu berpindah menuliskannya di akun instagram evi_turkey. Meski tulisan yang terposting di instagram hanyalah tulisan-tulisan ringan sebagai sarana pengingat moment.

LUPA!

Yah, manusia acap kali sering lupa. Adalah hal yang wajar dan lumrah, namun mengapa lupa ini terjadi? Banyak faktor bukan. Mungkin yang familiar orang bilang faktor U bisa menjadi salah satunya :D - Dan dalam hal ini tentang tema "lupa" itu yang ingin saya tulisakan adalah tentang bernilainya sebuah "rasa syukur."

Sore tadi selepas shalat magrib, saya sampai pada tilawah Q.S. Luqman. Dengan segera ayat itu menjadi pengingat bagi diri, tentang tidak terhitungnya diri ini melupakan satu hal yang teramat -privasi- tentang "dirinya" dengan kata "syukur." Mengapa perlu kita bersyukur? Apakah karena Allah telah menghadirkan segala kebaikan ini pada kita? Apaah karena segala Kemaha Murahan Allah pada kita? Untuk Allahkah kita bersyukur?

Maka jawabannya adalah sama sekali tidak.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Lukman: 12)


Alhamdulillah atas rizki karunia dari Allah sehingga saya kembali bisa menulis di blog ini. Selamat datang kata-kata.

Ankara, 27 Juli 2017.









Wednesday, August 10, 2016

Mengangkat anak angkat, bagaimana hukumnya dalam agama?

Alhamdulillah, Najma memasuki usia genap 4 bulan 1 minggu. Ia senantiasa menyertai dalam setiap diskusi yang kami lakukan, suaranya berceloteh diantara suara kami. Seakan tengah ikut serta berpendapat atau tengah menjelaskan dan menyimak ayahnya.

***
"Mascim bagaimana hukumnya mengangkat seorang anak?" Pertanyaan itu melintas begitu saja ketika kami tengah menikmati makan malam, tempo hari.

"Seorang anak bukan berarti menjadi mahram bagi ibu atau ayah yang mengangkatnya." Jawab suami dengan
melahap menu makan malam goreng tempe tepung gurih, masakan khas ibu yang sangat aku gemari.

"Emm, maksudnya Mascim?" Tanyaku kembali.

"Maksudnya adalah, bahwa ketika seseorang mengangkat anak sebagai anaknya maka secara agama anak tersebut tidak boleh dinasabkan kepada ayah yang mengangkatnya sebagai anak (fulan bin fulan atau fulanah binti fulan)." Jawab suami.

"Emm, iya aku ingat...seperti kisah si Zaid kan Mascim. Awalnya kan Rasulullah menisbatkan namanya Zaid Bin Muhammad, sampai akhirnya turun surat al-ahzab." Jawabku.

"Nah tepat sekali, kemudian adalah bahwa anak tersebut bukan berarti menjadi mahram bagi ibu atau ayah yang mengangkatnya." Lanjut suami lagi.

"Loo, begitu ya Mascim. Kok bisa?"

"Karena secara agama, apabila anak yang diangkat menjadi anak tersebut adalah perempuan maka ketika ia telah baligh anak perempuan tersebut hukumnya bukan mahram bagi ayah angkatnya, juga sebaliknya jika yang diangkat adalah anak laki-laki maka ketika ia balighpun menjadi bukan mahram bagi ibunya." Jelas suami.

"Hoo, begitu ya Yah."

"Nah jadi, gimana supaya menjadi mahram? Maka ıbu tersebut harus menyusui anak yang diangkat agar menjadi mahram. Lalu bagaimana jika ia tidak bisa menyusui, maka caranya adalah dengan menyusukan bayinya kepada saudara perempuan pihak ayah atau dari pihak ibu, agar statusnya menjadi anak susuan dari saudara perempuan ayah atau ibunya."

"Emm, I see..." angguk kepalaku.

"Biliyorsun?" Tanya suami dengan bahasa Turki alakadarnya disertai matanya yang menatap, menggodaku.

"Tamaaam, biliyoruuum."

hihi...

********
Ket foto:
atas : Sepatu Koala baby
bawah: ayah dan najma di pagi hari

Depok, 8 Agustus 2016

Tuesday, June 21, 2016

Sydney RasaTurki

Sydney Aroma Turki

Jariku dengan cepat meluncurkan ujung-ujungnya untuk mengetik nama yang cukup asing itu di papan keyboard. Hemm, tak apalah istirahat sejenak setelah beberapa malam stress berat menggugling dan membaca semua informasi bagaimana menangani pilek pada bayi. Pasalnya Najma beberapa malam tak nyenyak istirahat karena hidungnya mampet, pilek.
Alhasil mulai dari resep tradisional, resep yutub hingga resep dokter, kombinasi beberapa resep bisa sedikit banyak meredakan hidungnya yang tersumbat. Alhamdulillah, bobok yang nyenyak ya putriku nan periang. Senyummu yang riang membalut kerinduan Anne pada sosok cerdas bersahaja di sudut aroma Turki, Sydney. Ayahmu.

##
Gallipoli, unik.
Otakku dengan cepat menempelkan label dan menyetujui bahwa kata itu sangat unik. Disusul beberapa gambar yang dikirimkan suami dilayar hangout. "seperti masjid-masjid di Turki ya Yah, kubahnya." Responku refleks, ketika melihat kubah-kubah serta arsitekturnya yang bahkan lebih pas dikatakan bahwa bangunan itu berjejak di bumi Turki daripada di Sydney, andai saja tidak diberikan tulisan tambahan di atas kata Gallipoli, Auburn.
"Orang Turki memang hebat, masjid yang menjadi kebanggaan orang Islam dengan menara dan kubahnya, dari jalan tol udah keliatan. Hebatnya lagi dinamakan Gallipoli, mengingatkan orang Aussie pada kekalahan mereka di perang dunia 1 melawan Ottoman Empire di tanah Gallipoli Turki." Ketik Mas Faris menjelaskan bangunan masjid itu.

Hooo...ternyata dugaanku tidak meleset, perfecto!

"Sydney rasa Turki" Lanjut suami mengetikkan kata yang ringkas dan padat makna.

Jadi teringat, bahwa bangsa Turki (periode ottoman empire) dibawah kesultanan Utsmaniyyah adalah salah satu negara terkuat di dunia. Memiliki catatan sejarah dunia yang penting, sebagai tanah yang menjadi pusat interaksi antara dunia Timur dan Barat selama lebih dari enam abad.

Hemm, kalau difikir-fikir tapi mengapa dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah tidak ada bab khusus yang panjang lebar menjelaskan tentang dunia Islam dan pengaruhnya ya. Tidak terkecuali hanya secuil bab kecil di ujung pelajaran. Aneh!

##
Adalah Gallipoli, merupakan masjid Auburn Gallipoli yang dirancang dengan gaya arsitektur klasik Ottoman dengan meniru Masjid Sultan Ahmed di Istanbul, Turki. Begitu kurang lebih informasi yang aku baca dari beberapa sumber. Tergelitik menyelidik karena namanya yang unik ini.

Kesimpuan ringan; jika berkesempatan ke Sydney mampirlah ke Masjid ini sebagai pengobat rasa rindu pada negeri dua benua.

Teşekkürler ayah. Story has been delivered to Najma.

Keterangan: foto kiriman dari ayah Najma

Depok, 21 Juni/Ramadhan 2016

Monday, June 20, 2016

(Jurnal Keluarga) Nasılsın Anne?

Anne


Yah, kata itu kini menjadi demikian istimewa bagiku. Ada sematan penghargaan yang dikaruniakan oleh Allah pada kaki ringkih yang gemar berpetualang ini. Menjadi ibu adalah karunia yang sangat besar dari Allah. Aku gembira sekali dengan kehadiran sahabat kecil yang bisa melepaskan ekspresi-ekspresi kanak-kanakku.

Najma

Selamat datang puteriku. Terimakasih telah mamanggilku dengan kata "anne" itu sangat manis sekali. Perjalanan yang tidak bisa dibilang pendek telah kita tempuh. Kamu tidak hanya sebagai puteri anne, namun juga telah menjadi sahabat kecil tempat anne menumpahkan milyaran ekspresi cinta. Sungguh berbeda rasanya, kehadiranmu membuat anne bahkan mengacuhkan dunia maya ini, tempat dimana anne terbiasa meluapkan suasana semua bahasa jiwa. Terimakasih puteri kecilku, si pipi tembem minipao..xixi

Menjadi ibu penuh dengan selaksa makna. Sulit sekali rasanya menjelaskan dengan beragam cara, waktulah yang mampu menjadi saksi atas kerumitan bagaimana mencernanya. Namun yang pasti, kali ini bahwa anne mengaku kalah, bahwa kehadiranmu telah merontokkan ketidakpedulian anne dengan dunia maya, khususon fesbukiyah. Hhoho..

Najmaku, kata apa yang telah engkau pelajari hari ini Nak?
Lekas sekali engkau tumbuh menjadi sedemikian besar. Hampir 3 bulan usiamu. Bersyukur sekali hati ini memiliki sahabat kecil yang periang, wajah bundarmu yang menggemaskan, itu mirip wajah ayahmu Nak. Gemas sekali anne. Pipimu yang ayah bilang pipi gembil. Najmaku, I love you sayang.

Anne dan Ayah 
yang tengah LDR di bulan Ramadhan :)

##


Sunday, March 20, 2016

Menikmati masa menanti



Emm...tik tok. Bismillah.

Sudah lama rasanya ares-aresan buat nulis. Alhamdulillah tidak terasa sudah genap 9 bulan 2 hari usia kandungan ini. Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kekuatan untuk melewati masa-masa hamil muda saat merantau, pun meski saat tulisan ini saya tulis juga dalam kondisi merantau, hanya bedanya kali ini merantaunya tinggal di rumah ibu mertua. Alhamdulillah, meski jauh dari suami paling tidak ada keluarga suami. Heu, rasanya berat juga ya ternyata jauh dari suami itu. Hehe..apalagi jatuh cintanya pada suami semakin bertambah-tambah setelah pernikahan. Padahal semasa lajang rindunya paling ke orang tua, ke kampung halaman, dipakai buat ngerjakan tugas terobati deh. Tapi, setelah menikah rindunya setiap waktu ke suami.

Sudah hampir seminggu lebih ini saya giat jalan pagi di sekitaran rumah komplek. Selain memang untuk terapi menjelang persalinan juga karena PR dari dr. Dewi, S. Pog supaya rajin jalan pagi . Hihi, kalau dulu ada Mas Faris rajin keliling komplek. Kalau saat ini cukup keliling di samping rumah, beberapa kali keliling.

Serampung shalat subuh dan tilawah, belanja sayur di mamang sayur komplek. Kesukaan saya adalah memilih sayur dan mencari menu makan (kebayangnya seperti masakan di kampung halaman). Bedanya di kampung terbiasa masak sendiri. Disini ada bibi yang membantu memasak, jadi terkadang saya sudah membayangkan sayur tumis pelecing kangkung hijau krenyes-krenyes ditangan bibi jadi berwarna merah cabai berair penuh dan warna hijau daunnya hilang. "Loh, kok ndak seperti yang tak bayangkan." Xixi...beda tangan memang beda rasa dan hasilnya.

Pagi ini saat belanja sayur ketemu Mbak jamu gendong. Hemm...saya dulu waktu kuliah S1 suka sekali konsumsi jamu jahe manis. Duh, elus elus si debay jadi kepengin minum jamu. Alhasil saya pun minta Mbak jamu gendong buat mampir ke rumah, sementara saya memilih sayur. Hari ini kebayangnya masak pepes ikan dan tumis pare pahit. Bapak mertua suka sekali dengan sayur-sayur pahit. Selera makanan saya dan Bapak mertua ternyata sama plek. Contohnya Bapaj suka tumis daun pepaya, kembang pepaya, oncom pelecing, botok, goreng ikan peda, termasuk juga pare pahit. Ahaaii asiik, sama pecis dengan seleraku. Hihi..kalau selera Mas Faris selera Sumatera juga sebenernya, kayak rendang, sambel kentang, dan yang berbau sambel gitu. Selera kami sama untuk urusan rendang. Tapi aku lebih suka daging, nah kalau Mas Faris ayam bakar, ayam goreng. Padahal harga daging kan mahal ya. Hehe, jadinya yang penting ada ikan asin peda. Nyummi.

Loh..loh...kok jadi cerita makanan. Eits, tadi kan cerita soal jamu ya. Jadi setelah belanja saya jalan keliling dan akhirnya Mbak yang jual jamu mampir ke rumah. "Mbak saya sedang hamil, bagusnya yang saya minum jamu apa ya?" Tanya saya ke Mbak nya. Kata Mbak nya Jamu beras kencur. Kalau setelah melahirkan baru jamu kunyit. Jamu kunyit tidak boleh diminum saat hamil. Alhasil saya pun mnum segelas jamu beras kencur. Segernya, alhamdulilah. 

Setelah minum, pulang ke rumah nyerahkan belanjaan ke bibi langsung searching bolehkah minum jamu gendong beras kencur untuk ibu hamil. Hemm...dari banyak tulisan dan sumber tidak ada larangan konsumsi jamu beras kencur untuk ıbu hamil, malah bagus. Kecuali jamu kunyit tidak ada satu pun yang membolehkannya dikonsumsi saat hamil. Untuk itu, akhirnya saya nginbok Mbak di kampung halaman, yang sudah berpengalaman. Apakah boleh minum jamu beras kencur saat hamil. Mau nanya dr. Dewi (dokternya dedek bayi) masih harus menunggu jadwal kontrol. Kita nunggu balasan dari Mbakku tersayang.

Oke, dah dulu ya. Saya mau cek bibi, biar hasil pepes ikan kembungnya sesuai dengan yang saya fikirkan hasilnya. :) :) 

Wednesday, February 24, 2016

demikian aku mencintaimu

Awet. Sudah sejak siang Depok hujan, derras sekali. Melihat air hujan seperti ini kadang-kadang rindu juga dengan salju kota Ankara. Hujan salju yang nyaris telah membuat nyali ummi ciut ketakutan masa pregnant bulan ke 5. 

Sebenarnya ummi selalu gembira kalau salju sedang turun, namun pagi Rabu itu pasalnya ada kelas Istatistik, wajib membawa leptop. Diluar salju turun hebat. Ya Allah, "Bukan ummimu ini tak nak ke skul Anakku," duuh...alangkah beratnya menempuh perjalanan 2 jam ke kampus itu, dalam keadaan seperti benar-benar tidak punya energi. Mau pingsan di bis...sudah sangat keseringan. 

"Oturabilirmiyim lutfen." **could I take sit please. Kalau sudah benar-benar tidak kuat berdiri jika bis sedang penuh ummimu ini baru cepat-cepat intrupsi. Pertanda sudah mau pingsan, keringat dingin. Hoho~ semua penumpang jadi menoleh, terpusat pada ummi. "Ada orang asing minta duduk, barangkali sedang sakit." Mungkin begitu fikir mereka.

Hujan salju Rabu pagi itu untuk pertama kalinya telah berhasil memporak porandakan tangis ummi di depan pintu gerbang Hukuk Fakultesi, alias fakultas hukum. Huwaah..akhirnya nangis juga, dududu~ bukan karena ummi tak nak berjuang, melainkan tak ada energi lagi buat menjangkau fakultas. Ya Allah, ingin sekali rasanya mengeluh tapi malu. Badan ummi sudah lemah sekali rasanya. Tas ummi selalu tersedia bekal, tapi tetap saja lemah sekali rasanya. Allah...berilah kekuatan agar hamba Mu ini bisa sampai di kelas buat belajar. Salju masih lebat, tentu saja plus jalanan sangat licin. 

Tidak adakah orang lalu lalang yang iba hati. Oho~ rasa-rasanya sudah berapa orang Turki yang menawarkan bantuan mengangkat tas leptop ummi. Selama masih mampu, jangan pernah bergantung pada orang lain. Minta tolong sama Allah, pasti pertolongan Allah itu dekat.

Dududu~ kalau ingat masa-masa perjuangan itu ummi rasanya buncah. Bagaimana proses pertolongan Allah itu terlihat sangat dekat dan nyata, selalu ada dimana-mana dan kapan saja.

Galau? Bolehlah kita galau, namun pesan ummi sesekali saja ya. Tak boleh pula larut-larut galau, kecuali galau boleh lihat orang rajin tilawah, sedekah atau apa-apa yang baik.

Dah, itu saje dulu yee coret-coret tangan ummi. #tulisansuka-suka
Evi Marlina, 8month of pregnant, 24022016

Monday, February 22, 2016

Handphone atau shalat Jama'ah

Hujan turun sejak semalaman ketika kami mendarat di bandar udara Soekarno. Alhamdulillah Jakarta hujan. Cepat-cepat segera komat-kamit berdoa, sebelum hujannya reda. Senang sekali rasanya mendarat setelah isya dan langit ibu kota dipenuhi curah air hujan. Pasalnya itu berarti hawa panas Jakarta bisa berkurang dan terasa lebih sejuk. 

Bertambah melimpah kegembiraan hati oleh sebab malam minggu jalanan sepi, tidak macet mengular seperti hari-hari kerja biasanya. "Jakarta kelihatan bagus kan kalo malam hari, mandi lampu." Suara Mas Faris di sela-sela beratnya mataku menahan kantuk. Mobil Damri jurusan Bogor sayup-sayup merayapi jalanan kota Jakarta yang sepi lengang, bebas macet.

Di dalam bis terlihat para penumpang dipenuhi sesak wajah yang kelelahan. Tidur pulas di kursi masing-masing. Sementara kami sibuk mematikan AC yang berada tepat di atas kepala. Mas Faris bilang aku ini tidak berbakat jadi jutawan karena tidak kuat bau AC. Duh...¿%¿¡¥
😨
Kehidupan Jakarta. Entahlah apa yang tengah difikirkan oleh para penjaja makanan di pinggiran sungai hingga larut malam begini di seberang jalan sana. Begitu kerasnya kota ini sampai-sampai udaranya pun ikut membakar. Tantangan kita dan anak-anak saat ini ke depannya tentu lebih hebat dan besar lagi. 

"Jadi, dalam rangka menyiapkan anak-anak yang siap menghadapi tantangannya seharusnya para orang tua lebih khawatir jika anak-anaknya tidak shalat berjamaah di masjid dibandingkan tidak punya handphone atau i-pad." 

Ngiing...suara Mas Faris kemaren siang kembali terngiang-ngiang dikedua telingaku. Mobil Damri terus melaju, kaca jendela mobil dipenuhi rintik-rintik hujan. Allahumma shayyiban naafi'an..

24012016

Ba-ba

Ba~ba


I love you Baba 
Mom told me that you are a great reader, her best partner 
Days become too short 
when we're together...
I'll miss and love you till jannah, 
in sha Allah
Love you my Baba



A poem by little Baby, 8th month of pregnant

Dedicated to her/his beloved Baba @farisjihady
photo was taken by Mom while waiting the doctor in front of hospital, 100216

Sepatu Siapakah ini?

Sepatu Siapakah ini?
================



Hari masih berkabut pagi, harum rumput Puncak Bogor dengan baiknya masuk perlahan dari celah-celah kaca jendela yang setengah terbuka. Terlihat Mas Faris di luar sana bersenandung teduh di bawah sisa hujan, menikmati aroma embun rumput hijau dan pegunungan biru yang berbaris rapi di sisi lereng. Aku tengah berkemas, menyiapkan keperluan. Sementara televisi bersuara, menyala riang. Rasa pegal dikaki meminta menyempatkan duduk sejenak, kedua bola mataku melayangkan pandangan pada sebuah tayangan film yang membawa ingatan era kanak-kanak.

"Kamu nonton filem apa tuch?" 
Tiba-tiba suara Mas Faris bersandar di sisi telinga.

"Hihi, ini filem zaman kanak-kanak Masku." Jawabku singkat.
"Filem begituan kok ditonton." Kata Mas Faris lagi.
"Bukan Mascim, tadi pas dinyalain yang muncul langsung film ini."
***
Siapakah yang tidak mengenal kisah putri malang pemilik sepatu nan indah ini? Sepatu yang kisahnya membuat anak-anak di pelosok desa terpencil pun berlomba-lomba untuk memilikinya. Diproduksilah beragam sepatu kaca dengan tujuan utama anak-anak sebagai konsumennya.
Sepatu kaca milik puteri Cinderella ini adalah satu fenomena dari sekian banyak kisah dongeng negeri khayangan yang demikian terlihat cantik dan menarik hati, film dongeng yang mampu mengajak anak-anak berimajnasi penuh, serta mendorong keinginan menjadi seperti mereka. Tidak kalah lagi dengan film Berbie yang berpakaian seperti putri ratu, mendorong anak-anak juga menginginkan menjadi seorang puteri.
Dalam kisah Putri Cinderella "mungkin" dalam tanda kutip, ingin menyampaikan kebaikan nilai bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan. Kisah Putri Rapunzell, Puteri Salju dan masih banyak kisah-kisah puteri-puteri negeri dongeng lainnya. Namun, sayang sekali seiring anak-anak kita (anak didik, anak-anak tetangga, dan adik-adik kita) yang tumbuh menjadi dewasa, kenyataannya tidaklah mereka temukan sosok puteri impiannya itu dalam kehidupan nyata. Tokoh kebaikan itu ternyata semu. Tidaklah pernah ditemukan dalam buku-buku sejarah sekolah mau pun dalam peninggalan di ruang museum.
Kisah yang dikemas "seolah-olah" adalah sesuai untuk usia anak-anak ini, baik kita sadari mau pun tidak bukankah sebenarnya kurang tepat bahkan tidak layak menjadi konsumsi mata, dan fikiran anak-anak. Disana banyak kita temukan sisipan kisah-kisah "cinta pangeran dan sang puteri." Hampir kebanyakan rata-rata semua film negeri dongeng dengan "sasaran utama anak-anak" menyisipkan tentang "kenyataan yang sesungguhnya berbahaya" bagi pergaulan dan perkembangan anak-anak bukan? Tentu tidaklah kita menginginkan anak-anak tumbuh dengan sosok-sosok idola yang sungguh semu ini.
"Padahal kisah-kisah sesungguhnya memainkan peran yang demikian penting dalam membangun kesadaran akal dan intelektual anak. Bahkan menempati posisi pertama dalam metode pengembangan pemikiran anak yang efektif. Kisah-kisah Rasul adalah kisah-kisah nyata yang bersumber dengan referensi yang murni. Mengisahkan sejarah kehidupan mereka adalah sebaik-baik cara untuk menanamkan nilai-nilai utama ke dalam jiwa anak." (Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid).

Depok, 21022016