Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Monday, October 6, 2014

Surat Cinta dari Turki kepada Jamaah Haji Indonesia

Tulisan yang saya tulis di malam hari kelahiran saya 03 Oktober 2014, bertepatan dengan 08 Dhul Hıjjah 1435 H, sehari menjelang harı raya ıdul adha. Kepada jamaah haji Indonesia. Semoga bermanfaat. 


===========

dakwatuna.com – Musim berganti, gugur daun kota akan segera tiba. Sore kemaren seorang Paman menyapa saya, ketika saya menyempatkan menyapa satpam petugas gedung ATAUM yang terkantuk. 

“iyi akşamlar Ağbey.” Selamat sore Pak. “iyi akşamlar.” Jawabnya dengan wajah setengah kaget dan sepasang senyum sumringah. Sesampainya di pintu luar sebuah suara berbeda menyapa dari belakang.

“Nerelisin?” Dari mana asalmu? Tanya suara sang Paman.
“Malezyalımısın?” Apakah kamu orang Malaysia. seorang Paman yang sepertinya mahasiswa Ph.D, kira-kira berusia 45 tahun.

“Hayır Ağbey, Endonezyalıyım.” No sir, I’m Indonesia.” Jawab saya.
“Iya Indonesia dan Malaysia memang mirip.” Kata sang Paman. Saya tersenyum mengangguk, mengiyakan. Pasalnya kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi.

“Saya mengenal baik orang Indonesia.” Lanjut sang Paman. Saya menyimak, kebetulan kami berjalan searah menuju gerbang kampus.

“Saya bertemu orang Indonesia saat menunaikan ibadah haji di Mekkah.” Jelas sang Paman. Saya tersenyum. Dan pasalnya juga pernyataan kisah tentang pertemuan antara orang Turki dengan jamaah haji Indonesia seperti petang ini juga untuk yang kesekian kalinya, meski dengan orang yang berbeda. Sebagaimana nyaris genap 2 tahun saya tinggal di Turki mungkin ini kisah entah yang keberapa kalinya tentang betapa gembiranya jamaah haji Turki bertemu dengan jamaah haji Indonesia. Lalu apakah kiranya yang menarik dari perbincangan singkat petang itu?

Siluet matahari merunduk dari celah-celah rimbun pepohonan buah kiras. Membuat wajah sore itu semakin sempurna menyambut senja. Wajah kami terlihat keorangean oleh sinar matahari yang mereda. “Jamaah haji Indonesia jumlahnya banyak sekali. Di mana-mana wajah Indonesia. Mereka berjalan beriringan dan tidak saling terpisah. Berbeda dengan kami, berpencar satu sama lain. Jamaah haji Indonesia duduk dialun-alun membaca Al-Quran dengan khusyuk. Ramah sekali meski kami tidak saling mengerti bahasa satu sama lain. Dan jika ada yang berpakaian seragam rapi dan tertib, itu pasti jamaah haji dari Indonesia.” Ungkap sang Paman panjang lebar, senyumnya terkembang menunjukkan hatinya penuh gembira. “Itu sebabnya saya sangat suka berteman dengan orang Indonesia.” Lanjutnya.

“Çok sağol Ağbey.” Terima kasih Sır, jawab saya singkat sambil tersenyum dan pamit. Kami saling berpisah karena arah jalan yang berbeda.

***
Betapa gembiranya hati saya sore itu. Menekuni kalimat yang disampaikan oleh sang Paman. Kejadian seperti ini sebenarnya sudah sangat sering terjadi, tidak hanya saya, akan tetapi hampir rata-rata mahasiswa Indonesia mengalami kisah kejadian yang sama. Sejenak saya merenungi satu hal yang nyaris saya lupakan, bahwa banyaknya jumlah jamaah haji Indonesia yang berangkat menuju Mekkah telah memberikan manfaat yang demikian besar bagi saya dan tentu saja bagi kami para mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di luar negeri dan di Turki khususnya.

Sifat ramah tamah dan ketekunan beribadah jamaah haji Indonesia di tanah suci telah membangun kedekatan emosional dan kekeluargaan yang mendalam pada masyarakat Turki. Menjadikan masyarakat İndonesia memiliki ruang tersendiri di hati mereka. Sebagai contoh lebih jauh dari itu beberapa keluarga Turki juga menjadikan kami sebagai bagian anggota keluarga mereka (seperti menjadikan kami sebagai anak angkat) karena pertemuan mereka dengan jamaah haji Indonesia beberapa tahun silam. Keramahan dan tepa slira jamaah haji Indonesia telah memberikan tempat tersendiri yang demikian istimewa di hati para jamaah haji masyarakat Turki.

Indonesia menjadi negara yang jamaah hajinya dituturkan kisahnya secara turun temurun karena pertemuan mereka di tanah suci Mekkah. Tentu saja hal ini memberikan manfaat yang sangat positif bagi kami. Secara psikologi kami menjadi tidak merasa asing di negeri perantauan yang tidak terhitung jauh jarak tempuhnya dari tanah air. Menjadi bagian keluarga besar masyarakat warga negara Turki, sehingga menjadi seperti rumah yang menggembirakan.

Catatan saya ini, mewakili ungkapan rasa terima kasih yang dalam kepada seluruh keluarga besar Jamaah haji Indonesia, yang telah membangun ukhuwah lintas benua yang tidak terbatas. Memberikan keteladanan sikap dan akhlak yang santun sehingga diperbincangkan dengan penuh gembira oleh masyarakat jamaah haji dari Turki khususnya. Dan saya yakin kepada masyarakat Islam dunia secara luas.

Semangat berhaji masyarakat Indonesia menjadi catatan penting bagi saya secara pribadi. Sederhananya meskipun keluarga saya atau kami para mahasiswa bahkan belum ada yang berangkat ke Mekkah sekali pun, namun pertemuan jamaah haji masyarakat İndonesia dalam jumlah yang sedemikian besar telah memudahkan bagi masyarakat muslim dunia mengenal muslim Indonesia lebih dekat. Lebih jauh jamaah haji Indonesia telah menanamkan senyum-senyum keteladanan akhlak yang mendalam bagi masyarakat muslim di Turki.

Jumlah kekuatan yang sedemikian besar, tercatat 46.861 jamaah yang menunaikan ibadah haji tahun ini (10/9/2014, haji.kemenag.go.id). Semoga catatan positif yang telah dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia menjadi sumber kekuatan yang kelak melahirkan serta membangun pilar-pilar kekuatan dan menjadi cahaya penerang peradaban bagi kebangkitan tanah air, Indonesia. Teşekkür ederim, terima kasih banyak untuk seluruh jamaah haji Indonesia. Semoga berkah ibadah pertemuan dengan sang Khalik di rumah suci-Nya, serta menjadi catatan amal ibadah pemberat timbangan amal di yaumul mizan kelak. Aamiin insya Allah. Salam khidmat dari kami para penuntut ilmu dari negeri para penakluk. Konstantinopel, Turki.




Friday, September 12, 2014

tentang suatu Musım dı kotaku

Assalamu'alaikumwrwb.

Akan berbeda ketika telapak kaki ini berhenti di pintu gedung bercat krem langsat yang konon sudah genap 2 tahun tangan darah Jawa Melayu Sumateranya Indonesıa ıtu membuka pintu, dengan harus menempelkan telunjuk jari pada kotak hitam. Absensi rutin asrama. Tanpa "salam" sebagaimana tanah air membiasakan ber assalamaualaıkum terlebih dahulu. Baiklah kita tidak sedang berbicara culture shock untuk bab kali ini.

***
indahnya matahari pagi ini, cahayanya menembus dedaunan mapel hijau di sisi jalan. Ranting-ranting bicara soal kapan akan tiba musim gugur. Ayam kalkun yang tubuhnya gemuk-gemuk mematuk biji-biji buah yang jatuh di rerumputan. Sementara burung-burung kecil senda gurau di pucuk kenari.

Jalanan yang lengang, manusia hilang dalam Jum'at yang berkah, satu dua duduk menanti BIS kota, barangkali mereka hendak menata taman kota, karena bajunya berompi hijau muda, memakai penutup kepala yang mirip kerudung.

Matahari » bicara soal betapa pandainya ia bersyukur, pagi hangat semangat buat makhluk pencari rizki. Ia kirimkan selimut bercahaya yang kilaunya semakin terlihat sempurna mana kala mata melihat dari celah-celah dinding daun. Hangatnya menyehatkan, menelurkan milyaran buncahan energi dan cita-cita. Selimut yang Matahari beri nama ia mentari.

Matahari » Belajar darinya tentang persahabatan, betapa tulusnya ia membenamkan diri mempersilahkan malam datang, sehingga dengannya makhluk menikmati betapa kemilaunya bulan sabit atau penuh, lautan bintang-bintang langit, planet-planet jagat raya, atau bahkan kelip lampu pesawat sekalipun.

Dan waktu terus berputar menyusuri hari yang terus berlari. Demikian musim yang pelan-pelan merunduk memindahkan daun mapel hijau rumput dengan warna kuning kecoklatan, nyaris coklat sempurna. Musim penghujan yang tiba-tiba menahan mata memandang pintu-pintu langit. Kiranya musim gugur son bahar segera tiba, dan wol-wol hangat memenuhi pasar-pasar yang merambat. Allah menyusun dan merangkai musim dengan perincian yang sedemikian detail.

Memandang padatnya kota, dan sisa musim panas yang masih utuh membuat warna berubah sedemikian cepat, pagi mendung, siang panas, dan malam hujan. Menyimak perubahan langit melukis dirinya dengan tahta singgasana warnanya seakan ia bicara "Kehidupan adalah warna, dengan semua yang dikandungnya. Berubah dengan cepat, tidak membutuhkan bilangan bulan untuk menjadi cerah, gelap, pekat atau berpelangi sekali pun.

Langit bicara dengan "perubahan" musim yang menyertainya. Ia adalah sajadah luas pembentang rasa dan fikir, bagaimana meski ıa berdiri tanpa tiang penyangga kokohlah ia mampu menjadi singgasana bagi laut, tetumbuhan, dan seluruh makhluk bernaung di bawahnya, menikmati perubahan warna yang ia berikan dengan sempurna. Semburat energi yang terus memperbaharui dan berbenah harı bicara tentang pergantian "Siang berganti malam" tanpa lelah. 

ALLAH lah yang meninggkan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat. (Q.S. Al-Ra'd (13):2)

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلاً

Dan Kamı jadikan malam dan siang sebagai dua tanda. lalu kami hapuskan tanda malam dan kami jadikan tanda siang itu terang. agar kamu mencari karunia Tuhanmu. dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan (waktu) . Dan segala sesuatu telah kami terangkan dengan jelas. (Q.S. Al-İsraa:12).

***
Sakura Romawi Timur, 12 September 2014
Ankara, Alun-alun kampus 11:20 Turki


Monday, September 8, 2014

thank You Allah

Istanbul hujan pagi ini. Sudah beberapa hari bermalam di Istanbul Asia, setelah kembali  dari berlibur summer di tanah air. Remuk rasanya badan, perjalanan dan kopor yang hard, walked to Istanbul Eropa for some business. Belongs to buy my leptop. Did you know my diary, I have lost all my data that I saved in my note book, those datas since 2009-2014, all of my writings, novel, scientific papers, and everything was there. Notebook's hard disk  was broken, so I could not do anything. Everything is from Allah, and will return to Allah. Everything is gonna be okay in sha Allah..

Today, I talk to my self in my praying. How Allah loves me, change the hardness with the easy one. Allah has given me a new one, further more than one. I can begin to write again, and again...write is my life, my world..Allah know what I need. Everything is okay, and thank You Allah for being my best place to put what I feel. How kind of You Allah, You give me a lot more than I need, You give me a lot more than I ask. Thank You Allah..let me step my journey and being a meaningfull one for another. Let me grow to be a meaning full personality, let me be more meaning full for people around.

Just open the window, let see how air smile and ask you
"Do you see how Allah give you colour?"
"Hardness and easy ness is colours of life."
They come and change like the day,
They like the ocean and its wave
Train you able to see how life is beautifull


Istanbul Asia Side, 8 September 2014
Sakura Romawi Timur

Thursday, August 14, 2014

"Bizimki Ask Kalmis" Meneladani sosok Ustadzah Wirianingsih

"Bizimki Ask Kalmis"
Meneladani sosok Ustadzah Wiwik
(Rahasia Sang Ustadzah Mendidik Putra-putri)
#catatan perjalanan bersama Ustadzah Wiwik (Dra. Hj. Wirianingsih, M.Si)


Matahari pagi menyingsing. Aku baru saja menyapa senyum dan berceloteh gembira bersama gadis kecil Turkey berusia 1 tahun  yang duduk disampingku,  gadis berambut keriting yang di kuncir dua, lucu sekali. Ia duduk manis bersamaku di Yeni Adana Otobus. Sebuah bus jurusan Istanbul.

Malam tanggal 30 aku meluncur menuju Istanbul tepat pukul 23:59 waktu Turki, Ankara. Itu sungguh hari yang padat sekali. Setelah beberapa minggu lamanya berjibaku mempersiapkan Ujian Akhir Semester, disertai beberapa agenda yang membersamainya. Puncaknya adalah hari Jum'at (30 Mei 2014), tepat saat aku harus menghadapi ujian Human Learning dengan materi yang sangat lumayan teramat tebal. Alhamdulillah tuntas! Semoga baik in sha Allah. Serampung ujian bermandi hujan mencari ATM untuk beberapa kebutuhan acara dan mengejar waktu untuk membantu memandu agenda kajian online LKS MIT. Itu adalah kajian yang spesial 30 Mei 2014. Peserta kajian mencapai 30 peserta lebih. Ramai sekali. Masha Allah. Meski acara kajian di undur 2 jam dari waktu yang ditentukan, karena kedatangan Ustadzah yang mengalami sedikit kendala di bandara.

***
"Bizimki ask kalmis." Suara kecil Aisu, sang gadis kecil berbisik disampingku. Aku menoleh tergelitik mendengarkan suaranya. "Tekrar soyle canim." "Ayo coba diulang lagi sayang." Aku memintanya untuk mengulang ucapan yang terdengar sangat manis itu. Aisu tersenyum malu dengan hidungnya yang cantik berkilauan. "Bizimki ask kalmis." Ucapnya sekali lagi. Aku tidak tahan untuk tidak memeluk dan menyentuh ujung hidungnya dengan ujung jari telunjukku. Aisu semakin mendekat, menyandarkan kepalanya dipundakku.

"Ozledim seni, ozledim seni, bir nefes gibi, bir nefes gibi." Lamat-lamat aku dengar suaranya bersenanandung. Sebuah lagu anak-anak Turki yang beberapa menit aku nyanyikan untukknya. "Aku rindu padamu- aku rindu padamu, seperti sebuah nafas-seperti sebuah nafas." "Biz yoldayken, beraber sarki soyledik." Ketika dalam perjalanan kita telah bersenandung bersama." Meski baru beberapa hitungan menit, tidak menduga Aisu mengingat dan mengulangnya dengan begitu cepat. Hingga Bus berhenti di Otogar Esenler, Istanbul. Otogar terbesar. Kami saling berpandangan dan aku peluk ia. "bizimki ask kalmis." Ulangnya sekali lagi. "Telah tertinggal cinta di dalam diri kita." Masha Allah. Bagaimana mungkin gadis kecil berusia 1 tahun mampu mengucapkan kalimat seindah itu.

Friday, June 20, 2014

1 setengah Page

Catatan hari ini 
#khusus untuk Emak dan Bapak

=========

Krek!

Aku membuka pintu kantor Hocam Zakariya.
Wajah Hocam memandangku dengan ekspresi sedikit terkejut akibat pintu yang tiba-tiba terbuka, bersuara oleh sebab gagangnya yang aku putar.

Buru-buru. Segera menyapa "Gunaydin Hocam." Sapaku, dengan nafas Senin Kamis akibat berlari menaiki tangga di lantai 3.

"iyi gunler." Jawab Hocam Zakariya. Masih dalam postur wajah terkejut.

"Haa, Hanifa" Suara Hocam lebih tinggi. Namun wajahnya memang selalu ramah, meski suaranya tinggi dan marah, tetap saja tidak terlihat marah.

"Neden cok kisa mekale yazdin." Serbu pertanyaan hoca. "Kenapa pendek sekali artikel mu?"

"Haa...tapi kan...hoca." aku bersiap protes. "Lah bukannya beliau sendiri yang memintaku menulis topic 1,5 halaman dalam waktu yang sangat singkat. Dari pukul 13:00 hingga pukul 18:00." Dalam hatiku. 

"Hoca saya sudah berusaha memendekkan tulisan itu berulang kali. Karena melebihi dari 1,5 halaman yang hoca minta." Suaraku akhirnya protes.

Hoca terdiam. 
Suasana di dalam ruangan.
krik..krik...krik...

***
Kemaren serampung ujian mata kuliah Sosial Psikolojisi, setelah mengumpulkan kertas ujian tiba-tiba hoca memanggil. "Hanifa saya beri kamu 1 topik, saya mau kamu selesaikan malam ini dan kirimkan ke email saya sebelum pukul 18:00." Hazir misin. Are you ready." Wajah hoca Zakariya menatapku yang masih terpaku. Garuk-garuk jilbab, memikirkan harus mencari dan mengumpulkan referensi dalam waktu yang singkat. Meski akhirnya. "Hazirim hocam" In sha Allah siap hocam. Jawabku singkat.

Siang serampung ujian langsung berlari ke perpustakaan. Mencari buku dan segera pulang ke asrama. Segera selesaikan tugas artikel singkat ini. Biasanya kan minimal buat essay semalam. ini  hanya hitungan jam. Detak jantungku tidak menentu.

****
Di dalam ruangan yang krik..krik..krik...

"Kamu bisa mengembangkan ide tulisanmu lebih banyak Hanifa."Kata hoca Zakariya.

Aku masih terdiam. Memandanga ubin Turki yang teksturnya lucu. Bukannya beliau yang meminta 1,5 halaman saja. Bagaimana sih hocam ini. Sungutku dalam hati. Terdiam.

"Tulisanmu sangat mengesankan. Aferin." Kata hoca Zakariya.

Aku: Haa...terpelongo.

Untuk Bapak dan Mak di kampung.
Alhamdulillah ya Rahman. 


Thursday, June 12, 2014

Hey, LOOK! They have wings. And I Forgot!

sumber foto : gugel

They have wings. And I FORGOT!

======

"Basinda o ne?" Itu seperti insekta yang pernah aku lihat di lapangan bola kaki di belakang sekolah SDku. Masa kecil. 

"Apa itu dikepalamu?" Tanyaku pada salah seorang temanku, saat kami sama-sama memasuki lift. Aku baru saja merampungkan makan siang sore itu. Dia memeriksa kepalanya dicermin lift. "Aaaaaa." Menjerit. Mengibas-ngibaskan serangga bercorak lurik coklat yang bertengger menakjubkan, cantik sekali. Kedua bola mataku memperhatikan lebih dekat. "Dur, sakin ol." "Diam, tenanglah." Kataku padanya. Temanku diam, menurut, mematung. 

Aku memperhatikan makhluk kecil itu. Dalam hati. "Sepertinya aku pernah melihat insekta ini di tanah air." Iya, semenjak di Turki dengan perubahan musim yang terus berganti, aku bahkan nyaris tidak pernah lagi melihat semut, kecoa apalagi tikus dan teman sebangsanya. 

"Iya benar, ini kan grasshopper." Membatin, mencoba mencari kosa kata apa nama bahasa Indonesia dari serangga ini. Akhirnya aku pungut serangga dan menggenggamnya di tangan kanan. Ia mencoba meloncat. 

"Ya Allah, sudah dua tahun baru kali ini melihat binatang lucu ini." Sementara temanku bergidik melihatku membiarkan si grasshopper duduk di telapak tangan kanan. Tersenyum memperhatikan serangga yang lucu itu.

"Kasihan serangga ini, nanti kalau ia jatuh bisa terinjak kaki orang." Kataku padanya.

"iya, kamu benar Hanifa." Katanya membenarkan, mulai tenang.

"Kita letakkan dimana? Kita dilantai 8." Tanyaku padanya, sambil mengingat-ingat kalau tidak salah dibalkon ada pot berisi tanaman hijau. Mungkin bisa diletakkan disana.

***
Kami sudah di luar lift, sama-sama berdiri disisi jendela, memperhatikan ke luar jendela. "Kamu lepaskan saja ia dari jendela lantai ini." Kata temanku. Kepalaku melongok keluar. Dibawah tidak ada taman. Yang ada hanya atap lantai bawah. Semen yang keras!

"Oh tidak, terlalu tinggi, nanti ia jatuh tinggi sekali." Jawabku. "Coba lihat, di bawah tidak ada rumput." Sembari membayangkan, apakah semut juga badannya akan sakit kalau dijatuhkan dari lantai 8? Haduh, aku lupa apakah binatang ini akan sakit atau tidak jika terjatuh dari ketinggian. 

"Hanifa, ayo cepatlah lepaskan ia keluar, biarkan ia hidup dialamnya." Kata temanku memaksa. 

"Tunggu, aku akan keluarkan ia lewat jendela sisi kamar." Aku ingat di sisi kamarku ada beberapa pohon mapel yang rimbun, tinggi dan ada rumput hijau di bawahnya. Aku berlari kesisi kamar. Meninggalkan temanku.

"Tidak akan terjadi apa-apa padanya Hanifa." Suara temanku, menjerit.

In sha Allah, dari sini akan lebih aman sepertinya, karena jika grasshopper jatuh kebawah pun ia akan berguling di rumput. Tidak akan sakit tubuhnya. Dalam hati. Bismillah!

Aku lepaskan ia dari genggaman tangan kanan. Dan..."Ya Rahmaaaan!" Aku menutup mulutku. Terkejut. Saking tidak percaya dengan apa yang aku lihat. "Allahu Akbar!"





Ia melesat lincah, terbang dengan sayap yang sangat cantik sekali. Aku lihat sayapnya seperti kipas. "Ya Allah aku sungguh lupa, jika serangga jenis satu ini punya sayap. BELALANG, bahasa Indonesianya.

”Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (QS. AL MULK:19).

...Maha Besar Allah, atas penciptaan semua makhluk-Nya yang begitu sempurna. Rasanya saat melepaskan dari genggaman tanganku dan melihatnya terbang melesat jauh, getar "Kebesaran" Maha Besar Allah dalam hati ini. Betapa Maha Agung seluruh penciptaan-Nya.

***
Sakura RT, Ankara, 12062014 
(di tengah perjuangan Ujian Final Semester)
Bapak dan Emak, mohon do'a atas segala urusan. Aamiin.
Ananda tengah berjuang!


Sunday, June 8, 2014

Good Morning My Self

Yeah!
Bismillah...

Today is a beautiful morning I found. Since I have used my past long weeks without sleep enough. It was so hard to keep my eye open. Last night I have taken my sleep at 00:49 after finishing some of my school works. Even last night I read another information, hoho I have no idea by reading other which is not related in my task. I just get a little bored by reading my lesson, even I enjoy the psychology. I just feel I need relax, go to the forest, play water, collect flowers and run to catch the butterfly. Just like what I have done about 3 month ago in Istanbul Tulip Festival. I used my whole day enjoy the day and having a hundred photographs. That was to be my time only, the only :D

Last night after finish in reading my lesson book I surfing some flowers festival in the world, give attention how could people catch that photograph so beautiful. Since photography is my pleasure. I love it very much, really. I can waste a lot of my time to have the satisfy one. And without any complain...haghhagh. Play with children and having a photograph...are the most that I forget my time to do other, after writing. I do really enjoy three of these activities, and I have no any reason why?

This morning, I planned to go to METU library, find additional references to my task paper, even that library is sooooo faaar from my dormitory. But, there I can find a thousand of book that I really need. Wokkey, I have to prepare. Have a breakfast, clean my self and then have a time to go there...BRAVO my day! Thank Allah for pushing me to have sukur for my lovely day.

Sakura Romawi Timur, Ankara 08062014








Saturday, June 7, 2014

Merekam Jejak Pertumbuhan Anak

waktu itu Ustdzah Wiwik bilang...
"mengajinya anak-anak harus saya yang pegang, saya yang harus mngajarkn Al-Qur'an pertama kali untuk anak-anak. Tidak boleh orang lain." Kata ibu (ustdzah Wiwik). Terngiang-ngiang selalu..

Semalam saat searching referensi menemukan sebuah blog, catatan seorang ibu. Isinya bagus sekali ttg kasus anak dissability, kebetulan salah satu case studi tugas saya adalah tentang kasus yang ada dalam blog itu. Sebuah blog yang  ditulis disana "blog ini saya buat, saya dedikasikan untuk anak saya, untuk memantau perkembangan indra" Isinya bagus dan sangat menyentuh. Sang ibu menuliskan semua perkembangan anaknya -indra- seorang anak penyandang disleksia (kesulitan mmbca dan menulis), hingga pada akhirnya Indra mampu menulis dan membaca. Menyusuri tulisan sang ibu, berderai hati saya dibuatnya. Blog yang ditulis oleh seorang ibu warga indonesia. saya bangga sekali bsa membacanya.
***

Bangga bukan karena saya telah membacanya. Tapi oleh sebab blog yg ditulis oleh ibu tanah air itu rasanya spesial, yg khusus ia tulis untuk anaknya. Karena biasanya tulisan tema serupa lebih banyak ditulis oleh website-website dari barat.
***
Guru indra bilang "Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak yg bodoh" saat itu sang Indra belum mampu juga menulis dan membca. Perih mendengarnya tentu saja. Hati ibu mana yg tidak akn perih mndgr anaknya di "judge" sebagai anak yang bodoh oleh gurunya sendiri.

Sang ibu akhirnya belajar secara otodidak, oleh sebab apa anaknya tidak mampu menulis dan membaca, ia pelajari hingga sampai pada akar-akarnya, jauh dibawah permukaan yang dilihat oleh guru, sang kepala sekolah itu.

Pada sebuah tanggal, sang ibu meminta Indra menuliskan hal-hal yang paling pandai ia lakukan dan tidak terlalu pandai ia lakukan.

Sangat mengejutkan, indra menuliskan (saat itu ia sudah bisa menulis dan membaca sederhana, dan sang ibu adalah guru dan sekolah bagi indra) plus setelah ibu memhami kondisi anaknya Indra disekolahkan di sebuah SLB.

Hal yang pandai saya lakukan:
berenang, menyelam, bermain bola basket, merawat kelinci, menggambar, melukis, mengumpulkan perangko, bermain dengan anak-anak, membersihkn meja, membuat orang tertawa, bermain softball, bersikap ramah dengan kakek, dan mengetahui tentang ruang dan planet2." Tulis indra...
***

"Dan hal-hal yang tidak terlalu pandai saya lakukan: ejaan, membaca, menulis dan Matematika."

Membcanya berderai hati saya. Berapa berbanding berapa hal-hal yang pandai ia lakukan dan kurang pandai ia lakukan. 

Tulis sang ibu disana.
"saya menatap wajah Indra. Untuk memastikan padanya bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan dari pada hal-hal yg dianggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Ia jelas-jelas orang yang akan sukses dengan segala kemampuannya."

Tapi dimata sang Indra seakan muncul pertanyaan "jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus dan mendapatkan pekerjaan?" Ini adalah tahap dimana saya (ibu) harus berdebat dengannya. Meski bertahun-tahun saya meyakinkan bahwa ia adalah anak yg cerdas. Namun Indra perlu BUKTI. #tears...

Perjuangan dan .tahun-tahun yang panjang. "Hari ini 2 menit sebelum berganti tanggal, saya mensyukuri Indra yang telah mampu membaca lancar. Ia pun kian mampu mengetahui dan menghafal apa yang ia baca. Alhamdulillah..."

dan...
bila saja semua ibu 

"every children deserves the chance to reach his or her full potential" Setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk mencapai potensi mereka sepenuhnya." (anonim).

Sakura Romawi Timur,
di sebuah sudut kamar belajar, Ankara 6 Juni 2014.

Monday, May 19, 2014

Gadis kecil, yang bening matanya dan jaketnya berwarna merah "SURIAH"

Bening sekali matanya. Ia memandangku tajam dari balik kaki ibunya. Gadis kecil, pengungsi Suriah. Bajunya berwarna merah, tidak memakai sendal. Adik kecil yang malang, rambutnya keriting, cantik. Sekitar 3 tahun usianya. Sang Ayah dan Ibu muda yang menggendong bayi, pasangan suami istri yang masih sama-sama muda, yang mungkin terpaksa harus meminta-minta di negeri orang. Oleh sebab kekejaman Asad.

Suriah.
Mata bening adik kecil itu membawaku pada lamunan panjang didalam kereta sore tadi. Melamun dalam diam yang tidak aku mengerti. Bagaimana kelak ia akan menjelaskan tentang tanah airnya. Bagaimana ia menjelaskan tentang suara peluru. Bagaimana ia menjelaskan tentang cita-cita. Menjelaskan tentang kebengesin Asad. Melihat kakinya yang tanpa sandal itu rasanya kakiku seperti tengah menginjak puluhan sembilu. Ngilu. Melihat bening matanya itu seperti tidak percaya kalau yang aku lihat adalah gadis kecil negeri berdarah.

Suriah.
Kekejaman Asad yang tiada berkesudahan. Lihatlah ini gadis kecil bermata bening yang menatap mataku tajam. Aku bahkan dibuat ketakutan menyaksikannya. Ia generasi negeri yang diberkahi. Ini generasi bumi syam yang Allah karuniaknan keberkahan. Negeri kota Damaskus bertepi, kota sumber belajar Qur'an dan Hadits. Negerinya syurganya Cahaya Islam. Dan mata bening itu. Ah...aku tidak mampu menjelaskannya. 

Gadis kecil, yang bening matanya, dan jaketnya berwarna merah. SURIAH! 
Aku bicara bersama kedua matanya. Tentang bengisnya Asad dan matanya yang bening
...dan kereta terus melaju. 

Sakura RT, Ankara 19052014








Sunday, May 18, 2014

Dan ia muridku, Ayu namanya

Puisi yang ditulis pada buku halaman pembuka, Communicating partners: 30 years bulding responsive relationships with late-talking children including autism.


Yang ditulis oleh James D. MacDonald


Aku jadi teringat salah satu muridku. Tidak autis. Tapi oleh sebab kecelakaan mengalami gangguan pda syaraf otaknya. Kemampuan akademisnya otomatis trganggu. 

Dijauhi teman2nya. Rambutnya berkutu, banyak sekali. Jika aku egois dn kekanak2an, aku juga ngeri sebenarnya. 

Tapi kutahan perasaan ngeriku. Oke, masalah kutu rambutnya yang sangat bnyak itu akan kita bereskan dg rajin keramas. Mka setiap pagi dia selalu memberi sampo rambutnya. 

Itu pertemuan pertamaku di tahun 2011, saat dia menangis di ruang tengah asrama RCQ, oleh sebab dia dikirim ayahnya karena di sekolah dijauhi temanya. 

Jadilah ia dipondokkan di asrama RCQ [Yayasan Rumah Cerdas Qur'ani]. Menjadi salah satu santri kami. Bertambahlah satu santri putri. Namanya ayu, 14 tahun. 

Tugas pertamaku, adalah memberinya pelajaran B. Indonesia, meski aku lulusan B. Inggris. Dan pelajaran pertama untuknya adalah menulis apa yang ia lihat di langit sana. Bagus! Dia bisa menulis dengan baik. Satu dua tiga minggu. Dan pada suatu sore mnjelang magrib, entah karena apa aku marah sekali padanya, kesal sekali karena aku sdah mngulang mngjrknnya belasan kali bgaimna mmbedakan antara subjek, predikat dan objek. 

Tapi tidak satu pun ia faham. Bibirku gemetar menahan diri. Meski ia satu2nya murid jenjang SMP yang Ustdzah amanahkn padaku. "Hanifa, kamu jadi guru B. Indo buat Ayu ya." 

Meski suaraku tidak meledak. Tpi rintih suaraku mmbuat Ayu tahu, bahwa aku marah sekali; "Ya Rahmaaan." Aku ucapkn kalimat itu sambil gemetaran, smntara kedua mataku sudah basah.

Aku benar-benar hanya mampu memandang langit petang itu. Menahan diru. Ku intip muridku Ayu bersembunyi diam ketakutan dalam jilbabnya. 

Astaghfirullah. Aku pandangi muridku yang malang itu. "Maafkan Miss ya Ayu. Kalau begitu besok kita bermain di danau samping lapangan golf ya." sejak saat itu aku belajar, akulah teman muridku yang banyak kutunya itu. Murid yang juga mau tidak mau aku terkena kutunya beberapa minggu. Dialah yang menemani Ramadhanku penuh selama sebulan di asrama. Memasakkan menu dan menyiapkan makan sahurku, membangunkanku dan..."Miss besok aku ajari Mis membuat kue bola-bola coklat **tears...dia muridku yang sangat hebat.


Sakura RT, Ankara 17 Mei 2014

Friday, May 16, 2014

Inilah DEDIKASI


Sore hari waktu Turki. Matahari baru saja akan merampungkan tugas mulianya. 
"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)." (Q.S. Al-Lail :1)

Bismillahirrahmanirrahim..


Dan ia adalah "hanya" seorang putra dari tukang batu ...

Meski demikian proyek-proyeknya menyejarah, melegenda sepanjang abad. Menembus dari satu generasi ke generasi. 

Siapakah ia? Ia terlahir dengan nama Joseph di Kaisariya, Anatolia. Yang Henry Matthews sejarawan arsitektur terkemuka Washington State, menyandingkan ia bersama Brunelleschi Italia, pun Michelangelo.

Betapa mengagumkannya menjadi muslim yang cemerlang  Membangun sejarah yang tiada rapuh oleh zaman. Mimar Sinan, sang guru arsitektur kebanggan Islam..

Ketika kecil, ia adalah seorang kristen. Ia bercita-cita besar,bersekolah di imperial Enderun College, di Istana Topkapi. Sayang sekali ia tidak diterima di sekolah itu. Semangat belajar dan daya juang yang tiada berkesudahanlah yang mengantarkan ia belajar di Ibrahim Pasha School, Grand Vizier Ibrahim Pasha.

Mimar Sinan, kecerdasan yang tiada tara. Serta kemauan yang besar telah menjadikan ia hanya dalam kurun waktu 3 TAHUN, menjadi seorang arsitektur muslim berbakat. Menyejarah!!!

Karyanya! Dan duduklah kita dengan pandangan kagum yang tiada berkesudahan. Ketelitian, kemegahan, keindahan, kejayaan adalah simbol kejayaan Islam. Masjid Selimiye di Edirne, dibangun atas perintah Sultan Selim II, tercatat dalam SITUS WARISAN DUNIA, UNESCO 2011.

Demikian pula Master PIECE-nya Masjid Süleymaniye di Istanbul. Menjadikan ia sebagai ARSITEK MUSLIM TERBESAR periode Ottoman.

Sinan, juga dipercaya memimpin korps infanteri perwira, memimpin pasukan kaum muslim menaklukkan Austria. Kecerdasannya dalam arsitektur hingga ia tercatat sebagai penembak jitu, mengetahui struktur TERLEMAH dalam MERUNTUHKAN bangunan lawan!

Karya Mimar Sinan, tidak terhitung. Tidak hanya bumi Turki saksi atas harum yang tiada luruh. Ia telah membangun dan mengawasi 476 bangunan. Tercatat TIDAK KURANG dari 196 bangunan adalah buah fikir dan karya besarnya yang bahkan terhitung 5 ABAD hingga saat ini, pun masih berdiri KOKOH. MEMBANGGAKAN!!

50 TAHUN! Adalah curah fikirnya dalam MEMBANGUN Kerajaan Utsmani. Inilah DEDIKASI**

3 AMAL yang tiada terputus hingga AJAL terpisah dari badan; salah satunya Ilmu yang Terus Mengalir. Mimar Sinan, dari ABAD ke ABAD. Tiada PUNAH! Segala puji HANYA bagi Allah.

Semoga Bermanfaat. Kebenaran hanya milik Allah.
#Dari berbagai referensi

Sakura RT, Turki 12 Mei 2014
(Tuntas pukul 22:26)
Disampaikan pada kulsap MJR SJS MITI M






Sepotong Malam

Dengan terhuyung tangan kananku membawa gayung berisi sikat gigi dan seperangkatnya, sementara tangan kiriku menjinjing beberapa buku. Dengan capek dan mengantuk kuseret kaki ke ruang belajar. Pasti sudah ramai, fikirku. Sementara kerongkonganku terasa kering, haus sekali. Aku ingat, air mnum mineral sudah aku pindahkan di atas meja belajar. 

Sesorean ini menemani mengobrol keluarga temanku yang wisuda, salah satu dari keluarga mereka tak banyak bicara, seperti bingung mencari topik. Maka aku sibuk mencari topik apa saja agar suasana tidak kaku. Sampai mereka bilang,"kalau kamu pulang ke Indonesia, coba pakai jeans dan lepaskan penutup kepalamu." Kata ibu dari satu temanku yang lain. Meski kaget aku tetap menjawabnya dengan tetap berhati2. "Bibi, aku khawatir nanti ayah dan ibuku tidak mengenaliku. Sebab dari kecil aku sudah demikian." semoga jawaban ini tidak menyinggung. Sang paman, ayah temanku menyela. "Jangan dengarkan bibimu." Kami tertawa. 

Dan akhirnya, aku  pamit pada mereka. Sesampai asrama shlat, tilawah dan tertidur pulas. Hingga terbangun pukul 23:00 Turki dan ternyata haus sekali.

***
Di ruang belajar. Sepi...
Hanya ada 2 orang tengan menekuni leptopnya. Aku menuju kamar mandi. Gosok gigi. Meski mataku masih mengantuk sekali.

"Hanifa..apakah kamu di ruang belajar seharian ini?" sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Teman yang biasa duduk belajar di samping meja belajarku.
"Oh tidak, aku baru saja bangun." Jawabku.
"Apakah engkau tertidur dikamar belajar?" tanyanya lagi.
"Tidak..." Jawabku sambil tersenyum. Hee...dia rajin sekali membangunkanku, jika aku tertidur ketika membaca buku sambil duduk di ruang belajar.
"Hanifa, mengapa setiap melihatmu aku selalu penuh kegembiraan dan selalu mengundangku mampu tersenyum." Kata temanku lagi. Sementara aku masih sibuk membasuh muka.
Berhenti sejenak. "Sama engkau juga demikian" Jawabku sembari menyempatkan memandang wajahnya.
"setiapa kali melihatmu aku seperti mengambil energi positif." lanjutnya lagi.
"iya kalian juga demikian. Memberikan energi positif bagiku." Jawabku.

#Aku berlindung pada Mudari pujian yang meruntuhkan keimanan ya Rabb..

Sakura RT
Ankara, 15May2014 (23:45 Turki)
Setengah mengantuk di ruang belajar, melihat tumpukan buku. 





Thursday, May 15, 2014

ya Allah, Aku belajar di sarang komunis

Siang ini pukul 13:30 aku sudah siap menanti bis. Seperti biasa, perkuliahan kelas siang pukul 14:30. Kampus yang cukup jauh membuatku harus bersiap lebih lama untuk menempuhnya. 4 buah buku pinjaman perpustakaan 2 minggu yang lalu terpaksa kugendong tanpa kantong. Hari ini sudah harus aku kembalikan. Baru saja sampai dipersimpangan bis lewat dan berhenti di durak. Terpaksa berlari agar tidak tertinggal. Syukurlah masih ada beberapa detik menjelang bis melaju. Aku duduk di kursi tengah. Kepalaku terbang entah dimana. Memikirkan hitungan hari menjelang ujian akhir dan rencana kepulangan ke tanah air. 

***

Sesampai di kampus. Sepi...
Mengapa kelas sepi. Aku mengetuk pintu sekretaris jurusan. 
"Hocam, selamat sore." Sapaku.
"Oh Hanifah, masuklah." Sambutnya ramah.
"Apakah sore ini tidak ada kelas" Tanyaku.
"Dengan siapa?" Jawabnya.
"dengan hoca Eyle." Jawabku.
"Oh..sayang sekali. Hari ini ada demo. dan Hoca eyle akan ikut serta dalam demo."
Haa, ikut demo juga, antara kaget dan oh...senang karena bisa pulang cepat campur aneh bagaimana gitu. :P

***
Aku memutuskan ke Perpustakaan, mengembalikan 3 buah buku dan memperpanjang salah satunya, menarik. Fikirku. Sepertinya cocok untuk mengisi kajian diskusi bersama ibu-ibu Turki 2 mingguan "Family Therapy" sesuai dengan beberapa materi perkuliahan beberapa pekan terakhir ini. Serampung mengembalikan buku aku memutuskan untuk membacanya di dalam kelas. Duduk seorang diri. Lalu menelpon sahabatku, Nida. 

Suara di seberang. "Hanifah, maafkan aku baru mengabari. Hari ini kelas di boikot. Aku juga baru tahu siang ini."
"Oh problem degil, tidak apa Nida. Aku hanya ingin memastikan bahwa kelas ditutup hari ini."
Beberapa menit perbincangan kami, membahas PR dalam telepon dan lalu saling menutup salam.

***
Aku tidak jadi membaca buku. Di pintu luar Hoca Eyle berdiri memperhatikanku. "Oh Hocam." Sedikit kaget.
"Ozur dlerim Hanifa, maafkan Hanifah, hari ini kita tidak ada kelas." Jawabnya. Lalu aku memutuskan pamit pulang.

Sesampai pintu luar Fakultas. Suara ribut. Benar dugaanku. Demo baru saja dimulai. Serombongan mahasiswa berjalan beriringan dengan suara yang mereka teriakkan menuju fakultasku. Sepertinya tengah mengumpulan masa. Aku menyempatkan mengambil foto mereka dan lalu memutuskan pulang. Bermaksud belajar lebih cepat hari ini. Diperjalanan menuju durak bertemu teman Afrikaku, kami mengobrol sejenak. 

***
Di dalam bis
Teringat perbincangan 3 hari yang lalu brsama Ayca. 
"Kamu beruntung Hanifah." Kata Ayca.
"Kenapa." Tanyaku penasaran.
"Dua tahun yang lalu, semua yang bekerja dan terlibat dalam pemerintahan dilarang berjilbab. jika ingin bersekolah dan berpendidikan tinggi tidak boleh berjilbab.
Aku menyimak.
"Semua mahasiswa putri yang berjilbab, dari rumah mereka berjilbab rapi, akan tetapi ketika sampai di depan pintu gerbang kampus, mereka tidak memiliki pilihan selain harus membuka jilbabnya. Aku tidak bisa gambarkan bagaimana rasanya."

Hening...

"Alhamdulillah, saat kedatanganku sudah bisa bejilbab leluasa. Maha Besar Allah." Syukur yang dalam pada Allah.

***
di dalam lift asrama. 8 orang. Sesak penuh.
"Hai Hanifah, kamu baru pulang dari kampuskah?" Tanya salah seorang teman asramaku.
"Iya sayang sekali jam belajar di tutup, karena ada demo." Jawabku sembari susah bernafas.
"Oh ya, kampusmu dimana?" Tanyanya lagi.
"Ankara Univ." Jawabku singkat.
Serentak suara koor panjang dari dalam lift.
"waaa, kereen sekali. Tapi memang Ankara Univ sangat sering menggelar demo. Kamu beruntung sekali. Aku juga berharap dikampusku ada demo. tapi tidak pernah ada." Kata temanku.

Haha...di dalam lift serentak kami tertawa bersama. :D

Sakura RT, Ankara 15May2014