Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Monday, June 20, 2016

(Jurnal Keluarga) Nasılsın Anne?

Anne


Yah, kata itu kini menjadi demikian istimewa bagiku. Ada sematan penghargaan yang dikaruniakan oleh Allah pada kaki ringkih yang gemar berpetualang ini. Menjadi ibu adalah karunia yang sangat besar dari Allah. Aku gembira sekali dengan kehadiran sahabat kecil yang bisa melepaskan ekspresi-ekspresi kanak-kanakku.

Najma

Selamat datang puteriku. Terimakasih telah mamanggilku dengan kata "anne" itu sangat manis sekali. Perjalanan yang tidak bisa dibilang pendek telah kita tempuh. Kamu tidak hanya sebagai puteri anne, namun juga telah menjadi sahabat kecil tempat anne menumpahkan milyaran ekspresi cinta. Sungguh berbeda rasanya, kehadiranmu membuat anne bahkan mengacuhkan dunia maya ini, tempat dimana anne terbiasa meluapkan suasana semua bahasa jiwa. Terimakasih puteri kecilku, si pipi tembem minipao..xixi

Menjadi ibu penuh dengan selaksa makna. Sulit sekali rasanya menjelaskan dengan beragam cara, waktulah yang mampu menjadi saksi atas kerumitan bagaimana mencernanya. Namun yang pasti, kali ini bahwa anne mengaku kalah, bahwa kehadiranmu telah merontokkan ketidakpedulian anne dengan dunia maya, khususon fesbukiyah. Hhoho..

Najmaku, kata apa yang telah engkau pelajari hari ini Nak?
Lekas sekali engkau tumbuh menjadi sedemikian besar. Hampir 3 bulan usiamu. Bersyukur sekali hati ini memiliki sahabat kecil yang periang, wajah bundarmu yang menggemaskan, itu mirip wajah ayahmu Nak. Gemas sekali anne. Pipimu yang ayah bilang pipi gembil. Najmaku, I love you sayang.

Anne dan Ayah 
yang tengah LDR di bulan Ramadhan :)

##


Sunday, March 20, 2016

Menikmati masa menanti



Emm...tik tok. Bismillah.

Sudah lama rasanya ares-aresan buat nulis. Alhamdulillah tidak terasa sudah genap 9 bulan 2 hari usia kandungan ini. Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kekuatan untuk melewati masa-masa hamil muda saat merantau, pun meski saat tulisan ini saya tulis juga dalam kondisi merantau, hanya bedanya kali ini merantaunya tinggal di rumah ibu mertua. Alhamdulillah, meski jauh dari suami paling tidak ada keluarga suami. Heu, rasanya berat juga ya ternyata jauh dari suami itu. Hehe..apalagi jatuh cintanya pada suami semakin bertambah-tambah setelah pernikahan. Padahal semasa lajang rindunya paling ke orang tua, ke kampung halaman, dipakai buat ngerjakan tugas terobati deh. Tapi, setelah menikah rindunya setiap waktu ke suami.

Sudah hampir seminggu lebih ini saya giat jalan pagi di sekitaran rumah komplek. Selain memang untuk terapi menjelang persalinan juga karena PR dari dr. Dewi, S. Pog supaya rajin jalan pagi . Hihi, kalau dulu ada Mas Faris rajin keliling komplek. Kalau saat ini cukup keliling di samping rumah, beberapa kali keliling.

Serampung shalat subuh dan tilawah, belanja sayur di mamang sayur komplek. Kesukaan saya adalah memilih sayur dan mencari menu makan (kebayangnya seperti masakan di kampung halaman). Bedanya di kampung terbiasa masak sendiri. Disini ada bibi yang membantu memasak, jadi terkadang saya sudah membayangkan sayur tumis pelecing kangkung hijau krenyes-krenyes ditangan bibi jadi berwarna merah cabai berair penuh dan warna hijau daunnya hilang. "Loh, kok ndak seperti yang tak bayangkan." Xixi...beda tangan memang beda rasa dan hasilnya.

Pagi ini saat belanja sayur ketemu Mbak jamu gendong. Hemm...saya dulu waktu kuliah S1 suka sekali konsumsi jamu jahe manis. Duh, elus elus si debay jadi kepengin minum jamu. Alhasil saya pun minta Mbak jamu gendong buat mampir ke rumah, sementara saya memilih sayur. Hari ini kebayangnya masak pepes ikan dan tumis pare pahit. Bapak mertua suka sekali dengan sayur-sayur pahit. Selera makanan saya dan Bapak mertua ternyata sama plek. Contohnya Bapaj suka tumis daun pepaya, kembang pepaya, oncom pelecing, botok, goreng ikan peda, termasuk juga pare pahit. Ahaaii asiik, sama pecis dengan seleraku. Hihi..kalau selera Mas Faris selera Sumatera juga sebenernya, kayak rendang, sambel kentang, dan yang berbau sambel gitu. Selera kami sama untuk urusan rendang. Tapi aku lebih suka daging, nah kalau Mas Faris ayam bakar, ayam goreng. Padahal harga daging kan mahal ya. Hehe, jadinya yang penting ada ikan asin peda. Nyummi.

Loh..loh...kok jadi cerita makanan. Eits, tadi kan cerita soal jamu ya. Jadi setelah belanja saya jalan keliling dan akhirnya Mbak yang jual jamu mampir ke rumah. "Mbak saya sedang hamil, bagusnya yang saya minum jamu apa ya?" Tanya saya ke Mbak nya. Kata Mbak nya Jamu beras kencur. Kalau setelah melahirkan baru jamu kunyit. Jamu kunyit tidak boleh diminum saat hamil. Alhasil saya pun mnum segelas jamu beras kencur. Segernya, alhamdulilah. 

Setelah minum, pulang ke rumah nyerahkan belanjaan ke bibi langsung searching bolehkah minum jamu gendong beras kencur untuk ibu hamil. Hemm...dari banyak tulisan dan sumber tidak ada larangan konsumsi jamu beras kencur untuk ıbu hamil, malah bagus. Kecuali jamu kunyit tidak ada satu pun yang membolehkannya dikonsumsi saat hamil. Untuk itu, akhirnya saya nginbok Mbak di kampung halaman, yang sudah berpengalaman. Apakah boleh minum jamu beras kencur saat hamil. Mau nanya dr. Dewi (dokternya dedek bayi) masih harus menunggu jadwal kontrol. Kita nunggu balasan dari Mbakku tersayang.

Oke, dah dulu ya. Saya mau cek bibi, biar hasil pepes ikan kembungnya sesuai dengan yang saya fikirkan hasilnya. :) :) 

Wednesday, February 24, 2016

demikian aku mencintaimu

Awet. Sudah sejak siang Depok hujan, derras sekali. Melihat air hujan seperti ini kadang-kadang rindu juga dengan salju kota Ankara. Hujan salju yang nyaris telah membuat nyali ummi ciut ketakutan masa pregnant bulan ke 5. 

Sebenarnya ummi selalu gembira kalau salju sedang turun, namun pagi Rabu itu pasalnya ada kelas Istatistik, wajib membawa leptop. Diluar salju turun hebat. Ya Allah, "Bukan ummimu ini tak nak ke skul Anakku," duuh...alangkah beratnya menempuh perjalanan 2 jam ke kampus itu, dalam keadaan seperti benar-benar tidak punya energi. Mau pingsan di bis...sudah sangat keseringan. 

"Oturabilirmiyim lutfen." **could I take sit please. Kalau sudah benar-benar tidak kuat berdiri jika bis sedang penuh ummimu ini baru cepat-cepat intrupsi. Pertanda sudah mau pingsan, keringat dingin. Hoho~ semua penumpang jadi menoleh, terpusat pada ummi. "Ada orang asing minta duduk, barangkali sedang sakit." Mungkin begitu fikir mereka.

Hujan salju Rabu pagi itu untuk pertama kalinya telah berhasil memporak porandakan tangis ummi di depan pintu gerbang Hukuk Fakultesi, alias fakultas hukum. Huwaah..akhirnya nangis juga, dududu~ bukan karena ummi tak nak berjuang, melainkan tak ada energi lagi buat menjangkau fakultas. Ya Allah, ingin sekali rasanya mengeluh tapi malu. Badan ummi sudah lemah sekali rasanya. Tas ummi selalu tersedia bekal, tapi tetap saja lemah sekali rasanya. Allah...berilah kekuatan agar hamba Mu ini bisa sampai di kelas buat belajar. Salju masih lebat, tentu saja plus jalanan sangat licin. 

Tidak adakah orang lalu lalang yang iba hati. Oho~ rasa-rasanya sudah berapa orang Turki yang menawarkan bantuan mengangkat tas leptop ummi. Selama masih mampu, jangan pernah bergantung pada orang lain. Minta tolong sama Allah, pasti pertolongan Allah itu dekat.

Dududu~ kalau ingat masa-masa perjuangan itu ummi rasanya buncah. Bagaimana proses pertolongan Allah itu terlihat sangat dekat dan nyata, selalu ada dimana-mana dan kapan saja.

Galau? Bolehlah kita galau, namun pesan ummi sesekali saja ya. Tak boleh pula larut-larut galau, kecuali galau boleh lihat orang rajin tilawah, sedekah atau apa-apa yang baik.

Dah, itu saje dulu yee coret-coret tangan ummi. #tulisansuka-suka
Evi Marlina, 8month of pregnant, 24022016

Monday, February 22, 2016

Handphone atau shalat Jama'ah

Hujan turun sejak semalaman ketika kami mendarat di bandar udara Soekarno. Alhamdulillah Jakarta hujan. Cepat-cepat segera komat-kamit berdoa, sebelum hujannya reda. Senang sekali rasanya mendarat setelah isya dan langit ibu kota dipenuhi curah air hujan. Pasalnya itu berarti hawa panas Jakarta bisa berkurang dan terasa lebih sejuk. 

Bertambah melimpah kegembiraan hati oleh sebab malam minggu jalanan sepi, tidak macet mengular seperti hari-hari kerja biasanya. "Jakarta kelihatan bagus kan kalo malam hari, mandi lampu." Suara Mas Faris di sela-sela beratnya mataku menahan kantuk. Mobil Damri jurusan Bogor sayup-sayup merayapi jalanan kota Jakarta yang sepi lengang, bebas macet.

Di dalam bis terlihat para penumpang dipenuhi sesak wajah yang kelelahan. Tidur pulas di kursi masing-masing. Sementara kami sibuk mematikan AC yang berada tepat di atas kepala. Mas Faris bilang aku ini tidak berbakat jadi jutawan karena tidak kuat bau AC. Duh...¿%¿¡¥
😨
Kehidupan Jakarta. Entahlah apa yang tengah difikirkan oleh para penjaja makanan di pinggiran sungai hingga larut malam begini di seberang jalan sana. Begitu kerasnya kota ini sampai-sampai udaranya pun ikut membakar. Tantangan kita dan anak-anak saat ini ke depannya tentu lebih hebat dan besar lagi. 

"Jadi, dalam rangka menyiapkan anak-anak yang siap menghadapi tantangannya seharusnya para orang tua lebih khawatir jika anak-anaknya tidak shalat berjamaah di masjid dibandingkan tidak punya handphone atau i-pad." 

Ngiing...suara Mas Faris kemaren siang kembali terngiang-ngiang dikedua telingaku. Mobil Damri terus melaju, kaca jendela mobil dipenuhi rintik-rintik hujan. Allahumma shayyiban naafi'an..

24012016

Ba-ba

Ba~ba


I love you Baba 
Mom told me that you are a great reader, her best partner 
Days become too short 
when we're together...
I'll miss and love you till jannah, 
in sha Allah
Love you my Baba



A poem by little Baby, 8th month of pregnant

Dedicated to her/his beloved Baba @farisjihady
photo was taken by Mom while waiting the doctor in front of hospital, 100216

Sepatu Siapakah ini?

Sepatu Siapakah ini?
================



Hari masih berkabut pagi, harum rumput Puncak Bogor dengan baiknya masuk perlahan dari celah-celah kaca jendela yang setengah terbuka. Terlihat Mas Faris di luar sana bersenandung teduh di bawah sisa hujan, menikmati aroma embun rumput hijau dan pegunungan biru yang berbaris rapi di sisi lereng. Aku tengah berkemas, menyiapkan keperluan. Sementara televisi bersuara, menyala riang. Rasa pegal dikaki meminta menyempatkan duduk sejenak, kedua bola mataku melayangkan pandangan pada sebuah tayangan film yang membawa ingatan era kanak-kanak.

"Kamu nonton filem apa tuch?" 
Tiba-tiba suara Mas Faris bersandar di sisi telinga.

"Hihi, ini filem zaman kanak-kanak Masku." Jawabku singkat.
"Filem begituan kok ditonton." Kata Mas Faris lagi.
"Bukan Mascim, tadi pas dinyalain yang muncul langsung film ini."
***
Siapakah yang tidak mengenal kisah putri malang pemilik sepatu nan indah ini? Sepatu yang kisahnya membuat anak-anak di pelosok desa terpencil pun berlomba-lomba untuk memilikinya. Diproduksilah beragam sepatu kaca dengan tujuan utama anak-anak sebagai konsumennya.
Sepatu kaca milik puteri Cinderella ini adalah satu fenomena dari sekian banyak kisah dongeng negeri khayangan yang demikian terlihat cantik dan menarik hati, film dongeng yang mampu mengajak anak-anak berimajnasi penuh, serta mendorong keinginan menjadi seperti mereka. Tidak kalah lagi dengan film Berbie yang berpakaian seperti putri ratu, mendorong anak-anak juga menginginkan menjadi seorang puteri.
Dalam kisah Putri Cinderella "mungkin" dalam tanda kutip, ingin menyampaikan kebaikan nilai bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan. Kisah Putri Rapunzell, Puteri Salju dan masih banyak kisah-kisah puteri-puteri negeri dongeng lainnya. Namun, sayang sekali seiring anak-anak kita (anak didik, anak-anak tetangga, dan adik-adik kita) yang tumbuh menjadi dewasa, kenyataannya tidaklah mereka temukan sosok puteri impiannya itu dalam kehidupan nyata. Tokoh kebaikan itu ternyata semu. Tidaklah pernah ditemukan dalam buku-buku sejarah sekolah mau pun dalam peninggalan di ruang museum.
Kisah yang dikemas "seolah-olah" adalah sesuai untuk usia anak-anak ini, baik kita sadari mau pun tidak bukankah sebenarnya kurang tepat bahkan tidak layak menjadi konsumsi mata, dan fikiran anak-anak. Disana banyak kita temukan sisipan kisah-kisah "cinta pangeran dan sang puteri." Hampir kebanyakan rata-rata semua film negeri dongeng dengan "sasaran utama anak-anak" menyisipkan tentang "kenyataan yang sesungguhnya berbahaya" bagi pergaulan dan perkembangan anak-anak bukan? Tentu tidaklah kita menginginkan anak-anak tumbuh dengan sosok-sosok idola yang sungguh semu ini.
"Padahal kisah-kisah sesungguhnya memainkan peran yang demikian penting dalam membangun kesadaran akal dan intelektual anak. Bahkan menempati posisi pertama dalam metode pengembangan pemikiran anak yang efektif. Kisah-kisah Rasul adalah kisah-kisah nyata yang bersumber dengan referensi yang murni. Mengisahkan sejarah kehidupan mereka adalah sebaik-baik cara untuk menanamkan nilai-nilai utama ke dalam jiwa anak." (Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid).

Depok, 21022016

Monday, December 21, 2015

Sebuah Romantika; Balada bagi yang tengah jatuh hati

Bismillahirrahmanirrakhim


Tidak terlihat matahari memancar terang dari ujung pucuk pohon gugur hari ini. Tidak pula gaduh suara tetangga apartemen bawah yang sering meramaikan suasana pagi, siang mau pun petang. Keadaan terasa sedemikian tenang. Hari yang bagus untuk membaca buku, atau menjelajahi angka-angka perhitungan yang pada akhirnya mampu menjebolkan daya tahan imun tubuh. Telak! Ambruk...apalagi dengan musim bersuhu mendekati minus, tubuh asia akan mudah terkena batuk, flu, dan semacamnya. Paling tidak sudah lebih baik dan tidak mimisan seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

***

Ah...pendahuluan yang bertele-tele :p. Menulis walau bagaimana pun adalah terapi yang murah, mudah dan sederhana untuk menyibak kabut dan fikiran yang penat, padat. Sama halnya terapi saat seseorang di rundung gelisah karena topik cinta, bukankah mudah melahirkan karya-karya besar saat seseorang berkembang hatinya dengan satu kata ini? Yah..."cinta" 💕

Hahaks...sejak kapan saya begitu bersemangat untuk menulis tentang hal ini. Ah sudahlah, mari kututurkan kilas balik sebuah kisah bertema cinta. ***


Alkisah tersebutlah sebuah nama yang mungkin sedikit asing di telinga kita. Kisah tentang kasmaran yang mendera seorang pemuda berketurunan Turki dan Persia. Pemuda yang sungguh terkemuka dan mashur sosoknya, memiliki banyak guru dan pembimbing kecerdasan fikir dan keindahan budi bahasa. Memiliki hobi mendermakan harta, kemampuan yang tidak diragukan lagi dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Alangkah sempurnanya pemuda berdarah dua negara ini.

***

Suatu kesempatan masa pemuda nan alim dan penuh ilmu ini terlibat dalam pergolakan batin kisah cinta yang menjadikannya tergila-gila kepada seorang gadis. Sebuah rasa alami yang timbul pada diri manusia

Ah...rasanya memang semua serba berbeda dan dunia menjadi hanya dua sisi saja ketika kita "jatuh cinta."

Sama halnya dengan pemuda yang penuh ilmu ini, ia terus menerus dilanda kegundahan hati. Suatu malam, di musim dingin yang menggigit ia berjalan meninggalkan rumahnya dan berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya, sampai pagi menjelang karena begitu besarnya keinginan untuk melihat kekasihnya walau hanya untuk sekilas saja. 

Sementara salju turun dengan deras, sepanjang malam. Hingga ketika adzan subuh terdengar pemuda itu masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shlat isya.

Fajar pun menyingsing, langit terlihat merekah dari selimut petang. Barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dan merindukan kekasihnya itu. Pemuda itu memarahi dirinya sendiri "Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat kerinduanmu itu. Tetapi apabila seorang imam shlat membaca surah panjang engkau menjadi demikian gelisah."

***

Sejak peristiwa itu hatinya menjadi penuh dengan gundukan kegundahan. Kemudia dengan terhantuk-hantuk ia bertaubat dan kembali menyibukkan diri dengan beribadah pada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus dimulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.

***

Setelah melakukan pertaubatan pemuda itu meninggalkan kota Merv dan menetap di Baghdad untuk beberapa lama, ia bertemu dengan para tokoh sufi. Setelah dari Baghdad ia menuju Mekkah dan kemudian kembali ke kota Merv. Mendirikan sekolah tinggi untuk golongan sunnah dan fiqh.

Suatu hari pemuda ini melalui sebuah tempat, orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada disitu bahwa pemuda ini sedang melewati tempat itu. "Mintalah kepadanya sesuatu yang engkau butuhkan!" Orang buta itu pun berseru, "ya Abdullah berhentilah." Pemuda yang dipanggil Abdullah itu pun berhenti. " Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini." Pemuda itu pun menundukkan kepala lalu berdia. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali. Allahu Akbar!
***

Yah...ialah seorang ahli hadits yang terkemuka. Namanya harum dengan kisah romantik dan perjuangannya melakukan pertaubatan. Ialah ABDULLAH BIN AL-MUBARAK.

Di tulis pada 16 Desember 2015 
(disampaikan pada kulsap ODOJ MJR SJS)

Muslimah dan Pendidikan Sepanjang Hayat

Oleh : Evi Marlina 
(seorang istri & Master Candidate of Educational Psychology, Ankara University - Turkey)


Muslimah dan Pendidikan Sepanjang Hayat
Dua kata ini memiliki kekuatan magnet yang mampu menyuntikkan energi harapan, mengubah haluan, mengokohkan peradaban, dan cita-cita sebuah keluarga, masyarakat pun yang lebih besar dan luas dari itu adalah negara. Muslimah dengan perannya sebagai keran pembuka kunci madrasah kehidupan bagi anak-anak, keluarga dan masyarakat disekelilingnya memiliki fungsi dan kedudukan yang signifikan dalam mendorong, menginspirasi, memberikan gagasan serta kiprah amalnya di tengah lautan dinamika masyarakat. Muslimah dengan karakter keibuan dan fitrahnya sebagai ibu mampu memainkan peran sebagai cahaya pelita berbagai problematika kehidupan.
Predikat sebagai muslimah adalah predikat sekaligus prestasi besar yang melekat pada seorang wanita muslim. Dalam predikat ini melekat nilai-nilai, aturan, akhlak, dan semua keindahan perilaku yang terbingkai dengan gelarnya sebagai muslimah. Menjadikan seorang muslimah mulia dan bermartabat. Menjadi kunci dan senjata utama bagi muslimah dalam mengontrol tutur kata, pemikiran, tulisan, tingkah laku dan pada semua aspek kehidupannya. Demikianlah Allah dan Islam telah menempatkan kedudukan wanita muslim. Mengangkat pada derajat yang membuatnya menjadi tinggi dan mulia. Maka terlahir menjadi muslimah adalah prestasi yang tidak ternilai sebagai bekal mengarungi perubahan arus zaman.
Muslimah serta peran yang melekat padanya sebagai madrasah bagi keluarga dan masyarakat membutuhkan instrument perangkat yang akan membantunya menjalankan fungsi mulia tersebut. Islam secara nyata telah memberikan panduan berupa Al-Qur’an dan Hadits yang akan menuntunnya menjalankan peran-peran besar. Salah satu perangkat yang harus digunakan untuk memperoleh dan menyempurnakan kapasitas pemahaman adalah dengan melakukan tholabul ‘ilmi. Menggali dan memperdalam keilmuan yang akan mengangkat derajatnya pada hakikat kemuliaan yang haqiqi. Menggali ilmu agama sebagai bekal dasar yang akan membuatnya kokoh dalam proses menggali ilmu Allah yang jumlahnya tanpa batas, sesuai dengan bidang ilmu yang ia gemari; pendidikan, keagamaan, ketrampilan, olahraga, konseling, kedokteran, kewirausahaan, teknologi, psikologi, filsafat, sastra, komunikasi, ekonomi, astronomi dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Stoet, kesimpulan penemuan penelitiannya mendukung gagasan bahwa rata-rata kaum wanita memiliki kemampuan multi-tasking lebih baik dari kaum laki-laki dalam beberapa tipe multi-tasking  (Stoet, Gijsbert. 2013). Tentu saja wanita dengan kemampuan multi-tasking yang ada pada dirinya ini merupakan karunia Allah yang menjadi nilai tambah keunggulan istimewa bagi muslimah dalam mengakselerasi kapasitas intelektual/ tholabul ilmi.
Semakin dalam ilmu yang ia gali akan semakin besar pula kesempatan baginya menjadi guru-guru besar bagi keluarganya, bagi anak-anaknya, dan bagi masyarakat disekelilingnya. Semakin tajam dan luas pengetahuan yang ia miliki semakin besar pula kesempatan baginya menjadi referensi dan rujukan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat luas. Menjadi obat penawar dan solusi kreatif dengan keilmuan yang ia miliki. Lebih jauh dari fungsi itu, semakin kokoh pulalah peran muslimah menjadi pondasi dan guru-guru bagi lingkungnnya.
Derasnya gelombang arus perubahan zaman menuntut muslimah mengambil peran lebih besar dalam tataran global. Kehidupan masyarakat yang ada disekelilingnya merupakan sebuah universitas alam raya dengan corak dan karakter tantangan yang berbeda. Beragam keadaan secara tidak langsung telah mendidik muslimah dalam mengimplementasikan keilmuan ibadah praktis yang lebih luas dan umum. Kehidupan masyarakat menjadi sumber-sumber ladang ilmu bagi muslimah dalam kajian praktis menghadapi tantangan perbedaan lintas budaya, agama, ras, suku, bahasa, adat kebiasaan mau pun keyakinan terhadap Tuhan. Tantangan ini menjadi berlapis-lapis paket ilmu bagi muslimah dengan panduan pemahaman yang baik terhadap fungsinya sebagai pemegang predikat muslimah. Bagaimana ia berupaya mengimplementasikan perannya di tengah-tengah universitas alam raya. Sebagai dirinya sendiri, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai masyarakat, sebagai pendidik atau sebagai pemimpin dan penggerak ditengah lingkungannya. Rasulullah bersabda: “Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang yang dipimpinnya.”
Pendidikan sepanjang hayat menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi guna mempersiapkan generasi-generasi yang siap menghadapi ketidakpastian masa depan dengan segala tantangannya. Predikat sebagai muslimah dengan bekal pemahaman agama yang baik, kokoh dan matang menjadi akar pondasi utama muslimah untuk berperan di kancah peradaban umat, sehingga pendidikan sepanjang hayat bisa menjadi jembatan baginya menjadi professor ditengah-tengah keluargannya. Professor yang akan melahirkan anak-anak dengan pemahaman agama yang kuat dan baik, professor atau pun guru-guru yang akan membangun masyarakat yang berilmu dan berakhlakul karimah. Masyarakat yang akan menjadi pilar-pilar cahaya bagi terwujudnya bangsa yang bermartabat,  unggul dalam akhlak dan ilmu pengetahuan. Dikatakan dalam sebuah syair Arab yang populer “Al-ummu madrastul ula, iza a’dadtaha a’dadtha sya’ban thayyibal a’raq,” Ibu adalah madrasah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.” Wallahu ‘alam bishawwab.


di tulis pada sebuah musim gugur
Ankara - Turkey, 19 November 2015

Di terbitkan pada 21 Desember 2015 menjemput hari Ibu

Friday, December 11, 2015

Kebaikan itu akan selalu seindah namanya #4

Kebaikan itu akan selalu seindah namanya #4


Ankara..

Entah sudah berapa banyak aku menuliskan penggalan-penggalan jejak kisah suka duka tentang kota ini. Banyak kepingan memori yang tidak cukup aku tulis dalam barisan kata yang singkat, setiap kebaikan yang ditanamkan orang-orang yang ada baik jauh mau pun dekat yang hadir dalam setiap nafas dan hiruk pikuk kehidupanku. 

Seberapa pun kecil atau seberapa besarnya, tentu saja aku tidak akan pernah bisa melupakan semua kebaikan itu. Itu adalah keajaiban yang Allah berikan kepada kita manusia, tidak ada kekhawatiran di dalam dada manusia selama ia menyandarkan kepada sandara yang Maha Kuat.

Kota Ankara, aku banyak belajar dari kota ini. Segala keangkuhan panasnya arus suhu politik dan keramahan orang-orang yang aku jumpai disebalik keangkuhan sisa-sisa sekularisme. Disini aku mendapatkan keluarga baru yang tidak pernah saling mengenal satu sama lain pada mulanya. Menjadi bagian dari kehidupanku. Berjumpa pada teman-teman dengan warna mata yang beraneka warna. Menjumpai kebaikan-kebaikan pada banyak jengkal dan sudut waktu. Maka kenikmatan apakah lagi yang lebih besar, selain kenikmatan karena Allah menjadikan diri kita terlahir sebagai seorang muslim. Kota ini menjadi saksi bagaimana aku menjumpai banyak kebaikan dan kemaha Agungan Allah atas semua kebesaran Nya di belahan bumi mana pun itu. Seperti pada kisah di sore itu...

***
Suatu sore serampung kelas aku memutuskan untuk mampir di kedai nasi Turki yang ada di seberang jalan utama pintu gerbang Kampus Ankara Univ, Cebeci. Aku memutuskan makan di kedai karena selain harganya lebih bersahabat dengan kantong mahasiswa juga karena kerinduan menikmati sayur Fasulye yang dicampur salca semacam saus tomat khas Turki. Kedai keci yang berada di sudut kafe-kafe mewah itu terlihat sepi, saat aku memutuskan masuk dan duduk di salah satu kursinya hanya terdapat seorang kakek tua yang duduk bersama cucunya yang masih sangat kecil. Tengah menikmati menu yang sama dengan menu yang aku inginkan, ia duduk di seberang kursi di depan ku, duduk memunggungiku.

Aku duduk sendiri sembari memesan menu. Tidak ada yang aku fikirkan selain karena waktu yang memburu, aku harus segera pulang dan sampai di rumah. Aku tidak berani untuk menunda makan karena aku harus memenuhi hak janinku. Sesekali memberikan pandangan kepada cucu sang kakek yang duduk di seberangku. Aku tersenyum memandang bocah kecil Turki yang lucu itu. Terdengar ia merengek dan menangis karena ingin makan dengan tangannya sendiri, namun sang kakek menolak dan dengan sabar menyuapi cucunya tersebut dengan sangat telaten. "Ya Allah, alangkah baiknya sang kakek ini." Bisikku dalam hati.

Tidak berapa lama sang Kakek berdiri dan menggandeng tangan cucunya. Menemui kasir dan bergegas meningglkan kedai. Aku masih dengan fikiranku, tertegun pada kebaikan sang Kakek kepada cucunya. Kemudian melanjutkan menghabiskan nasi dan sepiring Fasulye bercampur potongan daging ayam. Belum usai pada suapan terakhir di piring seorang petugas kasir memanggilku.

Aku menoleh, oh barangkali mungkin kedai akan segera di tutup karena tidak lama lagi akan tiba adzan magrib. Sang petugas kasir kemudian berkata: "Abla tidak perlu lagi membayar makanan Abla." Aku terkejut, "Lho kenapa?"

"Kakek yang duduk di seseberang meja Abla tadi yang telah membayarkan makanan yang abla pesan." Jawab petugas kasir dengan ramah.

Aku...

Segera aku kirimkan pesan pada suami mengabarkan tentang ini. "Masha Allah, semoga kebaikan untuknya pula." Jawab Mas Faris. Segala puji hanya bagi Allah.

Sakura RT
Ankara, 11 Desember 2015



Thursday, December 10, 2015

catatan tentang rintik salju kali ini

Salju turun perlahan setelah beberapa menit yang lalu langit gelap dan hujan turum dengan derasnya. "Masha Allah." Gumamku dalam hati. Baru beberapa menit yang lalu hujan mengguyur kota Ankara, beberapa detik kemudian berganti dengan guyuran putih salju yang turun mengarak putih. Sementara aku masih berdiri menghadap jendela kamar apartemen, menatap lorong jalanan yang lengang. Tidak terlihat orang berlalu lalang. Gembira bercampur resah, pasalnya hari Rabu itu adalah kelas pertemuan untuk ujian analisis statistik. Cemas bagaimana mengangkut benda berat bernama leptop. Jalanan akan basah dan suhu minus akan sangat dingin di luar sana.

Bismillah! Aku menguatkan hati setelah mengirim pesan pada suami.
"Jadi bagaimana? Mau tetap berangkat ke kampus?" Tanya Mas Faris dari pesan yang ia kirimkan.

"Iya Masku, aku harus tetap berangkat ke kampus hari ini." Jawabku mantap, meski sebenarnya hatiku berdebar tidak karuan. Memikirkan beratnya perjalanan jauh yang harus aku tempuh dari rumah ke kampus, ditambah hujan salju yang turun dengan lebatnya.

Setelah bersiap sarapan, mengenakan pakaian dingin, kazak wol, kaus kaki, sarung tangan, syal dan padesu tahan air aku pamit berangkat meninggalkan rumah. Mencangking tas ransel yang berisi leptop. Lumayan padat dan berat. "Oh...kuatkanlah ya Rabb." Inı adalah perjalanan untuk yang kesekian kalinya ke kampus mencangking tas yang berisi leptop. Kandunganku sudah memasuki bulan ke enam, sehingga kesulitan mengangkat beban. Terlebih leptop yang sudah tidak mungkin untuk aku gendong di punggung.

Perjalanan yang tidak mudah di lewati di masa kehamilan ini. Perjalanan yang biasanya bisa aku tempuh hanya dengan maksimal 1 jam kini menjadi 2 jam perjalanan, mulai dari berjalan kaki menuju halte, menanti bus arah kızılay, pejalanan bis menuju kızılay, lalu melanjutkan berjalan kaki ke metro kereta, naik kereta, dan melanjutkan jalan kaki menuju kampus. 

Hari itu, salju turun bertambah deras dan kuat, aku lupa membawa payung. Untunglah syal panjang yang tidak sengaja aku beli dari seorang nenek tua di tepi jalan beberapa minggu yang lalu mampu melindungi kepala dan hidungku dari tajamnya salju pagi itu. Lelah tubuh memang tiada terkatakan, aku tidak mampu berjalan dengan cepat karena mencangking beban leptop. Menyerah? Itu bukan pilihan terbaik. Menangis? Boleh saja, namun tidak ada pilihan selain melanjutkan perjalanan menuju kampus. Kufikir tidak akan ada bedanya jika meminta izin tidak berangkat ke kampus karena hujan salju ini, yang terpenting adalah aku masih sehat untuk melanjutkan perjalanan meski sudah lemah sekali fisikku. Dalam hati berulang kali mengingatkan kisah-kisah para shabiyah yang juga menempuh perjalanan hijrah dalam keadaan mengandung. Ya Rabb, ujianku ini tidaklah seberat para sahabat. Aku masıh bisa naik bis. Boleh berhenti dan menangis namun hanya untuk sejenak, bukan untuk berhenti dan berbalik ke belakang.

Alhasil setelah nyaris dua jam perjalanan, aku menangis di sisi gerbang Hukuk Fakultesi. Tempat biasa sang Paman Tua penjual roti simit. "Ya Allah, beratnya perjuangan ini. tidaklah Engkau memilihku untuk melewati ujian ini melainkan karena in sha Allah aku mampu melewatinya." Aku menyembunyikan suara tangisku di bawah hujan salju, sesegera mungkin menghapusnya dengan syal yang membalut kepalaku, bersembunyi di sisi gerbang Fakultas Hukum. Tidak pula berani mengabarkan ini pada Mas Faris, aku tidak mau membuatnya semakin mencemaskan keadaanku. Setelah tuntas tangisku, aku melanjutkan perjalanan menuju Fakultas, mampir di ruang makan umum mahasiswa di kampus. Melepaskan semua letih dan penat, menikmati sup hangat dan sepiring Fasulye becampur potongan daging sapi. Aku segera mengabarkan pada suami bahwa aku telah sampai dengan selamat. Alhamdulillah ya Allah.

Pukul 14:00 masuk ke dalam kelas. Hanya terdapat beberapa orang. Oh..ternyata karena hujan salju banyak yang tidak hadir hari itu. Kelas ujian analisis di pending pekan depan. "Masha Allah." Aku memandangi leptopku...

Salju turun hingga petang, kelas usai pukul 16:30 Turki. Serampung shalat ashar dan menanti shalat magrib aku duduk mematung di depan fakultas. Hoca berulangkali menanyakan apakah aku merasa berat membawa leptop ke kampus. "tentu saja leptop ini sangat berat." Dalam hatiku, meski aku akan membawanya dengan senang hati, jika memang harus belajar menggunakan leptop. 

Aku pamit meninggalkan kampus, menikmati salju yang berbentuk bintang turun memenuhi langit kota Ankara. "Lihat Nak, indahnya langit yang dipenuhi salju, sungguh segala puji hanya bagi Mu Allah." Bisikku pada janin dalam rahimku.

"Sayang, kamu sudah dimana?" Handphoneku bergetar.
Aku membaca dan menyambut pesan itu dengan sepenuh cinta. Sembab mataku penuh haru dan kerinduan. Sebuah pesan dari separuh jiwaku, Suamiku Ust. Faris Jihady Hanifa, alhafidz. I love You Masku, terimakasih atas kasih sayang dan semua kebaikanmu padaku.

Ankara, 10122015 
sumber foto : snow in Ankara, 2015
www.flickr.com


Friday, November 27, 2015

sepotong kisah pagi dari Riyadh dan Turki

Beberapa hari ini kota Riyadh diguyur hujan cukup deras. Hingga banjir yang membuat jalan-jalan tergenang air. Mobil tertahan pada beberapa lokasi jalan. Alhamdulillah, syukurlah kemaren sore suami mengabarkan keadaan sudah mulai mereda, matahari mulai bersinar kemilauan meski sisa-sisa genangan air masih menyisakan aromanya. Jalanan kota Riyadh terlihat lengang, namun langit mulai memendarkan cahaya putih kebiruan.

"Itu kota ayahmu Nak." Negeri seribu jejak kerasulan. Suaraku sore itu menceritakan apa saja yang dikabarkan suami pada si kecil. Sentuhan-sentuhan gerakan kecil dan lembut terasa demikian girang di dalam rahimku. Mungkin ia merasakan hal yang sama seperti yang tengah kami rasakan.

"Kota Ankara mulai memasuki musim dingin Masku. Langit mulai gelap dan udara bertambah lembab dan tajam." Aku mengabarkan cuaca kota Ankara kepada suami.

Ada hal yang menarik pada peristiwa alam setiap memasuki musim dingin, siang yang menjadi demikian singkat dan pendek, sebaliknya malam menjadi bertambah panjang. Peristiwa alam yang penuh misteri, menyimpan rahasia kebesaran sang Maha Pencipta yang Agung. Kultur masyarakatpun berbeda setiap kali musim dingin tiba, berduyun-duyun mereka mengenakan baju tebal berbahan kulit atau pun wol, kafe-kafe pedagang teh hangat dan manisan bertambah ramai dan semakin padat merapat. Hasil panen musim panas berupa cabai, terung, buah yang dikeringkan menjadi menu utama setiap musim dingin tiba.

Turki dan Riyadh, adalah dua negeri asing yang bersemayam di dalam hatiku. Padanya terdapat milyaran keajaiban yang menyimpan jejak sejarah dan lembaran-lembaran episode. Ada banyak hal menarik yang menjadi catatan khusus pada dua kota bersejarah ini, khususnya pada perbedaan tradisi dan karakteristik masyarakatnya. Karakter yang khas dari masing-masing keduanya. Dan... akan selalu menarik untuk dikaji, belajar dari sumber-sumber mata air sejarah. Tidak akan pernah habis dan kering. **to be continued..

Catatan Evi Marlina

cc. Masku @farisjihady

Ket foto : KSU dan Daun musim gugur kota Ankara (koleksi pribadi)


Tuesday, November 10, 2015

to my dear Husband #Son Bahar 2015

nothing says "home" like the arms of my husband (anonim)

08 Februari 2015 (hari pernikahan)

alhamdulillah, hari ini 10 November 2015  genap 9 bulan 2 hari perjalanan pernikahan kita Masku. Segala puji hanya milik Allah atas karunia Nya yang terbentang tanpa limit. Mencurahkan ikatan rasa kasih sayang yang terhunjam dalam lubuk hati-hati kita. Seiring dengan usia kehamilan yang Allah amanahkan kepada rahimku, 17 minggu 3 hari. Tidak terasa waktu sedemikian cepat berganti bagaikan sang musafir yang menempuh perjalanan dari satu negeri ke negeri yang lain. 

Banyak kisah yang tersusun dalam ruang waktu yang kita singgahi. Semoga Allah menghimpunnya dalam keridhaan dan ampunan Nya. Kegembiraan, suka, duka mengiringi setiap bait hela waktu perjalanan. Aku memohon kepada Allah, semoga kita tidak akan pernah mengenal kata lelah menjadi hamba Nya yang paling haus untuk selalu bersyukur. 

Suamiku, yang telah bersabar atas masa-masa yang sulit. Lembaran waktu yang Allah titipkan kepada kita di musim panas kota Turki. Engkau yang rela belajar memasak dengan susah payah ketika aku dalam keadaan lemah dan sakit. Membuatkan menu kesukaanku dengan penuh kehati-hatian dan kasih sayang. Betapa semua itu selalu membuatku tidak pernah behenti merindukanmu.

Engkau yang dengan setia menyimak semua kegelisahan dan cerita yang tak berujung. Suamiku, yang tidak pernah memaksaku untuk menyetorkan hafalan, menyetorkan bacaan tilawah, membaca sirah, memperdalam bacaan agama, membaca tafsir dan banyak hadits dll...sungguh ia tidak pernah memaksaku untuk melakukan itu. Tidak pula ia memaksaku untuk memasak yang sulit berupa ini dan itu, tidak memintaku menyetrika, mengepel rumah, mencuci baju dan banyak hal lainnya. Namun, sikapnya yang memahamiku sedemikian rupa penuh kasih sayang membuatku menyimpan cinta yang sedemikian dalam. Membuatku bertahan di dapur berjam-jam untuk belajar memasak menu kesukaannya, membuatku semakin haus dan merindukan ilmu pengetahuan, membuatku semakin menyimpan rasa bahwa aku sungguh "jatuh cinta" pada sosok yang padat ilmu itu. 

Kala menekuni banyak kisah sahabat Rasul nan gemilang dengan ilmu teringatlah pada sosok suami, kala menyelami sosok sahabat yang bercahaya teringatlah pada sosok suami. Ia (suamiku) seumpama lautan ilmu yang aku bisa berenang mendapatkan segala jawab yang aku pinta. Sungguh segala puji hanya bagi Allah. Hamba berlindung pada Mu dari sifat yang berlebihan ya Allah. 

Dear suamiku, ya Ustadz Faris Jihady, al-hafidz. Semoga Allah merahmati semua kebaikanmu, mengangkat derajatmu pada kemuliaan yang haqiqi di sisi Allah. Terimakasih telah menjadi suami atas anak-anak kita kelak insha Allah. Terimakasih telah menjadi pemimpin bagi kehidupan dunia dan dienku. Ampuni dan ridhailah segala khilaf yang mungkin lebih banyak kau jumpai dari pada kebaikanku. Ridhailah aku menjadi tulang rusuk di dunia dan diakhiratmu. "Semoga Allah mengukuhkan cinta kita di atas manhaj Al-Qur'an." (serangkai doa Mas Faris dalam Tafsir pernikahan). Aamiin ya Rabb.

Berkahilah dan lindungilah keluarga kami dengan keridhaan Mu ya Allah. 
Aamiin..

I love you Mascim...❤
Ankara, 10 November 2015