Reminder

"Beri aku pelajaran TERSULIT, aku akan BELAJAR" Maryamah Karpov

Wajahku sujud kepada Allah yang menciptakannya, dan yang membuka pendengaran dan penglihatannya

Dengan daya dan kekuatan dari-Nya, maka Maha Suci Allah, Sebaik-baik pencipta

(Tilawah Sajadah)

Thursday, June 12, 2014

Hey, LOOK! They have wings. And I Forgot!

sumber foto : gugel

They have wings. And I FORGOT!

======

"Basinda o ne?" Itu seperti insekta yang pernah aku lihat di lapangan bola kaki di belakang sekolah SDku. Masa kecil. 

"Apa itu dikepalamu?" Tanyaku pada salah seorang temanku, saat kami sama-sama memasuki lift. Aku baru saja merampungkan makan siang sore itu. Dia memeriksa kepalanya dicermin lift. "Aaaaaa." Menjerit. Mengibas-ngibaskan serangga bercorak lurik coklat yang bertengger menakjubkan, cantik sekali. Kedua bola mataku memperhatikan lebih dekat. "Dur, sakin ol." "Diam, tenanglah." Kataku padanya. Temanku diam, menurut, mematung. 

Aku memperhatikan makhluk kecil itu. Dalam hati. "Sepertinya aku pernah melihat insekta ini di tanah air." Iya, semenjak di Turki dengan perubahan musim yang terus berganti, aku bahkan nyaris tidak pernah lagi melihat semut, kecoa apalagi tikus dan teman sebangsanya. 

"Iya benar, ini kan grasshopper." Membatin, mencoba mencari kosa kata apa nama bahasa Indonesia dari serangga ini. Akhirnya aku pungut serangga dan menggenggamnya di tangan kanan. Ia mencoba meloncat. 

"Ya Allah, sudah dua tahun baru kali ini melihat binatang lucu ini." Sementara temanku bergidik melihatku membiarkan si grasshopper duduk di telapak tangan kanan. Tersenyum memperhatikan serangga yang lucu itu.

"Kasihan serangga ini, nanti kalau ia jatuh bisa terinjak kaki orang." Kataku padanya.

"iya, kamu benar Hanifa." Katanya membenarkan, mulai tenang.

"Kita letakkan dimana? Kita dilantai 8." Tanyaku padanya, sambil mengingat-ingat kalau tidak salah dibalkon ada pot berisi tanaman hijau. Mungkin bisa diletakkan disana.

***
Kami sudah di luar lift, sama-sama berdiri disisi jendela, memperhatikan ke luar jendela. "Kamu lepaskan saja ia dari jendela lantai ini." Kata temanku. Kepalaku melongok keluar. Dibawah tidak ada taman. Yang ada hanya atap lantai bawah. Semen yang keras!

"Oh tidak, terlalu tinggi, nanti ia jatuh tinggi sekali." Jawabku. "Coba lihat, di bawah tidak ada rumput." Sembari membayangkan, apakah semut juga badannya akan sakit kalau dijatuhkan dari lantai 8? Haduh, aku lupa apakah binatang ini akan sakit atau tidak jika terjatuh dari ketinggian. 

"Hanifa, ayo cepatlah lepaskan ia keluar, biarkan ia hidup dialamnya." Kata temanku memaksa. 

"Tunggu, aku akan keluarkan ia lewat jendela sisi kamar." Aku ingat di sisi kamarku ada beberapa pohon mapel yang rimbun, tinggi dan ada rumput hijau di bawahnya. Aku berlari kesisi kamar. Meninggalkan temanku.

"Tidak akan terjadi apa-apa padanya Hanifa." Suara temanku, menjerit.

In sha Allah, dari sini akan lebih aman sepertinya, karena jika grasshopper jatuh kebawah pun ia akan berguling di rumput. Tidak akan sakit tubuhnya. Dalam hati. Bismillah!

Aku lepaskan ia dari genggaman tangan kanan. Dan..."Ya Rahmaaaan!" Aku menutup mulutku. Terkejut. Saking tidak percaya dengan apa yang aku lihat. "Allahu Akbar!"





Ia melesat lincah, terbang dengan sayap yang sangat cantik sekali. Aku lihat sayapnya seperti kipas. "Ya Allah aku sungguh lupa, jika serangga jenis satu ini punya sayap. BELALANG, bahasa Indonesianya.

”Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (QS. AL MULK:19).

...Maha Besar Allah, atas penciptaan semua makhluk-Nya yang begitu sempurna. Rasanya saat melepaskan dari genggaman tanganku dan melihatnya terbang melesat jauh, getar "Kebesaran" Maha Besar Allah dalam hati ini. Betapa Maha Agung seluruh penciptaan-Nya.

***
Sakura RT, Ankara, 12062014 
(di tengah perjuangan Ujian Final Semester)
Bapak dan Emak, mohon do'a atas segala urusan. Aamiin.
Ananda tengah berjuang!


Sunday, June 8, 2014

Good Morning My Self

Yeah!
Bismillah...

Today is a beautiful morning I found. Since I have used my past long weeks without sleep enough. It was so hard to keep my eye open. Last night I have taken my sleep at 00:49 after finishing some of my school works. Even last night I read another information, hoho I have no idea by reading other which is not related in my task. I just get a little bored by reading my lesson, even I enjoy the psychology. I just feel I need relax, go to the forest, play water, collect flowers and run to catch the butterfly. Just like what I have done about 3 month ago in Istanbul Tulip Festival. I used my whole day enjoy the day and having a hundred photographs. That was to be my time only, the only :D

Last night after finish in reading my lesson book I surfing some flowers festival in the world, give attention how could people catch that photograph so beautiful. Since photography is my pleasure. I love it very much, really. I can waste a lot of my time to have the satisfy one. And without any complain...haghhagh. Play with children and having a photograph...are the most that I forget my time to do other, after writing. I do really enjoy three of these activities, and I have no any reason why?

This morning, I planned to go to METU library, find additional references to my task paper, even that library is sooooo faaar from my dormitory. But, there I can find a thousand of book that I really need. Wokkey, I have to prepare. Have a breakfast, clean my self and then have a time to go there...BRAVO my day! Thank Allah for pushing me to have sukur for my lovely day.

Sakura Romawi Timur, Ankara 08062014








Saturday, June 7, 2014

Merekam Jejak Pertumbuhan Anak

waktu itu Ustdzah Wiwik bilang...
"mengajinya anak-anak harus saya yang pegang, saya yang harus mngajarkn Al-Qur'an pertama kali untuk anak-anak. Tidak boleh orang lain." Kata ibu (ustdzah Wiwik). Terngiang-ngiang selalu..

Semalam saat searching referensi menemukan sebuah blog, catatan seorang ibu. Isinya bagus sekali ttg kasus anak dissability, kebetulan salah satu case studi tugas saya adalah tentang kasus yang ada dalam blog itu. Sebuah blog yang  ditulis disana "blog ini saya buat, saya dedikasikan untuk anak saya, untuk memantau perkembangan indra" Isinya bagus dan sangat menyentuh. Sang ibu menuliskan semua perkembangan anaknya -indra- seorang anak penyandang disleksia (kesulitan mmbca dan menulis), hingga pada akhirnya Indra mampu menulis dan membaca. Menyusuri tulisan sang ibu, berderai hati saya dibuatnya. Blog yang ditulis oleh seorang ibu warga indonesia. saya bangga sekali bsa membacanya.
***

Bangga bukan karena saya telah membacanya. Tapi oleh sebab blog yg ditulis oleh ibu tanah air itu rasanya spesial, yg khusus ia tulis untuk anaknya. Karena biasanya tulisan tema serupa lebih banyak ditulis oleh website-website dari barat.
***
Guru indra bilang "Selama puluhan tahun di dunia pendidikan, saya tahu mana anak yg bodoh" saat itu sang Indra belum mampu juga menulis dan membca. Perih mendengarnya tentu saja. Hati ibu mana yg tidak akn perih mndgr anaknya di "judge" sebagai anak yang bodoh oleh gurunya sendiri.

Sang ibu akhirnya belajar secara otodidak, oleh sebab apa anaknya tidak mampu menulis dan membaca, ia pelajari hingga sampai pada akar-akarnya, jauh dibawah permukaan yang dilihat oleh guru, sang kepala sekolah itu.

Pada sebuah tanggal, sang ibu meminta Indra menuliskan hal-hal yang paling pandai ia lakukan dan tidak terlalu pandai ia lakukan.

Sangat mengejutkan, indra menuliskan (saat itu ia sudah bisa menulis dan membaca sederhana, dan sang ibu adalah guru dan sekolah bagi indra) plus setelah ibu memhami kondisi anaknya Indra disekolahkan di sebuah SLB.

Hal yang pandai saya lakukan:
berenang, menyelam, bermain bola basket, merawat kelinci, menggambar, melukis, mengumpulkan perangko, bermain dengan anak-anak, membersihkn meja, membuat orang tertawa, bermain softball, bersikap ramah dengan kakek, dan mengetahui tentang ruang dan planet2." Tulis indra...
***

"Dan hal-hal yang tidak terlalu pandai saya lakukan: ejaan, membaca, menulis dan Matematika."

Membcanya berderai hati saya. Berapa berbanding berapa hal-hal yang pandai ia lakukan dan kurang pandai ia lakukan. 

Tulis sang ibu disana.
"saya menatap wajah Indra. Untuk memastikan padanya bahwa ada banyak hal yang ia pandai lakukan dari pada hal-hal yg dianggap sulit. Indra tidak mungkin bodoh. Ia jelas-jelas orang yang akan sukses dengan segala kemampuannya."

Tapi dimata sang Indra seakan muncul pertanyaan "jika aku tidak bisa mengeja, bagaimana aku bisa lulus dan mendapatkan pekerjaan?" Ini adalah tahap dimana saya (ibu) harus berdebat dengannya. Meski bertahun-tahun saya meyakinkan bahwa ia adalah anak yg cerdas. Namun Indra perlu BUKTI. #tears...

Perjuangan dan .tahun-tahun yang panjang. "Hari ini 2 menit sebelum berganti tanggal, saya mensyukuri Indra yang telah mampu membaca lancar. Ia pun kian mampu mengetahui dan menghafal apa yang ia baca. Alhamdulillah..."

dan...
bila saja semua ibu 

"every children deserves the chance to reach his or her full potential" Setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk mencapai potensi mereka sepenuhnya." (anonim).

Sakura Romawi Timur,
di sebuah sudut kamar belajar, Ankara 6 Juni 2014.

Monday, May 19, 2014

Gadis kecil, yang bening matanya dan jaketnya berwarna merah "SURIAH"

Bening sekali matanya. Ia memandangku tajam dari balik kaki ibunya. Gadis kecil, pengungsi Suriah. Bajunya berwarna merah, tidak memakai sendal. Adik kecil yang malang, rambutnya keriting, cantik. Sekitar 3 tahun usianya. Sang Ayah dan Ibu muda yang menggendong bayi, pasangan suami istri yang masih sama-sama muda, yang mungkin terpaksa harus meminta-minta di negeri orang. Oleh sebab kekejaman Asad.

Suriah.
Mata bening adik kecil itu membawaku pada lamunan panjang didalam kereta sore tadi. Melamun dalam diam yang tidak aku mengerti. Bagaimana kelak ia akan menjelaskan tentang tanah airnya. Bagaimana ia menjelaskan tentang suara peluru. Bagaimana ia menjelaskan tentang cita-cita. Menjelaskan tentang kebengesin Asad. Melihat kakinya yang tanpa sandal itu rasanya kakiku seperti tengah menginjak puluhan sembilu. Ngilu. Melihat bening matanya itu seperti tidak percaya kalau yang aku lihat adalah gadis kecil negeri berdarah.

Suriah.
Kekejaman Asad yang tiada berkesudahan. Lihatlah ini gadis kecil bermata bening yang menatap mataku tajam. Aku bahkan dibuat ketakutan menyaksikannya. Ia generasi negeri yang diberkahi. Ini generasi bumi syam yang Allah karuniaknan keberkahan. Negeri kota Damaskus bertepi, kota sumber belajar Qur'an dan Hadits. Negerinya syurganya Cahaya Islam. Dan mata bening itu. Ah...aku tidak mampu menjelaskannya. 

Gadis kecil, yang bening matanya, dan jaketnya berwarna merah. SURIAH! 
Aku bicara bersama kedua matanya. Tentang bengisnya Asad dan matanya yang bening
...dan kereta terus melaju. 

Sakura RT, Ankara 19052014








Sunday, May 18, 2014

Dan ia muridku, Ayu namanya

Puisi yang ditulis pada buku halaman pembuka, Communicating partners: 30 years bulding responsive relationships with late-talking children including autism.


Yang ditulis oleh James D. MacDonald


Aku jadi teringat salah satu muridku. Tidak autis. Tapi oleh sebab kecelakaan mengalami gangguan pda syaraf otaknya. Kemampuan akademisnya otomatis trganggu. 

Dijauhi teman2nya. Rambutnya berkutu, banyak sekali. Jika aku egois dn kekanak2an, aku juga ngeri sebenarnya. 

Tapi kutahan perasaan ngeriku. Oke, masalah kutu rambutnya yang sangat bnyak itu akan kita bereskan dg rajin keramas. Mka setiap pagi dia selalu memberi sampo rambutnya. 

Itu pertemuan pertamaku di tahun 2011, saat dia menangis di ruang tengah asrama RCQ, oleh sebab dia dikirim ayahnya karena di sekolah dijauhi temanya. 

Jadilah ia dipondokkan di asrama RCQ [Yayasan Rumah Cerdas Qur'ani]. Menjadi salah satu santri kami. Bertambahlah satu santri putri. Namanya ayu, 14 tahun. 

Tugas pertamaku, adalah memberinya pelajaran B. Indonesia, meski aku lulusan B. Inggris. Dan pelajaran pertama untuknya adalah menulis apa yang ia lihat di langit sana. Bagus! Dia bisa menulis dengan baik. Satu dua tiga minggu. Dan pada suatu sore mnjelang magrib, entah karena apa aku marah sekali padanya, kesal sekali karena aku sdah mngulang mngjrknnya belasan kali bgaimna mmbedakan antara subjek, predikat dan objek. 

Tapi tidak satu pun ia faham. Bibirku gemetar menahan diri. Meski ia satu2nya murid jenjang SMP yang Ustdzah amanahkn padaku. "Hanifa, kamu jadi guru B. Indo buat Ayu ya." 

Meski suaraku tidak meledak. Tpi rintih suaraku mmbuat Ayu tahu, bahwa aku marah sekali; "Ya Rahmaaan." Aku ucapkn kalimat itu sambil gemetaran, smntara kedua mataku sudah basah.

Aku benar-benar hanya mampu memandang langit petang itu. Menahan diru. Ku intip muridku Ayu bersembunyi diam ketakutan dalam jilbabnya. 

Astaghfirullah. Aku pandangi muridku yang malang itu. "Maafkan Miss ya Ayu. Kalau begitu besok kita bermain di danau samping lapangan golf ya." sejak saat itu aku belajar, akulah teman muridku yang banyak kutunya itu. Murid yang juga mau tidak mau aku terkena kutunya beberapa minggu. Dialah yang menemani Ramadhanku penuh selama sebulan di asrama. Memasakkan menu dan menyiapkan makan sahurku, membangunkanku dan..."Miss besok aku ajari Mis membuat kue bola-bola coklat **tears...dia muridku yang sangat hebat.


Sakura RT, Ankara 17 Mei 2014

Friday, May 16, 2014

Inilah DEDIKASI


Sore hari waktu Turki. Matahari baru saja akan merampungkan tugas mulianya. 
"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)." (Q.S. Al-Lail :1)

Bismillahirrahmanirrahim..


Dan ia adalah "hanya" seorang putra dari tukang batu ...

Meski demikian proyek-proyeknya menyejarah, melegenda sepanjang abad. Menembus dari satu generasi ke generasi. 

Siapakah ia? Ia terlahir dengan nama Joseph di Kaisariya, Anatolia. Yang Henry Matthews sejarawan arsitektur terkemuka Washington State, menyandingkan ia bersama Brunelleschi Italia, pun Michelangelo.

Betapa mengagumkannya menjadi muslim yang cemerlang  Membangun sejarah yang tiada rapuh oleh zaman. Mimar Sinan, sang guru arsitektur kebanggan Islam..

Ketika kecil, ia adalah seorang kristen. Ia bercita-cita besar,bersekolah di imperial Enderun College, di Istana Topkapi. Sayang sekali ia tidak diterima di sekolah itu. Semangat belajar dan daya juang yang tiada berkesudahanlah yang mengantarkan ia belajar di Ibrahim Pasha School, Grand Vizier Ibrahim Pasha.

Mimar Sinan, kecerdasan yang tiada tara. Serta kemauan yang besar telah menjadikan ia hanya dalam kurun waktu 3 TAHUN, menjadi seorang arsitektur muslim berbakat. Menyejarah!!!

Karyanya! Dan duduklah kita dengan pandangan kagum yang tiada berkesudahan. Ketelitian, kemegahan, keindahan, kejayaan adalah simbol kejayaan Islam. Masjid Selimiye di Edirne, dibangun atas perintah Sultan Selim II, tercatat dalam SITUS WARISAN DUNIA, UNESCO 2011.

Demikian pula Master PIECE-nya Masjid Süleymaniye di Istanbul. Menjadikan ia sebagai ARSITEK MUSLIM TERBESAR periode Ottoman.

Sinan, juga dipercaya memimpin korps infanteri perwira, memimpin pasukan kaum muslim menaklukkan Austria. Kecerdasannya dalam arsitektur hingga ia tercatat sebagai penembak jitu, mengetahui struktur TERLEMAH dalam MERUNTUHKAN bangunan lawan!

Karya Mimar Sinan, tidak terhitung. Tidak hanya bumi Turki saksi atas harum yang tiada luruh. Ia telah membangun dan mengawasi 476 bangunan. Tercatat TIDAK KURANG dari 196 bangunan adalah buah fikir dan karya besarnya yang bahkan terhitung 5 ABAD hingga saat ini, pun masih berdiri KOKOH. MEMBANGGAKAN!!

50 TAHUN! Adalah curah fikirnya dalam MEMBANGUN Kerajaan Utsmani. Inilah DEDIKASI**

3 AMAL yang tiada terputus hingga AJAL terpisah dari badan; salah satunya Ilmu yang Terus Mengalir. Mimar Sinan, dari ABAD ke ABAD. Tiada PUNAH! Segala puji HANYA bagi Allah.

Semoga Bermanfaat. Kebenaran hanya milik Allah.
#Dari berbagai referensi

Sakura RT, Turki 12 Mei 2014
(Tuntas pukul 22:26)
Disampaikan pada kulsap MJR SJS MITI M






Sepotong Malam

Dengan terhuyung tangan kananku membawa gayung berisi sikat gigi dan seperangkatnya, sementara tangan kiriku menjinjing beberapa buku. Dengan capek dan mengantuk kuseret kaki ke ruang belajar. Pasti sudah ramai, fikirku. Sementara kerongkonganku terasa kering, haus sekali. Aku ingat, air mnum mineral sudah aku pindahkan di atas meja belajar. 

Sesorean ini menemani mengobrol keluarga temanku yang wisuda, salah satu dari keluarga mereka tak banyak bicara, seperti bingung mencari topik. Maka aku sibuk mencari topik apa saja agar suasana tidak kaku. Sampai mereka bilang,"kalau kamu pulang ke Indonesia, coba pakai jeans dan lepaskan penutup kepalamu." Kata ibu dari satu temanku yang lain. Meski kaget aku tetap menjawabnya dengan tetap berhati2. "Bibi, aku khawatir nanti ayah dan ibuku tidak mengenaliku. Sebab dari kecil aku sudah demikian." semoga jawaban ini tidak menyinggung. Sang paman, ayah temanku menyela. "Jangan dengarkan bibimu." Kami tertawa. 

Dan akhirnya, aku  pamit pada mereka. Sesampai asrama shlat, tilawah dan tertidur pulas. Hingga terbangun pukul 23:00 Turki dan ternyata haus sekali.

***
Di ruang belajar. Sepi...
Hanya ada 2 orang tengan menekuni leptopnya. Aku menuju kamar mandi. Gosok gigi. Meski mataku masih mengantuk sekali.

"Hanifa..apakah kamu di ruang belajar seharian ini?" sebuah suara memanggilku. Aku menoleh. Teman yang biasa duduk belajar di samping meja belajarku.
"Oh tidak, aku baru saja bangun." Jawabku.
"Apakah engkau tertidur dikamar belajar?" tanyanya lagi.
"Tidak..." Jawabku sambil tersenyum. Hee...dia rajin sekali membangunkanku, jika aku tertidur ketika membaca buku sambil duduk di ruang belajar.
"Hanifa, mengapa setiap melihatmu aku selalu penuh kegembiraan dan selalu mengundangku mampu tersenyum." Kata temanku lagi. Sementara aku masih sibuk membasuh muka.
Berhenti sejenak. "Sama engkau juga demikian" Jawabku sembari menyempatkan memandang wajahnya.
"setiapa kali melihatmu aku seperti mengambil energi positif." lanjutnya lagi.
"iya kalian juga demikian. Memberikan energi positif bagiku." Jawabku.

#Aku berlindung pada Mudari pujian yang meruntuhkan keimanan ya Rabb..

Sakura RT
Ankara, 15May2014 (23:45 Turki)
Setengah mengantuk di ruang belajar, melihat tumpukan buku. 





Thursday, May 15, 2014

ya Allah, Aku belajar di sarang komunis

Siang ini pukul 13:30 aku sudah siap menanti bis. Seperti biasa, perkuliahan kelas siang pukul 14:30. Kampus yang cukup jauh membuatku harus bersiap lebih lama untuk menempuhnya. 4 buah buku pinjaman perpustakaan 2 minggu yang lalu terpaksa kugendong tanpa kantong. Hari ini sudah harus aku kembalikan. Baru saja sampai dipersimpangan bis lewat dan berhenti di durak. Terpaksa berlari agar tidak tertinggal. Syukurlah masih ada beberapa detik menjelang bis melaju. Aku duduk di kursi tengah. Kepalaku terbang entah dimana. Memikirkan hitungan hari menjelang ujian akhir dan rencana kepulangan ke tanah air. 

***

Sesampai di kampus. Sepi...
Mengapa kelas sepi. Aku mengetuk pintu sekretaris jurusan. 
"Hocam, selamat sore." Sapaku.
"Oh Hanifah, masuklah." Sambutnya ramah.
"Apakah sore ini tidak ada kelas" Tanyaku.
"Dengan siapa?" Jawabnya.
"dengan hoca Eyle." Jawabku.
"Oh..sayang sekali. Hari ini ada demo. dan Hoca eyle akan ikut serta dalam demo."
Haa, ikut demo juga, antara kaget dan oh...senang karena bisa pulang cepat campur aneh bagaimana gitu. :P

***
Aku memutuskan ke Perpustakaan, mengembalikan 3 buah buku dan memperpanjang salah satunya, menarik. Fikirku. Sepertinya cocok untuk mengisi kajian diskusi bersama ibu-ibu Turki 2 mingguan "Family Therapy" sesuai dengan beberapa materi perkuliahan beberapa pekan terakhir ini. Serampung mengembalikan buku aku memutuskan untuk membacanya di dalam kelas. Duduk seorang diri. Lalu menelpon sahabatku, Nida. 

Suara di seberang. "Hanifah, maafkan aku baru mengabari. Hari ini kelas di boikot. Aku juga baru tahu siang ini."
"Oh problem degil, tidak apa Nida. Aku hanya ingin memastikan bahwa kelas ditutup hari ini."
Beberapa menit perbincangan kami, membahas PR dalam telepon dan lalu saling menutup salam.

***
Aku tidak jadi membaca buku. Di pintu luar Hoca Eyle berdiri memperhatikanku. "Oh Hocam." Sedikit kaget.
"Ozur dlerim Hanifa, maafkan Hanifah, hari ini kita tidak ada kelas." Jawabnya. Lalu aku memutuskan pamit pulang.

Sesampai pintu luar Fakultas. Suara ribut. Benar dugaanku. Demo baru saja dimulai. Serombongan mahasiswa berjalan beriringan dengan suara yang mereka teriakkan menuju fakultasku. Sepertinya tengah mengumpulan masa. Aku menyempatkan mengambil foto mereka dan lalu memutuskan pulang. Bermaksud belajar lebih cepat hari ini. Diperjalanan menuju durak bertemu teman Afrikaku, kami mengobrol sejenak. 

***
Di dalam bis
Teringat perbincangan 3 hari yang lalu brsama Ayca. 
"Kamu beruntung Hanifah." Kata Ayca.
"Kenapa." Tanyaku penasaran.
"Dua tahun yang lalu, semua yang bekerja dan terlibat dalam pemerintahan dilarang berjilbab. jika ingin bersekolah dan berpendidikan tinggi tidak boleh berjilbab.
Aku menyimak.
"Semua mahasiswa putri yang berjilbab, dari rumah mereka berjilbab rapi, akan tetapi ketika sampai di depan pintu gerbang kampus, mereka tidak memiliki pilihan selain harus membuka jilbabnya. Aku tidak bisa gambarkan bagaimana rasanya."

Hening...

"Alhamdulillah, saat kedatanganku sudah bisa bejilbab leluasa. Maha Besar Allah." Syukur yang dalam pada Allah.

***
di dalam lift asrama. 8 orang. Sesak penuh.
"Hai Hanifah, kamu baru pulang dari kampuskah?" Tanya salah seorang teman asramaku.
"Iya sayang sekali jam belajar di tutup, karena ada demo." Jawabku sembari susah bernafas.
"Oh ya, kampusmu dimana?" Tanyanya lagi.
"Ankara Univ." Jawabku singkat.
Serentak suara koor panjang dari dalam lift.
"waaa, kereen sekali. Tapi memang Ankara Univ sangat sering menggelar demo. Kamu beruntung sekali. Aku juga berharap dikampusku ada demo. tapi tidak pernah ada." Kata temanku.

Haha...di dalam lift serentak kami tertawa bersama. :D

Sakura RT, Ankara 15May2014







Sunday, May 11, 2014

Nostalgia 11 Mei '11

Nostalgia pagi2. 

Ankara, mengetik sambil duduk memandang air hujan.


Mei 2011.
Saat wisuda dulu, pakai jilbab jadul yang biasa saya pakai (warna merah hati). Tidak punya baju brokat yang mek clingss, qiqi. Beli baju gamis jam 5 sore menjelang wisuda. Tidak ke salon. Jam 4 subuh sebelum adzan teman-teman kawasan perumahan berbondong menuju salon, saya masih uplek di dapur, keluarga kampung pada datang, bantu nyiapin teh hanget. Jam 6 pagi teman-teman pulang dari salon, masha Allah cantiknyaa. Saya jam 7 pagi baru jilbaban dan dandan sendiri, seadanya. 

wkwk bener-bener dah, peristiwa itu. Sampai di balairung kampus bingung nomor urut kursi wisudannya di bagian mana ya, seribu sekian-sekian. Akibat sore lalu terlambat ikut gladi resik, gegara nyari toga dan teratai sesorean, gegara ada agenda rapat gak habis-habis. xixi...hadeeh. Tepok jidat. Sampai dikampus poto-piti sama teman2 seangkatan, haha, aku sendiri yang kelihatan -melas tapi sederhana- #membela diri pake kata "sederhana" biar kedengeran manis . Bapakku diem aja lihat aku. Heran kali, hee "kamu itu mau wisuda apa mau jualan bakwan eeiipii" dalam hatiku 

Saya duduk di deret kursi paling belakang, asal sembarangan kursi. Dari suara salon balairung tiba-tiba gaung-gaung manggil nama sesorang. Kayak sedang manggil nama yang sangat familiar. Kayaknya aku ndak asing sama nama itu. Wkwk, jebulannya namaku sendiri. Hadeeh. Syukurlah, rupanya kursiku sudah disediakan dibagian paling depan. "Deret kursi wisudawan khusus." Alhamdulillah ya Allah... 

***
Sakura RT, Ankara 05052014
jika satu setengah tahun yang lalu suratku yang tiba disana
in sha Allah semoga saja tahun ini ada rezeki berlibur pulang...
 — di Ankara Besevler.

Tentang Mengantri

Tentang Mengantri
***

Sebenarnya ini sudah umum dan menjadi sebuah kebiasaan yang membudaya bagi masyarakat Turki "mengantri" dimana saja dan dalam hal apa saja. Contohnya mengantri pembayaran gas, air, listrik, di bank, naik bis, di kantin, dll. Karena dimana-mana mengantri sehingga tampak tidak sebegitu istimewa lagi bagi saya. Sudah sangat umum. 

Namun kejadian sore kemaren, membuat saya menyadari dan memang harus mengakui satu hal. Bahwa mengantri di Turki bukanlah "perkara sederhana" ia seperti sudah menjadi sebuah karakter bangsanya.

Setelah membuat janji pertemuan dengan teman dari teman asrama saya disebuah stasiun, berangkatlah kami berdua mencari sebuah gedung. Rupanya perempuan yang menemani saya kali ini adalah seorang mahasiswi semester 4. Kami baru saja berkenalan, 4 jam yang lalu lewat sms. Dia yang akan menemani mencari sebuah gedung penting. SGK - Saglik Guvenli Kurumu, singkatnya Asuransi Kesehatan.

Sesampai disana di teras gedung masih sepi, hanya ada seorang Bapak tua dan 2 petugas satpam yang tengah menunggu waktu jam kerja beroperasi, pukul 13:30 Turki. Sementara teman yang mengantar saya pamit terlebih dahulu.

Selanjutnya, saya ikut berdiri di samping Bapak tua tersebut. Beberapa menit kemudian keadaan sudah ramai, disamping saya sudah berderet 8-11 orang dan sebagian besar lansia. Apakah saya salah blok gedung. Mungkinkah ini gedung blok asuransi kesehatan bagi pensiunan. Selintas saya bertanya sendiri. Sepertinya tidak.

Sementara menghilangkan kebosanan menunggu saya membolak-balik selebaran seminar, membacanya dengan setengah bosan. keadaan semakin bertambah ramai pengunjung berdatangan. Barisan sedikit berdesakan. Disebelah kiri saya yang semula bapak tua sudah berganti ibu lansia. 

"Siz birincisiniz" Paman antrian yang pertama. Ucap saya kepada Bapak tua yang sudah datang pertama dan barisannya bergeser. Entah kenapa saya menjadi tidak rela jika barisan Bapak tua tersebut disereobot. Kemudian Ibu tua mode eropa yang mengambil barisan saya tadi "Sen birincisin, sen ikincisin, O ucuncu...tamam ben besinciyim" Kamu barisan pertama (bapak tua), kamu kedua (menunjuk saya), dia ketiga (ibu tua yg berdiri disamping kanan saya), oh iya saya yang kelima." Ucapnya dan lalu ia berpindah berdiri dibarisan no 5. Dalam hati, Masha Allah! Kagum. Saya tersadar, belajar satu hal penting tentang -mengantri ini- yang memang bukan perkara remeh temeh "demikianlah cara mereka menghormati hak orang lain. Menomorsekiankan egoistis, tanpa melihat perbedaan usia." 

Sakura RT, Sihhiye 9 Mei 2014
 — di Sıhhiye Sgk.

Monday, April 28, 2014

Edisi Geje suka2

Judulnya ndak mutu ya sodara-sodara. qiqi...sore ini saya betul-betul sangat tepar sekali, rada stress dan ingin menulis dengan geje tanpa bahasa yang sastra, hoho. Ini hari ke-tiga berlangsungnya program RTMGobest. Program ini benar-benar menyita energi dan perhatian saya, heuheu. Sampe ndak tersentuh program dan grup-grup yang lain. Huwaa...amanah ini benar-bener membuat pundak saya kayak ada gunung mahameru. Haha lebayy sodara-sodara. 

Terusan mohon maaf pisan apabila ada pesen-pesen fesbuk yang ndak terbalas. Haqiqi...mohon maaf pesennya yang masuk kebetulan banyak sekali. makanya mbak rangkum di blog kalau ada pertanyaan beasiswa, curhat2, atau apa #SokSibuk :D lewat twitter aja yang mudah klo mau tanya2 yaa di @eviexist jadi enak, teman2 yang lain bisa ngecek dan ikut baca. Wokkeh. Nanti klo pas ol dan ndak riweh2 mb retweet, #eh 

Sore ini badan saya rasanya bener-bener ambruk. Dan lemess sekali. tepar dan energi saya rasanya kayak mau habis. xixi bukannya ogut puasa yaaks :D Hadeeh tepok jidat. Sudah dulu ya ini curhat saya sore ini. Mau melanjutkan mengetik deadline 2 hari lagi. Tiks tokss...tuks tukss. Udah dulu yaa. semangatss Ganbatte Kudasai! clingss

Sunday, April 27, 2014

Tentang Kontemplasi

Tentang Kontemplasi

Dan duduklah dsni, dibawah langit cita-citaku...
Rupanya tulip masih bermekaran dengan segar, diatas kelopaknya masih ada air, sepertinya sisa hujan atau embun semalam. Ini taman yang tenang, aku bisa mendengar suara kicau bul-bul kota pun suara nadiku. Emm, tapi aku tidak tahu apakah itu suara burung bul-bul. 

Yang pasti aku bisikkan padamu, ini taman yang tenang, aku bisa duduk menyerap semua sinar mentari yang berenergi, menyerap segar tulip kotaku, dan berkontemplasi..Tentang semua cita dan tentu saja, kisah penting bersama buku harianku, Haramainku..

Sakura RT, pada sebuah taman 27 April 2014
 — di Golbası.

buat adik2ku Pejuang YTB Schoolar


Assalamulaikum..

Adik-adik dan rekan-rekanku pejuang beasiswa Turki apa kabar kalian disana? Semoga baik insha Allah. Kakak turut gembira dan ikut berbesar hati atas kesungguhan usaha kalian. Kerja yang tiada lelah dan hentinya. Tidak apa-apa belum tembus interview, in sha Allah, Allah sedang siapkan yang lebih baik dan membuat kita akan lebih kuat dan lebih kokoh daya juangnya in sha Allah. kakak juga sangat terharu gembira membaca pesan-pesan kalian yang tetap semangat dan akan terus berusaha mencoba ditempat yang lain. 

Ini menandakan kematangan berfikir, kelapangan dan kebesaran jiwa. Kita semua tentu patut gembira dan bersyukur lebih banyak memiliki generasi-generasi pejuang seperti kalian yang terus optimist dan terus menjaga semangat diri meski dalam keadaan tersulit dan pahit sekali pun. 

Kalian sudah berusaha dengan keras. Kakak dari sini turut merasakan bagaimana kalian berjuang, membuat referensi, mencari dosen, mentranslit, mengumpulkan data, menguplod, koneksi yang lama dan lain-lain pun kesungguhan untuk terus mencoba, serta disela-sela kepadatan itu masih menyempatkan dan dengan riang gembira saling membantu dan meringankan bahu membahu dengan teman-teman kalian dalam proses aplikasi pendaftaran. kerja sama yang sangat mengharukan. Masha Allah! Tterus semangat ya..kegagalan memang pahit rasanya (meski sebenarnya tidak ada istilah gagal - yang ada adalah proses berlatih yang semakin terasah), dengan semakin terlatih "menelan yang pahit itu" maka insha Allah kita akan semakin terlatih menghadapi yang pahit dan trampil mencari solusi. Dan akansemakin pandai bersyukur ketika gembira. Tidak apa-apa, walau bagaimana pun kalian sudah berjuang, berdoa dan menjalani prosesnya dengan kesungguhan. in sha Allah yakinlah Allah akan gantikan usaha dan kerja keras itu dengan buah yang lebih manis.Terus semangat ya. Bagi yang akan menjalani proses interview, semangat! ^^

Salam untuk kalian di tanah air
Ganbatte Kudasai
K Evi (Sakura Romawi Timur)

Wassalam
Ankara, 27 April 2014  

Thursday, April 10, 2014

Kita dan tentang "Dakwah Ini" #Kita Bukan GENERASI 1-2 HARI

Apakah ada kabar kecurangan dari tanah air? 
Berapa dibayar rakyat Jambi kita?


Jika mereka dibayar 100/500 ribu persuara. Maka kitalah yang akan menebusnya dengan "kerja keras" yang tidak akan pernah ada mati, berhenti dan putusnya . Kita bukan generasi 2-3 hari saja. Kemenangan tangguh itu dari berlatih puluhan tahun lamanya. Hitungan waktu yang panjang. Pedih menantang siang dan malam. Kita bukan generasi cabai, dengan harga suara 100 atau 500 ribu. Kita generasi yang membeli keringat dengan kerja keras. Membeli malam dengan menahan kantuk, membeli terik dengan kaki terseok. Kita adalah generasi yang membeli hati dengan doa, dengan lail, dengan kasih sayang, dengan kesungguhan, dengan cinta,  darah dan air mata. Kita bukan generasi perengek, meraung suara dengan lembaran rupiah yang hanya bernilai jam dan menit. Bukan! Dan tidak akan pernah!


Kita sudah terbiasa dengan kerja keras. Berjalan dari satu tahun ke tahun, dari satu abad ke abad, dari satu masa ke masa. Menantang zaman, menelan hantaman, menahan perih duka gelombang gunjingan. Bahkan dalam perih jeruji penjara sekali pun. Adakah kerja keras kita yang tidak membuahkan hasil? Adakah kerja keras kita yang tidak terbayar? Adakah kerja keras kita yang tidak terjawab? TIDAK!!! Demi Rabb!!! Kemenangan itu bukan tentang menghitung tingginya grafik, bukan tentang popularitas. 

Indonesia butuh MODEL! Untuk membangun negeri ini. Jangan takut. tenanglah. Terus sajalah kita berkarya dan bekerja. Indonesia membutuhkan MODEL! Indonesia membutuhkan MODEL! Dan PASTIKAN kita (PKS) adalah generasi yang akan menjadi dan mencetak generasi MODEL MASA DEPAN, bagi bangsa ini. 


Lillah!! 
KOBARKAN SEMANGAT INDONESIA
Evi Marlina, Turki 10 April 2014 (CKH dalam Refleksi Summer)

Surat Kabar dari Tanah Air http://sakuraromawitimur.blogspot.com.tr/2014/04/surat-dari-tanah-air.html




Surat dari tanah air...

Saya masih gemetar, belum bisa bicara apa-apa atas kabar yang sampai padaku pagi ini. 
Tepat seusai aku merampungkan tilawah pagi ini. Kabar ini sampai padaku.

=========
aswrwb. 
Evi, adikku nan hebat.

Ini berita dari tanah airmu yang kau cintai itu. Baru saja usai pemilu. Saya ikut di bagian tabulasi data DPC telanaipura bersama rekan-rekan lainnya. Ada ustadz rozak yang hadir, pak apri, ada juga dikunjungi oleh ustd hernowo dan sebagainya. Kami lelah,kami capek. Itu ya. Tapi kerja ini tentu untuk dakwah,bukan? Kejayaan kita. Jikga pesimis, ingin kukatakan kepadamu, Evi: berhentilah jadi orang Indonesia. Dan buruan minggat dari sini. Kau tahu evi, kecurangan di tingkat TPS begitu menggila. Saksi dibayar, petugas KPPS dibayar dan dimobilisasi oleh partai tertentu, H-1 warga disiram 50 – 100rb perkeapala, bahkan ada yang menghabiskan 4 M dari partai penguasa utk membayar 500rb/kepala yang menyoblos mereka. Miris. Itu pasti. Lihat wajah-wajah ustadz yang lelah, para kader yang letih menunggu form C-1 hingga di telanai saja kami menunggu hingga jam 2 dinihari baru pulang sedangkan beberapa TPS sengaja dilama-lamain oleh KPPSnya. Mereka bersengkongkol utk menguasasi negeri ini ,dengan cara apapun.

Kita yg kempanye damai dan santun, meberikan pelatihan dan bantuan kesehatan gratis jauh sebelum pemilu dll, itu musnah. Selesai disiram duit dalam satu hari oleh caleg dan partai sampah! Itulah warga kita yang bodoh politik, mau apalagi. Mereka ga butuh program tapi duit. Sudah ada sindikat besar utk menggagalkan pks utk maju 3 besar. Bahkan antara mereka sendiri kakak beradik berbeda partai, sudah menyogok rakyat di satu tps sampe bertengkar habis( didaerah legok). Bulshit demokrasi, bulshit program suci. Tapi yakinlah, kita tidak mau mencederai ini dg ikut2an spt mereka. Masyrakat, oknum dan petugas sudah bobrok. Pantaslah lonjakan suara di satu tps sangat tdk signifikan. Coba, seorang caleg bau kencur(lebih kompoten ustad rozak dll) bisa mendongkrak suara puluhan hingga ratusan suara/tps versus caleg kita yang Cuma 1-2 suara per tps.

Kami lelah, tapi kami bekerja. Allahlah yang membalas ini semua. Tadi malam bahkan partai yg tdk dianggap di pemilu ini tapi saat dibutuhkan mrk datang ke kita: soerang warga minta anaknya di rughyah tengah malam. Dan kau tahu evi, ustadz rozak yang letih, belum makan, pikiran dan emosi yang luar biasa campur aduk, musti meluncur di pekat malam menuju rumah warga yang kerasukan itu utk ‘berbincang’ dengan orang yang terkena kemasukan jin itu. Tapi lihat ustadz kita masih bisa tersenyum. Kami capek, letih, telah berjuang, berdemo, berorasi, berkampanye, direct selling, senyum keadilan, pksvaganza, door to door, tapi kami di tanah airmu ini tidak akan memprotes Tuhan. Ini takdir kita. Dan semua kita kembalkan kepada-Nya. 

Evi, kelak ketika kembali ke tanah air, aku ingin memastikan dirimu: teteplah mencintai negerimu. Apapun yang terjadi. Jadilah satu orang penggerak perubahan itu. Sebab kita akan terus melayani! 

Salam kobarkan semngat Indonesia. 
Ian 
10 April 2014

Wednesday, April 9, 2014

kami dan tentang Dakwah ini

Saya termasuk yang awam dalam pergerakan politik. Tidak begitu faham, meski mengikuti perkembangan satu dua tiga. Bukan tidak mau belajar, akan tetapi kecenderungan saya dalam dunia akademik memang lebih banyak. Kali ini saya ingin bicara tentang partai. PKS. Saya tidak punya alasan khusus mengapa saya memilih partai ini. jatuh cinta dan seadanya mencintainya. Dengan sendirinya, tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sederhana. Meski saya bukan pengurus partai, bukan pula yang faham secara mendalam seluk beluknya. Hati saya jatuh begitu saja, seperti seorang anak kecil yang menangis melihat balon. Saya mencintainya secara sederhana.

**Bersambung...(need istrhat)

Generasi "PENYERANG"

Sore ini duduk dengan lemas di atas kasur asrama. Meriang. Alhamdulillah 3 mata kuliah ujian midterm telah tuntas, semoga hasilnya baik in sha Allah. Masih tersisa satu untuk hari Jumat in sha Allah. Energiku menyambut ujian midterm benar-benar terkuras ya Rahman. Tidur sudah tidak lagi beraturan sejak beberapa minggu yang lalu, tertidur di semua tempat. 2-3 Jam dalam sehari. Meski aku merasa masih belum cukup maksimal. Semester ini waktuku habis dengan menghabiskan waktu ke Perpus METU, mencari referensi buku. Alhamdulillah satu perpustakaan Online bertambah, sehingga aku bisa mengurangi aktifitas perjalananku di METU. Rasanya aku membutuhkan waktu 9-10 hari dalam seminggu. tidak cukup sepertinya 7 hari dalam seminggu. Ya Rahmaan...terasa sekali I need more teacher to learn much. I need...Terasa diri semakin kecil, semakin kurang dan semakin sedikit sekali ilmu ini. 

Teringat pesan Pak Dede (dosen pembimbing hampir semua lomba menulis yang aku ikuti dan program SAD) -ketika masih kuliah S1. Beliau bilang padaku, jadilah pribadi yang menciptakan "kejuaraan" sebelum kejuaraan itu sendiri di mulai. Jadilah pribadi "Penyerang" pribadi yang terus berani berselancar bahkan di atas ketidak pastian sekali pun. Jadilah pribadi "pencipta" sang creator. Berfikir lebih banyak, lebih cepat, lebih produktif bahkan dalam tidurmu sekalipun. Dalam mimpimu sekali pun. Jadilah pribadi yang tidak terkalahkan. Tidak terkalahkan karena engkau secara terus menerus berlatih, belajar dan bekerja. Jangan pernah berhenti. Jika pun berhenti, berhentilah sejenak, jangan lama-lama. 

Khair. Serampung ujian, ada dua agenda besar yang menjadi catatan target "project sebelum pulang." Bismillah, in sha Allah. Kalau sudah demikian, ingin aku ciptakan ribuan generasi tangguh masa depan! In sha Allah! Ganbatte Kudasai - 

Sakura Romawi Timur, Ankara 09April2014 (Summer)



Memaknai kontribusi "kecil"

Memaknai kontribusi "kecil"
==================

Alhamdulillah, kemaren sore (6April2014) telah saya tunaikan memenuhi "hak" saya sebagai warga indonesia. Meskipun suara saya kecil dan mungkin hanya menambah satu angka suara saja, mudah2an yang kecil ini memberikan manfaat meski pun tidak memberikan dampak dan pengaruh yang besar bagi perubahan dan kemajuan negeriku. In sha Allah semoga suara yang kecil ini bisa memberi perubahan dan perubahan paling kecil dan "minimal" adalah perubahan pada diri pribadi saya sendiri. Jika saat ini saya belum bisa memimpin dan berkontribusi "besar" bagi Indonesia, semoga suara saya yang kecil dan hanya satu ini ada 'bekas' jejaknya kelak disuatu hari, dengan gembira saya bisa bercerita kepada generasi setelah saya.

Bagi saya memaknai "kontribusi" itu sederhana, Kontribusi sekecil apa pun semoga baik dan semoga kelak ada manfaatnya, jika bukan hari ini semoga besok buat anak cucu saya ada berbekas catatan kecil, bahwa eyang putrinya "telah menunaikan hak suaranya sebagai bentuk kontribusi yang mungkin memang tidaklah seberapa." Dalam hidup saya meyakini hal sederhana, perubahan yang gemilang adalah sekumpulan dari kontribusi-kontribusi kecil yang dilakukan secara riang gembira, dalam bingkai terus berbaik sangka, dan secara terus menerus...meski itu sifatnya kecil dan sedikit. 

Terimakasih Indonesia. Aku bangga terlahir sebagai bangsa Indonesia.

Selamat Berkontribusi buat rekan2 di Indonesia, 
9 April 2014

Turki 07April2014 
Salam CintaKerjaHarmoni
Sakura Romawi Timur — —
 — senang sekali .